24 C
Banyuwangi
Saturday, February 4, 2023

Sudah Masuk Usia SD, Tiap Hari Hanya Bermain HP

RADAR BANYUWANGI – Pencarian terhadap anak putus sekolah terus dilakukan oleh Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi. Melalui Satkorwil Banyuwangi, seorang siswa putus sekolah akhirnya bisa kembali mendapatkan layanan pendidikan yang layak.

Siang itu Muhammad Albi Tri Firmansyah tengah duduk di atas tikar sembari bermain dengan kucing kesayangannya. Bocah berusia 7 tahun itu seolah tak menghiraukan kedatangan Plt Korwilkersatdik Banyuwangi Janoto, Kepala SDN 4 Penganjuran Setyaningsih, dan tim Siswa Asuh Sebaya (SAS) yang datang ke rumahnya di Lingkungan Krajan Utara, Kelurahan Tukang Kayu, kemarin (23/11).

Albi menemani neneknya Istianah, 53, yang sedang menggulung adonan pisang molen. Bocah tersebut sempat lari dan masuk ke dalam rumah. Siang hari Albi tetap berada di rumah karena dia tak bersekolah seperti anak-anak seusianya.

Tiga hari lalu, tim dari Kecamatan dan Satkorwil Banyuwangi mendapat laporan tentang kondisi Albi. Mereka kemudian mencari keberadaan Albi. Benar saja, bocah tersebut memang belum bersekolah. Padahal, dia sudah memasuki usia sekolah dasar.

Istianah menceritakan, cucunya itu baru saja ditinggal oleh ayahnya yang meninggal 40 hari lalu. Albi selama ini tinggal bersama ibunya, Ida Fitriani. Sejak kedua orang tuanya tidak tinggal bersama (pisah ranjang), pendidikan Albi memang tidak terpantau. Dia pernah bersekolah di TK Siwi Peni I, namun tak sampai tuntas.

Baca Juga :  Helikopter; Masuk Kategori Pesawat dengan Sayap Putar

Istianah baru tahu jika Albi tidak bersekolah saat bertemu dengan teman-teman cucunya tersebut. Dia menanyakan apakah Albi satu sekolah dengan mereka. Ternyata, teman-temanya tersebut tidak mengetahui keberadaan Albi. ”Saya kaget, ternyata cucu saya tidak bersekolah. Saya sempat bilang ke ibunya, tapi katanya repot dan lainnya,” kata Istianah.

Keterkejutan Istianah bukan tanpa alasan. Sebelum ayah Albi meninggal dunia, dia sempat mengirimkan uang sebesar Rp 2 juta untuk menyekolahkan cucunya. Namun, ternyata cucunya tidak sekolah.

Istianah kemudian mendatangi ketua RT tempat anaknya tinggal. Dia meminta ketua RT untuk membujuk anaknya agar membiarkan cucunya bersekolah. ”Ibunya kerja di warung nasi padang. Mereka tinggal di kos-kosan sama dua cucu saya. Tapi sepertinya ibunya tidak memperhatikan,” imbuhnya.

Setelah melapor ke RT, datanglah tim kecamatan dan Satkorwil ke rumah Istianah. Tim kemudian menawari cucunya bersekolah di SDN 1 Tukangkayu. Istianah lega karena akhirnya cucu kesayangannya itu bisa bersekolah. ”Kasihan dengan Albi. Tidak sekolah dan tidak mengaji. Setiap hari hanya main handphone (HP) di kamar,” jelasnya.

Plt Korwilkersatdik Banyuwangi Janoto mengatakan, dari laporan yang diterima, Albi berasal dari keluarga tidak mampu. Ada laporan yang menunjukkan hal tersebut. ”Kondisi ekonominya memang tidak mampu. Orang tuanya waktu hidup juga pekerja serabutan,” kata  Janoto.

Baca Juga :  3 Bulan, 6 Siswa Kembali Sekolah

Setelah mengetahui fakta tersebut, sang anak kemudian diajak ke SDN 1 Tukangkayu yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya. Albi akhirnya dimasukkan ke sekolah. Untuk kebutuhan seragam, tas dan sepatu, Janoto menggunakan dana Siswa Asuh Sebaya (SAS) yang diberikan SDN 4 Penganjuran. ”Untuk seragam kita ambilkan dari sekolah yang anggaran SAS-nya berlebih, yaitu SDN 4 Penganjuran. Untuk kebutuhan lain bisa kita mintakan dari Baznas, Garda Ampuh, KIB, dan lainnya. Yang penting dia sekolah dulu,” jelasnya.

Temuan anak putus sekolah ini menjadi yang kelima kalinya dalam dua bulan terakhir. Pria yang menjabat sebagai Korwilkersatdik Glagah itu mengaku cukup miris ketika ada seorang anak yang tidak bisa bersekolah karena alasan biaya. Apalagi, domisilinya ada di tengah kota. ”Kita biarkan sekolah dulu. Memang belum bisa masuk dapodik karena masih tengah semester. Yang penting dia mau bersekolah,” tegasnya.

Kepala SDN 4 Penganjuran Setyaningsih mengatakan, anggaran untuk pendidikan Albi berasal dari hasil iuran siswa melalui program SAS. Setiap hari Senin, siswa SDN 4 Penganjuran menyisihkan uang saku untuk bisa menolong siswa lain yang kurang beruntung. ”Seandainya rumahnya dekat, kita ingin dia sekolah di SDN 4 Penganjuran. Kita siap membantu mulai pakaian sampai sembako. Semoga ke depan dia rajin bersekolah,” harapnya. (fre/aif/c1)

RADAR BANYUWANGI – Pencarian terhadap anak putus sekolah terus dilakukan oleh Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi. Melalui Satkorwil Banyuwangi, seorang siswa putus sekolah akhirnya bisa kembali mendapatkan layanan pendidikan yang layak.

Siang itu Muhammad Albi Tri Firmansyah tengah duduk di atas tikar sembari bermain dengan kucing kesayangannya. Bocah berusia 7 tahun itu seolah tak menghiraukan kedatangan Plt Korwilkersatdik Banyuwangi Janoto, Kepala SDN 4 Penganjuran Setyaningsih, dan tim Siswa Asuh Sebaya (SAS) yang datang ke rumahnya di Lingkungan Krajan Utara, Kelurahan Tukang Kayu, kemarin (23/11).

Albi menemani neneknya Istianah, 53, yang sedang menggulung adonan pisang molen. Bocah tersebut sempat lari dan masuk ke dalam rumah. Siang hari Albi tetap berada di rumah karena dia tak bersekolah seperti anak-anak seusianya.

Tiga hari lalu, tim dari Kecamatan dan Satkorwil Banyuwangi mendapat laporan tentang kondisi Albi. Mereka kemudian mencari keberadaan Albi. Benar saja, bocah tersebut memang belum bersekolah. Padahal, dia sudah memasuki usia sekolah dasar.

Istianah menceritakan, cucunya itu baru saja ditinggal oleh ayahnya yang meninggal 40 hari lalu. Albi selama ini tinggal bersama ibunya, Ida Fitriani. Sejak kedua orang tuanya tidak tinggal bersama (pisah ranjang), pendidikan Albi memang tidak terpantau. Dia pernah bersekolah di TK Siwi Peni I, namun tak sampai tuntas.

Baca Juga :  Jantung Terasa Mau Copot saat Pesawat Take Off

Istianah baru tahu jika Albi tidak bersekolah saat bertemu dengan teman-teman cucunya tersebut. Dia menanyakan apakah Albi satu sekolah dengan mereka. Ternyata, teman-temanya tersebut tidak mengetahui keberadaan Albi. ”Saya kaget, ternyata cucu saya tidak bersekolah. Saya sempat bilang ke ibunya, tapi katanya repot dan lainnya,” kata Istianah.

Keterkejutan Istianah bukan tanpa alasan. Sebelum ayah Albi meninggal dunia, dia sempat mengirimkan uang sebesar Rp 2 juta untuk menyekolahkan cucunya. Namun, ternyata cucunya tidak sekolah.

Istianah kemudian mendatangi ketua RT tempat anaknya tinggal. Dia meminta ketua RT untuk membujuk anaknya agar membiarkan cucunya bersekolah. ”Ibunya kerja di warung nasi padang. Mereka tinggal di kos-kosan sama dua cucu saya. Tapi sepertinya ibunya tidak memperhatikan,” imbuhnya.

Setelah melapor ke RT, datanglah tim kecamatan dan Satkorwil ke rumah Istianah. Tim kemudian menawari cucunya bersekolah di SDN 1 Tukangkayu. Istianah lega karena akhirnya cucu kesayangannya itu bisa bersekolah. ”Kasihan dengan Albi. Tidak sekolah dan tidak mengaji. Setiap hari hanya main handphone (HP) di kamar,” jelasnya.

Plt Korwilkersatdik Banyuwangi Janoto mengatakan, dari laporan yang diterima, Albi berasal dari keluarga tidak mampu. Ada laporan yang menunjukkan hal tersebut. ”Kondisi ekonominya memang tidak mampu. Orang tuanya waktu hidup juga pekerja serabutan,” kata  Janoto.

Baca Juga :  Putus Sekolah, Kini Kuliah Sembari Mondok

Setelah mengetahui fakta tersebut, sang anak kemudian diajak ke SDN 1 Tukangkayu yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya. Albi akhirnya dimasukkan ke sekolah. Untuk kebutuhan seragam, tas dan sepatu, Janoto menggunakan dana Siswa Asuh Sebaya (SAS) yang diberikan SDN 4 Penganjuran. ”Untuk seragam kita ambilkan dari sekolah yang anggaran SAS-nya berlebih, yaitu SDN 4 Penganjuran. Untuk kebutuhan lain bisa kita mintakan dari Baznas, Garda Ampuh, KIB, dan lainnya. Yang penting dia sekolah dulu,” jelasnya.

Temuan anak putus sekolah ini menjadi yang kelima kalinya dalam dua bulan terakhir. Pria yang menjabat sebagai Korwilkersatdik Glagah itu mengaku cukup miris ketika ada seorang anak yang tidak bisa bersekolah karena alasan biaya. Apalagi, domisilinya ada di tengah kota. ”Kita biarkan sekolah dulu. Memang belum bisa masuk dapodik karena masih tengah semester. Yang penting dia mau bersekolah,” tegasnya.

Kepala SDN 4 Penganjuran Setyaningsih mengatakan, anggaran untuk pendidikan Albi berasal dari hasil iuran siswa melalui program SAS. Setiap hari Senin, siswa SDN 4 Penganjuran menyisihkan uang saku untuk bisa menolong siswa lain yang kurang beruntung. ”Seandainya rumahnya dekat, kita ingin dia sekolah di SDN 4 Penganjuran. Kita siap membantu mulai pakaian sampai sembako. Semoga ke depan dia rajin bersekolah,” harapnya. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/