alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Tak Mau Dijajah Pupuk Kimia, Abah Junaidi Ciptakan Pupuk Organik dari Air Leri

RADAR SITUBONDO – Abah Junaidi, warga Desa Kedungdowo, Kecamatan Arjasa, berhasil menciptakan pupuk yang bahan utamanya adalah air cucian beras atau air leri. Produknya itu kemudian diberi nama ‘Jakaba’ yang merupakan singkatan dari  jamur keberuntungan abadi.  Ciptaan pria lulusan SD itu, terbukti bisa menyuburkan tanaman yang kerdil.

Jika mengetik pupuk cair dengan merk  ‘Jakaba’ di media sosial (medsos) atau di mesin pencarian google, maka secara otomatis nama Abah Junaidi akan muncul bersanding di dalam berita tersebut. Sebab, ‘Jakaba’ memang lahir dari hasil pemikiran Abah Junaidi. “Sekarang, orang bisa cari produk ciptaan saya di medsos. Cukup ketik ‘Jakaba’, sudah keluar nama saya dan manfaat ciptaan saya ini,” ungkapnya.

Menurutnya, diberi nama ‘Jakaba’ karena pupuk tersebut berasal dari fermentasi sisa air beras yang bisa menghasilkan jamur. Caranya, air leri dibiarkan selama 15 hari sampai satu bulan agar bisa menghasilkan jamur yang mengeras seperti karang di laut. Nah, jamur itulah yang kemudian bisa digunakan untuk dijadikan pupuk cair. Cara pemakainya disemprotkan pada dedaunan atau tumbuhan.

Baca Juga :  Kabur Dengar Teman Menangis, Takluk pada Polisi dan Tentara

Kata Abah Junaidi, pupuk tersebut diciptakan berdasarkan kegelisahan. Dia merasa masyarakat telah dijajah oleh pupuk kimia. Sehingga, banyak petani yang merasa tidak pede bahwa pertaniannya akan berhasil jika tidak menemukan pupuk kimia. Padahal, pupuk alami seperti pupuk kandang dan cara alami lainnya, sebenarnya bisa membuat tanaman menjadi berkualitas. “Sekarang petani kan banyak tidak percaya diri. Kalau tidak pakai pupuk kimia, tanamannya diyakini akan rusak dan kerdil. Seakan-akan pupuk kimia membuat petani kecanduan,” imbuhnya.

Sejak tahun 2012, Abah Junaidi mencoba membuat pupuk alami tanpa menggunakan bahan kimia. Dia belajar secara otodidak. Sesekali melihat di Google dan Facebook. Ada macam-macam bahan yang bisa dibuat untuk menyuburkan tanah. Selebihnya, adalah hasil kreasinya sendiri. Dengan sabar dia mencoba satu persatu apa yang terbesit di dalam pikirannya. Bahkan, dia kadang mendapatkan petunjuk dari mimpinya. Itu pun bukan hanya satu-dua kali saja. Mimpi itu sering datang seperti mengajarinya. “Tahun 2015 saya datang naik haji. Sejak itulah saya sering dapat mimpi-mimpi membuat pupuk organik,” ungkap Abah Junaidi.

Baca Juga :  Dengar Suara Ledakan Bom, Anak-anak Tertawa dan Berjoget Ria

Masih kata Abah Junaidi, setelah bertahun-tahun melakukan uji coba, ‘Jakaba’ mulai dilirik banyak orang. Termasuk mahasiswa pertanian yang bertugas di Desa Kedungdowo. Akhirnya produk ‘Jakaba’ yang hanya dibuat dan dipakai untuk dirinya sediri, mulai diviralkan di medsos oleh mahasaiswa beserta teman-teman Abah Junaidi. “Sejak produk saya viral, ternyata ada orang dari luar negeri yang tertarik dan menggunakan Jakaba untuk memupuk tanamannya. Ada yang dari Australia dan Eropa,” imbuhnya.

Begitu  viral, produk yang awalnya dibuat sangat terbatas. kemudian mulai ditingkatkan. Sekarang Abah Junaidi sudah bisa memasarkan produksi ‘Jakaba’ kepada masyarakat luas. Yang menarik, pembeli juga dibebaskan membuat sendiri ‘Jakaba’. Sehingga, petani juga bisa dapat untung lebih dari pertaniannya.

“Kalau ada yang mau tahu cara membuatnya, pasti saya berikan cara-cara pembuatannya. Agar pembeli bisa buat sendiri. Kan gampang pembuatannya, cuma pakai air leri, ‘Jakaba’ sudah bisa dibuat sendiri,” pungkas Abah Junaidi. (hum/pri)

RADAR SITUBONDO – Abah Junaidi, warga Desa Kedungdowo, Kecamatan Arjasa, berhasil menciptakan pupuk yang bahan utamanya adalah air cucian beras atau air leri. Produknya itu kemudian diberi nama ‘Jakaba’ yang merupakan singkatan dari  jamur keberuntungan abadi.  Ciptaan pria lulusan SD itu, terbukti bisa menyuburkan tanaman yang kerdil.

Jika mengetik pupuk cair dengan merk  ‘Jakaba’ di media sosial (medsos) atau di mesin pencarian google, maka secara otomatis nama Abah Junaidi akan muncul bersanding di dalam berita tersebut. Sebab, ‘Jakaba’ memang lahir dari hasil pemikiran Abah Junaidi. “Sekarang, orang bisa cari produk ciptaan saya di medsos. Cukup ketik ‘Jakaba’, sudah keluar nama saya dan manfaat ciptaan saya ini,” ungkapnya.

Menurutnya, diberi nama ‘Jakaba’ karena pupuk tersebut berasal dari fermentasi sisa air beras yang bisa menghasilkan jamur. Caranya, air leri dibiarkan selama 15 hari sampai satu bulan agar bisa menghasilkan jamur yang mengeras seperti karang di laut. Nah, jamur itulah yang kemudian bisa digunakan untuk dijadikan pupuk cair. Cara pemakainya disemprotkan pada dedaunan atau tumbuhan.

Baca Juga :  Kabur Dengar Teman Menangis, Takluk pada Polisi dan Tentara

Kata Abah Junaidi, pupuk tersebut diciptakan berdasarkan kegelisahan. Dia merasa masyarakat telah dijajah oleh pupuk kimia. Sehingga, banyak petani yang merasa tidak pede bahwa pertaniannya akan berhasil jika tidak menemukan pupuk kimia. Padahal, pupuk alami seperti pupuk kandang dan cara alami lainnya, sebenarnya bisa membuat tanaman menjadi berkualitas. “Sekarang petani kan banyak tidak percaya diri. Kalau tidak pakai pupuk kimia, tanamannya diyakini akan rusak dan kerdil. Seakan-akan pupuk kimia membuat petani kecanduan,” imbuhnya.

Sejak tahun 2012, Abah Junaidi mencoba membuat pupuk alami tanpa menggunakan bahan kimia. Dia belajar secara otodidak. Sesekali melihat di Google dan Facebook. Ada macam-macam bahan yang bisa dibuat untuk menyuburkan tanah. Selebihnya, adalah hasil kreasinya sendiri. Dengan sabar dia mencoba satu persatu apa yang terbesit di dalam pikirannya. Bahkan, dia kadang mendapatkan petunjuk dari mimpinya. Itu pun bukan hanya satu-dua kali saja. Mimpi itu sering datang seperti mengajarinya. “Tahun 2015 saya datang naik haji. Sejak itulah saya sering dapat mimpi-mimpi membuat pupuk organik,” ungkap Abah Junaidi.

Baca Juga :  Sejak Diresmikan hanya Beroperasi Kurang dari Sebulan

Masih kata Abah Junaidi, setelah bertahun-tahun melakukan uji coba, ‘Jakaba’ mulai dilirik banyak orang. Termasuk mahasiswa pertanian yang bertugas di Desa Kedungdowo. Akhirnya produk ‘Jakaba’ yang hanya dibuat dan dipakai untuk dirinya sediri, mulai diviralkan di medsos oleh mahasaiswa beserta teman-teman Abah Junaidi. “Sejak produk saya viral, ternyata ada orang dari luar negeri yang tertarik dan menggunakan Jakaba untuk memupuk tanamannya. Ada yang dari Australia dan Eropa,” imbuhnya.

Begitu  viral, produk yang awalnya dibuat sangat terbatas. kemudian mulai ditingkatkan. Sekarang Abah Junaidi sudah bisa memasarkan produksi ‘Jakaba’ kepada masyarakat luas. Yang menarik, pembeli juga dibebaskan membuat sendiri ‘Jakaba’. Sehingga, petani juga bisa dapat untung lebih dari pertaniannya.

“Kalau ada yang mau tahu cara membuatnya, pasti saya berikan cara-cara pembuatannya. Agar pembeli bisa buat sendiri. Kan gampang pembuatannya, cuma pakai air leri, ‘Jakaba’ sudah bisa dibuat sendiri,” pungkas Abah Junaidi. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/