alexametrics
32.1 C
Banyuwangi
Tuesday, May 24, 2022

Keliling Kampung Naik Pikap, Mainkan Musik Tradisional Bangunkan Sahur

SINGOJURUH – Ada-ada saja yang dilakukan sekelompok pemuda asal Dusun Sukorejo, Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, selama Ramadan ini. Untuk membangunkan warga yang akan sahur, mereka keliling dari kampung ke kampung sambil menabuh gamelan di atas mobil pikap.

Kegiatan membangunkan sahur keliling dengan tabuhan gamelan rutin dilakukan setiap bulan Ramadan. Cara unik ini biasanya dilakukan pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. ”Kalau sudah masuk sepuluh hari terakhir Ramadan, masyarakat cenderung mulai malas bangun sahur, makanya kami mencoba memberikan semangat dengan hiburan musik tradisional,” ungkap Rizal, salah seorang remaja Desa Lemahbangkulon.

Tabuhan rancak itu biasanya menggunakan kendang, kempul, gong, angklung, dan ceng-ceng. Selama perjalanan menggunakan mobil pikap, para remaja memainkan gamelan dan seorang sinden yang menyanyikan lagu khas Banyuwangi melalui pengeras suara.

Kegiatan gugah-gugah sahur ini dimulai pukul 01.30 hingga pukul 03.00. Mereka berkeliling ke kampung tetangga, seperti ke Desa Alasmalang, Desa Singojuruh, Desa Cantuk, Desa Padang, Singolatren, dan Desa Rogojampi. Kegiatan ini murni sukarela, tidak ada bayaran sepeser pun. ”Kami hanya ingin melestarikan kesenian saja, itung-itung sembari latihan,” kata Rizal.

Selama berkeliling ke kampung-kampung, rombongan juga berhenti sejenak di titik strategis sambil memainkan satu lagu khas Banyuwangi dengan terus berteriak, ”sahur… sahur…”. ”Warga menunggu  kedatangan rombongan gugah sahur. Kadang kami dibikinkan kopi serta diberi tip uang mirip pengamen keliling kampung,” jelas Ijang, sapaan akrab Rizal.

Baca Juga :  Ganggu Ketertiban, Sound Keliling Muncar Dihentikan Petugas

Namun demikian, kegiatan gugah-gugah sahur keliling kampung itu hanya dilakukan pada malam genap. Bukan malam ganjil. Jika malam ganjil di sepuluh akhir bulan Ramadan, mayoritas masjid menyelenggarakan salat malam dan kegiatan berburu Lailatul Qadar.

Usai berkeliling kampung tetangga, rombongan kembali ke kampung Lemahbangkulon untuk membangunkan warga sembari menyantap sahur. ”Khusus di kampung kami sendiri, atraksi bisa lebih lama dan mobil pikap jalannya juga sangat lambat,” terangnya.

Kepala Desa Lemahbangkulon Subandiyo menambahkan, kegiatan remaja kampung memainkan alat musik tradisional rutin digelar tiap bulan Ramadan. Awalnya, kegiatan itu dimainkan oleh seniman senior atau orang tua. Namun, karena sudah banyak yang berhalangan sejak tiga tahun terakhir, gugah-gugah digantikan para pemuda.

Meski demikian, mereka tetap didampingi oleh pembina remaja atau orang yang lebih tua. Khawatirnya, jika di luar kampung terjadi salah paham atau hal-hal yang tidak diinginkan. ”Sebetulnya kami ini hanya memfasilitasi adik-adik remaja agar tersalurkan bakatnya. Mereka makin terasah memainkan alat musik tradisional,” katanya.

Baca Juga :  Sound System Kumendung Resahkan Warga

Kegiatan ini diharapkan bisa menjembatani remaja untuk menyalurkan hobi bermain alat musik tradisional dan mengisi Ramadan dengan kegiatan positif. ”Yang penting tetap menjaga kesopanan dan tidak mengganggu ketertiban umum,” tandas Subandiyo.

Kegiatan serupa juga dilakukan kelompok pemuda di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi. Para pemuda membangunkan sahur dengan menabuh seperangkat alat terbang kuntulan. Mereka berkeliling kampung dengan berjalan kaki layaknya sedang arak-arakan. Sesekali mereka juga berhenti dan beratraksi untuk memainkan alat musik tradisional dari kulit sapi ini.

Menariknya, selama berjalan kaki keliling kampung mereka didampingi Kepala Desa Aliyan, Anton Sujarwo. Orang nomor satu di Desa Aliyan itu ikut memukul terbang kuntulan. ”Saya hanya memotivasi adik-adik remaja agar lebih bersemangat membangunkan warga untuk bersantap sahur,” ujar Anton.

Kebiasaan membangunkan sahur dengan alat musik tradisional kerap dilakukan kelompok pemuda di desanya. Sesekali mereka menggunakan mobil pikap dan keliling kampung lainnya di Kecamatan Rogojampi dan Singojuruh. 

SINGOJURUH – Ada-ada saja yang dilakukan sekelompok pemuda asal Dusun Sukorejo, Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, selama Ramadan ini. Untuk membangunkan warga yang akan sahur, mereka keliling dari kampung ke kampung sambil menabuh gamelan di atas mobil pikap.

Kegiatan membangunkan sahur keliling dengan tabuhan gamelan rutin dilakukan setiap bulan Ramadan. Cara unik ini biasanya dilakukan pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. ”Kalau sudah masuk sepuluh hari terakhir Ramadan, masyarakat cenderung mulai malas bangun sahur, makanya kami mencoba memberikan semangat dengan hiburan musik tradisional,” ungkap Rizal, salah seorang remaja Desa Lemahbangkulon.

Tabuhan rancak itu biasanya menggunakan kendang, kempul, gong, angklung, dan ceng-ceng. Selama perjalanan menggunakan mobil pikap, para remaja memainkan gamelan dan seorang sinden yang menyanyikan lagu khas Banyuwangi melalui pengeras suara.

Kegiatan gugah-gugah sahur ini dimulai pukul 01.30 hingga pukul 03.00. Mereka berkeliling ke kampung tetangga, seperti ke Desa Alasmalang, Desa Singojuruh, Desa Cantuk, Desa Padang, Singolatren, dan Desa Rogojampi. Kegiatan ini murni sukarela, tidak ada bayaran sepeser pun. ”Kami hanya ingin melestarikan kesenian saja, itung-itung sembari latihan,” kata Rizal.

Selama berkeliling ke kampung-kampung, rombongan juga berhenti sejenak di titik strategis sambil memainkan satu lagu khas Banyuwangi dengan terus berteriak, ”sahur… sahur…”. ”Warga menunggu  kedatangan rombongan gugah sahur. Kadang kami dibikinkan kopi serta diberi tip uang mirip pengamen keliling kampung,” jelas Ijang, sapaan akrab Rizal.

Baca Juga :  Gentong; Disimpan Lama, Aroma Beras Tak Berubah

Namun demikian, kegiatan gugah-gugah sahur keliling kampung itu hanya dilakukan pada malam genap. Bukan malam ganjil. Jika malam ganjil di sepuluh akhir bulan Ramadan, mayoritas masjid menyelenggarakan salat malam dan kegiatan berburu Lailatul Qadar.

Usai berkeliling kampung tetangga, rombongan kembali ke kampung Lemahbangkulon untuk membangunkan warga sembari menyantap sahur. ”Khusus di kampung kami sendiri, atraksi bisa lebih lama dan mobil pikap jalannya juga sangat lambat,” terangnya.

Kepala Desa Lemahbangkulon Subandiyo menambahkan, kegiatan remaja kampung memainkan alat musik tradisional rutin digelar tiap bulan Ramadan. Awalnya, kegiatan itu dimainkan oleh seniman senior atau orang tua. Namun, karena sudah banyak yang berhalangan sejak tiga tahun terakhir, gugah-gugah digantikan para pemuda.

Meski demikian, mereka tetap didampingi oleh pembina remaja atau orang yang lebih tua. Khawatirnya, jika di luar kampung terjadi salah paham atau hal-hal yang tidak diinginkan. ”Sebetulnya kami ini hanya memfasilitasi adik-adik remaja agar tersalurkan bakatnya. Mereka makin terasah memainkan alat musik tradisional,” katanya.

Baca Juga :  Produksi Kapal hingga 1998, Pabrik Seranit Kini Olah Sabut Kelapa

Kegiatan ini diharapkan bisa menjembatani remaja untuk menyalurkan hobi bermain alat musik tradisional dan mengisi Ramadan dengan kegiatan positif. ”Yang penting tetap menjaga kesopanan dan tidak mengganggu ketertiban umum,” tandas Subandiyo.

Kegiatan serupa juga dilakukan kelompok pemuda di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi. Para pemuda membangunkan sahur dengan menabuh seperangkat alat terbang kuntulan. Mereka berkeliling kampung dengan berjalan kaki layaknya sedang arak-arakan. Sesekali mereka juga berhenti dan beratraksi untuk memainkan alat musik tradisional dari kulit sapi ini.

Menariknya, selama berjalan kaki keliling kampung mereka didampingi Kepala Desa Aliyan, Anton Sujarwo. Orang nomor satu di Desa Aliyan itu ikut memukul terbang kuntulan. ”Saya hanya memotivasi adik-adik remaja agar lebih bersemangat membangunkan warga untuk bersantap sahur,” ujar Anton.

Kebiasaan membangunkan sahur dengan alat musik tradisional kerap dilakukan kelompok pemuda di desanya. Sesekali mereka menggunakan mobil pikap dan keliling kampung lainnya di Kecamatan Rogojampi dan Singojuruh. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/