alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Dikenal Zuhud, Kiai Mahrus Pernah Menolak Bantuan Hatta Radjasa

SRONO – KH Mahrus Ali dikenal seorang ulama yang alim, zihud, dan kharismatik. Pendiri Pondok Pesantren Sunan Kalijogo di Dusun Parirejo, Desa Parijarah Wetan, Kecamatan Srono, ini asli kelahiran Banyuwangi.

Kiai Mahrus Ali saat masih kecil diangkat anak oleh Hj Roudlah, seorang petani yang memiliki banyak sawah tapi belum dikaruniai anak. Saat lahir dengan delapan bersaudara, oleh orang tuanya H. Abdul Ghani diberi nama Samin.

Semasa remaja, belajar agama sampai diniyah alfiyah di Pondok Pesantrren Nahdlatut Thullab atau Pesantren Kepundungan, Srono, asuhan KH Dimyathi Syafie. Kiai Mahrus menghafalkan nadhom Alfiah Ibnu Malik hanya satu bulan 40 hari tanpa tidur sama sekali. “Sejak di pesantren dikenal rajin dan ulet dalam belajar,” cetus pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijogo, Gus Malik Ibrahim.

Usai lulus alfiah di Pondok Pesantren Kepundungan, Kiai Mahrus melanjutkan ke Pondok Pesantren Darul Hikam di Bendo, Pare, Kediri asuhan Syekh Khozin. Selanjutnya, belajar di Pondok Pesantren Al Hidayah, Kretek, Pare, Kediri asuhan KH Juwaini Nuh hingga beberapa tahun. “Kia Mahrus menjadi santri kesayangan Kiai Juwaini Nuh,” jelasnya.

Semasa Kiai Mahrus di Pesantren Al Hidayah, santri yang lain banyak yang iri karena seperti diistimewakan oleh pengasuh. Sebenarnya, perlakukan pengasuh kepada Kiai Mahrus itu karena ketakdzimannya selama menjadi santri. Bila pengasuh pesantren datang dari bepergian, Kiai Mahrus selalu menawarkan segala kebutuhannya, seperti membawakan barang bawaaanya, menawarkan pijet, atau menyediakan kebutuhan lainnya. “Kiai Mahrus tidak menunggu disuruh, tapi langsung menawarkan diri,” ucapnya.

Suatu hari saat masih di Kretek, tiba-tiba Kiai Mahrus makan dengan disuapi oleh Kiai Juwaini Nuh. Sebagian orang menyebut, itu pengasuh pesantren sedang memasukkan ilmu kepada Kiai Mahrus. “Setelah itu Kiai Juwaini mengatakan pada para santrinya kalau Kiai Mahrus memiliki pesantren di rumahnya,” terangnya.

Kiai Mahrus sendiri sebenarnya tidak paham dengan pernyataan kiainya itu. Sejumlah santri ada yang menanyakan kebenaran pernyataan sang kiai itu. Malahan, ada santri yang ikut pulang ke rumah Kiai Mahrus untuk membuktikannya. “Waktu itu Kiai Mahrus belum memiliki pesantren, pesantren baru berdiri setelah pulang dari pondok,” ucapnya.

Setelah dari Pesantren Kretek, Kiai Mahrus melanjutkan belajar di Pesantren Tugung, Desa/Kecamatan Sempu, asuhan KH Abbas. Saat masuk, berpura-pura menjadi santri baru yang belum tahu tentang ilmu agama. Di pesantren ini kembali dari kelas satu diniyah. “Suatu hari Kiai Abas keliling pesantren, tidak sengaja melihat Kiai Mahrus membaca kitab berkapasitas tinggi,” terangnya.

Melihat itu, Kiai Abas memberikan tugas kepada Kiai Mahrus untuk mengajar dan menjadi lurah di Pesantren Tugung tersebut. Saat di Pesantren Tugung, Kiai Mahrus oleh Kiai Abas disuruh pulang karena dianggap ilmunya sudah cukup, dan sudah waktunya mengembangkan ilmu agama di daerahnya. “Kiai Mahrus pulang bersama salah satu santri Kiai Abbas yang bernama Halimi, itu santri pertama di pesantren ini,” ungkapnya.

Kiai Mahrus yang memiliki nama asli Samin pernah sowan kepada Kiai Mahrus Ali di Pesantren Lirboyo, Kediri, untuk tabarukan. Di pesantren ini, oleh kiai namanya diganti sesuai nama kiainya, Mahrus Ali. Tidak tahu alasan pasti kenapa nama Samin harus diganti menjadi Mahrus Ali. “Nama Mahrus Ali atas rekomendasi Kiai Mahrus Ali Lirboyo,” ungkapnya.

Kiai Mahkrus mendirikan Pesantren Sunan Kalijaga pada 1971. Beberapa tahun kemudian, santrinya berdatangan dan ada yang dari Banyuwangi. Dan itu, membuat Kiai Mahrus harus mendirikan bangunan sederhana dari bambu untuk menetap para santri yang ingin menimba ilmu agama. “Saat itu pesantren masih berbasis salaf atau hanya mengajarkan kitab-kitab salaf,” cetusnya.

Saat pendidikan formal sudah mulai diincar oleh masyarakat, jumlah santri berkurang. Apalagi, kondisi Kiai Mahrus kurang sehat. “Kia Mahrus sakit sangat lama, sempat terkena serangan stroke,” terangnya.

Karena sakitnya itu, Kiai Mahrus akhirnya meninggal sekitar pukul 04.30 di rumahnya, berbarengan dengan ulang tahun NU pada 31 Januari 2018. “Kiai Mahrus meninggal dengan usia 78 tahun,” jelasnya.

Saat Kiai Mahrus meninggal, warga dari berbagai daerah di Banyuwangi banyak berdatangan. Dan itu, menandakan Kiai Mahrus itu salah satu kiai sepuh di Banyuwangi yang sering dijadikan rujukan karena kezuhudan dan kealimannya. Salah satu bukti kezuhudan Kiai Mahrus, saat ada kunjungan Menteri Perhubungan RI Hatta Radjasa di era Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada 2006. “Menteri Hatta Radjasa datang ke pesantren, kebetulan sedang ada acara PCNU Banyuwangi,” ujarnya.

Saat berada di Pesantren Sunan Kalijogo, Menteri Hatta Radjasa menyerahkan sumbangan berupa uang sebesar Rp 100 juta dengan pembagian Rp 50 juta untuk NU dan Rp 50 juta untuk Kiai Mahrus. Tapi, Kiai Mahrus yang saat itu sedang sakit, menyatakan tidak mau menerima uang tersebut. “Kiai Mahrus hanya bilang terima kasih, tetapi tidak mau menerima uangnya,” ucapnya.

Dari cerita yang beredar di masyarakat, Kiai Mahrus semasa masih nyantri selalu mendapatkan kiriman uang maupun makanan dalam jumlah banyak. Dan kiriman itu, juga langsung dihabiskan dengan dibagikan kepada teman santri lain. “Setelah itu hidup sederhana,” cetusnya.

Saking sederhananya, sarung yang digunakan Kiai Mahrus hanya satu. Jadi saat sarung kotor, Kiai Mahrus menuju sungai lalu mencuci dan dijemur di atas batu. Sambil menunggu sarungnya kering, Kiai Mahrus berendam di air sungai. “Itu beberapa cerita kezuhudan Kiai Mahrus,” jelasnya.

Satu lagi, Kiai Mahrus terkenal dengan sebutan Kiai Sapujagat. Itu karena dimanapun tempat, kapan waktunya, dan dalam bentuk acara sebesar apapun, kalau Kiai Mahrus diminta untuk memimpin doa, hanya membaca doa Sapujagat. “Sampai-sampai pemilik acara waktu itu ada yang gelo,” pungkas Gus Malik. (mg5/abi)

SRONO – KH Mahrus Ali dikenal seorang ulama yang alim, zihud, dan kharismatik. Pendiri Pondok Pesantren Sunan Kalijogo di Dusun Parirejo, Desa Parijarah Wetan, Kecamatan Srono, ini asli kelahiran Banyuwangi.

Kiai Mahrus Ali saat masih kecil diangkat anak oleh Hj Roudlah, seorang petani yang memiliki banyak sawah tapi belum dikaruniai anak. Saat lahir dengan delapan bersaudara, oleh orang tuanya H. Abdul Ghani diberi nama Samin.

Semasa remaja, belajar agama sampai diniyah alfiyah di Pondok Pesantrren Nahdlatut Thullab atau Pesantren Kepundungan, Srono, asuhan KH Dimyathi Syafie. Kiai Mahrus menghafalkan nadhom Alfiah Ibnu Malik hanya satu bulan 40 hari tanpa tidur sama sekali. “Sejak di pesantren dikenal rajin dan ulet dalam belajar,” cetus pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijogo, Gus Malik Ibrahim.

Usai lulus alfiah di Pondok Pesantren Kepundungan, Kiai Mahrus melanjutkan ke Pondok Pesantren Darul Hikam di Bendo, Pare, Kediri asuhan Syekh Khozin. Selanjutnya, belajar di Pondok Pesantren Al Hidayah, Kretek, Pare, Kediri asuhan KH Juwaini Nuh hingga beberapa tahun. “Kia Mahrus menjadi santri kesayangan Kiai Juwaini Nuh,” jelasnya.

Semasa Kiai Mahrus di Pesantren Al Hidayah, santri yang lain banyak yang iri karena seperti diistimewakan oleh pengasuh. Sebenarnya, perlakukan pengasuh kepada Kiai Mahrus itu karena ketakdzimannya selama menjadi santri. Bila pengasuh pesantren datang dari bepergian, Kiai Mahrus selalu menawarkan segala kebutuhannya, seperti membawakan barang bawaaanya, menawarkan pijet, atau menyediakan kebutuhan lainnya. “Kiai Mahrus tidak menunggu disuruh, tapi langsung menawarkan diri,” ucapnya.

Suatu hari saat masih di Kretek, tiba-tiba Kiai Mahrus makan dengan disuapi oleh Kiai Juwaini Nuh. Sebagian orang menyebut, itu pengasuh pesantren sedang memasukkan ilmu kepada Kiai Mahrus. “Setelah itu Kiai Juwaini mengatakan pada para santrinya kalau Kiai Mahrus memiliki pesantren di rumahnya,” terangnya.

Kiai Mahrus sendiri sebenarnya tidak paham dengan pernyataan kiainya itu. Sejumlah santri ada yang menanyakan kebenaran pernyataan sang kiai itu. Malahan, ada santri yang ikut pulang ke rumah Kiai Mahrus untuk membuktikannya. “Waktu itu Kiai Mahrus belum memiliki pesantren, pesantren baru berdiri setelah pulang dari pondok,” ucapnya.

Setelah dari Pesantren Kretek, Kiai Mahrus melanjutkan belajar di Pesantren Tugung, Desa/Kecamatan Sempu, asuhan KH Abbas. Saat masuk, berpura-pura menjadi santri baru yang belum tahu tentang ilmu agama. Di pesantren ini kembali dari kelas satu diniyah. “Suatu hari Kiai Abas keliling pesantren, tidak sengaja melihat Kiai Mahrus membaca kitab berkapasitas tinggi,” terangnya.

Melihat itu, Kiai Abas memberikan tugas kepada Kiai Mahrus untuk mengajar dan menjadi lurah di Pesantren Tugung tersebut. Saat di Pesantren Tugung, Kiai Mahrus oleh Kiai Abas disuruh pulang karena dianggap ilmunya sudah cukup, dan sudah waktunya mengembangkan ilmu agama di daerahnya. “Kiai Mahrus pulang bersama salah satu santri Kiai Abbas yang bernama Halimi, itu santri pertama di pesantren ini,” ungkapnya.

Kiai Mahrus yang memiliki nama asli Samin pernah sowan kepada Kiai Mahrus Ali di Pesantren Lirboyo, Kediri, untuk tabarukan. Di pesantren ini, oleh kiai namanya diganti sesuai nama kiainya, Mahrus Ali. Tidak tahu alasan pasti kenapa nama Samin harus diganti menjadi Mahrus Ali. “Nama Mahrus Ali atas rekomendasi Kiai Mahrus Ali Lirboyo,” ungkapnya.

Kiai Mahkrus mendirikan Pesantren Sunan Kalijaga pada 1971. Beberapa tahun kemudian, santrinya berdatangan dan ada yang dari Banyuwangi. Dan itu, membuat Kiai Mahrus harus mendirikan bangunan sederhana dari bambu untuk menetap para santri yang ingin menimba ilmu agama. “Saat itu pesantren masih berbasis salaf atau hanya mengajarkan kitab-kitab salaf,” cetusnya.

Saat pendidikan formal sudah mulai diincar oleh masyarakat, jumlah santri berkurang. Apalagi, kondisi Kiai Mahrus kurang sehat. “Kia Mahrus sakit sangat lama, sempat terkena serangan stroke,” terangnya.

Karena sakitnya itu, Kiai Mahrus akhirnya meninggal sekitar pukul 04.30 di rumahnya, berbarengan dengan ulang tahun NU pada 31 Januari 2018. “Kiai Mahrus meninggal dengan usia 78 tahun,” jelasnya.

Saat Kiai Mahrus meninggal, warga dari berbagai daerah di Banyuwangi banyak berdatangan. Dan itu, menandakan Kiai Mahrus itu salah satu kiai sepuh di Banyuwangi yang sering dijadikan rujukan karena kezuhudan dan kealimannya. Salah satu bukti kezuhudan Kiai Mahrus, saat ada kunjungan Menteri Perhubungan RI Hatta Radjasa di era Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada 2006. “Menteri Hatta Radjasa datang ke pesantren, kebetulan sedang ada acara PCNU Banyuwangi,” ujarnya.

Saat berada di Pesantren Sunan Kalijogo, Menteri Hatta Radjasa menyerahkan sumbangan berupa uang sebesar Rp 100 juta dengan pembagian Rp 50 juta untuk NU dan Rp 50 juta untuk Kiai Mahrus. Tapi, Kiai Mahrus yang saat itu sedang sakit, menyatakan tidak mau menerima uang tersebut. “Kiai Mahrus hanya bilang terima kasih, tetapi tidak mau menerima uangnya,” ucapnya.

Dari cerita yang beredar di masyarakat, Kiai Mahrus semasa masih nyantri selalu mendapatkan kiriman uang maupun makanan dalam jumlah banyak. Dan kiriman itu, juga langsung dihabiskan dengan dibagikan kepada teman santri lain. “Setelah itu hidup sederhana,” cetusnya.

Saking sederhananya, sarung yang digunakan Kiai Mahrus hanya satu. Jadi saat sarung kotor, Kiai Mahrus menuju sungai lalu mencuci dan dijemur di atas batu. Sambil menunggu sarungnya kering, Kiai Mahrus berendam di air sungai. “Itu beberapa cerita kezuhudan Kiai Mahrus,” jelasnya.

Satu lagi, Kiai Mahrus terkenal dengan sebutan Kiai Sapujagat. Itu karena dimanapun tempat, kapan waktunya, dan dalam bentuk acara sebesar apapun, kalau Kiai Mahrus diminta untuk memimpin doa, hanya membaca doa Sapujagat. “Sampai-sampai pemilik acara waktu itu ada yang gelo,” pungkas Gus Malik. (mg5/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/