alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Bermain, Baca Buku, Baca Puisi, dan Melukis Di Pinggir Sawah

Banyak orang paham, seperti apa pentingnya bermain bagi anak-anak usia dini. Melakukan banyak aktivitas di luar ruangan, melukis, membaca buku cerita, dan berpuisi, jelas memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak.

Aneka kegiatan itu, diyakini bisa mengembangkan kognitif anak melalui kreativitas. Selain itu, bermain juga akan membangun rasa kepercayaan diri, serta melatih anak-anak untuk memecahkan masalah. “Saya sekarang jarang melihat anak-anak bermain tali lompat di halaman rumah,” cetus Galih Raka, 31, salah satu penggagas rumah baca Pinggir Sawah di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Sempu, kemarin (24/9).

Rumah baca Pinggir Sawah didirikan bersama teman-temannya, untuk mengembalikan permainan tradisional yang dulu sering dimainkan oleh anak-anak. “Sekarang anak-anak lebih senang bermain handphone (HP),” katanya.

Masifnya penampakan seorang anak dengan serius menatap layar HP di tempat-tempat umum, menjadi bukti nyata kalau saat ini anak kecil banyak yang kecanduan gadget dan menyelami internet. “Itu yang merenggut masa kecilnya,” cetusnya.

Di rumah baca Pinggir Sawah, anak-anak diajak bermain gobak sodor, membaca buku, dan menggambar. Di tempatnya ini, banyak anak belajar membaca puisi. “Banyak anggota komunitas seni di sini, mereka yang mengajari anak-anak berkesenian,” ungkapnya.

Galih mengaku awalnya tidak berniat sedikitpun menyulap rumahnya menjadi rumah baca seperti sekarang ini. Tapi setelah melihat banyak anak kecil di sekitarnya, ia berpikir tidak ada salahnya menyulap rumahnya menjadi taman bermain bagi anak-anak. “Awalnya tempat bertukar pikiran dengan teman-teman komunitas saja,” ungkapnya.

Untuk merealisasikan niatnya itu, Galih mengajak beberapa temannya dari komunitas lain untuk mengeksekusi idenya tersebut. Kebetulan, tidak sedikit dari teman-teman komunitas memiliki banyak buku bacaan, dan mereka punya perhatian lebih terhadap dunia literasi. “Teman-teman banyak yang mendukung,” katanya.

Saat ini rumah baca Pinggir Sawah sudah berdiri tiga tahun. Selama ini banyak menggelar kegiatan positif dengan melibatkan anak-anak. Semua itu, ditujukan untuk membangun rasa kepercayaan diri para anak-anak. “Saat peringatan hari kemerdekaan, kami adakan lelang lukisan,” akunya.

Galih bersama anggota komunitas yang banyak beraktivitas di rumah baca, berharap langkahnya ini mendapat dukungan dari dinas terkait, atau setidaknya dari pemerintah desa setempat. Bagi komunitasnya, pemerintah desa itu bagaikan orang tua. Sehingga, akan lebih baik jika dapat berjalan berdampingan. “Semua ini untuk dapat melakukan yang baik bagi generasi penerus bangsa,” pungkasnya.

Banyak orang paham, seperti apa pentingnya bermain bagi anak-anak usia dini. Melakukan banyak aktivitas di luar ruangan, melukis, membaca buku cerita, dan berpuisi, jelas memiliki banyak manfaat bagi perkembangan anak.

Aneka kegiatan itu, diyakini bisa mengembangkan kognitif anak melalui kreativitas. Selain itu, bermain juga akan membangun rasa kepercayaan diri, serta melatih anak-anak untuk memecahkan masalah. “Saya sekarang jarang melihat anak-anak bermain tali lompat di halaman rumah,” cetus Galih Raka, 31, salah satu penggagas rumah baca Pinggir Sawah di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Sempu, kemarin (24/9).

Rumah baca Pinggir Sawah didirikan bersama teman-temannya, untuk mengembalikan permainan tradisional yang dulu sering dimainkan oleh anak-anak. “Sekarang anak-anak lebih senang bermain handphone (HP),” katanya.

Masifnya penampakan seorang anak dengan serius menatap layar HP di tempat-tempat umum, menjadi bukti nyata kalau saat ini anak kecil banyak yang kecanduan gadget dan menyelami internet. “Itu yang merenggut masa kecilnya,” cetusnya.

Di rumah baca Pinggir Sawah, anak-anak diajak bermain gobak sodor, membaca buku, dan menggambar. Di tempatnya ini, banyak anak belajar membaca puisi. “Banyak anggota komunitas seni di sini, mereka yang mengajari anak-anak berkesenian,” ungkapnya.

Galih mengaku awalnya tidak berniat sedikitpun menyulap rumahnya menjadi rumah baca seperti sekarang ini. Tapi setelah melihat banyak anak kecil di sekitarnya, ia berpikir tidak ada salahnya menyulap rumahnya menjadi taman bermain bagi anak-anak. “Awalnya tempat bertukar pikiran dengan teman-teman komunitas saja,” ungkapnya.

Untuk merealisasikan niatnya itu, Galih mengajak beberapa temannya dari komunitas lain untuk mengeksekusi idenya tersebut. Kebetulan, tidak sedikit dari teman-teman komunitas memiliki banyak buku bacaan, dan mereka punya perhatian lebih terhadap dunia literasi. “Teman-teman banyak yang mendukung,” katanya.

Saat ini rumah baca Pinggir Sawah sudah berdiri tiga tahun. Selama ini banyak menggelar kegiatan positif dengan melibatkan anak-anak. Semua itu, ditujukan untuk membangun rasa kepercayaan diri para anak-anak. “Saat peringatan hari kemerdekaan, kami adakan lelang lukisan,” akunya.

Galih bersama anggota komunitas yang banyak beraktivitas di rumah baca, berharap langkahnya ini mendapat dukungan dari dinas terkait, atau setidaknya dari pemerintah desa setempat. Bagi komunitasnya, pemerintah desa itu bagaikan orang tua. Sehingga, akan lebih baik jika dapat berjalan berdampingan. “Semua ini untuk dapat melakukan yang baik bagi generasi penerus bangsa,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/