alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Istri Pejabat hingga Bankir Rela Bersihkan Mukena Kotor

Ini tentang niat baik. Dipicu keinginan membantu sesama muslimah agar nyaman dalam menjalankan salat. Para ibu-ibu asal berbagai latar belakang keluarga sepakat membentuk Komunitas Genasih. Mereka rutin menyisir masjid dan musala untuk membersihkan mukena kotor.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

DELAPAN perempuan berkumpul di depan ruang takmir Masjid Agung Baiturrahman (MAB) Kamis pagi (24/5). Mengenakan seragam hijau lengkap dengan kerudung berwarna senada, masing-masing menenteng tas kresek dan lantas masuk ke rumah ibadah yang berlokasi di Jalan PB Sudirman, Banyuwangi tersebut.

Sesampai di dalam masjid, mereka langsung menuju ke lantai dua, tempat jamaah perempuan melaksanakan ibadah salat. Tanpa banyak kata, sebagian di antara mereka memungut mukena yang diletakkan di sisi belakang alias sisi sebelah timur.

Ternyata mukena yang memang disediakan untuk masyarakat umum itu tidak hendak mereka pakai. Sebaliknya, ibu-ibu itu malah menyerahkan mukena tersebut kepada rekan-rekannya. Lalu, mukena itu diganti dengan mukena lain yang mereka bawa dengan tas kresek tersebut.

Belakangan diketahui, ibu-ibu tersebut merupakan para anggota Komunitas Gerakan Mukena Bersih (Genasih). Sejak resmi terbentuk pada 27 Januari 2017, mereka rutin mendatangi puluhan masjid dan musala yang tersebar di pusat Kota Banyuwangi dan sekitarnya setiap Senin sampai Jumat. Tujuannya, mengganti mukena kotor dengan mukena bersih.

Penggerak Genasih Banyuwangi Titis Ainurrahman mengatakan, saat ini anggota Genasih mencapai 60 orang. Di internal Genasih, para anggota komunitas disebut kru piket. ”Tugasnya ya seperti ini. Kami datang ke masjid atau musala untuk mengganti mukena kotor dengan mukena bersih setiap pekan sekali. Untuk hari ini (Kamis), tim kami bagi dalam empat kelompok untuk menyisir masjid dan musala member Genasih,” ujarnya.

Titis mengaku gerakan membersihkan mukena itu hanya dilakukan pada masjid atau musala yang menjadi member Genasih. Totalnya sebanyak 26 masjid dan musala. Mulai MAB, masjid di RSUD Blambangan, RS Yasmin, musala di tempat wisata Taman Suruh, musala Istana Gandrung, musala Bioskop New Star Cineplex, musala di Pulau Santen, dan lain-lain.

Selain itu, masih banyak pengurus masjid dan musala lain yang mengajukan diri menjadi member Genasih. ”Kami prioritaskan masjid atau musala yang banyak jamaahnya. Begitu jadi member, maka urusan ganti dan pasang mukena diurus Genasih,” tutur perempuan berusia 54 tahun yang beralamat di Perum Mendut Regency tersebut.

Dijelaskan, sebelum diterima sebagai member, pihaknya melakukan survei di masjid atau musala. Survei dilakukan untuk memastikan masing-masing tempat ibadah tersebut memiliki berapa potong mukena. ”Misalnya masjid memiliki 25 mukena, maka kami harus menyediakan 25 mukena bersih dahulu. Sebab, mukena yang ada di masjid itu kami tarik untuk di-laundry,” kata istri mantan Pimpinan Cabang (Pinca) Bank Jatim Banyuwangi Malakin tersebut.

Titis menambahkan, anggota kru piket Genasih berasal dari berbagai latar belakang. Ada istri anggota TNI, pengusaha, hingga istri pejabat. Selain 60 kru piket tersebut, Genasih juga didukung 148 donatur serta 12 pengusaha laundry yang bersedia mencuci mukena secara gratis. ”Ada pula tiga kru piket yang mencuci sendiri mukena musala atau masjid member Genasih di rumahnya,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu anggota kru piket Genasih Deasy Lukman mengatakan, dirinya bergabung dengan komunitas tersebut didasari keinginan berbuat baik kepada sesama. ”Apa sih yang bisa saya perbuat dalam hidup ini. Anak saya hanya satu dan sudah tidak saya openi setiap hari karena menempuh pendidikan di luar daerah. Maka, saya cari kegiatan sosial seperti Genasih ini,” aku istri Kepala Bagian (Kabag) Kesra Pemkab Banyuwangi Lukman tersebut.

Deasy mengatakan, berdasar pengalamannya mengurus mukena di masjid atau musala member Genasih, bagian mukena yang paling cepat kotor adalah lipitan wajah. ”Mungkin karena kena bedak. Sedangkan bagian yang lain relatif masih bersih,” pungkasnya.

Ini tentang niat baik. Dipicu keinginan membantu sesama muslimah agar nyaman dalam menjalankan salat. Para ibu-ibu asal berbagai latar belakang keluarga sepakat membentuk Komunitas Genasih. Mereka rutin menyisir masjid dan musala untuk membersihkan mukena kotor.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

DELAPAN perempuan berkumpul di depan ruang takmir Masjid Agung Baiturrahman (MAB) Kamis pagi (24/5). Mengenakan seragam hijau lengkap dengan kerudung berwarna senada, masing-masing menenteng tas kresek dan lantas masuk ke rumah ibadah yang berlokasi di Jalan PB Sudirman, Banyuwangi tersebut.

Sesampai di dalam masjid, mereka langsung menuju ke lantai dua, tempat jamaah perempuan melaksanakan ibadah salat. Tanpa banyak kata, sebagian di antara mereka memungut mukena yang diletakkan di sisi belakang alias sisi sebelah timur.

Ternyata mukena yang memang disediakan untuk masyarakat umum itu tidak hendak mereka pakai. Sebaliknya, ibu-ibu itu malah menyerahkan mukena tersebut kepada rekan-rekannya. Lalu, mukena itu diganti dengan mukena lain yang mereka bawa dengan tas kresek tersebut.

Belakangan diketahui, ibu-ibu tersebut merupakan para anggota Komunitas Gerakan Mukena Bersih (Genasih). Sejak resmi terbentuk pada 27 Januari 2017, mereka rutin mendatangi puluhan masjid dan musala yang tersebar di pusat Kota Banyuwangi dan sekitarnya setiap Senin sampai Jumat. Tujuannya, mengganti mukena kotor dengan mukena bersih.

Penggerak Genasih Banyuwangi Titis Ainurrahman mengatakan, saat ini anggota Genasih mencapai 60 orang. Di internal Genasih, para anggota komunitas disebut kru piket. ”Tugasnya ya seperti ini. Kami datang ke masjid atau musala untuk mengganti mukena kotor dengan mukena bersih setiap pekan sekali. Untuk hari ini (Kamis), tim kami bagi dalam empat kelompok untuk menyisir masjid dan musala member Genasih,” ujarnya.

Titis mengaku gerakan membersihkan mukena itu hanya dilakukan pada masjid atau musala yang menjadi member Genasih. Totalnya sebanyak 26 masjid dan musala. Mulai MAB, masjid di RSUD Blambangan, RS Yasmin, musala di tempat wisata Taman Suruh, musala Istana Gandrung, musala Bioskop New Star Cineplex, musala di Pulau Santen, dan lain-lain.

Selain itu, masih banyak pengurus masjid dan musala lain yang mengajukan diri menjadi member Genasih. ”Kami prioritaskan masjid atau musala yang banyak jamaahnya. Begitu jadi member, maka urusan ganti dan pasang mukena diurus Genasih,” tutur perempuan berusia 54 tahun yang beralamat di Perum Mendut Regency tersebut.

Dijelaskan, sebelum diterima sebagai member, pihaknya melakukan survei di masjid atau musala. Survei dilakukan untuk memastikan masing-masing tempat ibadah tersebut memiliki berapa potong mukena. ”Misalnya masjid memiliki 25 mukena, maka kami harus menyediakan 25 mukena bersih dahulu. Sebab, mukena yang ada di masjid itu kami tarik untuk di-laundry,” kata istri mantan Pimpinan Cabang (Pinca) Bank Jatim Banyuwangi Malakin tersebut.

Titis menambahkan, anggota kru piket Genasih berasal dari berbagai latar belakang. Ada istri anggota TNI, pengusaha, hingga istri pejabat. Selain 60 kru piket tersebut, Genasih juga didukung 148 donatur serta 12 pengusaha laundry yang bersedia mencuci mukena secara gratis. ”Ada pula tiga kru piket yang mencuci sendiri mukena musala atau masjid member Genasih di rumahnya,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu anggota kru piket Genasih Deasy Lukman mengatakan, dirinya bergabung dengan komunitas tersebut didasari keinginan berbuat baik kepada sesama. ”Apa sih yang bisa saya perbuat dalam hidup ini. Anak saya hanya satu dan sudah tidak saya openi setiap hari karena menempuh pendidikan di luar daerah. Maka, saya cari kegiatan sosial seperti Genasih ini,” aku istri Kepala Bagian (Kabag) Kesra Pemkab Banyuwangi Lukman tersebut.

Deasy mengatakan, berdasar pengalamannya mengurus mukena di masjid atau musala member Genasih, bagian mukena yang paling cepat kotor adalah lipitan wajah. ”Mungkin karena kena bedak. Sedangkan bagian yang lain relatif masih bersih,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/