alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Hari Minggu Bisa Habiskan 30 Kilogram Beras

Kota Santri memiliki berbagai kuliner daerah yang cukup enak. Salah satunya nasi Kolhu, yang dijual oleh Annura, warga Desa Balung Kecamatan Kendit. Menurutnya, nasi Kolhu sudah menjadi makanan khas sejak lama di Kecamatan Kendit.

IZZUL MUTTAQIN, Kendit

Jam menunjukkan pukul 16.00.  Sore itu, beberapa orang tampak berkumpul di sebuah warung yang terletak di Desa Balung, Kecamatan Kendit. Sedangkan seorang wanita 35 tahun, tampak sibuk melayani pembeli.

Saat wartawan koran ini menghampirinya, Annuru tampak tersenyum ramah. Lantas dia menunjukkan nasi bungkusan yang sudah disiapkan untuk para pembeli.

“Ini namanya nasi Kolhu. Kolhu adalah singkatan dari sekkol dan tahu. Sekkol adalah parutan kelapa yang diolah jadi lauk. Sedangkan tahu disajikan dengan digoreng biasa,” terangnya saat diwawancarai.

Menurut Annuru, nasi Kolhu merupakan kuliner yang khas di Kecamatan Kendit sejak lama. “Di kecamatan lain, tidak ada nasi kolhu. Cuma adanya di Kendit saja,” terangnya.

Manurut Annuru, warung tempatnya melayani pembeli itu adalah milik neneknya. Bahkan sang nenek berjualan nasi kolhu sejak tahun 70-an.

“Sejak tahun 70-an nenek saya sudah berjualan nasi kolhu di daerah sini. Cuma bedanya kalau dulu nasi dijajakan seharaga Rp. 300. Karena masih belum memiliki warung. Tapi sejak tahun 1982, alhamdulillah nenek sudah punya warung sendiri. ya warung inilah yang kami jadikan tempat melayani pembeli,” terangnya.

Sementara Nima, sang pemilik warung membenarkan terhadap apa yang diceritakan sang cucu tersebut. Bahkan menurutnya, dia rela tidur-tidur di warung untuk melayani pembeli.

“Sejak punya warung, peminatnya semakin banyak. Bahkan dulu sampek tidur-tidur di warung ini. Saya melayani pembeli selama 24 jam. Kalau nasinya dimasak pake tungku dengan bahan kayu bakar. Sehingga aromanya lebih khas,” katanya.

Menurut Hafit, kakak Annuru, Nasi Kolhu di memang sudah terkenal sejak dulu. Bahkan kalau malam minggu,  bisa menghabiskan beras hingga 40 kg. “Biasanya kalau malam minggu peminatnya tinggi. Sedangkan kalau hari-hari biasa habis sekitar 30 kg,” ucapnya.

Dengan menjual nasi Kolhu, Hafit mengaku bangga. Sebab dirinya bisa mengelola kuliner lokal yang masih tradisional cara penyajiannya. “Kita tidak berpikir ini akan kita kemas pake kertas lilin, mika atau sterefoam. Kita tetap pake bungkus daun. Karena selain unik, juga diminati. Karena bahannya alami,” tuturnya.

Kelebihan nasi kolhu, menurut Hafit, terletak pada aroma dan rasanya yang khas. Selain itu juga tidak mudah basi. “Karena proses memasak menggunakan tungku, makanan menjadi lebih tahan lama,” ungkapnya.

Namun menurut Hafit, memasuki Bulan Ramadan, omset penjualan nasi kolhu justru menurun. “Saat ini hanya habis sekitar 20 kg beras perhari. Sebab kita baru bisa buka dari jam 16.00 dan tutup jam 04.00 dini hari. Jadinya hanya sekitar 12 jam” pungkasnya. (*)

Kota Santri memiliki berbagai kuliner daerah yang cukup enak. Salah satunya nasi Kolhu, yang dijual oleh Annura, warga Desa Balung Kecamatan Kendit. Menurutnya, nasi Kolhu sudah menjadi makanan khas sejak lama di Kecamatan Kendit.

IZZUL MUTTAQIN, Kendit

Jam menunjukkan pukul 16.00.  Sore itu, beberapa orang tampak berkumpul di sebuah warung yang terletak di Desa Balung, Kecamatan Kendit. Sedangkan seorang wanita 35 tahun, tampak sibuk melayani pembeli.

Saat wartawan koran ini menghampirinya, Annuru tampak tersenyum ramah. Lantas dia menunjukkan nasi bungkusan yang sudah disiapkan untuk para pembeli.

“Ini namanya nasi Kolhu. Kolhu adalah singkatan dari sekkol dan tahu. Sekkol adalah parutan kelapa yang diolah jadi lauk. Sedangkan tahu disajikan dengan digoreng biasa,” terangnya saat diwawancarai.

Menurut Annuru, nasi Kolhu merupakan kuliner yang khas di Kecamatan Kendit sejak lama. “Di kecamatan lain, tidak ada nasi kolhu. Cuma adanya di Kendit saja,” terangnya.

Manurut Annuru, warung tempatnya melayani pembeli itu adalah milik neneknya. Bahkan sang nenek berjualan nasi kolhu sejak tahun 70-an.

“Sejak tahun 70-an nenek saya sudah berjualan nasi kolhu di daerah sini. Cuma bedanya kalau dulu nasi dijajakan seharaga Rp. 300. Karena masih belum memiliki warung. Tapi sejak tahun 1982, alhamdulillah nenek sudah punya warung sendiri. ya warung inilah yang kami jadikan tempat melayani pembeli,” terangnya.

Sementara Nima, sang pemilik warung membenarkan terhadap apa yang diceritakan sang cucu tersebut. Bahkan menurutnya, dia rela tidur-tidur di warung untuk melayani pembeli.

“Sejak punya warung, peminatnya semakin banyak. Bahkan dulu sampek tidur-tidur di warung ini. Saya melayani pembeli selama 24 jam. Kalau nasinya dimasak pake tungku dengan bahan kayu bakar. Sehingga aromanya lebih khas,” katanya.

Menurut Hafit, kakak Annuru, Nasi Kolhu di memang sudah terkenal sejak dulu. Bahkan kalau malam minggu,  bisa menghabiskan beras hingga 40 kg. “Biasanya kalau malam minggu peminatnya tinggi. Sedangkan kalau hari-hari biasa habis sekitar 30 kg,” ucapnya.

Dengan menjual nasi Kolhu, Hafit mengaku bangga. Sebab dirinya bisa mengelola kuliner lokal yang masih tradisional cara penyajiannya. “Kita tidak berpikir ini akan kita kemas pake kertas lilin, mika atau sterefoam. Kita tetap pake bungkus daun. Karena selain unik, juga diminati. Karena bahannya alami,” tuturnya.

Kelebihan nasi kolhu, menurut Hafit, terletak pada aroma dan rasanya yang khas. Selain itu juga tidak mudah basi. “Karena proses memasak menggunakan tungku, makanan menjadi lebih tahan lama,” ungkapnya.

Namun menurut Hafit, memasuki Bulan Ramadan, omset penjualan nasi kolhu justru menurun. “Saat ini hanya habis sekitar 20 kg beras perhari. Sebab kita baru bisa buka dari jam 16.00 dan tutup jam 04.00 dini hari. Jadinya hanya sekitar 12 jam” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Angkutan Pelajar

KBIH Mulai Melepas Calon Jamaah Haji

Lumpur Sudah Dikeruk, Air Masih Meluap

Artikel Terbaru

/