alexametrics
28.7 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Agar Nilai-Nilai Luhur dan Kearifan Lokal Tetap Lestari

Satu lagi upaya pelestarian adat dan tradisi asli Banyuwangi dilakukan di kabupaten berjuluk the Sunrise of Java. Kali ini, peran itu dimainkan komunitas adat Osing Banyuwangi dengan mendirikan ”sekolah” yang diberi nama ”Pesinauan Adat Osing”.

SIGIT HARIYADI, Glagah

PESINAUAN. Kotakata ini berasal dari kata kerja bahasa Osing, yakni sinau. Dalam bahasa Indonesia, sinau berarti belajar. Maka, secara harfiah, pesinauan berarti tempat belajar.

Di Banyuwangi kini muncul semacam sekolah yang diberi nama Pesinauan Adat Osing. Tepatnya di Sawah Art Space yang berlokasi di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah.

Melalui sekolah ini akan diajarkan berbagai hal yang menyangkut budaya, adat, dan tradisi Osing kepada generasi muda. Mulai kesenian, pertanian, bahkan masakan tradisional.

Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Osing Banyuwangi Agus Hermawan mengatakan, berdirinya sekolah adat ini dalam rangka mempertahankan dan melestarikan adat tradisi di wilayah komunitas adat Osing di seluruh Banyuwangi melalui media pembelajaran. ”Sekolah ini adalah hasil inisiatif beberapa waktu lalu yang ide awalnya ingin membentuk sekolah adat Osing,” ujarnya.

Sekolah adat ini juga dimaksudkan sebagai wadah kegiatan yang sebelumnya sudah berjalan oleh sejumlah komunitas dan pemuda. Seperti latihan mocoan Lontar Yusuf dan gerak dasar tari tradisi yang diikuti kalangan muda.

Menurut Agus, perkembangan pariwisata Banyuwangi di bidang sosial budaya yang luar biasa ini harus diimbangi dengan pemahaman yang cukup supaya tidak melenceng dari filosofi tradisi itu sendiri. Dia mengaku khawatir jika nilai luhur secara turun-temurun itu hilang, generasi muda mengenal tradisi hanya sebatas pementasan. ”Jika itu terjadi maka muncullah yang namanya proses degradasi budaya,” ujarnya.

Untuk itu, imbuhnya, sejumlah hal yang berkaitan dengan kearifan lokal akan diajarkan di sekolah ini agar dapat dipahami oleh generasi muda. Termasuk membahas tentang konsep pertanian masyarakat Osing dengan mengandalkan pupuk organik. ”Misalnya tradisi kebo-keboan atau seblang ini anak-anak harus diberi pemahaman, bahwa tradisi itu bukan sekadar pementasan, namun ada nilai-nilai tersendiri,” kata Agus.

Dikatakan, kearifan lokal tersebut akan jadi materi utama yang akan diajarkan pada kalangan muda. ”Misalnya bagaimana kultur masyarakat Osing yang agraris dalam mengelola lahannya,” tuturnya.

Selain berkonsep alam, sekolah ini juga memanfaatkan potensi masing-masing komunitas adat. Sehingga ke depan dalam perkembangannya setiap komunitas adat diharapkan memiliki kegiatan pembelajaran terkait kearifan lokal. ”Di Sawah Art Space ini hanyalah salah satu lokasi pembelajaran sekaligus sekretariatnya. Namun, untuk ruang kegiatan belajar mengajar juga akan dilaksanakan di kampung adat Osing lainnya dengan waktu pelaksanaannya yang sangat fleksibel,” jelas Agus.

Sementara itu Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri menilai sekolah adat ini merupakan salah satu bentuk upaya memperkuat adat tradisi lokal. Apalagi saat ini ritual adat sudah didukung oleh pemerintah daerah dalam bentuk promosi pariwisata yang tergabung dalam Banyuwangi Festival. ”Banyuwangi Festival sudah berhasil melakukan selebrasi ritual adat yang berdampak positif bagi perekonomian. Namun, di tengah gempuran modernitas kita tidak boleh lengah untuk juga memperkuat pelaku, nilai, norma, dan filosofinya,” ujarnya.

Budayawan yang aktif di Dewan AMAN Daerah ini mengaku optimistis sekolah adat ini dapat menjadi motor penggerak anak-anak muda secara mandiri untuk menjalankan nilai-nilai adat berdasarkan kesadaran. Sebab menurutnya, selebrasi adat yang dinilai sudah berhasil harus diimbangi dengan fondasi kesadaran untuk menjalankan nilai adat. ”Kami berharap eksistensi kegiatan pembelajaran yang mengangkat kearifan lokal ini terus berjalan dan berkembang di setiap komunitas adat,” pungkasnya. (aif/c1)

Satu lagi upaya pelestarian adat dan tradisi asli Banyuwangi dilakukan di kabupaten berjuluk the Sunrise of Java. Kali ini, peran itu dimainkan komunitas adat Osing Banyuwangi dengan mendirikan ”sekolah” yang diberi nama ”Pesinauan Adat Osing”.

SIGIT HARIYADI, Glagah

PESINAUAN. Kotakata ini berasal dari kata kerja bahasa Osing, yakni sinau. Dalam bahasa Indonesia, sinau berarti belajar. Maka, secara harfiah, pesinauan berarti tempat belajar.

Di Banyuwangi kini muncul semacam sekolah yang diberi nama Pesinauan Adat Osing. Tepatnya di Sawah Art Space yang berlokasi di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah.

Melalui sekolah ini akan diajarkan berbagai hal yang menyangkut budaya, adat, dan tradisi Osing kepada generasi muda. Mulai kesenian, pertanian, bahkan masakan tradisional.

Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Osing Banyuwangi Agus Hermawan mengatakan, berdirinya sekolah adat ini dalam rangka mempertahankan dan melestarikan adat tradisi di wilayah komunitas adat Osing di seluruh Banyuwangi melalui media pembelajaran. ”Sekolah ini adalah hasil inisiatif beberapa waktu lalu yang ide awalnya ingin membentuk sekolah adat Osing,” ujarnya.

Sekolah adat ini juga dimaksudkan sebagai wadah kegiatan yang sebelumnya sudah berjalan oleh sejumlah komunitas dan pemuda. Seperti latihan mocoan Lontar Yusuf dan gerak dasar tari tradisi yang diikuti kalangan muda.

Menurut Agus, perkembangan pariwisata Banyuwangi di bidang sosial budaya yang luar biasa ini harus diimbangi dengan pemahaman yang cukup supaya tidak melenceng dari filosofi tradisi itu sendiri. Dia mengaku khawatir jika nilai luhur secara turun-temurun itu hilang, generasi muda mengenal tradisi hanya sebatas pementasan. ”Jika itu terjadi maka muncullah yang namanya proses degradasi budaya,” ujarnya.

Untuk itu, imbuhnya, sejumlah hal yang berkaitan dengan kearifan lokal akan diajarkan di sekolah ini agar dapat dipahami oleh generasi muda. Termasuk membahas tentang konsep pertanian masyarakat Osing dengan mengandalkan pupuk organik. ”Misalnya tradisi kebo-keboan atau seblang ini anak-anak harus diberi pemahaman, bahwa tradisi itu bukan sekadar pementasan, namun ada nilai-nilai tersendiri,” kata Agus.

Dikatakan, kearifan lokal tersebut akan jadi materi utama yang akan diajarkan pada kalangan muda. ”Misalnya bagaimana kultur masyarakat Osing yang agraris dalam mengelola lahannya,” tuturnya.

Selain berkonsep alam, sekolah ini juga memanfaatkan potensi masing-masing komunitas adat. Sehingga ke depan dalam perkembangannya setiap komunitas adat diharapkan memiliki kegiatan pembelajaran terkait kearifan lokal. ”Di Sawah Art Space ini hanyalah salah satu lokasi pembelajaran sekaligus sekretariatnya. Namun, untuk ruang kegiatan belajar mengajar juga akan dilaksanakan di kampung adat Osing lainnya dengan waktu pelaksanaannya yang sangat fleksibel,” jelas Agus.

Sementara itu Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri menilai sekolah adat ini merupakan salah satu bentuk upaya memperkuat adat tradisi lokal. Apalagi saat ini ritual adat sudah didukung oleh pemerintah daerah dalam bentuk promosi pariwisata yang tergabung dalam Banyuwangi Festival. ”Banyuwangi Festival sudah berhasil melakukan selebrasi ritual adat yang berdampak positif bagi perekonomian. Namun, di tengah gempuran modernitas kita tidak boleh lengah untuk juga memperkuat pelaku, nilai, norma, dan filosofinya,” ujarnya.

Budayawan yang aktif di Dewan AMAN Daerah ini mengaku optimistis sekolah adat ini dapat menjadi motor penggerak anak-anak muda secara mandiri untuk menjalankan nilai-nilai adat berdasarkan kesadaran. Sebab menurutnya, selebrasi adat yang dinilai sudah berhasil harus diimbangi dengan fondasi kesadaran untuk menjalankan nilai adat. ”Kami berharap eksistensi kegiatan pembelajaran yang mengangkat kearifan lokal ini terus berjalan dan berkembang di setiap komunitas adat,” pungkasnya. (aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/