Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features

Berkat Sumbangan Warga, Ketua Takmir Masjid Terpilih Jadi Kades Jelun

25 November 2021, 16: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Berkat Sumbangan Warga, Ketua Takmir Masjid Terpilih Jadi Kades Jelun

KADES TERPILIH: Nasrudin Sarkowi dan istrinya, Selfinia Utami, ditemui di rumah salah seorang warga Desa Jelun, Kecamatan Licin, kemarin. (Bagus Rio Rahman/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

LICIN – Kontestasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kabupaten Banyuwangi sudah selesai Rabu lalu (17/11). Namun, ada yang unik di balik cerita para calon kepala desa yang bertarung dalam hajatan pesta demokrasi tersebut. Salah satunya kades terpilih Desa Jelun, Nusrudin Sarkowi.

Tuntas sudah coblosan serentak yang berlangsung di delapan desa. Dalam ajang pesta demokrasi itu, Nasrudin Sarkowi terpilih sebagai Kepala Desa Jelun. Dia meraih 523suara dari total 1.900 daftar pemilih tetap (DPT).

Capaian suara tersebut membuat lelaki 48 tahun tersebut harus memulai profesi barunya. Nasrudin berhasil menyisihkan empat calon lainnya. Padahal latar belakang pria kelahiran tahun 1973 tersebut hanya sebagai Ketua Takmir Masjid Jami Baitul Takmam, Desa Jelun.

Baca juga: Ketika Rombongan Bupati Bangli ”Berguru” ke Banyuwangi

Sejak ramai pencalonan, suami dari Selfinia Utami tersebut tidak berniat ikut arus politik di desanya. Lebih-lebih  untuk mencalonkan diri sebagai kades Jelun, tak tebersit niat sedikit pun.

Maklum, bapak dua anak tersebut boleh dibilang memiliki ekonomi pas-pasan. Kesehariannya hanya sebagai petani dan mencari rumput untuk pakan ternaknya. ”Saya hanya seorang petani, tidak ada niat sama sekali untuk ikut serta dalam ajang politik,” ujar Rudin, panggilan akrabnya.

Meski hanya seorang petani biasa, Rudin cukup ditokohkan di desanya. Didorong keras oleh seluruh warga kampung, mulai tetangga hingga anak muda, alumnus santri Ponpes Darussalam Blokagung tersebut akhirnya bersedia mendaftar sebagai cakades.

 ”Tiga bulan sebelum dibukanya pendaftaran pilkades, saya didatangi para tetangga dan remaja. Mereka meminta saya untuk ikut mencalonkan diri sebagai kades,” ungkapnya.

Rudin tidak begitu merespons desakan warga tersebut. Dia sama sekali tidak berambisi untuk jabatan kades.  Rudin meminta waktu berpikir dan berembuk dengan keluarga untuk mengambil keputusan. ”Saya diberi waktu satu bulan saja. Saya katakan kepada warga, jika memang diperbolehkan oleh orang tua, saya akan maju. Jika tidak, maka saya tidak ada maju,” tegasnya.

Begitu waktu pendaftaran pilkades tiba, Rudin akhirnya direstui keluarga besarnya. Saat kandidat lain mendaftar dikawal arak-arakan pendukungnya, Rudin justru sebaliknya. ”Saya datang sendiri ke tempat pendaftaran di kantor desa. Saya waktu itu baru pulang dari sawah. Baju yang saya pakai masih kotor. Berkas pendaftaran saya lipat di jok motor. Panitia sampai geleng-geleng, karena saya santai tidak kepikiran harus menang atau bagaimana,” ungkap mantan Sekretaris 1 MUI Kecamatan Licin tersebut.

Warga tahu betul, Rudin orang yang kurang mampu. Sekadar memperbaiki rumahnya yang hampir roboh saja dia masih belum sanggup. Untuk membentuk tim pemenangan, warga patungan menyumbangkan sembako. Mulai gula, beras, dan minyak goreng, bantuan berdatangan untuk mencukupi kebutuhan Rudin selama nyalon kades.

”Ngomong biaya, saya tidak punya sepeser pun. Apalagi bagi-bagi beras dan sembako, saya malah disokong beras sama warga. Warga tiba-tiba mengadakan istighotsah atau yasinan, saya tidak mengetahui biayanya dari mana,” ungkap mantan Ketua BPD Jelun tersebut.

Selama kampanye, Rudin tidak menggunakan strategi apa pun. Dia hanya pasrah seperti air mengalir. Bahkan, para takmir dan santri-santrinya diimbau untuk tidak memilihnya. ”Saya selalu sampaikan, jika mau milih silakan pilih calon mana yang disukai. Haram bagi saya menggunakan masjid, takmir, dan fasilitas masjid untuk memuluskan jalan politik,’ tegas Rudin.

Akhirnya detik-detik yang ditunggu tiba. Rabu lalu (17/11), warga berbondong-bondong ke TPS untuk menyalurkan hak politiknya, yaitu memilih kepala desa. Sesuai undian, Rudin dapat nomor urut 02. Setelah surat suara dihitung, Rudin meraih suara tertinggi dari empat calon lainnya. Hampir sepertiga suara dia raih dari total pemilih yang hadir, yakni 1.585 dari total DPT 1.900 orang.

Peraih suara kedua yakni calon nomor urut 3 Hadi Mulyono (393 suara), disusul nomor urut 4 Sutikno dengan perolehan 373 suara. Selanjutnya nomor urut 5 Malihi dengan perolehan 237 suara, terakhir Dicky Firman Saputra sebanyak 75 suara.

”Semoga dengan amanah baru ini, saya bisa menjadi pemimpin yang amanah. Seratus hari ke depan saya akan kembali menata sistem pemerintahan yang selama ini sudah hancur dan rusak. Dari segi ekonomi nanti saya akan mencoba membuat ekonomi basis pemberdayaan anak muda melalui sektor pembudidayaan ikan,” pungkas mantan Kaur Pembangunan Desa Jelun tersebut.

(bw/rio/aif/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia