24 C
Banyuwangi
Saturday, February 4, 2023

Begini Perjuangan Nur Halisa Melawan Penyakit Meningokel yang Diderita Anaknya

MANGARAN, Jawa Pos Radar Situbondo – Siti Nur Halisa, warga Dusun Tanjung Sari Barat, Desa Tanjung Kamal, Kecamatan Mangaran, Situbondo, berharap uluran tangan dari banyak orang.  Sebab, ibu 25 tahun itu memiliki anak yang menderita penyakit meningokel. Dia harus membawa anak keduanya tersebut ke Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang.

Siti Nur Halisa mengatakan, penyakit anaknya itu dialami sejak di dalam kandungan. Setelah melahirkan, dia tidak bisa merasakan bahagia seperti orang pada umumnya. Lisa justru harus membawa anaknya ke Rumah Sakit Abdoer Rahem Situbondo untuk dioperasi.

Meningokel merupakan kelainan kongenital berupa penonjolan selaput otak dan cairan otak lewat defek (lubang) pada tulang kepala. ”Sesampainya di RSUD Situbondo, anak saya harus dirujuk ke Rumah Sakit Syaiful Anwar. Katanya, dokter di RSUD Situbondo sudah tidak bisa menangani karena alat-alatnya terbatas,” kata perempuan yang kerap dipanggil Lisa, Senin (23/1).

Kata Lisa, tidak mudah melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit di Malang. Dia harus menyewa mobil rental. Dalam satu kali jalan membutuhkan biaya Rp 600 ribu lebih. Itu pun hasil berutang kepada tetangganya. Lain lagi biaya makan selama di rumah sakit pelat merah tersebut. ”Setiap kali makan, nasi satu bungkus dimakan berdua dengan suami saya. Itu semua demi kesembuhan anak saya,” kata Lisa dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga :  Okupansi Terkerek Event dan Promosi

Dikatakan, sejauh ini usia anaknya sudah menginjak delapan bulan dan sudah dua kali melakukan operasi di Malang. Operasi yang pertama adalah operasi eksisi, yaitu pembuangan cairan di bagian atas kepala. Yang kedua adalah operasi tanam selang di bagian kepala.

”Alhamdulillah, operasi sudah berjalan dua kali. Meskipun hasil berutang kami bisa memberikan yang terbaik untuk anak kami. Tapi, kami mulai kebingungan untuk operasi yang ketiga kalinya. Soalnya kami benar-benar tidak memiliki uang untuk pembiayaan,” katanya.

Masih kata Lisa, untuk operasi memang tidak membutuhkan biaya karena dia sudah menggunakan kartu sehat. Namun, untuk membayar ongkos sewa mobil dan makan di Malang, butuh uang yang tidak sedikit. Sedangkan dia hanya ibu rumah tangga dan penghasilan suaminya Rp 40 ribu dalam sehari.

”Sebenarnya kami bisa numpang naik bus. Tapi kondisi anak saya masih kecil, pas di dalam bus banyak orang merokok dan itu tambah bahaya bagi anak saya. Mau naik sepeda motor juga tidak mungkin,” ungkap Lisa.

Baca Juga :  Warga Paowan Situbondo Belajar Budidaya Buah Naga di Banyuwangi

Oleh sebab itu, Lisa sangat berharap ada dermawan yang bisa memberikan sumbangan untuk biaya operasi yang ketiga. Dia juga sudah menggunakan aplikasi Kitabisa. Sehingga, orang yang ingin mendonasikan bisa melalui aplikasi tersebut.

”Saya terpaksa menggalang dana untuk kesembuhan anak saya. Usaha sendiri sudah saya lakukan, tapi untuk yang ketiga kalinya saya sengaja minta sumbangan kepada orang-orang. Semoga saja banyak yang berkenan dan bagi yang sudah berbagi saya ucapkan banyak terima kasih,” tandas Lisa.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Situbondo Sandy Hendrayono melalui Kabid Kesmas Mardiyah mengaku, pihaknya sudah menugaskan bidan desa setempat untuk memantau kondisi anak dari ibu Lisa. ”Kami pantau berat badannya dan pertumbuhannya. Ibu Lisa juga sudah berkunjung ke RPG (Rumah Pemulihan Gizi). Ini saya mau kroscek ke RPG, sudah diberikan apa saja,” ucap Mardiyah. (pri/c1)

MANGARAN, Jawa Pos Radar Situbondo – Siti Nur Halisa, warga Dusun Tanjung Sari Barat, Desa Tanjung Kamal, Kecamatan Mangaran, Situbondo, berharap uluran tangan dari banyak orang.  Sebab, ibu 25 tahun itu memiliki anak yang menderita penyakit meningokel. Dia harus membawa anak keduanya tersebut ke Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang.

Siti Nur Halisa mengatakan, penyakit anaknya itu dialami sejak di dalam kandungan. Setelah melahirkan, dia tidak bisa merasakan bahagia seperti orang pada umumnya. Lisa justru harus membawa anaknya ke Rumah Sakit Abdoer Rahem Situbondo untuk dioperasi.

Meningokel merupakan kelainan kongenital berupa penonjolan selaput otak dan cairan otak lewat defek (lubang) pada tulang kepala. ”Sesampainya di RSUD Situbondo, anak saya harus dirujuk ke Rumah Sakit Syaiful Anwar. Katanya, dokter di RSUD Situbondo sudah tidak bisa menangani karena alat-alatnya terbatas,” kata perempuan yang kerap dipanggil Lisa, Senin (23/1).

Kata Lisa, tidak mudah melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit di Malang. Dia harus menyewa mobil rental. Dalam satu kali jalan membutuhkan biaya Rp 600 ribu lebih. Itu pun hasil berutang kepada tetangganya. Lain lagi biaya makan selama di rumah sakit pelat merah tersebut. ”Setiap kali makan, nasi satu bungkus dimakan berdua dengan suami saya. Itu semua demi kesembuhan anak saya,” kata Lisa dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga :  Jelang Ramadan, Satgas Covid-19 Gencarkan Vaksin Booster

Dikatakan, sejauh ini usia anaknya sudah menginjak delapan bulan dan sudah dua kali melakukan operasi di Malang. Operasi yang pertama adalah operasi eksisi, yaitu pembuangan cairan di bagian atas kepala. Yang kedua adalah operasi tanam selang di bagian kepala.

”Alhamdulillah, operasi sudah berjalan dua kali. Meskipun hasil berutang kami bisa memberikan yang terbaik untuk anak kami. Tapi, kami mulai kebingungan untuk operasi yang ketiga kalinya. Soalnya kami benar-benar tidak memiliki uang untuk pembiayaan,” katanya.

Masih kata Lisa, untuk operasi memang tidak membutuhkan biaya karena dia sudah menggunakan kartu sehat. Namun, untuk membayar ongkos sewa mobil dan makan di Malang, butuh uang yang tidak sedikit. Sedangkan dia hanya ibu rumah tangga dan penghasilan suaminya Rp 40 ribu dalam sehari.

”Sebenarnya kami bisa numpang naik bus. Tapi kondisi anak saya masih kecil, pas di dalam bus banyak orang merokok dan itu tambah bahaya bagi anak saya. Mau naik sepeda motor juga tidak mungkin,” ungkap Lisa.

Baca Juga :  Rega Dwi Chandra Prasetiyo, Juara II Raka Jawa Timur 2018

Oleh sebab itu, Lisa sangat berharap ada dermawan yang bisa memberikan sumbangan untuk biaya operasi yang ketiga. Dia juga sudah menggunakan aplikasi Kitabisa. Sehingga, orang yang ingin mendonasikan bisa melalui aplikasi tersebut.

”Saya terpaksa menggalang dana untuk kesembuhan anak saya. Usaha sendiri sudah saya lakukan, tapi untuk yang ketiga kalinya saya sengaja minta sumbangan kepada orang-orang. Semoga saja banyak yang berkenan dan bagi yang sudah berbagi saya ucapkan banyak terima kasih,” tandas Lisa.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Situbondo Sandy Hendrayono melalui Kabid Kesmas Mardiyah mengaku, pihaknya sudah menugaskan bidan desa setempat untuk memantau kondisi anak dari ibu Lisa. ”Kami pantau berat badannya dan pertumbuhannya. Ibu Lisa juga sudah berkunjung ke RPG (Rumah Pemulihan Gizi). Ini saya mau kroscek ke RPG, sudah diberikan apa saja,” ucap Mardiyah. (pri/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/