Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features

Keluh Kesah Warga yang Jalannya Rusak Dilewati Truk Pengangkut Pasir

24 September 2021, 06: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Keluh Kesah Warga yang Jalannya Rusak Dilewati Truk Pengangkut Pasir

BARU SAJA DICOR: Dinas PU-CKPP Banyuwangi telah memperbaiki ruas jalan yang rusak di Dusun Wiyayu, Desa Bedewang, Kecamatan Songgon. (Dedy Jumhardiyanto/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

SONGGON – Eksploitasi tambang galian C di Kecamatan Songgon masih menyisakan persoalan pelik. Warga mengeluhkan hilir mudik dump truck pengangkut pasir. Gara-gara dilewati truk pengangkut material yang melebihi tonase, infrastruktur jalan desa rusak parah.

Kerusakan paling parah dirasakan berada persis di depan balai Desa Parangharjo yang berseberangan dengan gedung SDN 1 Parangharjo. Kerusakan jalan tak lain disebabkan akibat terlalu sering dilintasi dump truck yang mengangkut material pasir dari lokasi tambang galian C.

Parahnya lagi, truk pengangkut pasir kadang tidak ditutup terpal. Belum lagi muatan yang melebihi kapasitas bak truk mengakibatkan kerusakan jalan. Padahal jalan yang rusak tersebut baru diperbaiki beberapa bulan. ”Kami belum lama menikmati fasilitas jalan desa. Setelah dilewati truk pengangkut pasir, jalan yang baru diperbaiki hancur lagi,” keluh Yanto, 45, warga Desa Parangharjo.

Baca juga: Susu Kambing Dikirim ke Bali, Jadi Bahan Dasar Produk Kecantikan

Keluh Kesah Warga yang Jalannya Rusak Dilewati Truk Pengangkut Pasir

TAK TERURUS: Jembatan penghubung di Desa Cantuk, Kecamatan Singojuruh, dibiarkan rusak. Hingga kemarin (20/9) belum ada perbaikan dari pemilik tambang pasir ilegal. (Dedy Jumhardiyanto/RadarBanyuwangi.id)

Hampir semua kendaraan dump truck pengangkut pasir melintas di Desa Parangharjo. Terlebih akses jalan tersebut merupakan jalan satu-satunya. Jalan Desa Bedewang tak bisa dilintasi karena ada jembatan ambrol di Desa Cantuk, Kecamatan Singojuruh.

Jika di Kecamatan Songgon terdapat empat lokasi tambang pasir, hampir semua kendaraan melintas di jalan Desa Parangharjo. ”Jika satu lokasi tambang ada 40 armada dump truck yang antre setiap hari, maka dalam sehari tidak kurang 160 unit dump truck yang melintas di jalan desa. Muatannya juga tidak ada yang normal, hampir semuanya overload,” kata Yanto.

Tak heran, jika jalan Desa Parangharjo dalam waktu kurang sebulan sudah hancur. Aspal jalan yang mulus mengelupas diganti dengan tanah uruk bercampur batu. ”Kalau hujan jalannya becek dan licin. Kami khawatir akan mengganggu anak-anak saat berangkat dan pulang sekolah. Belum lagi banyaknya kendaraan yang hilir mudik di jalan,” ungkap Yanto.

Warga sebetulnya telah melakukan aksi penghadangan armada material yang melintas. Beberapa kali dump truck juga terjebak macet karena jalan ambles saat dilewati truk pengangkut pasir. Pemilik tambang pasir, lanjut Yanto,  seolah tutup mata dengan keresahan yang dialami masyarakat.  ”Kami minta pemerintah juga tidak tutup mata. Faktanya jalan hanya diuruk menggunakan tanah campur batu. Penambang jangan cari keuntungan, tapi jalan dibiarkan rusak,” desaknya.

Kerusakan infrastruktur jalan yang ditimbulkan akibat aktivitas penambangan galian C, sudah dilakukan perbaikan oleh Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Perumahan dan Permukiman (PU-CKPP) Banyuwangi. Sejumlah ruas jalan di Desa Bedewang dilakukan pengecoran akibat kerusakan yang cukup parah. Ada dua titik jalan yang dicor beton, yakni di Dusun Arjosari dan Dusun Wiyayu.

Kepala Desa Bedewang Mohamad Asmawi membenarkan jika pengerjaan perbaikan beton cor jalan tersebut dilakukan oleh Dinas PU-CKPP Banyuwangi. Dua titik perbaikan jalan itu yakni di Dusun Arjosari dengan panjang jalan 130 meter lebar 4 meter. Perbaikan jalan juga dilakukan di Dusun Wiyayu. Ruas jalan yang dicor sepanjang 50 meter dengan lebar 4 meter.

”Waktu pengukuran, pemerintah desa memang dilibatkan, tapi saat kegiatan pelaksanaan semuanya kontraktual dilakukan oleh Dinas PU-CKPP Banyuwangi,” jelas Awik, panggilan akrab Mohammad Asmawi.

Untuk perbaikan jalan di Dusun Arjosari sudah dilakukan sejak 1,5 bulan lalu, sedangkan perbaikan di Dusun Wiyayu baru dilakukan sekitar 20 hari lalu. ”Kami sangat berterima kasih kepada Pemkab Banyuwangi, karena memang kontur tanahnya gerak makanya harus dicor,” tandasnya.

Plt Kepala Dinas PU-CKPP Banyuwangi Danang Hartanto menambahkan, kegiatan perbaikan jalan dengan cor beton tersebut merupakan bentuk perhatian Pemkab Banyuwangi terhadap kondisi jalan yang rusak. Dilakukan pengecoran karena kontur tanah lembek dan labil, sehingga harus dilakukan pengecoran guna menghindari kerusakan.

Agar kualitas perbaikan jalan lebih maksimal, setelah dicor tidak boleh dilintasi kendaraan hingga umur beton cor benar-benar kering. ”Masih menunggu waktu pengeringan, karena umur beton baru 20 hari,” jelasnya.

Jika sudah kering, jalan bisa dilintasi kendaraan berat. Namun demikian, Danang berharap agar masyarakat juga bisa ikut merawat aset jalan yang sudah diperbaiki tersebut agar umurnya juga lebih lama.

(bw/ddy/aif/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia