alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Jejak Desa Penari, Benarkah di Banyuwangi?

Jangan Ada Stigma Negatif Kota Mistis Lagi

RADAR BANYUWANGI – Kisah misteri menjadi komoditas yang menarik dalam beberapa tahun terakhir. Tak terkecuali kisah KKN di Desa Penari yang awalnya hanya sebuah tulisan, kini booming hingga diangkat ke layar lebar. Film ini mampu menyedot 7 juta lebih penonton di tanah air. Benarkah Desa Penari ada di Banyuwangi?

Cerita KKN di Desa Penari dianggap semakin menarik setelah penulis yang mengklaim cerita ini adalah sebuah kisah nyata memberikan signal lokasi latar kisah tersebut. Masyarakat mulai banyak mencari di mana latar kejadian cerita itu terjadi.

Dalam ceritanya, penulis memberikan inisial B sebagai kota lokasi. Kemudian diperkuat juga dengan penggambaran Jawa Timur dan lokasi kota B yang berjarak sekitar 4-5 jam dari kota S yang disinyalir sebagai kota Surabaya. Nama Banyuwangi pun akhirnya masuk sebagai daerah yang dimaksud penulis.

JADI VIRAL: Wisata Rowo Bayu semakin terkenal setelah muncul film KKN di Desa Penari, Minggu (22/5). (Salis Ali/Radar Genteng)

Dugaan itu semakin diperkuat setelah film KKN di Desa Penari akhirnya diputar di sejumlah gedung bioskop. Penggunaan kode pelat nomor berawalan P dan berakhiran VA yang merupakan kode untuk kendaraan Banyuwangi tampak pada kendaraan travel yang mengangkut mahasiswa KKN di dalam film tersebut.

Lalu di tengah film, tarian dan musik pengiring yang ditampilkan adalah tari gandrung yang merupakan ikonik dari kebudayaan masyarakat Oseng Banyuwangi. Penegasan jika Banyuwangi adalah latar dari film semakin tak terbantahkan dengan munculnya beberapa orang yang menggunakan udeng khas Oseng.

Setelah latar cerita dipastikan ada di Banyuwangi, saling tebak yang dilakukan warganet dan masyarakat ternyata tak berhenti. Mereka sampai menebak nama desa dan destinasi situs sejarah di Banyuwangi sebagai lokasi yang membuat dua mahasiswa dalam peristiwa KKN itu kesurupan. Mulai dari sebuah dusun di Desa Kalibaru Wetan, kemudian sebuah dusun kecil di wilayah Songgon hingga Dusun Dukuh, Desa Glagah.

Yang terbaru, Sudirman, salah pengelola dari tempat wisata Rowo Bayu jelas-jelas mengklaim jika KKN dan peristiwa mistis yang dilalui para mahasiswa terjadi di Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Klaimnya bahkan disampaikan langsung kepada Menteri BUMN Eric Thohir yang tersebar di media sosial.

Klaim ini memicu perdebatan baru. Alih-alih menyelesaikan spekulasi titik pasti lokasi Desa Penari, klaim itu justru membuat beberapa orang mulai meragukan keaslian cerita KKN di Desa Penari.

ASRI: Pemandangan indah di wisata Rowo Bayu, Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Minggu (22/5). (Salis Ali/Radar Genteng)

Jawa Pos Radar Banyuwangi sempat menilik dua lokasi yang diduga menjadi tempat KKN para mahasiswa asal Surabaya itu. Yaitu Dusun Dukuh, Desa Glagah dan Rowo Bayu. Hasilnya, belum ada temuan spesifik yang merujuk pada kebenaran peristiwa tersebut. “Saya ini orang Songgon dan sering beraktivitas di Bayu. Mustahil kalau ada cerita semacam itu saya tidak dengar. Di Songgon  kejadian sekecil apapun, masyarakatnya pasti banyak yang tahu,’’ kata Agung, warga Songgon.

Pemerhati Budaya Banyuwangi, Pribadi Fransdinata, 38, yang ikut mengamati perkembangan kisah Desa Penari sejak 2019 lalu mengatakan ada banyak kelemahan jika kisah tersebut terjadi di Desa Bayu. Pertama, Pribadi melihat tidak ada budaya penari di Desa Bayu dan sekitarnya. Padahal, dalam cerita ada penggambaran sendang atau tempat mandi para penari yang artinya desa atau wilayah KKN itu merupakan lokasi yang memiliki budaya tari.

Selanjutnya, kata dia, kawasan di sekitar Desa Bayu adalah wilayah perkebunan dan perhutani. Sangat jarang jika KKN difokuskan di wilayah yang menjadi teritorial Perhutani dan perkebunan yang sudah memiliki aturan sendiri di wilayah mereka. “Mengarahkan kejadian di film ke Desa Bayu mencederai nilai historis kawasan itu sendiri. Bayu yang dalam bahasa Tiongkok Kuno memiliki arti Macan Putih (Bai Hu) merupakan kawasan sakral bagi masyarakat Blambangan,” kata budayawan yang hobi naik gunung itu.

Pribadi justru melihat lokasi yang lebih logis sebagai latar Desa Penari adalah tempat yang ada di sekitar Desa Kemiren dan Desa Olehsari yang jelas memiliki budaya Oseng kental. Dua desa itu juga selalu menjadi jujugan mahasiswa KKN yang ingin mempelajari budaya.

Pemerhati Budaya Banyuwangi, Pribadi Fransdinata. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Dari penelusuranya sejak 2019 lalu, Pribadi melihat Dusun Dukuh di Desa Glagah memiliki banyak kesamaan dengan beberapa gambaran Desa Penari. Yang pertama dari budaya tari-tarian. Desa Olehsari dan Kemiren memiliki budaya itu.

Kedua, penggunaan udeng Oseng dalam film. Di era tahun 2008-2009, masyarakat desa yang masih aktif dalam keseharianya menggunakan udeng adalah masyarakat Desa Kemiren. Lalu, tempat yang masih mensakralkan warna merah dalam keseharianya ada di Dusun Dukuh. Bahkan, masyarakat di sana masih sangat menghormati leluhur dengan kerap meletakan sesajen di beberapa tempat. “Setahun saya mengorek kisah KKN di Desa Penari di Dusun Dukuh, kalau mahasiswa KKN nya ada, tapi peristiwa yang terjadi tidak seperti yang dicerita itu. Ada wanita yang kesambet (kesurupan) karena melanggar aturan, bertepatan dengan waktu KKN. Tapi bukan mahasiswa KKN,” jelasnya.

Jika merujuk tahun 2009, yang diduga menjadi setting waktu kejadian, pengelola  Banyuwangi Geographic Channel (BGC) itu mengatakan, kala itu akses jalan ke Dusun Dukuh masih belum bagus. Kendaraan roda 4 tidka bisa lewat, persis penggambaran dalam cerita film KKN di Desa Penari. Selanjutnya, kopi sesajen dengan rasa pahit juga ada di Dusun Dukuh.

Ada kebiasaan di sana yang mencampurkan kopi dengan jenis tumbuhan tertentu yang menberikan citarasa cukup pahit. Pribadi menambahkan, secara umum dirinya tidak ingin mengkritisi masalah Desa Penari yang dikaitkan dengan Banyuwangi, termasuk kesuksesan penulis cerita dan rumah produksi yang memfilmkan KKN di Desa Penari.

Yang menjadi catatan bagi Pribadi adalah bagaimana kisah tersebut seolah kembali melanggengkan stigma negatif tentang Banyuwangi. Masyarakat Banyuwangi harus bisa kritis melihat fenomena ini. Kejadian buruk yang menimpa mahasiswa KKN, kata dia, bisa terjadi di mana saja, tak hanya di Banyuwangi.

MISTIK: Kades Bayu, Kecamatan Songgon, Sugito menunjukkan denah kampung hilang di gawainya, Minggu (22/5). (Salis Ali/Radar Genteng)

Orang-orang yang melakukan tindakan buruk di tempat sakral bisa mendapatkan karma buruk juga. Dia khawatir, anak-anak muda yang menjadi generasi penerus ke depan kembali memandang Banyuwangi sebagai sebuah kota mistis akibat efek samping viralnya cerita tersebut. “Ke depan, jika branding dilakukan di Dusun Dukuh, untuk menonjolkan bagaimana budaya tari Banyuwangi, saya rasa cukup bagus. Kita tidak hanya melihat tarian hanya sebagai tari sambutan untuk tamu, tapi lebih luas lagi dengan kaitan histori dan budayanya. Ini akan menjadi daya tarik untuk Banyuwangi,’’ imbuhnya.

Mantan Kades Kemiren, Ahmad Abdul Tahrim mengatakan, di desanya pada tahun 2008-2009 sempat ada KKN dari dua universitas. Satu dari Universitas Muhammadiyah Malang dan lainya dari Untag 1945 Surabaya. Pria berusia 54 tahun itu mengaku tak melihat ada peristiwa ganjil yang menimpa para mahasiswa tersebut. “Saya jamin tidak ada peristiwa mahasiswa kesurupan atau yang aneh tahun itu,” tegasnya.

Terkait dengan kebiasaan masyarakat yang digambarkan dalam KKN di Desa Penari, seperti penggunaan udeng dan pemberian sesajen di beberapa tempat, Tahrim mengatakan budaya itu ada di masyarakatnya. Penggunaan udeng, bahkan sudah berjalan sejak beberapa generasi. Bedanya, udeng yang digunakan tetua di Kemiren dulu memiliki bentuk yang berbeda dengan yang ada saat ini. Kendati begitu, udeng tetap menjadi bagian penting yang nyaris tak pernah dilepas oleh mereka.

Sedangkan kebiasaan meletakkan sesajen, menurut Kades yang bertugas di Kemiren sejak 2007 hingga 2013 itu, dilakukan hampir di semua keseharian masyarakat. Mulai dari masa tandur labuh sebelum memulai proses bercocok tanam. Kemudian masa nyingkal (membajak) sampai saat selamatan usai panen. “Sesajen sudah biasa diletakkan. Kalau di sawah ya di pinggir-pinggiran mirip kebiasaan orang Bali. Kalau menari dulu ada di rumah-rumah karena tidak ada sanggar,’’ pungkasnya. (fre/aif)

RADAR BANYUWANGI – Kisah misteri menjadi komoditas yang menarik dalam beberapa tahun terakhir. Tak terkecuali kisah KKN di Desa Penari yang awalnya hanya sebuah tulisan, kini booming hingga diangkat ke layar lebar. Film ini mampu menyedot 7 juta lebih penonton di tanah air. Benarkah Desa Penari ada di Banyuwangi?

Cerita KKN di Desa Penari dianggap semakin menarik setelah penulis yang mengklaim cerita ini adalah sebuah kisah nyata memberikan signal lokasi latar kisah tersebut. Masyarakat mulai banyak mencari di mana latar kejadian cerita itu terjadi.

Dalam ceritanya, penulis memberikan inisial B sebagai kota lokasi. Kemudian diperkuat juga dengan penggambaran Jawa Timur dan lokasi kota B yang berjarak sekitar 4-5 jam dari kota S yang disinyalir sebagai kota Surabaya. Nama Banyuwangi pun akhirnya masuk sebagai daerah yang dimaksud penulis.

JADI VIRAL: Wisata Rowo Bayu semakin terkenal setelah muncul film KKN di Desa Penari, Minggu (22/5). (Salis Ali/Radar Genteng)

Dugaan itu semakin diperkuat setelah film KKN di Desa Penari akhirnya diputar di sejumlah gedung bioskop. Penggunaan kode pelat nomor berawalan P dan berakhiran VA yang merupakan kode untuk kendaraan Banyuwangi tampak pada kendaraan travel yang mengangkut mahasiswa KKN di dalam film tersebut.

Lalu di tengah film, tarian dan musik pengiring yang ditampilkan adalah tari gandrung yang merupakan ikonik dari kebudayaan masyarakat Oseng Banyuwangi. Penegasan jika Banyuwangi adalah latar dari film semakin tak terbantahkan dengan munculnya beberapa orang yang menggunakan udeng khas Oseng.

Setelah latar cerita dipastikan ada di Banyuwangi, saling tebak yang dilakukan warganet dan masyarakat ternyata tak berhenti. Mereka sampai menebak nama desa dan destinasi situs sejarah di Banyuwangi sebagai lokasi yang membuat dua mahasiswa dalam peristiwa KKN itu kesurupan. Mulai dari sebuah dusun di Desa Kalibaru Wetan, kemudian sebuah dusun kecil di wilayah Songgon hingga Dusun Dukuh, Desa Glagah.

Yang terbaru, Sudirman, salah pengelola dari tempat wisata Rowo Bayu jelas-jelas mengklaim jika KKN dan peristiwa mistis yang dilalui para mahasiswa terjadi di Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Klaimnya bahkan disampaikan langsung kepada Menteri BUMN Eric Thohir yang tersebar di media sosial.

Klaim ini memicu perdebatan baru. Alih-alih menyelesaikan spekulasi titik pasti lokasi Desa Penari, klaim itu justru membuat beberapa orang mulai meragukan keaslian cerita KKN di Desa Penari.

ASRI: Pemandangan indah di wisata Rowo Bayu, Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Minggu (22/5). (Salis Ali/Radar Genteng)

Jawa Pos Radar Banyuwangi sempat menilik dua lokasi yang diduga menjadi tempat KKN para mahasiswa asal Surabaya itu. Yaitu Dusun Dukuh, Desa Glagah dan Rowo Bayu. Hasilnya, belum ada temuan spesifik yang merujuk pada kebenaran peristiwa tersebut. “Saya ini orang Songgon dan sering beraktivitas di Bayu. Mustahil kalau ada cerita semacam itu saya tidak dengar. Di Songgon  kejadian sekecil apapun, masyarakatnya pasti banyak yang tahu,’’ kata Agung, warga Songgon.

Pemerhati Budaya Banyuwangi, Pribadi Fransdinata, 38, yang ikut mengamati perkembangan kisah Desa Penari sejak 2019 lalu mengatakan ada banyak kelemahan jika kisah tersebut terjadi di Desa Bayu. Pertama, Pribadi melihat tidak ada budaya penari di Desa Bayu dan sekitarnya. Padahal, dalam cerita ada penggambaran sendang atau tempat mandi para penari yang artinya desa atau wilayah KKN itu merupakan lokasi yang memiliki budaya tari.

Selanjutnya, kata dia, kawasan di sekitar Desa Bayu adalah wilayah perkebunan dan perhutani. Sangat jarang jika KKN difokuskan di wilayah yang menjadi teritorial Perhutani dan perkebunan yang sudah memiliki aturan sendiri di wilayah mereka. “Mengarahkan kejadian di film ke Desa Bayu mencederai nilai historis kawasan itu sendiri. Bayu yang dalam bahasa Tiongkok Kuno memiliki arti Macan Putih (Bai Hu) merupakan kawasan sakral bagi masyarakat Blambangan,” kata budayawan yang hobi naik gunung itu.

Pribadi justru melihat lokasi yang lebih logis sebagai latar Desa Penari adalah tempat yang ada di sekitar Desa Kemiren dan Desa Olehsari yang jelas memiliki budaya Oseng kental. Dua desa itu juga selalu menjadi jujugan mahasiswa KKN yang ingin mempelajari budaya.

Pemerhati Budaya Banyuwangi, Pribadi Fransdinata. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Dari penelusuranya sejak 2019 lalu, Pribadi melihat Dusun Dukuh di Desa Glagah memiliki banyak kesamaan dengan beberapa gambaran Desa Penari. Yang pertama dari budaya tari-tarian. Desa Olehsari dan Kemiren memiliki budaya itu.

Kedua, penggunaan udeng Oseng dalam film. Di era tahun 2008-2009, masyarakat desa yang masih aktif dalam keseharianya menggunakan udeng adalah masyarakat Desa Kemiren. Lalu, tempat yang masih mensakralkan warna merah dalam keseharianya ada di Dusun Dukuh. Bahkan, masyarakat di sana masih sangat menghormati leluhur dengan kerap meletakan sesajen di beberapa tempat. “Setahun saya mengorek kisah KKN di Desa Penari di Dusun Dukuh, kalau mahasiswa KKN nya ada, tapi peristiwa yang terjadi tidak seperti yang dicerita itu. Ada wanita yang kesambet (kesurupan) karena melanggar aturan, bertepatan dengan waktu KKN. Tapi bukan mahasiswa KKN,” jelasnya.

Jika merujuk tahun 2009, yang diduga menjadi setting waktu kejadian, pengelola  Banyuwangi Geographic Channel (BGC) itu mengatakan, kala itu akses jalan ke Dusun Dukuh masih belum bagus. Kendaraan roda 4 tidka bisa lewat, persis penggambaran dalam cerita film KKN di Desa Penari. Selanjutnya, kopi sesajen dengan rasa pahit juga ada di Dusun Dukuh.

Ada kebiasaan di sana yang mencampurkan kopi dengan jenis tumbuhan tertentu yang menberikan citarasa cukup pahit. Pribadi menambahkan, secara umum dirinya tidak ingin mengkritisi masalah Desa Penari yang dikaitkan dengan Banyuwangi, termasuk kesuksesan penulis cerita dan rumah produksi yang memfilmkan KKN di Desa Penari.

Yang menjadi catatan bagi Pribadi adalah bagaimana kisah tersebut seolah kembali melanggengkan stigma negatif tentang Banyuwangi. Masyarakat Banyuwangi harus bisa kritis melihat fenomena ini. Kejadian buruk yang menimpa mahasiswa KKN, kata dia, bisa terjadi di mana saja, tak hanya di Banyuwangi.

MISTIK: Kades Bayu, Kecamatan Songgon, Sugito menunjukkan denah kampung hilang di gawainya, Minggu (22/5). (Salis Ali/Radar Genteng)

Orang-orang yang melakukan tindakan buruk di tempat sakral bisa mendapatkan karma buruk juga. Dia khawatir, anak-anak muda yang menjadi generasi penerus ke depan kembali memandang Banyuwangi sebagai sebuah kota mistis akibat efek samping viralnya cerita tersebut. “Ke depan, jika branding dilakukan di Dusun Dukuh, untuk menonjolkan bagaimana budaya tari Banyuwangi, saya rasa cukup bagus. Kita tidak hanya melihat tarian hanya sebagai tari sambutan untuk tamu, tapi lebih luas lagi dengan kaitan histori dan budayanya. Ini akan menjadi daya tarik untuk Banyuwangi,’’ imbuhnya.

Mantan Kades Kemiren, Ahmad Abdul Tahrim mengatakan, di desanya pada tahun 2008-2009 sempat ada KKN dari dua universitas. Satu dari Universitas Muhammadiyah Malang dan lainya dari Untag 1945 Surabaya. Pria berusia 54 tahun itu mengaku tak melihat ada peristiwa ganjil yang menimpa para mahasiswa tersebut. “Saya jamin tidak ada peristiwa mahasiswa kesurupan atau yang aneh tahun itu,” tegasnya.

Terkait dengan kebiasaan masyarakat yang digambarkan dalam KKN di Desa Penari, seperti penggunaan udeng dan pemberian sesajen di beberapa tempat, Tahrim mengatakan budaya itu ada di masyarakatnya. Penggunaan udeng, bahkan sudah berjalan sejak beberapa generasi. Bedanya, udeng yang digunakan tetua di Kemiren dulu memiliki bentuk yang berbeda dengan yang ada saat ini. Kendati begitu, udeng tetap menjadi bagian penting yang nyaris tak pernah dilepas oleh mereka.

Sedangkan kebiasaan meletakkan sesajen, menurut Kades yang bertugas di Kemiren sejak 2007 hingga 2013 itu, dilakukan hampir di semua keseharian masyarakat. Mulai dari masa tandur labuh sebelum memulai proses bercocok tanam. Kemudian masa nyingkal (membajak) sampai saat selamatan usai panen. “Sesajen sudah biasa diletakkan. Kalau di sawah ya di pinggir-pinggiran mirip kebiasaan orang Bali. Kalau menari dulu ada di rumah-rumah karena tidak ada sanggar,’’ pungkasnya. (fre/aif)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/