alexametrics
25 C
Banyuwangi
Saturday, June 25, 2022

Menelusuri Lokasi KKN Desa Penari

Bikin Penasaran, Jumlah Penonton Film KKN Desa Penari Tembus 7 Juta Orang

RADAR BANYUWANGI – Film KKN di Desa Penari mampu menyedot perhatian masyarakat. Warga Banyuwangi cukup antusias menyaksikan film arahan sutradara Awi Suryadi tersebut. Untuk mendapatkan tiket film, penonton rela mengantre.

Antrean terlihat di New Star Cineplex (NSC) Banyuwangi, Minggu (22/5). Mereka tidak ingin kehabisan tiket untuk bisa melihat film berdurasi 130 menit tersebut. Sejak dirilis 30 April lalu,   jumlah penonton hingga kemarin (22/5) menembus 7 juta lebih. Sedangkan di Banyuwangi jumlah penonton hampir mencampai 1 juta.

Jumlah peminat film yang diproduksi MD Pictures tersebut mengalahkan film Warkop DKI Reborn yang berjudul ”Jangkrik Boss” yang mencapai 6,8 juta penonton. Banyak yang penasaran dengan lokasi atau tempat kejadian KKN enam mahasiswa yang sedang melaksanakan tugas kuliahnya tersebut.

Manager NSC Banyuwangi Wahyudi mengatakan, jumlah penonton Film KKN di Desa Penari memang cukup banyak. Hampir setiap hari tiket yang dijual ludes. ”Khusus di Kabupaten Banyuwangi sudah hampir menembus 1 juta penonton. Jika dihitung secara nasional, jumlah penonton  mencapai 7 juta,” katanya.

Sejak pertama rilis, ungkap Yudi, film tersebut cukup menyita perhatian. Banyak masyarkat yang pre-order tiket untuk bisa menonton. ”Setiap harinya kita melayani sekitar 100 tiket untuk setiap jam tayang. Sedangkan jam tayang pukul 11.00, 13.20, 15.40, 18.00, dan 20.20,” paparnya.

Sekali tayang, masih kata Yudi, kapasitas studio hanya mampu menampung 100 penonton. Setiap buka layanan tiket sejak pukul 10.00, masyarakat sudah mengantre. ”Harga tiket untuk hari Senin hingga Rabu Rp 32 ribu, sedangkan Kamis dan Jumat sekitar Rp 37 ribu. Sedangkan untuk hari Sabtu dan Minggu dan libur nasional Rp 42 ribu sekali menonton,” ungkapnya.

Jika dibandingkan dengan film nasional lainnya, seperti Warkop DKI Reborn memang masih kalah. Peminat film KKN di Desa Penari bukan hanya kalangan muda-mudi. Penonton usia 40-50 tahun juga penasaran  dengan film tersebut. ”Cukup banyak yang penasaran dengan film KKN di Desa Penari. Makanya penonton cukup antusias untuk melihat film tersebut,” jelasnya.

Salah satu penonton, Devi Agenop mengaku penasaran dengan tempat dan cerita dalam film tersebut. Banyak masyarakat yang menerka-nerka tempat kejadian dalam film tersebut. ”Seluruh tempat kejadian disamarkan dalam film tersebut, makanya banyak yang penasaran dengan tempat kejadian tersebut sebenarnya,” kata perempuan 27 tahun tersebut.

Devi mengatakan, dalam film tersebut sebenarnya banyak kata kunci rahasia yang disebutkan, seperti desa yang berdampingan lelembut sehingga harus menumbalkan anak perempuan. ”Ada juga sanggar tari yang sebenarnya juga persis dengan sanggar tari gandrung di Banyuwangi,” terang warga Kecamatan Giri tersebut.

Devi menambahkan, meski ada kemiripan dengan tradisi yang ada di Banyuwangi, dirinya meyakini bahwa kejadian tersebut belum tentu ada di  Banyuwangi. ”Harus ada bukti-bukti yang kuat, jika kejadian tersebut memang ada di Banyuwangi. Karena jika tidak didasari dengan bukti yang kuat, bisa saja menimbulkan opini,” terang perempuan yang berprofesi sebagai advokad tersebut. (rio/aif)

RADAR BANYUWANGI – Film KKN di Desa Penari mampu menyedot perhatian masyarakat. Warga Banyuwangi cukup antusias menyaksikan film arahan sutradara Awi Suryadi tersebut. Untuk mendapatkan tiket film, penonton rela mengantre.

Antrean terlihat di New Star Cineplex (NSC) Banyuwangi, Minggu (22/5). Mereka tidak ingin kehabisan tiket untuk bisa melihat film berdurasi 130 menit tersebut. Sejak dirilis 30 April lalu,   jumlah penonton hingga kemarin (22/5) menembus 7 juta lebih. Sedangkan di Banyuwangi jumlah penonton hampir mencampai 1 juta.

Jumlah peminat film yang diproduksi MD Pictures tersebut mengalahkan film Warkop DKI Reborn yang berjudul ”Jangkrik Boss” yang mencapai 6,8 juta penonton. Banyak yang penasaran dengan lokasi atau tempat kejadian KKN enam mahasiswa yang sedang melaksanakan tugas kuliahnya tersebut.

Manager NSC Banyuwangi Wahyudi mengatakan, jumlah penonton Film KKN di Desa Penari memang cukup banyak. Hampir setiap hari tiket yang dijual ludes. ”Khusus di Kabupaten Banyuwangi sudah hampir menembus 1 juta penonton. Jika dihitung secara nasional, jumlah penonton  mencapai 7 juta,” katanya.

Sejak pertama rilis, ungkap Yudi, film tersebut cukup menyita perhatian. Banyak masyarkat yang pre-order tiket untuk bisa menonton. ”Setiap harinya kita melayani sekitar 100 tiket untuk setiap jam tayang. Sedangkan jam tayang pukul 11.00, 13.20, 15.40, 18.00, dan 20.20,” paparnya.

Sekali tayang, masih kata Yudi, kapasitas studio hanya mampu menampung 100 penonton. Setiap buka layanan tiket sejak pukul 10.00, masyarakat sudah mengantre. ”Harga tiket untuk hari Senin hingga Rabu Rp 32 ribu, sedangkan Kamis dan Jumat sekitar Rp 37 ribu. Sedangkan untuk hari Sabtu dan Minggu dan libur nasional Rp 42 ribu sekali menonton,” ungkapnya.

Jika dibandingkan dengan film nasional lainnya, seperti Warkop DKI Reborn memang masih kalah. Peminat film KKN di Desa Penari bukan hanya kalangan muda-mudi. Penonton usia 40-50 tahun juga penasaran  dengan film tersebut. ”Cukup banyak yang penasaran dengan film KKN di Desa Penari. Makanya penonton cukup antusias untuk melihat film tersebut,” jelasnya.

Salah satu penonton, Devi Agenop mengaku penasaran dengan tempat dan cerita dalam film tersebut. Banyak masyarakat yang menerka-nerka tempat kejadian dalam film tersebut. ”Seluruh tempat kejadian disamarkan dalam film tersebut, makanya banyak yang penasaran dengan tempat kejadian tersebut sebenarnya,” kata perempuan 27 tahun tersebut.

Devi mengatakan, dalam film tersebut sebenarnya banyak kata kunci rahasia yang disebutkan, seperti desa yang berdampingan lelembut sehingga harus menumbalkan anak perempuan. ”Ada juga sanggar tari yang sebenarnya juga persis dengan sanggar tari gandrung di Banyuwangi,” terang warga Kecamatan Giri tersebut.

Devi menambahkan, meski ada kemiripan dengan tradisi yang ada di Banyuwangi, dirinya meyakini bahwa kejadian tersebut belum tentu ada di  Banyuwangi. ”Harus ada bukti-bukti yang kuat, jika kejadian tersebut memang ada di Banyuwangi. Karena jika tidak didasari dengan bukti yang kuat, bisa saja menimbulkan opini,” terang perempuan yang berprofesi sebagai advokad tersebut. (rio/aif)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/