alexametrics
26.3 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Butuh Waktu untuk Bangkit

WONGSOREJO – Peristiwa kebakaran yang menghabiskan 140 kios Pasar Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, masih meninggalkan duka para pedagang. Mereka butuh waktu untuk memulihkan diri.

Hajah Raudah adalah salah seorang pedagang yang kiosnya ludes. Ibu dua anak ini mengaku, dua pekan sebelum kebakaran terjadi, dirinya baru saja berbelanja dengan sistem online. Barang-barang dagangannya seperti kaus, jubah, pakaian hem, celana dewasa, celana anak-anak, kerudung, dan jenis konveksi lainnya setiap hari datang.

Barang dagangan yang datang secara bertahap setiap hari selama dua pekan itu pun sudah dibongkar alias dikeluarkan dari karung plastik untuk dilihat kualitas barangnya. ”Saya memang belanja kulakan lebih awal, karena kalau mendekati bulan Ramadan sudah tidak menemukan model dan warna yang bagus,” ungkap Hj Raudah.

Total belanjaan selama dua pekan itu ditaksir mencapai Rp 50 jutaan. Karena tidak ada firasat apa pun, semua dagangan itu langsung diletakkan di tiga los di dalam Pasar Desa Bajulmati, tempatnya menggantungkan hidup sehari-hari.

Baca Juga :  Kisah Sunaim, Pencari Rongsokan yang Hidup Numpang di Rumah Tetangga

Namun apes, semua barang belanja yang telah dibeli untuk persiapan peak season di masa Hari Raya Idul Fitri nanti, semuanya menjadi arang. Ludes terbakar dalam peristiwa yang terjadi Sabtu pekan lalu (15/1). ”Dagangan saya semuanya ludes terbakar,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Sudah menjadi tradisi sejak 36 silam berdagang, tiga bulan sebelum Hari Raya Idul Fitri, Raudah sudah mulai berbelanja di Surabaya dan melengkapi barang dagangan di tokonya. ”Pasar memang sedang ramai-ramainya karena banyak pelanggan yang datang untuk ambil barang,” katanya.

Para pelanggan yang datang ke tokonya berasal dari Desa Bangsring dan seluruh desa di Kecamatan Wongsorejo. Bahkan, juga ada sebagian pelanggan dari Banyuwangi dan wilayah timur Kabupaten Situbondo. Jika mendekati Lebaran, pengunjung pasar akan terus bertambah ramai.

Baca Juga :  Pot Bunga; Ramah Lingkungan dan Bisa Menyerap Air

Jika ditotal seluruh aset barang dagangan dan seisi toko miliknya, maka kerugian yang dialami mencapai Rp 500 juta. ”Kalau saat ini saya mati akal sudah. Jangankan seribu rupiah, serupiah pun saya tidak pegang uang saat ini. Sudah tak ada lagi,” terang nenek empat cucu ini.

Di balik peristiwa kebakaran itu, Raudah masih bersyukur karena tak mempunyai utang atau tanggungan di bank. ”Saya masih syukur nyawa saya masih selamat. Harta dunia masih bisa dicari. Saya juga tidak punya utang di bank. Untuk bangkit lagi, saya masih butuh waktu. Kalau sekarang masih mati akal saya, bagaimana caranya saya harus bangkit,” tandasnya. 

WONGSOREJO – Peristiwa kebakaran yang menghabiskan 140 kios Pasar Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, masih meninggalkan duka para pedagang. Mereka butuh waktu untuk memulihkan diri.

Hajah Raudah adalah salah seorang pedagang yang kiosnya ludes. Ibu dua anak ini mengaku, dua pekan sebelum kebakaran terjadi, dirinya baru saja berbelanja dengan sistem online. Barang-barang dagangannya seperti kaus, jubah, pakaian hem, celana dewasa, celana anak-anak, kerudung, dan jenis konveksi lainnya setiap hari datang.

Barang dagangan yang datang secara bertahap setiap hari selama dua pekan itu pun sudah dibongkar alias dikeluarkan dari karung plastik untuk dilihat kualitas barangnya. ”Saya memang belanja kulakan lebih awal, karena kalau mendekati bulan Ramadan sudah tidak menemukan model dan warna yang bagus,” ungkap Hj Raudah.

Total belanjaan selama dua pekan itu ditaksir mencapai Rp 50 jutaan. Karena tidak ada firasat apa pun, semua dagangan itu langsung diletakkan di tiga los di dalam Pasar Desa Bajulmati, tempatnya menggantungkan hidup sehari-hari.

Baca Juga :  Pengalaman Bripka Sugiandono di Afrika, Kaget Sekilo Beras Rp 70 Ribu

Namun apes, semua barang belanja yang telah dibeli untuk persiapan peak season di masa Hari Raya Idul Fitri nanti, semuanya menjadi arang. Ludes terbakar dalam peristiwa yang terjadi Sabtu pekan lalu (15/1). ”Dagangan saya semuanya ludes terbakar,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Sudah menjadi tradisi sejak 36 silam berdagang, tiga bulan sebelum Hari Raya Idul Fitri, Raudah sudah mulai berbelanja di Surabaya dan melengkapi barang dagangan di tokonya. ”Pasar memang sedang ramai-ramainya karena banyak pelanggan yang datang untuk ambil barang,” katanya.

Para pelanggan yang datang ke tokonya berasal dari Desa Bangsring dan seluruh desa di Kecamatan Wongsorejo. Bahkan, juga ada sebagian pelanggan dari Banyuwangi dan wilayah timur Kabupaten Situbondo. Jika mendekati Lebaran, pengunjung pasar akan terus bertambah ramai.

Baca Juga :  Ikhlas Menerima sebagai Musibah

Jika ditotal seluruh aset barang dagangan dan seisi toko miliknya, maka kerugian yang dialami mencapai Rp 500 juta. ”Kalau saat ini saya mati akal sudah. Jangankan seribu rupiah, serupiah pun saya tidak pegang uang saat ini. Sudah tak ada lagi,” terang nenek empat cucu ini.

Di balik peristiwa kebakaran itu, Raudah masih bersyukur karena tak mempunyai utang atau tanggungan di bank. ”Saya masih syukur nyawa saya masih selamat. Harta dunia masih bisa dicari. Saya juga tidak punya utang di bank. Untuk bangkit lagi, saya masih butuh waktu. Kalau sekarang masih mati akal saya, bagaimana caranya saya harus bangkit,” tandasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/