alexametrics
27.7 C
Banyuwangi
Saturday, July 2, 2022

Mengolah Susu Segar Menjadi Permen dan Tahu

Liva Eka Damayanti, 34, warga Dusun Ringinasri, Desa Ringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, ini salah satu perajin makanan dan minuman olahan dengan bahan baku susu segar.

DEDY JUMHARDIYANTO, Tegaldlimo

MENDUNG hitam terlihat menyelimuti langit. Tidak lama rintik hujan mulai turun. Seorang perempuan tengah menenteng alat vakum (penyedot). Pada alat itu, ada empat penyedot dengan ukuran sebesar botol dot bayi dan dihubungkan dengan pipa tangki berbahan stainless steel.

Perempuan itu berjalan menuju kandang sapi yang berada di belakang rumahnya. Dengan hati-hati, dia memegang puting sapi dan memasukkan ke dalam alat penyedot. Susu segar pun mengalir ke pipa dan tabung. Satu per satu sapi yang sudah berumur lebih dari 1,5 tahun itu diperah. Susu hasil perahan dimasukkan dalam tabung berukuran 15 liter. “Mengambil susu ini setiap pagi dan sore,” cetus Liva Eka Damayanti, perempuan itu.

Susu segar hasil perahan itu harus dituang dan dimasukkan ke dalam cooling unit atau tempat pendingin dalam waktu kurang dari satu jam. Jika tidak segera disimpan dalam mesin pendingin, maka grade (kualitas susu) akan turun karena akan terkontaminasi bakteri di sekelilingnya. “Makanya dalam memperlakukan susu segar harus benar,” ujar Liva.

Sebelum melakukan pemerahan susu, kondisi kandang dan sapi harus bersih. Bahkan, puting sapi yang akan diperah harus dibersihkan. Itu dilakukan demi menjaga kualitas susu. Jika tidak diperhatikan, bisa dipastikan hasil susu segar yang diperah akan anyir mirip sapi, dan kualitas susu kurang baik.

Susu segar yang dihasilkan sapi perah itu kini diolah menjadi berbagai jenis makanan dan minuman. Awalnya, untuk mengubah susu segar menjadi olahan makanan dan minuman itu dirinya harus menimba ilmu di sentra olahan susu sapi di Kabupaten Batu, Malang.

Kemudian, ilmu hasil mengikuti pelatihan itu dia praktikkan. Sayang, dalam pelatihan itu hanya diajarkan cara mengolah susu menjadi minuman fresh milk, permen, dan tahu. “Sebetulnya masih banyak produk olahan susu, seperti keju, yogurt, dan lulur kecantikan,” terang ibu dua anak itu.

Untuk membuat permen susu segar tidaklah sulit. Tiga liter susu segar direbus menggunakan panci. Selanjutnya, dicampur agar-agar pudding dan gula pasir hingga mengental. Agar tidak lengket pada permukaan panci, air susu harus diaduk secara beraturan dan terus menerus hingga benar-benar mengental menyerupai adonan dodol. Setelah mengental, air susu dituang dalam wadah. Lalu dibiarkan sampai dingin dan dipotong sesuai ukuran.

Makanan olahan berbahan susu segar, itu tahu susu. Cara pengolahan tahu susu juga tidak terlalu ribet, yakni hanya dengan merebus susu hingga mendidih, dan diberi cuka makanan sebanyak satu sendok makan untuk satu liter susu.

Selama direbus itu, susu segar akan menggumpal. Gumpalan susu itulah yang diambil dan ditiriskan dalam wadah, kemudian ditindih hingga padat menyerupai cara pembuatan tahu. Satu liter susu segar, jika diolah menjadi tahu sebesar ukuran cangkir.

Tahu susu yang diproduksi itu kaya akan protein hewani, karena hanya diambil bagian saripati susu. Olahan tahu susu itu juga bisa dimasak untuk berbagai jenis masakan, seperti campuran soup, isi kue resoles, dan bisa untuk sate. “Sementara ini untuk produk olahan susu segar masih untuk konsumsi sendiri dan melayani pesanan,” jelas Liva.

Pesanan makanan olahan susu segar, yang paling banyak masih berupa minuman susu segar dan permen. Pesanan itu baru ramai saat Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, dan beberapa momen penting seperti ulang tahun, khitanan, dan pesta pernikahan.

Hingga kini produk olahan susu segar itu masih belum diproduksi masal, karena masih belum memiliki izin edar dan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Dinas Kesehatan. “Sementara masih saya tangani sendiri, karena jumlah produksinya juga masih terbatas. Kalau sudah punya izin PIRT, mungkin berani produksi masal dan mempekerjakan karyawan,” terang perempuan muda berkerudung itu.

Jika hasil olahan susu sapi segar itu berjalan, makan akan sangat berdampak pada nilai jual susu segar dari para peternak. Selama ini nilai jual susu segar oleh pabrik hanya dihargai Rp 4.700  per liter. Jika dijual langsung ke konsumen, satu liter susu segar bisa mencapai Rp 10 ribu.

Jika sudah diolah menjadi makanan dan minuman, harga susu olahan per liter mampu mencapai Rp 25 ribu hingga Rp 85 ribu. “Kalau bisa pemkab menggalakkan minum susu sapi segar, karena ketersediaan susu sapi segar di Banyuwangi sangat melimpah,” ungkapnya.

Liva Eka Damayanti, 34, warga Dusun Ringinasri, Desa Ringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, ini salah satu perajin makanan dan minuman olahan dengan bahan baku susu segar.

DEDY JUMHARDIYANTO, Tegaldlimo

MENDUNG hitam terlihat menyelimuti langit. Tidak lama rintik hujan mulai turun. Seorang perempuan tengah menenteng alat vakum (penyedot). Pada alat itu, ada empat penyedot dengan ukuran sebesar botol dot bayi dan dihubungkan dengan pipa tangki berbahan stainless steel.

Perempuan itu berjalan menuju kandang sapi yang berada di belakang rumahnya. Dengan hati-hati, dia memegang puting sapi dan memasukkan ke dalam alat penyedot. Susu segar pun mengalir ke pipa dan tabung. Satu per satu sapi yang sudah berumur lebih dari 1,5 tahun itu diperah. Susu hasil perahan dimasukkan dalam tabung berukuran 15 liter. “Mengambil susu ini setiap pagi dan sore,” cetus Liva Eka Damayanti, perempuan itu.

Susu segar hasil perahan itu harus dituang dan dimasukkan ke dalam cooling unit atau tempat pendingin dalam waktu kurang dari satu jam. Jika tidak segera disimpan dalam mesin pendingin, maka grade (kualitas susu) akan turun karena akan terkontaminasi bakteri di sekelilingnya. “Makanya dalam memperlakukan susu segar harus benar,” ujar Liva.

Sebelum melakukan pemerahan susu, kondisi kandang dan sapi harus bersih. Bahkan, puting sapi yang akan diperah harus dibersihkan. Itu dilakukan demi menjaga kualitas susu. Jika tidak diperhatikan, bisa dipastikan hasil susu segar yang diperah akan anyir mirip sapi, dan kualitas susu kurang baik.

Susu segar yang dihasilkan sapi perah itu kini diolah menjadi berbagai jenis makanan dan minuman. Awalnya, untuk mengubah susu segar menjadi olahan makanan dan minuman itu dirinya harus menimba ilmu di sentra olahan susu sapi di Kabupaten Batu, Malang.

Kemudian, ilmu hasil mengikuti pelatihan itu dia praktikkan. Sayang, dalam pelatihan itu hanya diajarkan cara mengolah susu menjadi minuman fresh milk, permen, dan tahu. “Sebetulnya masih banyak produk olahan susu, seperti keju, yogurt, dan lulur kecantikan,” terang ibu dua anak itu.

Untuk membuat permen susu segar tidaklah sulit. Tiga liter susu segar direbus menggunakan panci. Selanjutnya, dicampur agar-agar pudding dan gula pasir hingga mengental. Agar tidak lengket pada permukaan panci, air susu harus diaduk secara beraturan dan terus menerus hingga benar-benar mengental menyerupai adonan dodol. Setelah mengental, air susu dituang dalam wadah. Lalu dibiarkan sampai dingin dan dipotong sesuai ukuran.

Makanan olahan berbahan susu segar, itu tahu susu. Cara pengolahan tahu susu juga tidak terlalu ribet, yakni hanya dengan merebus susu hingga mendidih, dan diberi cuka makanan sebanyak satu sendok makan untuk satu liter susu.

Selama direbus itu, susu segar akan menggumpal. Gumpalan susu itulah yang diambil dan ditiriskan dalam wadah, kemudian ditindih hingga padat menyerupai cara pembuatan tahu. Satu liter susu segar, jika diolah menjadi tahu sebesar ukuran cangkir.

Tahu susu yang diproduksi itu kaya akan protein hewani, karena hanya diambil bagian saripati susu. Olahan tahu susu itu juga bisa dimasak untuk berbagai jenis masakan, seperti campuran soup, isi kue resoles, dan bisa untuk sate. “Sementara ini untuk produk olahan susu segar masih untuk konsumsi sendiri dan melayani pesanan,” jelas Liva.

Pesanan makanan olahan susu segar, yang paling banyak masih berupa minuman susu segar dan permen. Pesanan itu baru ramai saat Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, dan beberapa momen penting seperti ulang tahun, khitanan, dan pesta pernikahan.

Hingga kini produk olahan susu segar itu masih belum diproduksi masal, karena masih belum memiliki izin edar dan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Dinas Kesehatan. “Sementara masih saya tangani sendiri, karena jumlah produksinya juga masih terbatas. Kalau sudah punya izin PIRT, mungkin berani produksi masal dan mempekerjakan karyawan,” terang perempuan muda berkerudung itu.

Jika hasil olahan susu sapi segar itu berjalan, makan akan sangat berdampak pada nilai jual susu segar dari para peternak. Selama ini nilai jual susu segar oleh pabrik hanya dihargai Rp 4.700  per liter. Jika dijual langsung ke konsumen, satu liter susu segar bisa mencapai Rp 10 ribu.

Jika sudah diolah menjadi makanan dan minuman, harga susu olahan per liter mampu mencapai Rp 25 ribu hingga Rp 85 ribu. “Kalau bisa pemkab menggalakkan minum susu sapi segar, karena ketersediaan susu sapi segar di Banyuwangi sangat melimpah,” ungkapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/