alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Bunga Wardana, Santri Mandiri yang Merintis Usaha Jasuke

ROGOJAMPI – Santri mandiri dan berdaya. Itulah yang kini tengah dirintis oleh Bunga Wardana. Gadis 21 tahun warga Dusun Maduran, Desa/Kecamatan Rogojampi ini, merintis usaha jagung susu keju (jasuke) di depan rumahnya.

Jalanan Candian 132, Rogojampi masih sepi. Jarum jam menunjukkan pukul 15.00. Sore itu seorang gadis mendorong gerobak berukuran satu kali satu meter. Di gerobak dengan tinggi dua meter itu juga terdapat payung untuk berteduh.

Warnanya juga sangat mencolok dan menarik, perpaduan warna kuning dan merah. Cukup serasi. Bagian depan atas gerobak itu bertuliskan ”Jasuke Sritanjung”. Sementara di bawah papan tulisan itu terdapat tulisan ”makanan sehat dan hemat”. Terdapat gambar jagung yang diberi dilumuri susu dan keju, tampak sangat menggoda selera.

Di gerobak itu juga terdapat meja yang memuat sejumlah wadah seperti kaleng susu, keju, parutan, dan tempat mirip dandang rebusan jagung. Semuanya tertata bersih dan rapi.

Gadis yang mendorong gerobak itu adalah Bunga Wardana. Baru saja Bunga menata barang-barang di atas meja, seseorang langsung datang menghampiri. Pengendara motor tersebut kemudian memesan makanan ringan yang biasa disebut jagung susu dan keju atau biasa disingkat jasuke.

Makanan satu ini memang cukup diminati masyarakat. Maklum cita rasanya yang manis dan gurih membuat para remaja maupun orang tua menyukai makanan ringan ini. Jajanan yang satu ini mudah ditemukan di sekitar kawasan kampus atau pusat perbelanjaan. Selain itu, harga jasuke juga amat terjangkau.

Jasuke berbahan dasar jagung manis. Awalnya, jasuke hanya tersedia dengan rasa susu keju. Namun seiring berjalannya waktu, para pedagang jasuke telah membuat varian rasa yang beragam. ”Saya awalnya coba-coba sudah hampir setahun sejak pandemi ini, ternyata responsnya cukup bagus,” ungkap Bunga Wardana.

Alumnus Pesantren Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo ini mengaku, berdagang jasuke merupakan awal proses untuk mandiri. Hanya bermodal ratusan ribu dari hasil menabung, dia mencoba berwirausaha dengan berdagang jasuke. Apalagi, kawasan Jalan Candian juga merupakan kawasan pesantren yang setiap sore banyak hilir mudik anak-anak santri yang menimba ilmu di Taman pendidikan Al Quran (TPQ) Sritanjung.

”Jadi awalnya saya memang suka makan jasuke, karena sudah biasa bikin sendiri ternyata banyak yang suka. Akhirnya saya putuskan untuk jualan. Tak disangka responsnya justru sangat luar biasa. Karena memang harganya sangat terjangkau,” katanya.

Ide jualan jasuke tersebut, kata Bunga, tak lain juga dampak karena pandemi Covid-19 yang mengharuskan orang tetap berdiam diri di rumah. Karena jenuh dan tak produktif, dia kemudian berupaya merintis usaha dengan berjualan jasuke tersebut.

Selama pandemi, dia juga tetap berjualan secara offline di depan rumahnya di Jalan Candian 132, Rogojampi. Dia juga menjajakan jasuke secara online melalui nomor WhatsApp. ”Jadi bisa pesan dulu, setelah jadi baru diambil,” katanya.

Tidak butuh modal besar untuk merintis usaha dagangan jasuke tersebut. Apalagi, imbuh Bunga, selama pandemi ini proses belajar mengajar di perkuliahan juga dilakukan secara daring. Praktis, dia tetap bisa menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai mahasiswa sembari berdagang di rumah untuk membantu mendapatkan pundi-pundi rupiah.

”Kebetulan di rumah terus, daripada waktu terbuang percuma ya disambi jualan kan ada pemasukan untuk uang saku dan jajan kalau sudah kembali masuk kuliah,” jelas Mahasiswa semester 7 Universitas Islam Negeri (UIN) Malang ini.

Hanya dalam waktu kurang dari tiga jam buka mulai pukul 15.00 sampai 18.00, dia bisa menghabiskan lima kilogram jagung segar. Harganya sangat terjangkau mulai Rp 2.000 hingga Rp 5.000. Maklum pangsa pasarnya adalah kalangan anak-anak santri.

Menurut Bunga, seorang santri hendaknya tidak hanya berfokus pada kajian Islam dan kitab-kitab. Lebih luas lagi, santri harus bisa ikut terjun dalam kemandirian di berbagai bidang baik pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Sehingga, santri dituntut memiliki mental dan finansial yang mumpuni untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat.

Wujud nyata kiprah santri, lanjut Bunga, dapat dirasakan masyarakat Indonesia saat ini. Santri-santri yang lulus dari pondok pesantren dapat terus mengembangkan pribadinya agar tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, melainkan juga untuk masyarakat luas. ”Kebetulan di kampung Pabrikan Dusun Maduran juga ada komunitas remaja yang ikut membantu mengajar anak-anak di kampung secara sukarela,” pungkasnya.

ROGOJAMPI – Santri mandiri dan berdaya. Itulah yang kini tengah dirintis oleh Bunga Wardana. Gadis 21 tahun warga Dusun Maduran, Desa/Kecamatan Rogojampi ini, merintis usaha jagung susu keju (jasuke) di depan rumahnya.

Jalanan Candian 132, Rogojampi masih sepi. Jarum jam menunjukkan pukul 15.00. Sore itu seorang gadis mendorong gerobak berukuran satu kali satu meter. Di gerobak dengan tinggi dua meter itu juga terdapat payung untuk berteduh.

Warnanya juga sangat mencolok dan menarik, perpaduan warna kuning dan merah. Cukup serasi. Bagian depan atas gerobak itu bertuliskan ”Jasuke Sritanjung”. Sementara di bawah papan tulisan itu terdapat tulisan ”makanan sehat dan hemat”. Terdapat gambar jagung yang diberi dilumuri susu dan keju, tampak sangat menggoda selera.

Di gerobak itu juga terdapat meja yang memuat sejumlah wadah seperti kaleng susu, keju, parutan, dan tempat mirip dandang rebusan jagung. Semuanya tertata bersih dan rapi.

Gadis yang mendorong gerobak itu adalah Bunga Wardana. Baru saja Bunga menata barang-barang di atas meja, seseorang langsung datang menghampiri. Pengendara motor tersebut kemudian memesan makanan ringan yang biasa disebut jagung susu dan keju atau biasa disingkat jasuke.

Makanan satu ini memang cukup diminati masyarakat. Maklum cita rasanya yang manis dan gurih membuat para remaja maupun orang tua menyukai makanan ringan ini. Jajanan yang satu ini mudah ditemukan di sekitar kawasan kampus atau pusat perbelanjaan. Selain itu, harga jasuke juga amat terjangkau.

Jasuke berbahan dasar jagung manis. Awalnya, jasuke hanya tersedia dengan rasa susu keju. Namun seiring berjalannya waktu, para pedagang jasuke telah membuat varian rasa yang beragam. ”Saya awalnya coba-coba sudah hampir setahun sejak pandemi ini, ternyata responsnya cukup bagus,” ungkap Bunga Wardana.

Alumnus Pesantren Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo ini mengaku, berdagang jasuke merupakan awal proses untuk mandiri. Hanya bermodal ratusan ribu dari hasil menabung, dia mencoba berwirausaha dengan berdagang jasuke. Apalagi, kawasan Jalan Candian juga merupakan kawasan pesantren yang setiap sore banyak hilir mudik anak-anak santri yang menimba ilmu di Taman pendidikan Al Quran (TPQ) Sritanjung.

”Jadi awalnya saya memang suka makan jasuke, karena sudah biasa bikin sendiri ternyata banyak yang suka. Akhirnya saya putuskan untuk jualan. Tak disangka responsnya justru sangat luar biasa. Karena memang harganya sangat terjangkau,” katanya.

Ide jualan jasuke tersebut, kata Bunga, tak lain juga dampak karena pandemi Covid-19 yang mengharuskan orang tetap berdiam diri di rumah. Karena jenuh dan tak produktif, dia kemudian berupaya merintis usaha dengan berjualan jasuke tersebut.

Selama pandemi, dia juga tetap berjualan secara offline di depan rumahnya di Jalan Candian 132, Rogojampi. Dia juga menjajakan jasuke secara online melalui nomor WhatsApp. ”Jadi bisa pesan dulu, setelah jadi baru diambil,” katanya.

Tidak butuh modal besar untuk merintis usaha dagangan jasuke tersebut. Apalagi, imbuh Bunga, selama pandemi ini proses belajar mengajar di perkuliahan juga dilakukan secara daring. Praktis, dia tetap bisa menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai mahasiswa sembari berdagang di rumah untuk membantu mendapatkan pundi-pundi rupiah.

”Kebetulan di rumah terus, daripada waktu terbuang percuma ya disambi jualan kan ada pemasukan untuk uang saku dan jajan kalau sudah kembali masuk kuliah,” jelas Mahasiswa semester 7 Universitas Islam Negeri (UIN) Malang ini.

Hanya dalam waktu kurang dari tiga jam buka mulai pukul 15.00 sampai 18.00, dia bisa menghabiskan lima kilogram jagung segar. Harganya sangat terjangkau mulai Rp 2.000 hingga Rp 5.000. Maklum pangsa pasarnya adalah kalangan anak-anak santri.

Menurut Bunga, seorang santri hendaknya tidak hanya berfokus pada kajian Islam dan kitab-kitab. Lebih luas lagi, santri harus bisa ikut terjun dalam kemandirian di berbagai bidang baik pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Sehingga, santri dituntut memiliki mental dan finansial yang mumpuni untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat.

Wujud nyata kiprah santri, lanjut Bunga, dapat dirasakan masyarakat Indonesia saat ini. Santri-santri yang lulus dari pondok pesantren dapat terus mengembangkan pribadinya agar tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, melainkan juga untuk masyarakat luas. ”Kebetulan di kampung Pabrikan Dusun Maduran juga ada komunitas remaja yang ikut membantu mengajar anak-anak di kampung secara sukarela,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/