Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features

Kisah Nenek Pemecah Batu di Situbondo, Seminggu Hanya Dapat Rp 90 Ribu

23 September 2021, 17: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Kisah Nenek Pemecah Batu di Situbondo, Seminggu Hanya Dapat Rp 90 Ribu

KERJA KERAS: Nadiye memecahkan batu plontos menjadi batu koral dengan peralatan seadanya, kemarin. (Marjono/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

SITUBONDO – Meski sudah memasuki kepala enam, namun Nadiye tetap harus menekuni pekerjaannya sebagai pemecah batu di Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo. Itu terpaksa dilakukannya, karena tak ada pilihan lain.  

Di tengah teriknya sinar mentari siang itu, Nadiye tampak sibuk memecahkan batu plontos menjadi batu koral. Meski harus menguras tenaga di usianya yang sudah senja, namun dia dengan sabar tetap menekuninya. Baginya, itulah satu-satunya pekerjaan yang tak pernah mempermasalahkan usia dan tenaganya untuk bekerja. Sehingga, bisa membantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Usia Nadiye sudah 62 tahun. Dia tinggal seorang diri di Dusun Krajan, Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo. Meski usianya sudah lanjut, Nadiye sadar harus tetap banting tulang agar kebutuhan setiap harinya terpenuhi. Memecahkan batu koral dia kerjakan sendiri tanpa dibantu pekerja. Sudah puluhan tahun dia tekuni.

Baca juga: Susu Kambing Ettawa Paling Diburu Konsumen Pria

"Saongguna tenaga bule pon tak kuat mon alako mecah beto, tape beremma pole tadek se ekalakoa pole (Sebenarnya tenaga saya sudah tidak kuat bekerja sebagai tukang memecah batu, karena saya sudah tua, tapi apa daya tidak ada pekerjaan lain, selain menekuni pekerjaan sebagai tukang pecah batu)" tutur Nadiye dengan Bahasa Madura.

Nadiye mengaku, penghasilan yang didapatnya tidak seberapa besar. Dia baru dapat penghasilan jika batu koral hasil pecahannya itu sudah laku. "Jadi setiap harinya belum tentu mendapatkan penghasilan, kalau ada pembeli atau tengkulak, baru bisa mendapat penghasilan ," ucap Nadiye.

Harga jual batu koral mencapai Rp 190 ribu dalam satu pikap. Untuk mendapatkan  satu pikap, dia harus bersusah payah mengumpulkan batu koral selama enam hari. "Untuk mendapatkan penghasilan sesuai harapan. Saya harus bersusah payah mengumpulkan batu koral hingga terkumpul satu pikap. Baru saya dapat penghasilan sekitar Rp 90 ribu setelah dipotong modal. Itu saya kerjakan selama lima hari hingga enam hari," tuturnya.

Sementara itu, Haera, teman Nadiye yang juga tukang pecah batu menyampaikan, Nadiye sosok yang tekun. Terbukti dia bekerja tepat waktu. Bekerja mulai pukul 08.00 Wib hingga sore hari. Haera mengungkapkan, terkadang Nadiye mengeluh karena hidup sendirian tak punya siapa-siapa. "Dia menjalani hidup hanya seorang diri untuk memenuhi kebutuhannya. Dia berharap uluran tangan dari tetangganya yang bisa membantunya untuk kebutuhan tiap harinya,” pungkasnya. (jon/pri)

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia