28.8 C
Banyuwangi
Saturday, February 4, 2023

Bekas Tambak Udang Dimanfaatkan Budidaya Kerapu, Sekali Panen Raup Rp 60 Jutaan

SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Sugiharto, warga di Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo, bernasib mujur. Sebab, dari lahan tambak udang yang sudah tidak digunakan, kini dia manfaatkan untuk budidaya ikan kerapu.

Sugiharto mengatakan, dia bisa meraih untung puluhan juta rupiah dari bekas tambak yang disulap menjadi tempat budi daya ikan kerapu. ”Satu bulan bisa menghasilkan Rp 40 juta hingga Rp 60 juta dari panen ikan kerapu ini,” ujarnya, Jumat (20/1).

Pascapanen ikan kerapu, Sugiharto tak perlu kebingungan mencari pembeli. Sebab, ada pelanggan tetap yang rutin datang ke tempatnya. ”Alhamdulillah, kalau pembeli sudah ada. Jadi kalau pas lagi panen sudah ada yang pesan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sugiharto menerangkan, satu kali panen, bisa menghasilkan puluhan kilogram. Sedangkan, satu bulan dia bisa panen ikan kerapu dua sampai tiga kali.  ”Dulu sempat, satu bulan sekali bisa panen ikan kerapu setengah ton. Dari hasil panen bisa untung ratusan juta,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ini Kebiasaan Nyeleneh Sadin, Dia Mencatat Kematian Warga Sejak 1970

Sugiharto mengaku, hasil panen ikan kerapu itu tidak hanya dijual kepada pedagang lokal Situbondo. Dia sudah memiliki pelanggan tetap di daerah lain maupun di luar negeri. Yakni Bali dan Malaysia. ”Pasar ikan kerapu ini luas dan peminatnya juga cukup besar. Apalagi untuk ikan yang masih fresh banyak membutuhkan untuk kebutuhan usaha restoran, seperti Bali dan Malaysia,” jelasnya.

Ditambahkan, meski sudah bisa meraup untung puluhan juta saat ini, hal itu sesuai dengan perjuangan awal untuk mendirikan usaha budi daya ikan kerapu. Butuh waktu beberapa bulan untuk bisa berhasil. ”Hampir satu tahun belum ada pembeli yang datang saat pertama kali usaha ikan didirikan. Tapi lambat laun ada pembeli yang datang dan merasa cocok dengan ikan saya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kebut Fasilitasi Izin PIRT bagi UMKM

Sugiharto menyebut, dalam membangun usaha dibutuhkan komitmen dan usaha keras. Sebab, untuk menjalankan budi daya ikan tidaklah mudah. ”Apalagi ikan kerapu biasanya hidup di air laut. Tentu beda perawatannya saat di tambak udang. Sehingga perlu ekstra hati-hati agar ikan tidak stres. Kalau sudah stres itu lebih banyak matinya,” jelasnya.

Sementara itu, Rahmad, salah satu pengepul mengatakan, ikan kerapu paling banyak diminati karena dagingnya banyak dan rasanya juga enak. ”Paling diminati sekarang ikan kerapu hibrid atau cantang ini. Karena lebih cepat besar dan lemaknya lebih banyak jadi enak. Untuk pasarnya saat ini banyak diminati oleh Bali dan Malaysia,” pungkasnya. (wan/pri/c1)

SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Sugiharto, warga di Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo, bernasib mujur. Sebab, dari lahan tambak udang yang sudah tidak digunakan, kini dia manfaatkan untuk budidaya ikan kerapu.

Sugiharto mengatakan, dia bisa meraih untung puluhan juta rupiah dari bekas tambak yang disulap menjadi tempat budi daya ikan kerapu. ”Satu bulan bisa menghasilkan Rp 40 juta hingga Rp 60 juta dari panen ikan kerapu ini,” ujarnya, Jumat (20/1).

Pascapanen ikan kerapu, Sugiharto tak perlu kebingungan mencari pembeli. Sebab, ada pelanggan tetap yang rutin datang ke tempatnya. ”Alhamdulillah, kalau pembeli sudah ada. Jadi kalau pas lagi panen sudah ada yang pesan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sugiharto menerangkan, satu kali panen, bisa menghasilkan puluhan kilogram. Sedangkan, satu bulan dia bisa panen ikan kerapu dua sampai tiga kali.  ”Dulu sempat, satu bulan sekali bisa panen ikan kerapu setengah ton. Dari hasil panen bisa untung ratusan juta,” ungkapnya.

Baca Juga :  Supriyono, Anggota Damkar yang Merangkap Pelatih Kesamaptaan Jasmani

Sugiharto mengaku, hasil panen ikan kerapu itu tidak hanya dijual kepada pedagang lokal Situbondo. Dia sudah memiliki pelanggan tetap di daerah lain maupun di luar negeri. Yakni Bali dan Malaysia. ”Pasar ikan kerapu ini luas dan peminatnya juga cukup besar. Apalagi untuk ikan yang masih fresh banyak membutuhkan untuk kebutuhan usaha restoran, seperti Bali dan Malaysia,” jelasnya.

Ditambahkan, meski sudah bisa meraup untung puluhan juta saat ini, hal itu sesuai dengan perjuangan awal untuk mendirikan usaha budi daya ikan kerapu. Butuh waktu beberapa bulan untuk bisa berhasil. ”Hampir satu tahun belum ada pembeli yang datang saat pertama kali usaha ikan didirikan. Tapi lambat laun ada pembeli yang datang dan merasa cocok dengan ikan saya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dewan Minta Pengusaha Tambak Tertib Penggunaan Air Bawah Tanah

Sugiharto menyebut, dalam membangun usaha dibutuhkan komitmen dan usaha keras. Sebab, untuk menjalankan budi daya ikan tidaklah mudah. ”Apalagi ikan kerapu biasanya hidup di air laut. Tentu beda perawatannya saat di tambak udang. Sehingga perlu ekstra hati-hati agar ikan tidak stres. Kalau sudah stres itu lebih banyak matinya,” jelasnya.

Sementara itu, Rahmad, salah satu pengepul mengatakan, ikan kerapu paling banyak diminati karena dagingnya banyak dan rasanya juga enak. ”Paling diminati sekarang ikan kerapu hibrid atau cantang ini. Karena lebih cepat besar dan lemaknya lebih banyak jadi enak. Untuk pasarnya saat ini banyak diminati oleh Bali dan Malaysia,” pungkasnya. (wan/pri/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/