Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features

Tradisi Anak Mudun Lemah, Sajiannya Jenang Lintang

22 November 2021, 06: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Tradisi Anak Mudun Lemah, Sajiannya Jenang Lintang

TURUN-TEMURUN: Anak-anak ikut hadir menyaksikan balita yang sedang menjalani tradisi mudun lemah di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh, Jumat (19/11). (Dedy Jumhardiyanto/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

SINGOJURUH – Tradisi mudun lemah (turun tanah) untuk menandai anak berusia 7 bulan, masih terjaga dengan baik di lingkungan masyarakat Oseng. Seperti yang terlihat di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbangkulon, Kecamatan Singojuruh, Jumat (19/11).

Pelaksanaan tradisi ini juga masih menggunakan cara tradisional yakni dengan sajian jenang lintang. Anak-anak tetangga di sekitar rumah juga diundang untuk menyaksikan prosesi tersebut sembari duduk di alat lesung penumbuk padi.

Selanjutnya, balita yang hendak mudun lemah digendong ibunya dengan dilantunkan doa-doa yang dipimpin pemuka agama setempat. Setelah doa selesai dipanjatkan, balita yang semula digendong kemudian diletakkan duduk di atas tanah. ”Sebelum turun tanah kaki balita sampai lutut dibasuh menggunakan bunga tujuh rupa,” ungkap Sanawi, sesepuh adat setempat.

Baca juga: Zuhri Nirwana, Pembuat Bonsai yang Stop Pakai Pohon Hasil Dongkelan

Setelah dibasuh dengan air bunga tujuh rupa, balita diminta duduk di atas tanah. Pada bagian depan balita juga diletakkan sejumlah peralatan di antaranya seperti buku tulis, pensil, uang tunai receh, uang kertas, Alquran, sisir, dan bedak. ”Ada keyakinan jika sang balita memegang salah satu alat misal buku tulis, maka kelak sang anak jadi anak yang pandai dan rajin. Begitu juga jika memegang Alquran, maka kelak sang anak menjadi anak yang pandai mengaji,” jelas Sanawi.

Selamatan mudun lemah itu, kata Sanawi, merupakan adat tradisi warisan leluhur yang ada sejak dahulu dan dilaksanakan secara turun-temurun. ”Masyarakat kami guyub rukun dalam menjaga tradisi warisan leluhur agar tidak ada aral melintang dalam mengarungi kehidupan termasuk tradisi mudun lemah atau turun tanah bagi bayi yang berusia 7 bulan,” pungkasnya. 

(bw/ddy/aif/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia