Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features
Menyusuri Jejak-Jejak Tragedi Cemetuk 1965:4

Ansor Muncar ke Desa Karangasem untuk Menyerang

22 Oktober 2021, 13: 30: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

Ansor Muncar ke Desa Karangasem untuk Menyerang

SAKSI BISU: Di kanal pedot yang kini pembatas Desa Wringinagung dan Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran ini rombongan Ansor Muncar dihadang oleh PKI pada 18 Oktober 1965. (Agus Baihaqi/RaBa)

Share this      

CLURING, Jawa Pos Radar Genteng - Versi kedua kedatangan rombongan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Muncar ke Desa Karangasem, tidak beda jauh dengan versi pertama. Kader muda NU itu dating ke Desa Yosomulyo, karena ada pengajian yang digelar Fatayat NU dan Ansor Yosomulyo. Mereka, dijamu oleh PKI yang menyamar anggota Fatayat NU dan Ansor. Dalan penjamuan makanannya ditaburi racun. Saat anggota Ansor kesakitan dan lemas karena racun mulai bereaksi, oleh PKI dihajar dan dibantai hingga tewas.

Yang membedakan dengan versi pertama, menurut versi kedua ini rombongan Ansor Muncar yang naik tiga truk, sebenarnya akan ke Kecamatan Kalibaru. Setiba di Desa Karangasem, mereka berhenti karena ada pengajian. Oleh beberapa perempuan yang berseragam Fatayat NU dan Ansor, diajak mampir ke pengajiannya. Saat mampir itu, diberi makanan yang telah diberi racun.

Cerita kedua versi itu, berbeda jauh dengan versi ketiga yang menyebut, pada 18 Oktober 1965, di Desa Karangasem tidak ada pengajian, dan tidak ada suguhan makanan yang diberi racun. Cerita itu, disampaikan oleh para tokoh masyarakat, keluarga PKI, aktivis NU, dan saksi sejarah yang ada di Desa Karangasem dan Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring. “Orang-orang itu (Ansor Muncar) datang akan menyerang, dan orang-orang Karangasem sudah siap,” terang kepala Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, Joko Utomo Puriawan.

Baca juga: Tersebar Isu Desa Karangasem Akan Dibumihanguskan

Sejak beberapa hari sebelum rombongan Ansor Muncar datang ke Desa Yosomulyo, suasana di desanya sudah mencekam. Berita akan ada serangan dari daerah lain, sudah menyebar hingga pelosok kampung. “Orang Karangasem itu punya informan, tidak ada pengajian dan memberi makanan yang diberi racun,” katanya.

Rombongan Ansor Muncar datang sekitar pukul 10.00. Saat iring-iringan truk tiba di sekitar jalan simpang empat Dusun Mantekan (kini Dusun Sidorejo, sekitar SPBU), Desa Yosomulyo, langsung dihadang dan diserang oleh warga yang sudah siaga. “Warga Yosomulyo sembunyi di pinggir jalan, mereka langsung tarung,” ujarnya.  

Warga Ansor Muncar banyak yang lari ke timur hingga sampai di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring. Selama dalam pelarian itu, banyak yang dihajar dan akhirnya terbunuh. “Tapi juga ada yang ditolong warga sekitar dan selamat,” terangnya.

Rombongan Ansor Muncar datang ke Desa Karangasem untuk menyerang, itu dibenarkan ketua Fatayat NU Ranting Desa Yosomulyo, Sururin Nafiah. Dari cerita orang tuanya yang saat kejadian sudah ikut Ansor di desanya, Ansor Muncar ke desanya untuk menghancurkan kekuatan PKI. Karena saat itu, Desa Karangasem atau Desa Yosomulyo, dikenal basis PKI. “Bukan menyerang warga di Desa Karangasem, tapi ingin menyerang PKI,” ungkapnya.

Dari keterangan bapaknya, pada 18 Oktober 1965, warga NU di Desa Yosomulyo menggelar doa bersama di masjid sambil membaca selawat nariyah. Orang tuanya sempat ke luar dari masjid untuk melihat suasana di desa yang saat itu memanas. Tapi, dihadang oleh anggota PKI, diminta tidak ikut-ikutan dan segera kembali. Bila tidak, akan dibunuh. “Pada 18 Oktober 1965 pagi, suasana di Desa Yosomulyo ini panas dan mencekam,” jelasnya.

Sururin menyebut, berdasarkan cerita dari bapaknya, rombongan Ansor Muncar datang sekitar pukul 10.00. Saat rombongan Ansor dari Muncar tiba di sekitar kanal pedot, yang kini jadi perbatasan Desa Wringinagung dengan Desa Yosomulyo, mereka sudah mulai diserang oleh PKI yang sembunyi di pinggir jalan. “Agar rombongan Ansor tidak bisa balik, pohon-pohon dipinggir jalan oleh PKI ditebangi,” ungkapnya.

Mendapat serangan dari PKI, truk yang membawa rombongan Ansor Muncar masih terus jalan. Tapi, rombongan itu berhenti setelah tiba di sekitar jalan simpang empat Dusun Mantekan (kini Dusun Sidorejo, sekitar SPBU), Desa Yosomulyo. Di tempat itu, warga sekitar yang kebanyakan anggota PKI tarung dengan anggota Ansor Muncar. “Ansor Muncar lari ke arah timur hingga tembus ke Dusun Cemetuk, Desa Cluring.

Warga lainnya, Suyoto, 70, asal Dusun Cemetuk, Desa Cluring menyampaikan saat kejadian tidak ada pengajian di Desa Karangasem. Putra sulung kepala Desa Cluring Matulus, itu menyebut Ansor Muncar ke Desa Yosomulyo itu ingin menyerang. “Saya juga tidak tahu, dari mana cerita mereka (Ansor Muncar) datang ke Karangasem karena diundang pengajian,” jelasnya.

Dengan nada serius, Suyoto menyebut di Karangasem itu dulunya banyak anggota dan simpatisan PKI. Warga dari luar daerah yang rumahnya dibakar karena dituding PKI, juga banyak yang mengungsi ke Desa Yosomulyo. “Apa mungkin orang PKI mengadakan pengajian, masak mereka (Ansor Muncar) percaya kalau di Karangasem yang basis PKI itu ada yang mengadakan pengajian,” ungkap Suyoto yang saat kejadian sudah berumur sekitar 15 tahun itu.(bersambung)  

(bw/rbs/rbs/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia