alexametrics
24.3 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Sebelum Meninggal, Abas Minta Tetangganya Gantikan Jadi Imam di Musala

RADAR GENTENG – Kecelakaan laut perahu Hokky 88 di d perairan Plawangan, sekitar Pantai Grajagan, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, membuat keluarga korban berduka. Dua nelayan pancing yang meninggal, Sapuwan Samsudin, 54, dan Ja’far Abas, 66, kakak beradik yang tinggal di Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng.

Tragedi perahu terbalik pada Sabtu (16/7) yang merenggut empat nyawa Sapuwan, Abas, Zainul, dan Mohadi, sempat mengegerkan warga yang tinggal di pesisir Pantai Grajagan, Kecamatan Purwoharjo. Merela itu, korban keganasan perairan Plawangan dan ombak di Laut Selatan.

Dari empat nyawa yang meninggal itu, dua diantaranya Sapuan dan Abas saudara kandung. Kedua korban itu, ditemukan para nelayan sesaat setelah perahunya terbalik karena dihantam ombak. Jenazah kedua korban, diantar petugas ke rumahnya hamper bersamaan. “Ini ujian yang cukup berat,” cetus Masnidah, 60, istri Ja’far Abas sekaligus kakak ipar Sapuwan, kemarin (20/7).

Saat Jawa Pos Radar Genteng ke rumahnya kemarin (20/7), terlihat cukup ramai. Masih banyak warga berdatangan untuk takziah. Para tetangga, juga banyak yang datang untuk membantu persiapan tahlilan. “Kita tahlilan selama tujuh hari,” terangnya.

Baca Juga :  Semalam Makan Habis Beberapa Piring, Bobot Malah Susut

Selama tujuh hari sejak ditemukan sudah meninggal, rumah Abas dan adiknya Sapuwan yang hanya berjarak sekitar 25 meter di Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, ramai dengan warga yang membantu memasak dan keperluan lainnya. “Tahlilan sendiri-sendiri,” terangnya.

Duka tampak belum sepenuhnya pergi dari dua rumah itu. Dari sorot matanya, terlihat masih berat menerima kenyataan yang pahit ini. “Sudah ikhlas, meski kadang belum percaya kalau bapak dan adik sudah tidak ada,” ungkapnya.

Kepergian Abas dan Sapuwan tidak meninggalkan firasat atau isyarat sama sekali. Masnidah tak menyangka hobi yang sudah lama digeluti adiknya, Sapuwan, dan belakangan juga digandrungi suaminya menjadi malapetaka bagi keluarganya. “Saya tidak ada firasat sama sekali,” cetusnya.

Hanya saja, Masnidah sempat melarang karena berangkatnya rombongan pemancing ke Pantai Grajagan sudah terlalu sore. “Saya larang karena kesorean, padahal biasanya berangkat jam 13.30 sudah keburu-buru, ini berangkat pukul 14.00,” jelasnya.

Firasat aneh justru dirasakan oleh tetangganya. Mereka menceritakan saat takziah ke rumahnya. Sebelum berangkat ke Pantai Grajagan, Abas yang biasanya menjadi imam di Musala Miftahul Jannah yang ada di dekat rumahnya, sempat meminta pada Dirun, salah satu tetangganya untuk menggantikannya imam. “Katanya tetangga, bapak minta pada Pak Dirun untuk jadi imam di musala seterusnya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Retribusi Rp 60 Juta per Bulan, Berharap Revitalisasi

Dirun yang diminta untuk menjadi imam di musala itu, mulanya tidak menanggapi. Dikira, permintaan itu karena akan ditinggal mancing di Pantai Grajagan. Saat ada kabar perahu yang ditumpangi Abas terbalik dan Abas bersama adiknYa Sapuwan ditemukan dalam kondisi meninggal, apa yang disampaikan Abas baru disadari. “Saat takziyah, Pak Dirun cerita ada firasat aneh,” ucapnya.

Masnidah menyampaikan hubungan suaminya dengan adiknya Sapuwan, itu sangat dekat. Keduanya, sering keluar bersama untuk memancing ikan bersama. Hanya saja, Abas biasanya memancing di sungai atau di tambak. Untuk memancing di laut, masih baru. “Selama beberapa bulan terakhir, sangat lengket,” terang Masnidah seraya menyebut suaminya ikut mancing adiknya sekitar lima kali.

Untuk sang adik, Sapuwan yang berstatus guru negeri dan bertugas di SMPN IV Genteng, selama ini sudah sering memancing di laut. “Kalau adik saya emang sering mincing, joran yang dibawa saat kecelakaan itu harganya Rp 7 juta-an kok,” ungkapnya.(sas/abi)

RADAR GENTENG – Kecelakaan laut perahu Hokky 88 di d perairan Plawangan, sekitar Pantai Grajagan, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, membuat keluarga korban berduka. Dua nelayan pancing yang meninggal, Sapuwan Samsudin, 54, dan Ja’far Abas, 66, kakak beradik yang tinggal di Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng.

Tragedi perahu terbalik pada Sabtu (16/7) yang merenggut empat nyawa Sapuwan, Abas, Zainul, dan Mohadi, sempat mengegerkan warga yang tinggal di pesisir Pantai Grajagan, Kecamatan Purwoharjo. Merela itu, korban keganasan perairan Plawangan dan ombak di Laut Selatan.

Dari empat nyawa yang meninggal itu, dua diantaranya Sapuan dan Abas saudara kandung. Kedua korban itu, ditemukan para nelayan sesaat setelah perahunya terbalik karena dihantam ombak. Jenazah kedua korban, diantar petugas ke rumahnya hamper bersamaan. “Ini ujian yang cukup berat,” cetus Masnidah, 60, istri Ja’far Abas sekaligus kakak ipar Sapuwan, kemarin (20/7).

Saat Jawa Pos Radar Genteng ke rumahnya kemarin (20/7), terlihat cukup ramai. Masih banyak warga berdatangan untuk takziah. Para tetangga, juga banyak yang datang untuk membantu persiapan tahlilan. “Kita tahlilan selama tujuh hari,” terangnya.

Baca Juga :  Korban Tinggalkan Rumah Tanpa Pamit, Pencarian dengan Menabuh Kentongan

Selama tujuh hari sejak ditemukan sudah meninggal, rumah Abas dan adiknya Sapuwan yang hanya berjarak sekitar 25 meter di Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, ramai dengan warga yang membantu memasak dan keperluan lainnya. “Tahlilan sendiri-sendiri,” terangnya.

Duka tampak belum sepenuhnya pergi dari dua rumah itu. Dari sorot matanya, terlihat masih berat menerima kenyataan yang pahit ini. “Sudah ikhlas, meski kadang belum percaya kalau bapak dan adik sudah tidak ada,” ungkapnya.

Kepergian Abas dan Sapuwan tidak meninggalkan firasat atau isyarat sama sekali. Masnidah tak menyangka hobi yang sudah lama digeluti adiknya, Sapuwan, dan belakangan juga digandrungi suaminya menjadi malapetaka bagi keluarganya. “Saya tidak ada firasat sama sekali,” cetusnya.

Hanya saja, Masnidah sempat melarang karena berangkatnya rombongan pemancing ke Pantai Grajagan sudah terlalu sore. “Saya larang karena kesorean, padahal biasanya berangkat jam 13.30 sudah keburu-buru, ini berangkat pukul 14.00,” jelasnya.

Firasat aneh justru dirasakan oleh tetangganya. Mereka menceritakan saat takziah ke rumahnya. Sebelum berangkat ke Pantai Grajagan, Abas yang biasanya menjadi imam di Musala Miftahul Jannah yang ada di dekat rumahnya, sempat meminta pada Dirun, salah satu tetangganya untuk menggantikannya imam. “Katanya tetangga, bapak minta pada Pak Dirun untuk jadi imam di musala seterusnya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pencarian Nelayan Hilang Dilakukan di Pantai dan Laut

Dirun yang diminta untuk menjadi imam di musala itu, mulanya tidak menanggapi. Dikira, permintaan itu karena akan ditinggal mancing di Pantai Grajagan. Saat ada kabar perahu yang ditumpangi Abas terbalik dan Abas bersama adiknYa Sapuwan ditemukan dalam kondisi meninggal, apa yang disampaikan Abas baru disadari. “Saat takziyah, Pak Dirun cerita ada firasat aneh,” ucapnya.

Masnidah menyampaikan hubungan suaminya dengan adiknya Sapuwan, itu sangat dekat. Keduanya, sering keluar bersama untuk memancing ikan bersama. Hanya saja, Abas biasanya memancing di sungai atau di tambak. Untuk memancing di laut, masih baru. “Selama beberapa bulan terakhir, sangat lengket,” terang Masnidah seraya menyebut suaminya ikut mancing adiknya sekitar lima kali.

Untuk sang adik, Sapuwan yang berstatus guru negeri dan bertugas di SMPN IV Genteng, selama ini sudah sering memancing di laut. “Kalau adik saya emang sering mincing, joran yang dibawa saat kecelakaan itu harganya Rp 7 juta-an kok,” ungkapnya.(sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/