alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Ini Kisah Ketua Pemangku Adat Dukuh Pariopo, Ke Absu

Kearifan lokal yang masih bertahan di Dusun Selatan, Desa Bantal yakni upacara adat Pojhian Hodo. Upacara itu dilakukan oleh sejumlah orang yang telah tergabung dalam komunitas adat dukuh Pariopo. Salah satuyang dituakan adalah  Ke Absu.

Laily Mastika, Asembagus

Ke Absu tahun ini menapaki umur 78 tahun. Badannya tinggi dan kurus. Garis-garis keriput melukis wajahnya. Begitu juga pada jari-jari tangan dan kakinya. Meski usianya menginjak satu abad, ingatannya masih tajam tentang perjalanannya dalam melestarikan upacara adat Pojhian Hodo.

Menurutnya, upacara untuk memanggil hujan itu merupakan warisan budaya yang tak bisa ditinggalkan. Sebab, dipercaya jika tidak dilakukan upacara maka akan ada bencana yang datang. “Saya dahulu pernah mencoba untuk tidak turut hadir dalam upacara adat. Badan saya sakit . Tetapi setelah saya turut hadir dalam upacara, badan saya kembali sehat,” ulas ketua pemangku adat Dukuh Poariopo sejak 2016 itu.

Ke Absu merupakan generasi keempat dari Ju’Modhi. Dia menceritakan Ju’ Modhi dan Ju’Hayap adalah buronan kolonial Belanda. Sehingga, mereka memilih menyingkir ke dalam hutan. “Ju’ Modhi, Ju’ Hayap dan pembabat lainnya mendiami hutan belantara Priopo serta berkeluarga dan beranak cucu di sini,” jelasnya.

Baca Juga :  Kisah Wildah dan Luluk, Dua Pengamen Cilik yang Bekerja dari Pagi Sampai Malam

Ke Absu mengutarakan, keturunan Ju’Modhi yang paling banyak menghuni wilayah Pariopo. Meski ada pembabat lain yang turut serta menghuni wilayah itu. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya makam Ju’Modhi dan Ju’ Hayap di dukuh Pariopo. “Ju’Modhi juga yang menginisiasi upacara adat untuk meminta hujan,” bebernya.

Permukiman Pariopo diceritakan sebagai permukiman yang berkembang pertama. Sebab, selanjutnya ada Dukuh Pangghulan dan Dukuh Lowa yang terletak di sekitar sumber mata air. Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh warga dukuh adalah Bahasa Madura.”Saya tidak bisa Bahasa Indonesia, dari kecil pakai Bahasa Madura,” ulas kakek bercucu lima ini.

Ke Absu menjelaskan, Pojhian Hodo dilakukan di lokasi tertentu. Salah satu lokasi yang sering digunakan yakni di Bato Tomang. Namun, ada tempat ritual lainnya yakni di Tapak Dangdang, Ghunong Cangkreng, Ghunong Masali,  Ghunong Bhata, dan Somber yang dekat dengan mata air.

Baca Juga :  Tradisi Suroan; Berebut Air Suci, Selamatan, hingga Cukur Gundul

Pojhian Hodo dilakukan dengan membacakan bacaan tertentu yang diiringi dengan musik. Ke Absu menerangkan, pojhian yang dibawakan yakni selawatan dan syahadat. Selain itu, juga ada lirik berbahasa Madura yang menyatakan permohonan hujan kepada Tuhan. “Selama pojhian atau berdoa diiringi dengan gerakan tangan dan musik dari alat musik yang dibawa oleh masing-masing anggota,” ujarnya.

Ke Absu sendiri memegang dan memainkan seruling. Dia sudah memainkan alat musik itu sejak kecil. “Selain itu ada Dung-dung, Bin Sabin, Pa’ beng, dan lainnya,” pungkasnya.

Kepala Desa Bantal, Sahijo menuturkan, setiap kali selesai Pojhian Hodo, hujan datang. Meski tidak langsung setelah selesai upacara. “Biasanya sekitar setengah jam atau satu jam kemudian, bar u turun hujan,” paparnya.

Kearifan lokal yang masih bertahan di Dusun Selatan, Desa Bantal yakni upacara adat Pojhian Hodo. Upacara itu dilakukan oleh sejumlah orang yang telah tergabung dalam komunitas adat dukuh Pariopo. Salah satuyang dituakan adalah  Ke Absu.

Laily Mastika, Asembagus

Ke Absu tahun ini menapaki umur 78 tahun. Badannya tinggi dan kurus. Garis-garis keriput melukis wajahnya. Begitu juga pada jari-jari tangan dan kakinya. Meski usianya menginjak satu abad, ingatannya masih tajam tentang perjalanannya dalam melestarikan upacara adat Pojhian Hodo.

Menurutnya, upacara untuk memanggil hujan itu merupakan warisan budaya yang tak bisa ditinggalkan. Sebab, dipercaya jika tidak dilakukan upacara maka akan ada bencana yang datang. “Saya dahulu pernah mencoba untuk tidak turut hadir dalam upacara adat. Badan saya sakit . Tetapi setelah saya turut hadir dalam upacara, badan saya kembali sehat,” ulas ketua pemangku adat Dukuh Poariopo sejak 2016 itu.

Ke Absu merupakan generasi keempat dari Ju’Modhi. Dia menceritakan Ju’ Modhi dan Ju’Hayap adalah buronan kolonial Belanda. Sehingga, mereka memilih menyingkir ke dalam hutan. “Ju’ Modhi, Ju’ Hayap dan pembabat lainnya mendiami hutan belantara Priopo serta berkeluarga dan beranak cucu di sini,” jelasnya.

Baca Juga :  Tandon Jadi Media Pengendapan Air

Ke Absu mengutarakan, keturunan Ju’Modhi yang paling banyak menghuni wilayah Pariopo. Meski ada pembabat lain yang turut serta menghuni wilayah itu. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya makam Ju’Modhi dan Ju’ Hayap di dukuh Pariopo. “Ju’Modhi juga yang menginisiasi upacara adat untuk meminta hujan,” bebernya.

Permukiman Pariopo diceritakan sebagai permukiman yang berkembang pertama. Sebab, selanjutnya ada Dukuh Pangghulan dan Dukuh Lowa yang terletak di sekitar sumber mata air. Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh warga dukuh adalah Bahasa Madura.”Saya tidak bisa Bahasa Indonesia, dari kecil pakai Bahasa Madura,” ulas kakek bercucu lima ini.

Ke Absu menjelaskan, Pojhian Hodo dilakukan di lokasi tertentu. Salah satu lokasi yang sering digunakan yakni di Bato Tomang. Namun, ada tempat ritual lainnya yakni di Tapak Dangdang, Ghunong Cangkreng, Ghunong Masali,  Ghunong Bhata, dan Somber yang dekat dengan mata air.

Baca Juga :  Sehari Habiskan 200 Nasi Bungkus, Gratis Sayur dan Sambal

Pojhian Hodo dilakukan dengan membacakan bacaan tertentu yang diiringi dengan musik. Ke Absu menerangkan, pojhian yang dibawakan yakni selawatan dan syahadat. Selain itu, juga ada lirik berbahasa Madura yang menyatakan permohonan hujan kepada Tuhan. “Selama pojhian atau berdoa diiringi dengan gerakan tangan dan musik dari alat musik yang dibawa oleh masing-masing anggota,” ujarnya.

Ke Absu sendiri memegang dan memainkan seruling. Dia sudah memainkan alat musik itu sejak kecil. “Selain itu ada Dung-dung, Bin Sabin, Pa’ beng, dan lainnya,” pungkasnya.

Kepala Desa Bantal, Sahijo menuturkan, setiap kali selesai Pojhian Hodo, hujan datang. Meski tidak langsung setelah selesai upacara. “Biasanya sekitar setengah jam atau satu jam kemudian, bar u turun hujan,” paparnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/