Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features
Zaenal Abidin, Puluhan Tahun Hidup Mandiri di

Dari Buruh Panjat Kelapa, Kini Sukses sebagai Pengepul Buah

21 Oktober 2021, 10: 21: 12 WIB | editor : Bayu Saksono

Dari Buruh Panjat Kelapa, Kini Sukses sebagai Pengepul Buah

PENEBAS BUAH: Zaenal Abidin (kiri) mengumpulkan buah manggis yang baru saja dipetik untuk dijual kepada pedagang. (deddy Jumhardiyanto/RaBa)

Share this      

LICIN, Jawa Pos Radar Banyuwangi - Dari tepi jalan raya Kluncing tak terlihat sama sekali ada rumah kecil di tengah kebun. Rumah itu berada di atas bukit yang terdapat tanaman manggis, durian, dan kepundung. Lokasinya berada di Dusun Panggung, Desa Banjar, Kecamatan Licin.

Untuk menuju rumah itu bisa ditempuh dengan berjalan kaki, bisa juga dengan naik sepeda motor melintasi jalan setapak di antara rindangnya pepohonan. Jalan setapak itu cukup licin jika dalam kondisi basah.

Rumah berukuran 4 x 8 meter itu dihuni oleh dua orang, yakni Buhaemah, 80, dan Zaenal Abidin, 24. Keduanya sudah cukup lama tinggal di tengah kebun yang bukan miliknya. ”Saya numpang sudah lama, sejak jalan Kluncing ini masih sempit dan belum diaspal,” ungkap Buhaemah.

Baca juga: Ada Tiga Versi Ansor Muncar Datang ke Desa Karangasem

Dulunya, Buhaemah tinggal bersama almarhum suaminya, Abdillah. Dari buah perkawinannya, dia dikaruniai dua orang anak yang kini sudah berumah tangga. Tahun 1997, Buhaemah bekerja sebagai pengasuh bayi, anak dari pasangan suami istri Nurjanah dan Yanto, warga Dusun Karangsari, Desa Segobang, Kecamatan Licin. Bayi itu bernama Zaenal Abidin. ”Saat itu upah mengasuh bayi Rp 50.000 sebulan,” kenangnya.

Namun takdir berkata lain. Baru setahun Buhaemah bekerja, Yanto meninggal dunia. Hingga akhirnya Nurjanah menyerahkan bayi tersebut kepada Buhaemah. ”Sejak umur setahun Bidin (panggilan akrab Zaenal Abidin) sudah saya rawat dan tinggal bersama saya. Ibunya, Nurjanah, pulang ke rumahnya di Magelang,” ujar Buhaemah.

Sejak itulah, dia mengasuh dan merawat Bidin dengan penuh kasih sayang layaknya anak kandungnya sendiri. Kala itu, dia hanya bekerja sebagai buruh tani. ”Anak itu masa kecilnya sering kejang. Saya bolak-balik berobat. Alhamdulillah, masih hidup dan dewasa seperti saat ini,” kenang Buhaemah.

Buhaemah cukup bangga dengan Bidin yang saat ini tumbuh dewasa dan mandiri. Apalagi, ketika suara azan berkumandang, tanpa disuruh Bidin langsung pergi salat berjamaah ke masjid. ”Ada tamu siapa pun dan sedang beraktivitas apa pun, kalau dengar azan berkumandang langsung mandi dan pergi jamaah salat ke masjid,” kata Buhaemah.

Bidin sudah terbiasa hidup mandiri sejak kecil. Ketika masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar (SD), Bidin ikut menjadi buruh panjat pohon kelapa. ”Saat itu saya hanya mampu memanjat lima pohon setiap hari. Ongkos buruh panjat saya pakai hidup bersama nenek,” ujar Bidin.

Ketika usianya menginjak 13 tahun atau duduk di bangku sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs), Bidin mulai belajar untuk berdagang atau mengumpulkan buah kelapa dan dijual kepada pedagang. Hingga akhirnya ketika sekolah Madrasah Aliyah, dia sudah memiliki lima orang buruh panjat kelapa.

”Saya belajar dari Pak Daim, salah satu guru MI yang juga pengepul kelapa. Kebetulan Pak Daim berhenti, lalu saya meneruskan hingga banyak pelanggan yang mengambil kelapa ke saya,” jelas lelaki kelahiran Banyuwangi, 5 September 1997 ini.

Berkat keuletan dan ketekunannya, Bidin mulai mengembangkan usahanya. Tak hanya buah kelapa, semua hasil perkebunan dan pertanian menjadi buruan dagangannya. Sebut saja buah manggis, durian, kepundung, petai, lombok, cabai, tomat, jengkol, pala, cengkih, ranti, dan bawang putih. ”Alhamdulillah, banyak dipercaya orang dan semua barang hasil perkebunan dan pertanian saya kirim ke berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali,” katanya.

Dari hasil kerja kerasnya itu, Bidin bisa membeli sapi, tanah, rumah, dan sepeda motor. Kendati bisnisnya lancar, Bidin tetap tinggal bersama Buhaemah di gubuk tengah kebun yang terletak di Dusun Panggung, Desa Banjar, Kecamatan Licin.

Bahkan, hingga kini Bidin masih belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). ”Sedang proses bikin KTP dan KK, titip sama teman. Sampai sekarang belum jadi,” ujarnya sembari tertawa

(bw/ddy/rbs/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia