alexametrics
28.7 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Rony Nurdiansyah Jadi PNS setelah Juarai PON Samarinda

RadarBanyuwangi.id – Gelandang serang sarat prestasi. Predikat tersebut layak disematkan pada sosok Rony Nurdiansyah. Betapa tidak, sejumlah gelar juara berhasil dia torehkan di sepanjang karirnya di dunia sepak bola, baik saat membela Persewangi maupun tim Jatim yang bertanding pada Pekan Olahraga Nasional (PON).

Rony meniti karir sepak bola dari bawah. Awalnya, yakni di tahun 2001, dia bergabung dengan Persewangi junior. Bersama skuad muda Persewangi tersebut, Rony sukses memetik hasil manis.

Ya, kala itu, Persewangi junior berhasil menjuarai Piala Suratin Jatim. Pada pertandingan final, tim kebanggaan warga Banyuwangi, ini sukses mengandaskan perlawanan kesebelasan asal kabupaten tetangga, yakni Persid Jember. Berkat titel juara tersebut, Persewangi junior berhak mewakili Jatim untuk berkompetisi pada Piala Suratin tingkat nasional.

Setahun berselang, Rony mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi pemain Persewangi senior. Hasilnya, dia terpilih menjadi bagian skuad Persewangi senior tersebut. Posisinya pun tetap, yakni sebagai gelandang serang alias midfielder. Pria kelahiran 29 Agustus 1984 ini di Persewangi hingga 2008.

Selanjutnya, di tahun 2008, Rony terpilih menjadi anggota kesebelasan Provinsi Jatim yang berlaga di PON XVII Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Lagi-lagi prestasi membanggakan berhasil dia torehkan. Kesebelasan Jatim berhasil menjuarai ajang olah raga paling akbar di Indonesia tersebut.

Setelah memperkuat skuad PON Jatim, pada tahun 2010 Rony kembali membela Persewangi. Lagi-lagi torehan manis didapat. Skuad Persewangi berhasil promosi ke Divisi Utama alias satu strip di bawah kompetisi sepak bola level teratas di tanah air, yakni Indonesia Super League (ISL).

Sementara itu, keberhasilan Rony mengantarkan Jatim merebut emas cabang olahraga sepak bola di PON tersebut diapresiasi Pemkab Banyuwangi. Pada tahun 2010, pria Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, itu diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS). “Alhamdulillah, jerih payah saya di PON diapresiasi Pemkab. Saya diangkat menjadi PNS. Saat itu ada kebijakan pemerintah pusat. Setiap atlet naional yang minimal meraih medali emas PON, bisa mengajukan diri menjadi ASN,” bebernya.

Awal menjadi PNS, imbuh Rony, dirinya ditugaskan di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dispendikpora). Namun setahun berselang, menyusul “pemisahan” Kementerian Pendidikan dan Kementerian Pemuda dan Olahraga Kemenpora), dirinya lantas ditempatkan di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Banyuwangi hingga kini.

Sementara itu, selama membela Persewangi, Rony mengaku momen yang paling berkesan dan tidak bisa dia lupakan hingga kini. Momen spesial itu terjadi saat dia membela Persewangi berlaga pada turnamen Zona Jawa yang digeber di Pasuruan sekitar tahun 2006. “Kala itu saya pemain terbaik mendapat hadiah televisi 14 inchi. Pada momen yang sama saya juga nyaris menjadi top scorer. Total gol yang saya cetak hanya selisih satu dengan pencetak gol terbanyak. Seandainya bisa mencetak satu gol tambahan, saya dapat dua gelar,” kata dia.

Singkat cerita, kini, meskipun telah menjadi abdi negara, Rony tidak sepenuhnya meninggalkan dunia sepak bola. Dia kini menjadi pelatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) Tunas 92 Penataban, Kecamatan Giri. “Saya juga melatih sepak bola di beberapa sekolah, di antaranya di SMAN 1 Banyuwangi dan MAN 1 Banyuwangi,” pungkasnya. (sgt/bay)

RadarBanyuwangi.id – Gelandang serang sarat prestasi. Predikat tersebut layak disematkan pada sosok Rony Nurdiansyah. Betapa tidak, sejumlah gelar juara berhasil dia torehkan di sepanjang karirnya di dunia sepak bola, baik saat membela Persewangi maupun tim Jatim yang bertanding pada Pekan Olahraga Nasional (PON).

Rony meniti karir sepak bola dari bawah. Awalnya, yakni di tahun 2001, dia bergabung dengan Persewangi junior. Bersama skuad muda Persewangi tersebut, Rony sukses memetik hasil manis.

Ya, kala itu, Persewangi junior berhasil menjuarai Piala Suratin Jatim. Pada pertandingan final, tim kebanggaan warga Banyuwangi, ini sukses mengandaskan perlawanan kesebelasan asal kabupaten tetangga, yakni Persid Jember. Berkat titel juara tersebut, Persewangi junior berhak mewakili Jatim untuk berkompetisi pada Piala Suratin tingkat nasional.

Setahun berselang, Rony mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi pemain Persewangi senior. Hasilnya, dia terpilih menjadi bagian skuad Persewangi senior tersebut. Posisinya pun tetap, yakni sebagai gelandang serang alias midfielder. Pria kelahiran 29 Agustus 1984 ini di Persewangi hingga 2008.

Selanjutnya, di tahun 2008, Rony terpilih menjadi anggota kesebelasan Provinsi Jatim yang berlaga di PON XVII Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Lagi-lagi prestasi membanggakan berhasil dia torehkan. Kesebelasan Jatim berhasil menjuarai ajang olah raga paling akbar di Indonesia tersebut.

Setelah memperkuat skuad PON Jatim, pada tahun 2010 Rony kembali membela Persewangi. Lagi-lagi torehan manis didapat. Skuad Persewangi berhasil promosi ke Divisi Utama alias satu strip di bawah kompetisi sepak bola level teratas di tanah air, yakni Indonesia Super League (ISL).

Sementara itu, keberhasilan Rony mengantarkan Jatim merebut emas cabang olahraga sepak bola di PON tersebut diapresiasi Pemkab Banyuwangi. Pada tahun 2010, pria Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, itu diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS). “Alhamdulillah, jerih payah saya di PON diapresiasi Pemkab. Saya diangkat menjadi PNS. Saat itu ada kebijakan pemerintah pusat. Setiap atlet naional yang minimal meraih medali emas PON, bisa mengajukan diri menjadi ASN,” bebernya.

Awal menjadi PNS, imbuh Rony, dirinya ditugaskan di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dispendikpora). Namun setahun berselang, menyusul “pemisahan” Kementerian Pendidikan dan Kementerian Pemuda dan Olahraga Kemenpora), dirinya lantas ditempatkan di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Banyuwangi hingga kini.

Sementara itu, selama membela Persewangi, Rony mengaku momen yang paling berkesan dan tidak bisa dia lupakan hingga kini. Momen spesial itu terjadi saat dia membela Persewangi berlaga pada turnamen Zona Jawa yang digeber di Pasuruan sekitar tahun 2006. “Kala itu saya pemain terbaik mendapat hadiah televisi 14 inchi. Pada momen yang sama saya juga nyaris menjadi top scorer. Total gol yang saya cetak hanya selisih satu dengan pencetak gol terbanyak. Seandainya bisa mencetak satu gol tambahan, saya dapat dua gelar,” kata dia.

Singkat cerita, kini, meskipun telah menjadi abdi negara, Rony tidak sepenuhnya meninggalkan dunia sepak bola. Dia kini menjadi pelatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) Tunas 92 Penataban, Kecamatan Giri. “Saya juga melatih sepak bola di beberapa sekolah, di antaranya di SMAN 1 Banyuwangi dan MAN 1 Banyuwangi,” pungkasnya. (sgt/bay)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/