alexametrics
27.7 C
Banyuwangi
Saturday, July 2, 2022

Kiai Munir Dirikan Pesantren di Lingkungan Abangan

GENTENG – KH Badril Munir atau biasa disapa Kiai Munir, berasal dari Desa Kapu, Kecamatan Pagu, Kota Kediri. Pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalabah, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, itu. Sampai saat ini masih belum diketahui bulan dan tahun lahirnya yang jelas Kiai Munir wafat pada tahun 1979, karena sakit.

Cerita masa kecil KH Badril Munir atau Kiai Munir, masih belum diketahui. Yang jelas, semasa hidupnya Kiai Munir pernah meninmba ilmu agama di sejumlah pondok pesantren ternama, seperti Pesantren Termas di Kabupaten Pacitan, dan Pesantren Curah Kates, Jember asuhan Kiai Khotim.

Saat menjadi santri di Pesantren Curah Kates, Kiai Munir muda oleh Kiai Khotim dinikahkan dengan salah satu keponakanya yang tinggal di Banyuwangi, Nyai Rukoyah. “Kiai Munir tidak bisa menolak kemauan gurunya,” ucap pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalabah, KH Masrukhin Aba Hidayat.

Sekitar tahun 1957-an, Kiai Munir mulai menetap di Banyuwangi bersama istrinya untuk berdakwak dengan merintis pendirian pondok pesantren. Baru pada 1959, mendirikan Pondok Pesantren Raudlatut Thalabah yang dibantu 10 santri senior utusan Kiai Khotim. “Kiai Munir waktu itu terkenanl dengan kecerdasanya,” ucap Gus Rukhin, sapaan KH Masrukin Abah Hidayat.

Dari 10 santri itu, dalam perkembangannya banyak santri baru berdatangan yang ingin menimba ilmu agama pada Kiai Munir. Para santri itu, awalnya hanya dari lokal Banyuwangi saja. Tapi tidak lama, santri dari luar daerah Banyuwangi juga berdatangan. “Dulu santri dari luar Banyuwangi lebih banyak ketimbang yang dari Banyuwangi,” ucapnya.

Pada 1970-an akhir, santri di Pondok Pesantren Raudlatut Thalabah jumlahnya sekitar 900-an, bahkan hampir menyentuh 1.000 santri. Dan santri itu, mulai menurun sejak meninggalnya Kiai Munir pada 1979. Dalam pernikahan Kiai Munir dengan Nyai Rokhayah, dikaruniai tiga orang anak, KH Masrukhin, KH Kolili, dan Nyai Mubarokah. Ketiga anaknya itu ditinggal mangkat Kiai Munir saat usianya masih remaja, dan ini membuat santri banyak yang pulang dan pindah. “Saat Kiai Munir wafat, pondok diurus oleh para alumni,” terangnya.

Saat Kiai Munir meninggal, putra pertamanya Kiai Masrukin masih berumur 15 tahun, dan belum bisa mengurus pesantren karena masih belajar di pesantren. Baru sekitar 1990, Gus Masrukin selesai menyelesaikan pendidikan di pesantren dan mulai mengurus pondok peninggalan ayahnya. “Saat pertama memimpin pesantren, jumlah santri belum meningkat, santri belajar kitab salafi murni,” cetusnya.

Baru pada 2006, berinisiatif mendirikan lembaga pendidikan formal. Ternyata, pendirian sekolah formal ini berdampak positif  pada peningkatan jumlah santri. Saat ini, santri di  Pondok Pesantren Raudlatut Thlabah kembali pada masa kejayaanya dengan jumlah santri sekitar 700-an lebih yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. “Semua karena barokahnya Kiai Munir,” ucap Gus Rukhin.

Kiai Munir dikenal ulama yang berilmu tinggi dan sederhan. Selain menjadi pengsuh pesantren, juga menyatu dengan masyarakat untuk bertani. Sehingga, tidak terlihat aura kekiaiannya. Semasa hidup, Kiai Munir tidak pernah mau diajak bergabung masuk pengurus Nahdlatul Ulama (NU), dan memilih untuk menjadi pendengar. “Tapi Kiai Munir sering menghadiri kegiatan NU,” jelasnya.

Sekitar tahun 1960-an, Kia Munir bersama para santri senior, ikut berjuang mengusir pasukan PKI yang hendak menyerang pesantren. Pada awal pendirian pesantren, daerah sekitar dikenal kelompok abangan dan sulit untuk diajak beribadah. Malahan, ayahnya itu sempat putus asa. “Kiai Munir mengadu pada gurunya Kiai Khotim, dan diminta untuk bertahan di pesantrennya,” cetusnya.

Sebelum meninggal, Kiai Munir berpesan kepada para santrinya agar selalu menjadi santri yang sempurna, santri itu harus mengamalkan kesantriannya, senantiasa belajar (mengaji) dan berkontribusi untuk siapapun. Amalan yang tidakpernah ditinggalkan oleh Kiai Munir, terus belajar dan mengajar, “Kiai Munir tidak pernah meninggalkan belajar dan mengajar,” pungkas Gus Masrukin. (mg5/abi)

GENTENG – KH Badril Munir atau biasa disapa Kiai Munir, berasal dari Desa Kapu, Kecamatan Pagu, Kota Kediri. Pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalabah, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, itu. Sampai saat ini masih belum diketahui bulan dan tahun lahirnya yang jelas Kiai Munir wafat pada tahun 1979, karena sakit.

Cerita masa kecil KH Badril Munir atau Kiai Munir, masih belum diketahui. Yang jelas, semasa hidupnya Kiai Munir pernah meninmba ilmu agama di sejumlah pondok pesantren ternama, seperti Pesantren Termas di Kabupaten Pacitan, dan Pesantren Curah Kates, Jember asuhan Kiai Khotim.

Saat menjadi santri di Pesantren Curah Kates, Kiai Munir muda oleh Kiai Khotim dinikahkan dengan salah satu keponakanya yang tinggal di Banyuwangi, Nyai Rukoyah. “Kiai Munir tidak bisa menolak kemauan gurunya,” ucap pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalabah, KH Masrukhin Aba Hidayat.

Sekitar tahun 1957-an, Kiai Munir mulai menetap di Banyuwangi bersama istrinya untuk berdakwak dengan merintis pendirian pondok pesantren. Baru pada 1959, mendirikan Pondok Pesantren Raudlatut Thalabah yang dibantu 10 santri senior utusan Kiai Khotim. “Kiai Munir waktu itu terkenanl dengan kecerdasanya,” ucap Gus Rukhin, sapaan KH Masrukin Abah Hidayat.

Dari 10 santri itu, dalam perkembangannya banyak santri baru berdatangan yang ingin menimba ilmu agama pada Kiai Munir. Para santri itu, awalnya hanya dari lokal Banyuwangi saja. Tapi tidak lama, santri dari luar daerah Banyuwangi juga berdatangan. “Dulu santri dari luar Banyuwangi lebih banyak ketimbang yang dari Banyuwangi,” ucapnya.

Pada 1970-an akhir, santri di Pondok Pesantren Raudlatut Thalabah jumlahnya sekitar 900-an, bahkan hampir menyentuh 1.000 santri. Dan santri itu, mulai menurun sejak meninggalnya Kiai Munir pada 1979. Dalam pernikahan Kiai Munir dengan Nyai Rokhayah, dikaruniai tiga orang anak, KH Masrukhin, KH Kolili, dan Nyai Mubarokah. Ketiga anaknya itu ditinggal mangkat Kiai Munir saat usianya masih remaja, dan ini membuat santri banyak yang pulang dan pindah. “Saat Kiai Munir wafat, pondok diurus oleh para alumni,” terangnya.

Saat Kiai Munir meninggal, putra pertamanya Kiai Masrukin masih berumur 15 tahun, dan belum bisa mengurus pesantren karena masih belajar di pesantren. Baru sekitar 1990, Gus Masrukin selesai menyelesaikan pendidikan di pesantren dan mulai mengurus pondok peninggalan ayahnya. “Saat pertama memimpin pesantren, jumlah santri belum meningkat, santri belajar kitab salafi murni,” cetusnya.

Baru pada 2006, berinisiatif mendirikan lembaga pendidikan formal. Ternyata, pendirian sekolah formal ini berdampak positif  pada peningkatan jumlah santri. Saat ini, santri di  Pondok Pesantren Raudlatut Thlabah kembali pada masa kejayaanya dengan jumlah santri sekitar 700-an lebih yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. “Semua karena barokahnya Kiai Munir,” ucap Gus Rukhin.

Kiai Munir dikenal ulama yang berilmu tinggi dan sederhan. Selain menjadi pengsuh pesantren, juga menyatu dengan masyarakat untuk bertani. Sehingga, tidak terlihat aura kekiaiannya. Semasa hidup, Kiai Munir tidak pernah mau diajak bergabung masuk pengurus Nahdlatul Ulama (NU), dan memilih untuk menjadi pendengar. “Tapi Kiai Munir sering menghadiri kegiatan NU,” jelasnya.

Sekitar tahun 1960-an, Kia Munir bersama para santri senior, ikut berjuang mengusir pasukan PKI yang hendak menyerang pesantren. Pada awal pendirian pesantren, daerah sekitar dikenal kelompok abangan dan sulit untuk diajak beribadah. Malahan, ayahnya itu sempat putus asa. “Kiai Munir mengadu pada gurunya Kiai Khotim, dan diminta untuk bertahan di pesantrennya,” cetusnya.

Sebelum meninggal, Kiai Munir berpesan kepada para santrinya agar selalu menjadi santri yang sempurna, santri itu harus mengamalkan kesantriannya, senantiasa belajar (mengaji) dan berkontribusi untuk siapapun. Amalan yang tidakpernah ditinggalkan oleh Kiai Munir, terus belajar dan mengajar, “Kiai Munir tidak pernah meninggalkan belajar dan mengajar,” pungkas Gus Masrukin. (mg5/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/