alexametrics
27.5 C
Banyuwangi
Sunday, October 2, 2022

Kisah Srina Lestari, Perintis Taman Baca Sejak Usia 12 Tahun

TEGALSARI, Radar Banyuwangi – Usianya masih relatif belia. Namun, Srina Lestari telah memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP, mendirikan taman baca yang bisa diakses secara gratis oleh siapa pun.

Berawal dari buku komik dan cerita anak-anak yang berlimpah. Srina Lestari tergerak untuk mendirikan taman baca di teras kediamannya di Dusun Sumberkembang Barat, Desa Karangmulyo, Kecamatan Tegalsari.

Taman baca tersebut dia rintis sejak dirinya sekitar tiga tahun lalu, tepatnya saat dia berusia 12 tahun. Kini, saat Srina sudah mengeyam pendidikan di bangku kelas 2 SMA, taman baca yang diberi nama “Taman Baca Lestari” itu sudah memiliki ribuan buku yang siap dibaca.

Srina memang memang menyukai dunia literasi sejak kecil. Berbagai buku bacaan, seperti komik dan buku cerita anak-anak menjadi bagian awal ceritanya membentuk Taman Baca Lestari.

Buku-buku koleksinya itu lantas dia letakkan di rak yang ditempatkan di teras rumahnya. Siapa pun boleh membaca buku-buku itu. Jadilah taman baca sederhana dan merupakan satu-satunya di Desa Karangmulyo. Namun sayang, hingga kini masih tidak banyak orang mengetahui taman baca yang didirikannya.

Srina teringat ketika masih berada di sekolah dasar (SD). Dia sedih melihat perpustakaan sekolahnya yang jarang dibuka. Dia mengaku sangat menyayangkan buku di dalam perpustakaan tersebut tidak ada yang membaca. “Buku di perpustakaan yang jarang dibuka itu pasti berdebu, kotor. dan malah bisa saja rusak karena tidak pernah dibaca. Sayang, bukan?” sesalnya.

Gadis penyuka warna hijau ini mengaku terbentuknya Taman Baca Lestari karena dorongan dari teman-temannya saat dia ajak berkunjung ke kediamannya. “Dapat motivasi dari teman untuk membuat perpustakaan kecil-kecilan dulu, karena banyak buku cerita yang saya miliki,” kata dia.

Sejak saat itu dia mulai mencari berbagai informasi seputar taman baca. Informasi penting seperti cara mendirikan taman baca, cara mengembangkannya, dan bahkan cara mendapatkan donatur, semua dia lakukan seorang diri.

Baca Juga :  Penyumbang Buku Terus Mengalir, Kadek Modelling Kirim Buku Bilingual

Hingga akhirnya, pada Maret 2019 saat dia duduk di bangku kelas dua SMP, Taman Baca Lestari tercipta. Pengunjung pertama taman bacanya tersebut adalah anak-anak kecil sekitar rumahnya. “Pengunjungnya mulai anak-anak Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), sampai SMP,” kata alumni SMP Negeri 2 Tegalsari tersebut.

Dia aktif mengajak anak di lingkungan rumahnya agar mau berkunjung ke perpustakaan kecilnya. Dia mengaku tidak mudah menarik minat anak-anak untuk membaca. “Sekarang adik-adik sejak kecil sudah seperti ketergantungan dengan gadget untuk bermain game, minat bacanya berkurang. Sehingga membaca buku jadi kegiatan yang mereka hindari,” tuturnya.

Tetapi Srina tidak patah semangat dalam mengajak anak-anak sekitar rumahnya mau mampir ke Taman Baca Lestari. “Biasanya untuk menarik minat mereka (anak-anak), saya bacakan cerita sambil saya peragakan dialog dalam cerita tersebut, dari situ adik-adik tertarik untuk datang,” jelas perempuan yang kini duduk di bangku kelas 2 SMAN 1 Bangorejo tersebut.

Selama perpustakaan mininya itu aktif, dia mulai membagikan kegiatannya ke beberapa linimasa seperti Facebook hingga WhatsApp. Dari membagikan kegiatan taman bacanya, Srina mendapatkan donatur dan relawan.

Para relawan yang datang memberikan berbagai buku bacaan baru atau bekas namun masih layak baca. Semua buku pemberian tersebut dia terima dengan senang hati. Selain relawan, terdapat donatur yang turut membantu berkembangnya Taman Baca Lestari. “Sudah sekitar sepuluh donatur yang membantu kegiatan Taman Baca Lestari, ada juga donatur yang berasal dari Jakarta,” kata alumni SD Negeri 1 Karangdoro tersebut.

Karena umurnya yang masih muda dan belum memiliki rekening sendiri, Srina menerima dana pemberian donatur melalui rekening ayahnya. Setiap hasil pembelian berbagai kebutuhan Taman Baca Lestari dia laporkan ke donaturnya tersebut.

Berkat bantuan dari donatur, akhirnya dia dapat membuat tempat baca sederhana di samping rumahnya. “Awalnya tempat membaca cuma di rumah. Tapi setelah mendapatkan bantuan dari para donatur sekarang bisa memiliki tempat baca kecil-kecilan sendiri di samping rumah,” ungkap gadis berusia 15 tahun tersebut.

Baca Juga :  Integrasi Materi Ajar Berbasis Literasi Vs Integrasi Bangsa

Sebagai anak yang masih duduk di bangku kelas dua SMA, dia mengaku tidak mudah membagi waktu untuk mengurus Taman Baca Lestari. Sehingga dalam membersihkan taman baca tersebut dibantu ibunya ketika dia masih sekolah. Setiap seminggu sekali, Srina menata buku-buku cerita di taman tersebut agar tetap rapi.

Selain membaca buku di tempatnya itu, Srina sering mengajak pengunjung taman bacaannya pergi ke sawah yang dia sebut dengan Literasi Tepi Sawah (Litesa). Hal itu dia lakukan agar anak-anak tersebut tidak bosan hanya membaca di ruangan. “Saya sering mengajak mereka (anak-anak) ke sawah untuk penyegaran, di sana tetap membaca buku dan bermain-main air atau lari-lari agar tidak bosan,” ucap penyuka pelajaran Sejarah tersebut.

Ketika memiliki waktu luang selain merawat taman bacanya, Srina sering bermain musik keroncong. “Kebetulan paman saya pemain musik keroncong di Poroblinggo. Setiap beliau ke rumah, pasti dibawakan kaset keroncong,” ujar Srina.

Sisi lain Srina yang menyukai dunia literasi, dia juga sangat mengagumi kebudayaan asli Indonesia. Selain penikmat musik keroncong, dia pernah mengikuti Sanggar Karawitan Bronto Laras Kecamatan Siliragung sebagai sinden. “Kalau bukan anak mudanya sendiri, siapa yang bakal melestarikan budaya asli Indonesia ini. Karena sekarang banyak warga asing yang mempelajari budaya kita. Bisa-bisa nanti malah kita yang belajar budaya sendiri ke luar negeri,” ujarnya.

Status anak bungsu dari enam bersaudara tidak lantas membuat Srina menjadi anak yang manja. Dia menunjukkan kepada kakak-kakaknya bahwa adik bungsunya tersebut dapat berprestasi dengan caranya sendiri.

Srina berharap para generasi muda dapat mengisi masa mudanya dengan berbagai hal yang positif. “Selagi masih muda jangan diam di rumah saja, bisa coba pergi keluar mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Karena kalau di rumah saja pasti kegiatannya cuma bermain gadget,” pungkasnya. (cw4/sgt)

TEGALSARI, Radar Banyuwangi – Usianya masih relatif belia. Namun, Srina Lestari telah memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Saat masih duduk di bangku kelas 2 SMP, mendirikan taman baca yang bisa diakses secara gratis oleh siapa pun.

Berawal dari buku komik dan cerita anak-anak yang berlimpah. Srina Lestari tergerak untuk mendirikan taman baca di teras kediamannya di Dusun Sumberkembang Barat, Desa Karangmulyo, Kecamatan Tegalsari.

Taman baca tersebut dia rintis sejak dirinya sekitar tiga tahun lalu, tepatnya saat dia berusia 12 tahun. Kini, saat Srina sudah mengeyam pendidikan di bangku kelas 2 SMA, taman baca yang diberi nama “Taman Baca Lestari” itu sudah memiliki ribuan buku yang siap dibaca.

Srina memang memang menyukai dunia literasi sejak kecil. Berbagai buku bacaan, seperti komik dan buku cerita anak-anak menjadi bagian awal ceritanya membentuk Taman Baca Lestari.

Buku-buku koleksinya itu lantas dia letakkan di rak yang ditempatkan di teras rumahnya. Siapa pun boleh membaca buku-buku itu. Jadilah taman baca sederhana dan merupakan satu-satunya di Desa Karangmulyo. Namun sayang, hingga kini masih tidak banyak orang mengetahui taman baca yang didirikannya.

Srina teringat ketika masih berada di sekolah dasar (SD). Dia sedih melihat perpustakaan sekolahnya yang jarang dibuka. Dia mengaku sangat menyayangkan buku di dalam perpustakaan tersebut tidak ada yang membaca. “Buku di perpustakaan yang jarang dibuka itu pasti berdebu, kotor. dan malah bisa saja rusak karena tidak pernah dibaca. Sayang, bukan?” sesalnya.

Gadis penyuka warna hijau ini mengaku terbentuknya Taman Baca Lestari karena dorongan dari teman-temannya saat dia ajak berkunjung ke kediamannya. “Dapat motivasi dari teman untuk membuat perpustakaan kecil-kecilan dulu, karena banyak buku cerita yang saya miliki,” kata dia.

Sejak saat itu dia mulai mencari berbagai informasi seputar taman baca. Informasi penting seperti cara mendirikan taman baca, cara mengembangkannya, dan bahkan cara mendapatkan donatur, semua dia lakukan seorang diri.

Baca Juga :  Minat Baca Buku Saat Ini Masih Rendah

Hingga akhirnya, pada Maret 2019 saat dia duduk di bangku kelas dua SMP, Taman Baca Lestari tercipta. Pengunjung pertama taman bacanya tersebut adalah anak-anak kecil sekitar rumahnya. “Pengunjungnya mulai anak-anak Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), sampai SMP,” kata alumni SMP Negeri 2 Tegalsari tersebut.

Dia aktif mengajak anak di lingkungan rumahnya agar mau berkunjung ke perpustakaan kecilnya. Dia mengaku tidak mudah menarik minat anak-anak untuk membaca. “Sekarang adik-adik sejak kecil sudah seperti ketergantungan dengan gadget untuk bermain game, minat bacanya berkurang. Sehingga membaca buku jadi kegiatan yang mereka hindari,” tuturnya.

Tetapi Srina tidak patah semangat dalam mengajak anak-anak sekitar rumahnya mau mampir ke Taman Baca Lestari. “Biasanya untuk menarik minat mereka (anak-anak), saya bacakan cerita sambil saya peragakan dialog dalam cerita tersebut, dari situ adik-adik tertarik untuk datang,” jelas perempuan yang kini duduk di bangku kelas 2 SMAN 1 Bangorejo tersebut.

Selama perpustakaan mininya itu aktif, dia mulai membagikan kegiatannya ke beberapa linimasa seperti Facebook hingga WhatsApp. Dari membagikan kegiatan taman bacanya, Srina mendapatkan donatur dan relawan.

Para relawan yang datang memberikan berbagai buku bacaan baru atau bekas namun masih layak baca. Semua buku pemberian tersebut dia terima dengan senang hati. Selain relawan, terdapat donatur yang turut membantu berkembangnya Taman Baca Lestari. “Sudah sekitar sepuluh donatur yang membantu kegiatan Taman Baca Lestari, ada juga donatur yang berasal dari Jakarta,” kata alumni SD Negeri 1 Karangdoro tersebut.

Karena umurnya yang masih muda dan belum memiliki rekening sendiri, Srina menerima dana pemberian donatur melalui rekening ayahnya. Setiap hasil pembelian berbagai kebutuhan Taman Baca Lestari dia laporkan ke donaturnya tersebut.

Berkat bantuan dari donatur, akhirnya dia dapat membuat tempat baca sederhana di samping rumahnya. “Awalnya tempat membaca cuma di rumah. Tapi setelah mendapatkan bantuan dari para donatur sekarang bisa memiliki tempat baca kecil-kecilan sendiri di samping rumah,” ungkap gadis berusia 15 tahun tersebut.

Baca Juga :  Zainul Hasan, Tunanetra yang Pernah Juara I MTQ Provinsi Jatim

Sebagai anak yang masih duduk di bangku kelas dua SMA, dia mengaku tidak mudah membagi waktu untuk mengurus Taman Baca Lestari. Sehingga dalam membersihkan taman baca tersebut dibantu ibunya ketika dia masih sekolah. Setiap seminggu sekali, Srina menata buku-buku cerita di taman tersebut agar tetap rapi.

Selain membaca buku di tempatnya itu, Srina sering mengajak pengunjung taman bacaannya pergi ke sawah yang dia sebut dengan Literasi Tepi Sawah (Litesa). Hal itu dia lakukan agar anak-anak tersebut tidak bosan hanya membaca di ruangan. “Saya sering mengajak mereka (anak-anak) ke sawah untuk penyegaran, di sana tetap membaca buku dan bermain-main air atau lari-lari agar tidak bosan,” ucap penyuka pelajaran Sejarah tersebut.

Ketika memiliki waktu luang selain merawat taman bacanya, Srina sering bermain musik keroncong. “Kebetulan paman saya pemain musik keroncong di Poroblinggo. Setiap beliau ke rumah, pasti dibawakan kaset keroncong,” ujar Srina.

Sisi lain Srina yang menyukai dunia literasi, dia juga sangat mengagumi kebudayaan asli Indonesia. Selain penikmat musik keroncong, dia pernah mengikuti Sanggar Karawitan Bronto Laras Kecamatan Siliragung sebagai sinden. “Kalau bukan anak mudanya sendiri, siapa yang bakal melestarikan budaya asli Indonesia ini. Karena sekarang banyak warga asing yang mempelajari budaya kita. Bisa-bisa nanti malah kita yang belajar budaya sendiri ke luar negeri,” ujarnya.

Status anak bungsu dari enam bersaudara tidak lantas membuat Srina menjadi anak yang manja. Dia menunjukkan kepada kakak-kakaknya bahwa adik bungsunya tersebut dapat berprestasi dengan caranya sendiri.

Srina berharap para generasi muda dapat mengisi masa mudanya dengan berbagai hal yang positif. “Selagi masih muda jangan diam di rumah saja, bisa coba pergi keluar mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Karena kalau di rumah saja pasti kegiatannya cuma bermain gadget,” pungkasnya. (cw4/sgt)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/