Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features

Kisah Pasutri Ponirin-Sribut Habiskan Masa Tua Jadi Pengamen Jalanan

20 September 2021, 15: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Kisah Pasutri Ponirin-Sribut Habiskan Masa Tua Jadi Pengamen Jalanan

PERJUANGAN HIDUP: Ponirin ditemani Sribut mengamen di sebuah toko yang beralamat di Jalan Adi Sucipto No.44, Banyuwangi. (Rino Bakhtiar/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

BANYUWANGI – Pada usianya yang tak lagi muda, pasutri Ponirin, 72, dan  Sribut, 80,  tetap aktif mengamen. Pasutri asal Benculuk itu seolah tak kenal lelah menjalani hidup sebagai pengamen jalanan. Hari-harinya dihabiskan mengais rejeki lewat  petikan gitar dan suara yang merdu.

Wajah Ponirin dan Sribut terlihat lelah siang itu. Keduanya duduk di kursi depan swalayan di Jalan Brawijaya, Banyuwangi. Ponirin sibuk mengotak-atik senar gitar, sedangkan Sribut terlihat berbincang dengan pedagang bakso yang mangkal di depan swalayan tersebut.

Sejurus kemudian, tangan Ponirin membuka tas lusuh yang dia cangklong.  Sebotol air  mineral diambil, lalu dituangkan ke dalam botol Sribut yang duduk di sampingnya. Keduanya lantas menenggak minuman yang dibawa dari rumah.  ”Hari ini panas sekali. Butuh minum air putih yang banyak,’’ ujar Ponirin sembari memetik pelan senar gitarnya.

Baca juga: Susu Sapi dan Kambing Punya Keunggulan Masing-Masing

Hampir tiap hari pasutri tersebut berada di depan swalayan. Keduanya menunggu bus keluar dari Terminal Brawijaya tak jauh dari tempatnya  duduk. Begitu bus datang, Ponirin dan Sribut beranjak dari tempat duduknya, lalu naik bus. Tepat pukul 14.00, bus jurusan Jember itu bergerak ke arah timur.

Itulah keseharian hidup yang dijalani Ponirin dan Sribut. Berangkat dari rumah pukul 07.30, pulang pukul 15.00.  Waktu lima jam dihabiskan untuk mengais rejeki dengan ”menjual” suara dari rumah ke rumah. Berbekal gitar legendarisnya, Ponirin dan Sribut  mengamen di kawasan kota Banyuwangi. 

Ponirin yang memainkan gitar dan menyanyi,  istrinya bertugas membawa plastik bekas bungkus permen dan tas kecil untuk menaruh uang yang didapat dari hasil mengamen.Tanpa kenal lelah dan mengeluh, perlahan setiap tempat disisir. Ponirin dan Sribut berharap kedermawanan orang  yang dihibur dengan lagu-lagu pop tempo dulu tersebut.

Menggunakan sandal jepit dan memakai topi, setiap hari keduanya berjalan sejauh 5 kilometer menyusuri jalanan kota di tengah teriknya matahari. Ponirin dan Sribut tidak mempunyai rumah sendiri. Mereka tinggal di rumah milik Pak Mis yang berada di Benculuk. Pasutri itu berangkat dari rumah pukul 07.30 dengan naik  bus, turun di Terminal Brawijaya. Pasutri yang memiliki dua anak itu  kembali ke pulang Benculuk pukul 15.00

Tarif bus yang harus dibayarkan Rp 10 ribu. Ketika kondisi bus sedang penuh penumpang, tak jarang keduanya berdiri hingga sampai ke lokasi. “Kalau pas nggak ada uang saya bilang ke kondektur bayarnya nanti pas waktu pulang ya,” ujarnya

Tak disangka ternyata bakat memetik gawai tersebut sudah dimiliki sejak tahun 1972. Ponirin mengaku pernah menjadi pengamen di beberapa kota di Bali, yakni di Denpasar, Kuta, dan Nusa Dua. Namun, karena usianya yang semakin tua, keduanya memutuskan untuk kembali mengamen di Banyuwangi.

Selama 50 tahun menjadi pengamen jalanan, banyak kisah yang dia alami. Salah satunya saat adanya razia oleh petugas Satpol PP di Bali. Ketika dikejar oleh petugas, dia pernah bersembunyi di bawah jembatan, bahkan sampai masuk ke rumah warga. Namun, keduanya tidak pernah jera untuk kembali mencari nafkah sebagai pengamen. Karena tidak ada pekerjaan lagi yang bisa menopang biaya hidupnya.

“Kalau saya ya lebih baik jadi pengamen, masih ada usahanya buat dapat uang. Ketimbang menjadi pengemis yang kerjanya cuma minta-minta,” imbuh Ponirin.

Pasangan lansia itu kerap mengeluhkan kakinya yang sering linu ketika malam hari. Karena keterbatasan biaya untuk berobat, mereka hanya mengobatinya dengan minyak gosok. Ponirin tidak bisa mematok rupiah yang dia dapatkan selama sehari karena penghasilannya tidak menentu. Bahkan terkadang tidak mendapat uang sama sekali. “Berangkat dari rumah cuaca terang, tapi sampai kota hujan deras sampai sore. Jadi tidak dapat uang sama sekali,” paparnya.

Ponirin kerap  membawakan lagu nostalgia ciptaan Ernie Djohan. Lagu yang sering dinyanyikan adalah Teluk Bayur, Senja di Batas Kota, dan  Mutiara yang Hilang. “Kalau lagu zaman sekarang saya tidak bisa, tidak hafal liriknya,” terang Ponirin.

Ponirin mempunyai impian untuk menjadi penjual rokok. Dia memilih untuk berjualan rokok dibanding makanan karena dirasa lebih praktis dan dicari banyak orang. Namun, usaha tersebut hingga kini belum terwujud karena keterbatasan modal. “Dapat uang bisa buat makan sehari saja alhamdulillah, belum bisa menabung untuk modal usaha. Saya dan istri sudah tua, kalau mau jual makanan orang yang mau beli pasti berpikir makanan yang dijual tidak bersih,” ungkap pria kelahiran Batu, Malang tersebut.

Ponirin tidak mau membebani anak di masa tuanya. Kedua anaknya kini sudah berumah tangga. “Selama masih kuat, saya akan jalani. Pokoknya saya tidak mau merepotkan anak-anak saya yang sudah berkeluarga,” tegas Ponirin. (mg2/aif)

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia