alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Tidak Pernah Mengaji, Menteri era Soeharto Sering Datang

TEGALSARI – KH. Yunus atau dikenal dengan sebutan Mbah Yunus, berasal dari Kabupaten Sampang, Madura. Tidak ada yang tahu tanggal lahir dan nama lengkapnya, termasuk keluarganya sendiri. Meski tidak punya pondok pesantren, banyak yang datang ke rumahnya untuk minta nasehat.

Seorang kiai pada umumnya berpakaian surban, mengenakan jubah, memakai kopiah, mengenakan baju muslim, mengisi pengajian, mengimami salat, mengajar ngaji, atau mendirikan pesantren. Tapi, itu nyaris tidak terlihat dalam diri KH Yunus atau Mbah Yunus yang tinggal di Dusun Krajan, Desa Tamansari, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi.

Meski tidak terlihat seperti seorang kiai atau ulama, tapi semasa hidup warga yang datang ke rumahnya cukup banyak. Mereka itu dari warga biasa, kiai, pejabat, hingga para habaib dari daerah Banyuwangi hingga luar daerah. “Tamu Mbah Yunus dari kalangan bawah hingga atas,” cetus anak kedua Mbah Yunus, Muhammad Yunus 61.

Sebelum datang ke Banyuwangi, Mbah Yunus yang berasal dari Sampang Madura, menetap di Surabaya selama 10 tahun. Di ibu kota Jawa Timur itu, bekerja dengan jualan air yang di dapat dari sekitar makam Sunan Ampel. “Lalu pulang ke Madura dan berangkat ke Malang selama beberapa tahun, tidak lama kembali lagi ke Sampang,” terangnya.

Baru pada 1921, Mbah Yunus berangkat menuju Banyuwangi dengan sendirian. Pada keluarganya, kepergiannya itu untuk berdakwah. “Kali pertama datang menetap di Kebun Kalitelepak daerah Kecamatan Glenmore,” ujarnya.

Di perkebunan itu, mbah Yunus jualan jamu Majun, jamu yang terbuat dari jahe dan kacang hijau. Suatu hari, Mbah Yunus bertemu KH Kholil Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, dan memutuskan untuk mengabdi padanya. “Selama ikut Kiai Kholil, Mbah Yunus masih sering datang ke perkebunan untuk jualan dan mengajak karyawan perkebunan salat, padahal Belanda melarang menjalankan syariat Islam,” ungkapnya.

Mbah Yunus yang sering berdakwah itu, membuat Belanda marah. Mbah Yunus sempat beberapa kali ditangkap tentara Belanda dan dipenjara. Tapi anehnya, setiap tertanggap selalu bisa kabur dengan selamat. “Belanda sampai kewalahan menghadapi Mbah Yunus,” terangnya.

Muhammad Yunus menyampaikan model dakwah yang dilakukan Mbah Yunus sedikit nyeleneh. Ketika karyawan perkebunan sudah terbiasa menjalankan salat, akan dibuatkan musala dan memilih salah satu karyawan menjadi imam lalu ditinggal. “Saat Kiai Kholil wafat, mbah Yunus mengabdi kepada Kiai Abas, menantu Kiai Kholil,” terangnya.

Saat mengabdi pada Kiai Abas, mbah Yunus disarankan untuk menikah. Padahal, saat itu sudah memiliki istri dengan satu anak yang ditinggal di Madura. Karena perintah gurunya, Mbah Yunus akhirnya menyetujui dan menikah dengan Niswati. Dari perkawinannya itu, memiliki satu anak bernama Hani’i. “Saat melahirkan itu, istrinya meninggal,” jelasnya.

Mbah Yunus kemudian menikah lagi dengan Nyai Rokayah dan dikarunaiai tujuh anak. Dari tujuh anaki itu, empat laki-laki dan tiga perempuan. “Saya anak kedua dan dua saudara saya telah meninggal,” cetus Muhammad Yunus pada Jawa Pos Radar Genteng.

Tidak diketahui asalnya, nama Mbah Yunus mulai terkenal. Para tamu yang datang dari berbagai lapisan masyarakat semakin banyak. Mereka itu banyak tokoh pemerintahan, tokoh lintas agama, banyak dari Konghucu, Kristen, dan Hindu. Salah satu pejabat negara yang pernah datang Menteri Pertambangan dan Energi era Presiden Suharto, Prof. Dr. Subroto . Dari jajaran militer ada Mayjen Suharsono. “Mereka datang dan meminta izin untuk membuat rumah di dekat kediaman Mbah Yunus,” ucapnya.

Mbah Yunus tidak keberatan asal semua keperluan untuk membuat rumah itu ditanggung oleh keluarganya. Apabila mereka memaksa membuah rumah dengan biaya ditanggung sendiri, maka tidak diizinkan. “Setelah para tamu pulang, Mbah Yunus menyampaikan akan dapat uang dari kenalannya seorang sayid dari Timur Tengah. Saya tidak paham dengan kenalannya itu,” cetusnya.

Satu minggu setelah kedatangan tamu seorang menteri itu, ada tamu yang diketahui bernama KH. Ihya Ulumuddin dari Pujon, Malang. Tamu itu mengaku utusan Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki, datang untuk menyampaikan salam kepada Mbah Yunus, dan menyerahkan sejumlah uang untuk membangun rumah para tamu dari pejabat negara. “Saat itu Kiai Ihya heran kenapa Sayid Muhammad mengutusnya untuk menemui Mbah Yunus yang dilihat tidak memiliki karisma,” ungkapnya.

Mbah Yunus meningal pada 8 Februari tahun 1994 bertepatan 7 Ramadan 1414 H dan dimakamkan di sebuah gumuk Dusun Krajan, Desa Tamansari, Kecamatan Tegalsari. Makam ini, sekarang banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, mereka itu, jauga banyak yang nonmuslim. “Paling ramai masuk satu Sura,” cetusnya.

Mbah Yunus semasa hidupnya dikenal waliyulah yang memiliki banyak karomah, berilmu tinggi, dan laduni. Beberapa cerita mengatakan semasa belajar agama di Madura, Mbah Yunus tidak pernah ikut mengaji, pekerjaanya hanya membalikkan sandal milik kiai dan para santri, serta bermain di bawah musala yang panggung. “Mbah Kiai Abdul Majid Krasak, Tegalsari cerita waktu jadi santrinya Kiai Kholil Cangaan, Mbah Yunus tidak pernah ikut mengaji, kalau temannya mengaji hanya tidur. Tapi kalau temannya tidur, Mbah Yunus bangun,” jelasnya. (mg5/abi)

TEGALSARI – KH. Yunus atau dikenal dengan sebutan Mbah Yunus, berasal dari Kabupaten Sampang, Madura. Tidak ada yang tahu tanggal lahir dan nama lengkapnya, termasuk keluarganya sendiri. Meski tidak punya pondok pesantren, banyak yang datang ke rumahnya untuk minta nasehat.

Seorang kiai pada umumnya berpakaian surban, mengenakan jubah, memakai kopiah, mengenakan baju muslim, mengisi pengajian, mengimami salat, mengajar ngaji, atau mendirikan pesantren. Tapi, itu nyaris tidak terlihat dalam diri KH Yunus atau Mbah Yunus yang tinggal di Dusun Krajan, Desa Tamansari, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi.

Meski tidak terlihat seperti seorang kiai atau ulama, tapi semasa hidup warga yang datang ke rumahnya cukup banyak. Mereka itu dari warga biasa, kiai, pejabat, hingga para habaib dari daerah Banyuwangi hingga luar daerah. “Tamu Mbah Yunus dari kalangan bawah hingga atas,” cetus anak kedua Mbah Yunus, Muhammad Yunus 61.

Sebelum datang ke Banyuwangi, Mbah Yunus yang berasal dari Sampang Madura, menetap di Surabaya selama 10 tahun. Di ibu kota Jawa Timur itu, bekerja dengan jualan air yang di dapat dari sekitar makam Sunan Ampel. “Lalu pulang ke Madura dan berangkat ke Malang selama beberapa tahun, tidak lama kembali lagi ke Sampang,” terangnya.

Baru pada 1921, Mbah Yunus berangkat menuju Banyuwangi dengan sendirian. Pada keluarganya, kepergiannya itu untuk berdakwah. “Kali pertama datang menetap di Kebun Kalitelepak daerah Kecamatan Glenmore,” ujarnya.

Di perkebunan itu, mbah Yunus jualan jamu Majun, jamu yang terbuat dari jahe dan kacang hijau. Suatu hari, Mbah Yunus bertemu KH Kholil Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, dan memutuskan untuk mengabdi padanya. “Selama ikut Kiai Kholil, Mbah Yunus masih sering datang ke perkebunan untuk jualan dan mengajak karyawan perkebunan salat, padahal Belanda melarang menjalankan syariat Islam,” ungkapnya.

Mbah Yunus yang sering berdakwah itu, membuat Belanda marah. Mbah Yunus sempat beberapa kali ditangkap tentara Belanda dan dipenjara. Tapi anehnya, setiap tertanggap selalu bisa kabur dengan selamat. “Belanda sampai kewalahan menghadapi Mbah Yunus,” terangnya.

Muhammad Yunus menyampaikan model dakwah yang dilakukan Mbah Yunus sedikit nyeleneh. Ketika karyawan perkebunan sudah terbiasa menjalankan salat, akan dibuatkan musala dan memilih salah satu karyawan menjadi imam lalu ditinggal. “Saat Kiai Kholil wafat, mbah Yunus mengabdi kepada Kiai Abas, menantu Kiai Kholil,” terangnya.

Saat mengabdi pada Kiai Abas, mbah Yunus disarankan untuk menikah. Padahal, saat itu sudah memiliki istri dengan satu anak yang ditinggal di Madura. Karena perintah gurunya, Mbah Yunus akhirnya menyetujui dan menikah dengan Niswati. Dari perkawinannya itu, memiliki satu anak bernama Hani’i. “Saat melahirkan itu, istrinya meninggal,” jelasnya.

Mbah Yunus kemudian menikah lagi dengan Nyai Rokayah dan dikarunaiai tujuh anak. Dari tujuh anaki itu, empat laki-laki dan tiga perempuan. “Saya anak kedua dan dua saudara saya telah meninggal,” cetus Muhammad Yunus pada Jawa Pos Radar Genteng.

Tidak diketahui asalnya, nama Mbah Yunus mulai terkenal. Para tamu yang datang dari berbagai lapisan masyarakat semakin banyak. Mereka itu banyak tokoh pemerintahan, tokoh lintas agama, banyak dari Konghucu, Kristen, dan Hindu. Salah satu pejabat negara yang pernah datang Menteri Pertambangan dan Energi era Presiden Suharto, Prof. Dr. Subroto . Dari jajaran militer ada Mayjen Suharsono. “Mereka datang dan meminta izin untuk membuat rumah di dekat kediaman Mbah Yunus,” ucapnya.

Mbah Yunus tidak keberatan asal semua keperluan untuk membuat rumah itu ditanggung oleh keluarganya. Apabila mereka memaksa membuah rumah dengan biaya ditanggung sendiri, maka tidak diizinkan. “Setelah para tamu pulang, Mbah Yunus menyampaikan akan dapat uang dari kenalannya seorang sayid dari Timur Tengah. Saya tidak paham dengan kenalannya itu,” cetusnya.

Satu minggu setelah kedatangan tamu seorang menteri itu, ada tamu yang diketahui bernama KH. Ihya Ulumuddin dari Pujon, Malang. Tamu itu mengaku utusan Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki, datang untuk menyampaikan salam kepada Mbah Yunus, dan menyerahkan sejumlah uang untuk membangun rumah para tamu dari pejabat negara. “Saat itu Kiai Ihya heran kenapa Sayid Muhammad mengutusnya untuk menemui Mbah Yunus yang dilihat tidak memiliki karisma,” ungkapnya.

Mbah Yunus meningal pada 8 Februari tahun 1994 bertepatan 7 Ramadan 1414 H dan dimakamkan di sebuah gumuk Dusun Krajan, Desa Tamansari, Kecamatan Tegalsari. Makam ini, sekarang banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, mereka itu, jauga banyak yang nonmuslim. “Paling ramai masuk satu Sura,” cetusnya.

Mbah Yunus semasa hidupnya dikenal waliyulah yang memiliki banyak karomah, berilmu tinggi, dan laduni. Beberapa cerita mengatakan semasa belajar agama di Madura, Mbah Yunus tidak pernah ikut mengaji, pekerjaanya hanya membalikkan sandal milik kiai dan para santri, serta bermain di bawah musala yang panggung. “Mbah Kiai Abdul Majid Krasak, Tegalsari cerita waktu jadi santrinya Kiai Kholil Cangaan, Mbah Yunus tidak pernah ikut mengaji, kalau temannya mengaji hanya tidur. Tapi kalau temannya tidur, Mbah Yunus bangun,” jelasnya. (mg5/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/