25 C
Banyuwangi
Tuesday, November 29, 2022

Kepanikan Para Penumpang KM Mutiara Timur I Ketika Kapal Terbakar

RADAR BANYUWANGI – KM Mutiara Timur I yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Wangi seharusnya sandar di dermaga Gili Mas, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (16/11) lalu. Gara-gara kapal yang ditumpangi terbakar, perjalanan terhambat. Ratusan penumpang justru sibuk mencari selamat dengan melompat ke laut.

Tiga bocah yang usianya di bawah lima tahun, tampak asyik bercengkerama di ruang tunggu Pelabuhan Tanjung Wangi, Kamis dini hari (17/11). Ketiganya memakai kaus doreng khas TNI AL. Karena ukurannya terlalu besar, kaus menutupi tubuh mereka hingga ke bawah lutut.

Ketiga bocah tersebut adalah Rayyandra, Quinbi, dan Mikila. Anak-anak tersebut tercatat sebagai penumpang KM Mutiara Timur I yang terbakar di perairan sebelah utara Singaraja. Saat penumpang dewasa mencebur ke laut untuk menyelamatkan diri, ketiga bocah tersebut baru bangun tidur.

Nita Permatasari, ibu dari ketiga bocah tersebut menceritakan, dirinya dikagetkan dengan para penumpang yang kebingungan karena dek kapal dipenuhi asap. Nita lalu menggandeng ketiga anaknya dan mengajak suaminya, Azrul, 39, keluar dari kapal. ”Suami saya sempat tidak mau, tapi saya kasihan anak-anak. Asapnya sudah banyak,” kata Nita.

Melihat asap semakin tebal, Azrul bergegas membawa anak-anaknya keluar dari dek penumpang. Di luar, ternyata sudah ada ratusan penumpang mengenakan rompi pelampung. Beberapa penumpang mulai menceburkan diri ke laut. Mereka nekat terjun ke laut karena kepulan asap semakin tebal, khawatir kapal meledak.

Azrul tak mau mengikuti jejak penumpang kapal yang terjun ke laut. Dia masih menimbang-nimbang situasi sampai kemudian ada kapal milik TNI AL yang melintas. Kapal tersebut ikut mengevakuasi para penumpang. Azrul akhirnya berani membawa anaknya turun dari dek 3 (tempat penumpang kapal). ”Saya turunkan anak-anak dengan bantuan tali,” kenang warga Bima tersebut.

Baca Juga :  Watu Perahu Berkembang sebagai Taman Wisata Spiritual

Seharusnya, hari itu Azrul pulang ke kampung halamannya bersama istri dan anak-anaknya di Bima. Gara-gara musibah tersebut, dia mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke Jakarta. ”Maunya saya pulang kampung. Saya bawa dua mobil. Ada beberapa perhiasan emas milik istri dan oleh-oleh untuk orang tua. Saya belum tahun ke depan bagaimana, semua barang ada di kapal,” ujarnya.

Sebagian besar penumpang kapal yang selamat dari musibah nyaris tak bisa menyelamatkan barang bawaan. Hanya ponsel dan dompet yang mereka bawa saat evakuasi.

Menurut keterangan sejumlah penumpang kapal, kebakaran terjadi secara mendadak. Putu Widiyana, 50, salah seorang sopir tronton pengangkut sembako menuturkan, saat kapal terbakar sebagian besar penumpang tengah beristirahat. Tiba-tiba muncul asap yang menembus ruangan penumpang di lantai 3.

Tak lama kemudian, terdengar peringatan nyaring dari pengeras suara. Semua penumpang diminta mengambil life jacket untuk keselamatan. Putu mengaku tak sempat membawa dompet dan ponselnya. Dia langsung menarik tangan istrinya, Wayan Mulyawati, 50, untuk meninggalkan ruangan penumpang dan mengambil life jacket.

Putu lalu berlari ke palka kapal. Di sana sudah berkumpul ratusan penumpang. Mereka terlihat panik, antara bertahan di kapal atau mencebur ke laut. Pada waktu bersamaan, hujan turun cukup lebat. Namun, asap kebakaran terus mengepul. ”Api muncul dari lantai 2, tempat truk parkir. Di sana juga ada truk bermuatan bahan kimia. Sepertinya sumber api dari sana,” kata Putu.

Baca Juga :  KM Mutiara Timur Terbakar, 236 Penumpang Dievakuasi

Saat asap semakin tebal, sejumlah nelayan dengan perahu kayu mendekati kapal. Beberapa penumpang ada yang memberanikan diri melompat ke laut. Putu baru berani melompat setelah ada kapal milik TNI AL yang mendekat. ”Baju basah semua, tapi dikasih sama TNI AL. Barang bawaan saya tinggal di kendaraan. Yang penting nyawa selamat, uang bisa dicari,” ujar pria asal Negara tersebut.

Meski akhirnya selamat, kejadian tersebut menimbulkan trauma mendalam bagi para penumpang. Salah seorang sopir truk, Sugiantoro, 47, mengatakan, banyak penumpang yang sudah berpamitan kepada keluarganya setelah melihat kebakaran. Sugiantoro juga sempat mengirim voice note kepada istrinya yang ada di Banyuwangi sore itu.

Setelah mengirim voice note, Sugiantoro minta didoakan supaya selamat. Dia lantas berlari keluar dari dalam kapal. Penumpang lain terlihat kebingungan sembari menunggu bantuan dari atas kapal. ”Saya sendiri termasuk yang pertama melompat ke laut. Ada lima orang nyebur ke laut dengan tetap mengenakan rompi pelampung. Saya takut melihat asap semakin tebal,” ujar bapak tiga anak itu. (fre/aif/c1)

RADAR BANYUWANGI – KM Mutiara Timur I yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Wangi seharusnya sandar di dermaga Gili Mas, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (16/11) lalu. Gara-gara kapal yang ditumpangi terbakar, perjalanan terhambat. Ratusan penumpang justru sibuk mencari selamat dengan melompat ke laut.

Tiga bocah yang usianya di bawah lima tahun, tampak asyik bercengkerama di ruang tunggu Pelabuhan Tanjung Wangi, Kamis dini hari (17/11). Ketiganya memakai kaus doreng khas TNI AL. Karena ukurannya terlalu besar, kaus menutupi tubuh mereka hingga ke bawah lutut.

Ketiga bocah tersebut adalah Rayyandra, Quinbi, dan Mikila. Anak-anak tersebut tercatat sebagai penumpang KM Mutiara Timur I yang terbakar di perairan sebelah utara Singaraja. Saat penumpang dewasa mencebur ke laut untuk menyelamatkan diri, ketiga bocah tersebut baru bangun tidur.

Nita Permatasari, ibu dari ketiga bocah tersebut menceritakan, dirinya dikagetkan dengan para penumpang yang kebingungan karena dek kapal dipenuhi asap. Nita lalu menggandeng ketiga anaknya dan mengajak suaminya, Azrul, 39, keluar dari kapal. ”Suami saya sempat tidak mau, tapi saya kasihan anak-anak. Asapnya sudah banyak,” kata Nita.

Melihat asap semakin tebal, Azrul bergegas membawa anak-anaknya keluar dari dek penumpang. Di luar, ternyata sudah ada ratusan penumpang mengenakan rompi pelampung. Beberapa penumpang mulai menceburkan diri ke laut. Mereka nekat terjun ke laut karena kepulan asap semakin tebal, khawatir kapal meledak.

Azrul tak mau mengikuti jejak penumpang kapal yang terjun ke laut. Dia masih menimbang-nimbang situasi sampai kemudian ada kapal milik TNI AL yang melintas. Kapal tersebut ikut mengevakuasi para penumpang. Azrul akhirnya berani membawa anaknya turun dari dek 3 (tempat penumpang kapal). ”Saya turunkan anak-anak dengan bantuan tali,” kenang warga Bima tersebut.

Baca Juga :  Watu Perahu Berkembang sebagai Taman Wisata Spiritual

Seharusnya, hari itu Azrul pulang ke kampung halamannya bersama istri dan anak-anaknya di Bima. Gara-gara musibah tersebut, dia mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke Jakarta. ”Maunya saya pulang kampung. Saya bawa dua mobil. Ada beberapa perhiasan emas milik istri dan oleh-oleh untuk orang tua. Saya belum tahun ke depan bagaimana, semua barang ada di kapal,” ujarnya.

Sebagian besar penumpang kapal yang selamat dari musibah nyaris tak bisa menyelamatkan barang bawaan. Hanya ponsel dan dompet yang mereka bawa saat evakuasi.

Menurut keterangan sejumlah penumpang kapal, kebakaran terjadi secara mendadak. Putu Widiyana, 50, salah seorang sopir tronton pengangkut sembako menuturkan, saat kapal terbakar sebagian besar penumpang tengah beristirahat. Tiba-tiba muncul asap yang menembus ruangan penumpang di lantai 3.

Tak lama kemudian, terdengar peringatan nyaring dari pengeras suara. Semua penumpang diminta mengambil life jacket untuk keselamatan. Putu mengaku tak sempat membawa dompet dan ponselnya. Dia langsung menarik tangan istrinya, Wayan Mulyawati, 50, untuk meninggalkan ruangan penumpang dan mengambil life jacket.

Putu lalu berlari ke palka kapal. Di sana sudah berkumpul ratusan penumpang. Mereka terlihat panik, antara bertahan di kapal atau mencebur ke laut. Pada waktu bersamaan, hujan turun cukup lebat. Namun, asap kebakaran terus mengepul. ”Api muncul dari lantai 2, tempat truk parkir. Di sana juga ada truk bermuatan bahan kimia. Sepertinya sumber api dari sana,” kata Putu.

Baca Juga :  254 Penumpang KM Mutiara Timur I Dipastikan Selamat, 7 Orang Dilarikan ke RS

Saat asap semakin tebal, sejumlah nelayan dengan perahu kayu mendekati kapal. Beberapa penumpang ada yang memberanikan diri melompat ke laut. Putu baru berani melompat setelah ada kapal milik TNI AL yang mendekat. ”Baju basah semua, tapi dikasih sama TNI AL. Barang bawaan saya tinggal di kendaraan. Yang penting nyawa selamat, uang bisa dicari,” ujar pria asal Negara tersebut.

Meski akhirnya selamat, kejadian tersebut menimbulkan trauma mendalam bagi para penumpang. Salah seorang sopir truk, Sugiantoro, 47, mengatakan, banyak penumpang yang sudah berpamitan kepada keluarganya setelah melihat kebakaran. Sugiantoro juga sempat mengirim voice note kepada istrinya yang ada di Banyuwangi sore itu.

Setelah mengirim voice note, Sugiantoro minta didoakan supaya selamat. Dia lantas berlari keluar dari dalam kapal. Penumpang lain terlihat kebingungan sembari menunggu bantuan dari atas kapal. ”Saya sendiri termasuk yang pertama melompat ke laut. Ada lima orang nyebur ke laut dengan tetap mengenakan rompi pelampung. Saya takut melihat asap semakin tebal,” ujar bapak tiga anak itu. (fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/