alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Warga Beraneka Agama, Dikenal Sarang Perampok

CLURING, Jawa Pos Radar Genteng – Tragedi Cemetuk yang terjadi pada 18 Oktober 1965, tidak bisa lepas dari Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran. Terbunuhnya 62 kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor dari Kecamatan Muncar, yang diduga dibantai oleh anggota PKI dan dikubur di lubang buaya di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring, itu bermula dari desa yang dulu dikenal dengan Desa Karangasem itu.

Lokasi Desa Yosomulyo berada di jalur utama jurusan Banyuwangi-Jember. Desa ini, berjarak sekitar lima kilometer ke arah barat dari pusat kota Kecamatan Gambiran, atau berjarak sekitar 40 kilometer ke arah selatan, dari pusat ibu kota Kabupaten Banyuwangi. 

Saat terjadi pembantaian puluhan kader GP Ansor asal Muncar pada 18 Oktober 1965, Desa Karangasem, Kecamatan Gambiran, itu sebenarnya sudah tidak ada. Nama desa ini, sudah diganti Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran. Pergantian nama desa itu, diresmikan oleh Residen Besuki saat berkunjung ke desa itu pada pertengahan tahun 1953. “Pada tahun 1953, warga deklarasi nama Desa Karangasem diganti Desa Yosomulyo,” cetus Kepala Desa Yosomulyo, Joko Utomo Purniawan.

Dalam deklarasi yang dilakukan di Dusun Ampelsari itu, nama dusun juga diganti. Dusun Ampelsari diganti Dusun Sidotentrem, Dusun Pengantigan/Mantekan diganti Dusun Sidorejo, Dusun Sumberjeding menjadi Dusun Sidomukti. Sedang Dusun Krajan, tetap dipertahankan. Meski nama dusun dan desa sudah diganti, tapi warga tetap menggunakan nama lama. “Saat terjadi pembantaian PKI, sebenarnya nama desa sudah Desa Yosomulyo, tapi warga terbiasa menyebut Desa Karangasem,” katanya.

Perubahan nama desa itu, untuk merubah image desa. Desa Karangasem, saat itu dikenal sebagai daerah hitam dan sarang perampok. Ironisnya, banyak perampok dari luar daerah, kalau tertangkap atau beroperasi mengaku dari Desa Karangasem. “Banyak perampok dari luar kota datang ke Karangasem,” cetusnya.

Stempel sebagai desa sarang perampok, membuat warga resah dan tidak nyaman. Makanya, mereka pada pertengahan 1953 mengundang Residen Besuki, dan mengganti nama desa menjadi Desa Yosomulyo yang berarti yoso kamulyan atau membuat kemulyaan. “Jadi perubahan nama desa itu untuk memulihkan citra desa yang terlanjur dicap hitam,” terang kepala desa jebolan Universitas Jember itu.

Pada masa itu, jumlah penduduk di Desa Yosomulyo sekitar 3.000 orang. Sebagian besar dari warga itu, beragama Islam, Kristen, Budha, dan Hindu. Dari warga yang muslim, sebagian besar jamaah NU dan anggota GP Ansor. “Pada tahun 1965, Ansor di Desa Yosomulyo ini sudah maju dan tokohnya seperti Pak Rolin, pak Ridwan, dan Pak Mualim,” katanya.

Warga desanya yang menjadi anggota PKI, kepala desa periode 1998-2007 dan 2019-2025 itu mengakui ada. Dari informasi yang pernah didapat, jumlah anggota PKI di desanya di tahun 1965 mencapai 10 persen lebih dari jumlah penduduk, atau sekitar 300 orang lebih. “Tapi terkadang warga ditanya kamu petani ya, berarti kamu BTI (barisan tani Indonesia), akhirnya dicatat PKI,” ungkapnya.

CLURING, Jawa Pos Radar Genteng – Tragedi Cemetuk yang terjadi pada 18 Oktober 1965, tidak bisa lepas dari Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran. Terbunuhnya 62 kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor dari Kecamatan Muncar, yang diduga dibantai oleh anggota PKI dan dikubur di lubang buaya di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring, itu bermula dari desa yang dulu dikenal dengan Desa Karangasem itu.

Lokasi Desa Yosomulyo berada di jalur utama jurusan Banyuwangi-Jember. Desa ini, berjarak sekitar lima kilometer ke arah barat dari pusat kota Kecamatan Gambiran, atau berjarak sekitar 40 kilometer ke arah selatan, dari pusat ibu kota Kabupaten Banyuwangi. 

Saat terjadi pembantaian puluhan kader GP Ansor asal Muncar pada 18 Oktober 1965, Desa Karangasem, Kecamatan Gambiran, itu sebenarnya sudah tidak ada. Nama desa ini, sudah diganti Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran. Pergantian nama desa itu, diresmikan oleh Residen Besuki saat berkunjung ke desa itu pada pertengahan tahun 1953. “Pada tahun 1953, warga deklarasi nama Desa Karangasem diganti Desa Yosomulyo,” cetus Kepala Desa Yosomulyo, Joko Utomo Purniawan.

Dalam deklarasi yang dilakukan di Dusun Ampelsari itu, nama dusun juga diganti. Dusun Ampelsari diganti Dusun Sidotentrem, Dusun Pengantigan/Mantekan diganti Dusun Sidorejo, Dusun Sumberjeding menjadi Dusun Sidomukti. Sedang Dusun Krajan, tetap dipertahankan. Meski nama dusun dan desa sudah diganti, tapi warga tetap menggunakan nama lama. “Saat terjadi pembantaian PKI, sebenarnya nama desa sudah Desa Yosomulyo, tapi warga terbiasa menyebut Desa Karangasem,” katanya.

Perubahan nama desa itu, untuk merubah image desa. Desa Karangasem, saat itu dikenal sebagai daerah hitam dan sarang perampok. Ironisnya, banyak perampok dari luar daerah, kalau tertangkap atau beroperasi mengaku dari Desa Karangasem. “Banyak perampok dari luar kota datang ke Karangasem,” cetusnya.

Stempel sebagai desa sarang perampok, membuat warga resah dan tidak nyaman. Makanya, mereka pada pertengahan 1953 mengundang Residen Besuki, dan mengganti nama desa menjadi Desa Yosomulyo yang berarti yoso kamulyan atau membuat kemulyaan. “Jadi perubahan nama desa itu untuk memulihkan citra desa yang terlanjur dicap hitam,” terang kepala desa jebolan Universitas Jember itu.

Pada masa itu, jumlah penduduk di Desa Yosomulyo sekitar 3.000 orang. Sebagian besar dari warga itu, beragama Islam, Kristen, Budha, dan Hindu. Dari warga yang muslim, sebagian besar jamaah NU dan anggota GP Ansor. “Pada tahun 1965, Ansor di Desa Yosomulyo ini sudah maju dan tokohnya seperti Pak Rolin, pak Ridwan, dan Pak Mualim,” katanya.

Warga desanya yang menjadi anggota PKI, kepala desa periode 1998-2007 dan 2019-2025 itu mengakui ada. Dari informasi yang pernah didapat, jumlah anggota PKI di desanya di tahun 1965 mencapai 10 persen lebih dari jumlah penduduk, atau sekitar 300 orang lebih. “Tapi terkadang warga ditanya kamu petani ya, berarti kamu BTI (barisan tani Indonesia), akhirnya dicatat PKI,” ungkapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/