alexametrics
24.6 C
Banyuwangi
Monday, August 15, 2022

Aipda Syaiful Munir, Polisi Penebar ”Virus” Gerakan Tanam Alpukat

RadarBanyuwangi.id – Aktivitas Kanit Intelkam Polsek Glenmore Aipda Syaiful Munir ternyata cukup menarik. Di luar tugas kepolisian, dia juga aktif sebagai ketua RW dan Karang Taruna di Desa Sepanjang. Belakangan, kesibukan Munir menanam bibit alpukat  memberi inspirasi banyak orang.

Selama tinggal di Dusun Sidoluhur, Desa Sepanjang, Munir dipilih menjadi ketua RW 04 dan 05. Selama membawahi dua RW tersebut, dia

menebarkan ”virus” bertani. Munir mengajak masyarakat untuk menanam bibit alpukat di lahan kering. Sudah ada 310 pohon yang dia tanam bersama masyarakat.  

Bibit alpukat tersebut ditanam di pekarangan kosong milik warga. Ada yang ditanam di depan rumah maupun samping rumah. Bibit alpukat tersebut dipasok dari pihak ketiga sekaligus yang memberikan pendampingan maupun treatment cara  menanam alpukat yang benar.   

Upaya Munir menanam alpukat di lahan kosong milik warga sempat menuai penolakan. Banyak warga yang menentang ide Munir tersebut. Menghadapi persoalan seperti itu, tak jarang Munir turun sendiri ke lapangan. Dia terus memberi penjelasan kepada  masyarakat agar mau memanfaatkan lahan kosong di samping rumahnya  untuk ditanami alpukat. ”Inspirasi menanam alpukat  muncul saat melihat banyaknya pemuda yang lebih memilih bekerja ke luar kota dibandingkan kerja di lingkungannya sendiri,” ungkap Munir.

Baca Juga :  Bentuk Regulasi dan Reputasi di Setiap Desa

Bak gayung berambut, ide Munir disambut positif kalangan pemuda. Mereka tertarik untuk diajak menanam alpukat di lahan kosong. Munir tak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Dia  langsung membentuk Karang Taruna di desanya.

Para pemuda yang tidak bekerja dia rangkul. Ragam kegiatan sosial dia gelar. ”Banyak kegiatan yang sebetulnya dilakukan Karangtaruna, tapi yang paling menarik memang menanam alpukat di lahan kosong/kering milik warga. Bibit alpukat bisa ditanam di samping rumah,” kata dia.

Di awal menanam alpukat, Munir bersama anggota Karang Taruna hanya mendapatkan 150 titik lokasi yang mau ditanami. Lahan tersebut tersebar  di RW 04 dan RW 05. ”150 bibit alpukat dibagi dua titik, 100 titik untuk RW 04 dan 50 titik untuk RW 05,” paparnya.

Penanaman dilakukan oleh anggota Karang Taruna langsung. Ppemilik lahan tidak perlu susah-susah menanam pohon karena sudha ada pendamping yang memang ahli di bidang pertanian alpukat. ”Penananaman alpukat ini yang bergerak Karang Taruna bekerja sama dengan pihak ketiga. Mereka yang merawat pohon hingga berbuah nantinya,” terangnya.

Jauh hari sebelumnya, Munir sudah menyiapkan pola tanam hingga teknis panen nanti. Hasil panen alpukat akan diambil 10 persen terlebih dulu untuk kegiatan sosial. Sisanya, 90 persen akan dibagi dua.   45 persen untuk Karang Taruna dan 45 persen untuk pemilik lahan. ”Pemilik lahan tinggal menunggu hasilnya saja,” katanya.

Baca Juga :  Penutupan Lokalisasi Bukan Solusi

Untuk pemupukan yang digunakan pupuk organic seperti kotoran kambing dan sapi. Dalam peroslan pupuk, Karangtaruna tidak mengeluarkan biaya sama sekali.  ”Selama belum berbuah, kesibukan kami juga melakukan pemberdayaan kerambah ikan atau kolam ikan,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, ide Munir tak lagi ditentang warga. Saat ini banyak masyarakat yang ingin lahan kosongnya minta ditanam bibit  alpukat. ”Kita masih fokus 310 pohon yang sudah ditanam. Beberapa pohon yang kita tanam sejak awal kini sudah berbuah,” jelasnya.

Diungkapkan Munir, buah alpukat nantinya tidak hanya dijual buahnya saja. Buah yang melimpah akan diolah menjadi bahan pemutih maupun bahan minyak. ”Mengolahnya seperti apa, kami masih dalam proses uji coba. Beberapa anggota Karang Taruna sudah ada yang berhasil, tapi perlu diuji terlebih dahulu,” pungkasnya. (rio/aif)

RadarBanyuwangi.id – Aktivitas Kanit Intelkam Polsek Glenmore Aipda Syaiful Munir ternyata cukup menarik. Di luar tugas kepolisian, dia juga aktif sebagai ketua RW dan Karang Taruna di Desa Sepanjang. Belakangan, kesibukan Munir menanam bibit alpukat  memberi inspirasi banyak orang.

Selama tinggal di Dusun Sidoluhur, Desa Sepanjang, Munir dipilih menjadi ketua RW 04 dan 05. Selama membawahi dua RW tersebut, dia

menebarkan ”virus” bertani. Munir mengajak masyarakat untuk menanam bibit alpukat di lahan kering. Sudah ada 310 pohon yang dia tanam bersama masyarakat.  

Bibit alpukat tersebut ditanam di pekarangan kosong milik warga. Ada yang ditanam di depan rumah maupun samping rumah. Bibit alpukat tersebut dipasok dari pihak ketiga sekaligus yang memberikan pendampingan maupun treatment cara  menanam alpukat yang benar.   

Upaya Munir menanam alpukat di lahan kosong milik warga sempat menuai penolakan. Banyak warga yang menentang ide Munir tersebut. Menghadapi persoalan seperti itu, tak jarang Munir turun sendiri ke lapangan. Dia terus memberi penjelasan kepada  masyarakat agar mau memanfaatkan lahan kosong di samping rumahnya  untuk ditanami alpukat. ”Inspirasi menanam alpukat  muncul saat melihat banyaknya pemuda yang lebih memilih bekerja ke luar kota dibandingkan kerja di lingkungannya sendiri,” ungkap Munir.

Baca Juga :  Ribuan Anak Muda Banyuwangi Daftar Jagoan Tani

Bak gayung berambut, ide Munir disambut positif kalangan pemuda. Mereka tertarik untuk diajak menanam alpukat di lahan kosong. Munir tak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Dia  langsung membentuk Karang Taruna di desanya.

Para pemuda yang tidak bekerja dia rangkul. Ragam kegiatan sosial dia gelar. ”Banyak kegiatan yang sebetulnya dilakukan Karangtaruna, tapi yang paling menarik memang menanam alpukat di lahan kosong/kering milik warga. Bibit alpukat bisa ditanam di samping rumah,” kata dia.

Di awal menanam alpukat, Munir bersama anggota Karang Taruna hanya mendapatkan 150 titik lokasi yang mau ditanami. Lahan tersebut tersebar  di RW 04 dan RW 05. ”150 bibit alpukat dibagi dua titik, 100 titik untuk RW 04 dan 50 titik untuk RW 05,” paparnya.

Penanaman dilakukan oleh anggota Karang Taruna langsung. Ppemilik lahan tidak perlu susah-susah menanam pohon karena sudha ada pendamping yang memang ahli di bidang pertanian alpukat. ”Penananaman alpukat ini yang bergerak Karang Taruna bekerja sama dengan pihak ketiga. Mereka yang merawat pohon hingga berbuah nantinya,” terangnya.

Jauh hari sebelumnya, Munir sudah menyiapkan pola tanam hingga teknis panen nanti. Hasil panen alpukat akan diambil 10 persen terlebih dulu untuk kegiatan sosial. Sisanya, 90 persen akan dibagi dua.   45 persen untuk Karang Taruna dan 45 persen untuk pemilik lahan. ”Pemilik lahan tinggal menunggu hasilnya saja,” katanya.

Baca Juga :  Beda-Beda Agama Tetap Bernaung dalam Satu Tenda

Untuk pemupukan yang digunakan pupuk organic seperti kotoran kambing dan sapi. Dalam peroslan pupuk, Karangtaruna tidak mengeluarkan biaya sama sekali.  ”Selama belum berbuah, kesibukan kami juga melakukan pemberdayaan kerambah ikan atau kolam ikan,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, ide Munir tak lagi ditentang warga. Saat ini banyak masyarakat yang ingin lahan kosongnya minta ditanam bibit  alpukat. ”Kita masih fokus 310 pohon yang sudah ditanam. Beberapa pohon yang kita tanam sejak awal kini sudah berbuah,” jelasnya.

Diungkapkan Munir, buah alpukat nantinya tidak hanya dijual buahnya saja. Buah yang melimpah akan diolah menjadi bahan pemutih maupun bahan minyak. ”Mengolahnya seperti apa, kami masih dalam proses uji coba. Beberapa anggota Karang Taruna sudah ada yang berhasil, tapi perlu diuji terlebih dahulu,” pungkasnya. (rio/aif)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/