alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Saturday, June 25, 2022

Jadi Juara Jagoan Tani 2022, Durian Garden Songgon Bertekad Ekspor Durian Lokal

RADAR BANYUWANGI – Mengoptimalkan sumber daya alam (SDA), memberdayakan masyarakat, dan membebaskan petani dari ”jerat” tengkulak. Sepak terjang tersebut mengantarkan anak-anak muda yang tergabung dalam tim Durian Garden Songgon menjuarai ajang Jagoan Tani 2022.

Pendapa Sabha Swagata Blambangan ”bergemuruh”, Kamis siang (16/6) lalu. Tanpa dikomando, ratusan orang kompak bertepuk tangan. Di saat yang sama, satu perempuan muda seketika menutup wajah. Entah mengucap syukur atau sekadar menyembunyikan raut kebahagiaannya.

Momen itu terjadi pada puncak acara Graduation Jagoan Tani 2022. Tepatnya, saat salah satu personel tim juri, yakni Kukuh Roxa Putra mengumumkan juara I ajang yang bertujuan mencetak agripreneur muda di Bumi Blambangan tersebut.

Belakangan diketahui, perempuan muda itu adalah Ketua Tim Durian Garden Songgon Syva Dita Kharisma. Usaha rintisan (startup) pertanian yang digawangi 12 anak muda asal Desa Bayu dan sejumlah desa lain di Kecamatan Songgon tersebut menyabet gelar juara pertama pada ajang Jagoan Tani 2022.

Tim ini berhasil menyisihkan ratusan tim lain yang ikut berlaga di ajang inovasi pertanian bagi kalangan anak muda tersebut. Bukan hanya berhak membawa pulang piala, tim ini juga diganjar bantuan modal senilai Rp 50 juta.

Syva mengaku, rintisan usaha tersebut dimulai sejak 2018 lalu, yakni saat dirinya baru lulus studi jenjang sekolah menengah atas (SMA). Bahkan, lantaran ingin fokus mengurus Durian Garden, dia rela menunda kelanjutan studinya ke jenjang perguruan tinggi selama setahun. Suatu keputusan yang akhirnya berbuah manis.

Cakupan kerja Durian Garden Songgon beragam. Tidak sekadar memasarkan durian lokal kualitas unggul, mereka juga melakukan usaha pembibitan durian lokal unggul, juga menjual aneka makanan olahan berbahan baku durian. Bukan itu saja, mereka juga mereka juga ”menyulap” sentra durian di Songgon menjadi destinasi wisata.

Syva mengatakan, pemasaran durian lokal kualitas unggul dilakukan dengan memanfaatkan media sosial, termasuk Facebook, Instagram, hingga channel YouTube. ”Pelanggan kami terbesar di sejumlah daerah, mulai wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), Surabaya, Malang, dan sejumlah kota lain di Jawa,” ujarnya.

Lebih lanjut Syva menuturkan, durian yang dipasarkan bukan hanya milik pribadi dan keluarganya. Sebaliknya, durian yang dipasarkan juga berasal dari hasil panen para petani mitra yang tersebar di wilayah Kecamatan Songgon. Kini, jumlah pohon durian milik petani mitra telah mencapai sekitar 500 sampai seribu pohon. ”Durian Garden Songgon melakukan kegiatan usaha berbasis masyarakat. Dengan demikian, kami juga ikut memberdayakan petani lokal,” kata dia.

Dijelaskan, awalnya banyak petani durian di wilayah Songgon yang menjual buah durian kepada tengkulak secara borongan. Misalnya, dengan harga Rp 1 juta per pohon. Sebaliknya, pihak Durian Garden Songgon membeli buah durian dari petani per buah. ”Sehingga harga jualnya lebih menjanjikan. Satu pohon yang biasanya diborong hanya Rp 1 juta, kini hasil penjualannya bisa mencapai Rp 3 juta bahkan lebih,” kata perempuan yang kini telah melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Banyuwangi tersebut.

Syva menambahkan, pihaknya juga melibatkan masyarakat sekitarnya dalam pengembangan bisnisnya tersebut. Selain membuka destinasi wisata berbasis durian di kampungnya, Durian Garden Songgon juga menggandeng warga sekitar untuk membuat beragam jenis makanan olahan berbahan durian, seperti pancake, kelemben, bagiak, dan lain-lain. ”Kami yang memasarkan produk-produk mereka,” tuturnya.

Gebrakan Durian Garden Songgon tersebut membuat dewan juri kepincut. Seperti diungkapkan juru bicara dewan juri Kukuh Roxa Putra. Dia menuturkan, ada tiga keunggulan dari Durian Garden Songgon, mulai sustainability business (keberlanjutan bisnis), pelibatan masyarakat, hingga pemanfaatan sarana teknologi informasi. ”Dari tiga hal aspek tersebut, Durian Garden lebih unggul dibandingkan dengan para peserta lainnya,” ujar Founder PT Pandawa Agri Industri tersebut.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengaku bangga terhadap para peserta Jagoan Tani. Menurut dia, hadirnya kalangan anak-anak muda yang terjun di dunia pertanian itu merupakan sesuatu yang luar biasa. ”Di tengah berkurangnya petani, anak-anak muda Banyuwangi justru berinovasi untuk bisa meningkatkan produktivitas pertanian hingga memordenisasi pengelolaan hasil tani dan pemasarannya,” terang Ipuk. (sgt/aif/c1)

RADAR BANYUWANGI – Mengoptimalkan sumber daya alam (SDA), memberdayakan masyarakat, dan membebaskan petani dari ”jerat” tengkulak. Sepak terjang tersebut mengantarkan anak-anak muda yang tergabung dalam tim Durian Garden Songgon menjuarai ajang Jagoan Tani 2022.

Pendapa Sabha Swagata Blambangan ”bergemuruh”, Kamis siang (16/6) lalu. Tanpa dikomando, ratusan orang kompak bertepuk tangan. Di saat yang sama, satu perempuan muda seketika menutup wajah. Entah mengucap syukur atau sekadar menyembunyikan raut kebahagiaannya.

Momen itu terjadi pada puncak acara Graduation Jagoan Tani 2022. Tepatnya, saat salah satu personel tim juri, yakni Kukuh Roxa Putra mengumumkan juara I ajang yang bertujuan mencetak agripreneur muda di Bumi Blambangan tersebut.

Belakangan diketahui, perempuan muda itu adalah Ketua Tim Durian Garden Songgon Syva Dita Kharisma. Usaha rintisan (startup) pertanian yang digawangi 12 anak muda asal Desa Bayu dan sejumlah desa lain di Kecamatan Songgon tersebut menyabet gelar juara pertama pada ajang Jagoan Tani 2022.

Tim ini berhasil menyisihkan ratusan tim lain yang ikut berlaga di ajang inovasi pertanian bagi kalangan anak muda tersebut. Bukan hanya berhak membawa pulang piala, tim ini juga diganjar bantuan modal senilai Rp 50 juta.

Syva mengaku, rintisan usaha tersebut dimulai sejak 2018 lalu, yakni saat dirinya baru lulus studi jenjang sekolah menengah atas (SMA). Bahkan, lantaran ingin fokus mengurus Durian Garden, dia rela menunda kelanjutan studinya ke jenjang perguruan tinggi selama setahun. Suatu keputusan yang akhirnya berbuah manis.

Cakupan kerja Durian Garden Songgon beragam. Tidak sekadar memasarkan durian lokal kualitas unggul, mereka juga melakukan usaha pembibitan durian lokal unggul, juga menjual aneka makanan olahan berbahan baku durian. Bukan itu saja, mereka juga mereka juga ”menyulap” sentra durian di Songgon menjadi destinasi wisata.

Syva mengatakan, pemasaran durian lokal kualitas unggul dilakukan dengan memanfaatkan media sosial, termasuk Facebook, Instagram, hingga channel YouTube. ”Pelanggan kami terbesar di sejumlah daerah, mulai wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), Surabaya, Malang, dan sejumlah kota lain di Jawa,” ujarnya.

Lebih lanjut Syva menuturkan, durian yang dipasarkan bukan hanya milik pribadi dan keluarganya. Sebaliknya, durian yang dipasarkan juga berasal dari hasil panen para petani mitra yang tersebar di wilayah Kecamatan Songgon. Kini, jumlah pohon durian milik petani mitra telah mencapai sekitar 500 sampai seribu pohon. ”Durian Garden Songgon melakukan kegiatan usaha berbasis masyarakat. Dengan demikian, kami juga ikut memberdayakan petani lokal,” kata dia.

Dijelaskan, awalnya banyak petani durian di wilayah Songgon yang menjual buah durian kepada tengkulak secara borongan. Misalnya, dengan harga Rp 1 juta per pohon. Sebaliknya, pihak Durian Garden Songgon membeli buah durian dari petani per buah. ”Sehingga harga jualnya lebih menjanjikan. Satu pohon yang biasanya diborong hanya Rp 1 juta, kini hasil penjualannya bisa mencapai Rp 3 juta bahkan lebih,” kata perempuan yang kini telah melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Banyuwangi tersebut.

Syva menambahkan, pihaknya juga melibatkan masyarakat sekitarnya dalam pengembangan bisnisnya tersebut. Selain membuka destinasi wisata berbasis durian di kampungnya, Durian Garden Songgon juga menggandeng warga sekitar untuk membuat beragam jenis makanan olahan berbahan durian, seperti pancake, kelemben, bagiak, dan lain-lain. ”Kami yang memasarkan produk-produk mereka,” tuturnya.

Gebrakan Durian Garden Songgon tersebut membuat dewan juri kepincut. Seperti diungkapkan juru bicara dewan juri Kukuh Roxa Putra. Dia menuturkan, ada tiga keunggulan dari Durian Garden Songgon, mulai sustainability business (keberlanjutan bisnis), pelibatan masyarakat, hingga pemanfaatan sarana teknologi informasi. ”Dari tiga hal aspek tersebut, Durian Garden lebih unggul dibandingkan dengan para peserta lainnya,” ujar Founder PT Pandawa Agri Industri tersebut.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengaku bangga terhadap para peserta Jagoan Tani. Menurut dia, hadirnya kalangan anak-anak muda yang terjun di dunia pertanian itu merupakan sesuatu yang luar biasa. ”Di tengah berkurangnya petani, anak-anak muda Banyuwangi justru berinovasi untuk bisa meningkatkan produktivitas pertanian hingga memordenisasi pengelolaan hasil tani dan pemasarannya,” terang Ipuk. (sgt/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/