alexametrics
28.7 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Berdoa di Makam Mbah Pande Supo, Sembelih Kambing Hitam

Warga Dusun Pandean, Desa Wonorejo, memiliki kebiasaan berdoa di makam Mbah Pande Supo. Itu sebagai bentuk tolak balak terhadap musibah. 

IZZUL MUTTAQIN, Banyuputih

Warga Dusun Pandean, Desa Wonorejo mengadakan acara doa bersama di makam Mbah Pande Supo, belum lama ini. Dia merupakan pembabat tanah Pandean yang diyakini sebagai salah satu waliyullah. Mbah Pande diyakini bisa menjadi perantara keberkahahan. Sehingga, banjir tidak lagi melanda di Desa Wonorejo.

Doa bersama dilakukan setelah peristiwa banjir yang menimpa masyarakat setempat. Uniknya, doa tersebut dilakukan setelah juru kunci makam bermimpi didatangi oleh Mba Pande Supo.

“Memang di sini seringkali diadakan kegiatan rutin berupa doa bersama. Tapi, biasanya hanya dilakukan pada tanggal 1 muharam. Sedangkan kali ini dilaksanakan, karena juru kunci makam bermimpi didatangi Mba Pande Supo, yang meminta agar masyarakat pandean berdoa di makamnya,” terang Fatoni, sekretaris Desa Wonorejo.

Fatoni menambahkan, karena ritual doa kali ini untuk menanggulangi bencana banjir, maka diperlukan kambing hitam untuk dikurbankan. Selain berdoa, warga membaca tahlil dan selawat. Yang unik, warga juga menyembelih kambing warna hitam. Kemudian kepala kambing itu dikubur dalam tanah atau di pinggir sungai.

“Harapannya, air sungai tidak meluap ke pemukiman warga lagi. Warga dengan sukarela juga membawa sesajen diletakkan di atas ancak yang tebuat dari pelepah pisang. Sesaji tersebut dibungkus daun dan diberi ingkung ayam. Kita bersyukur karena masih diberi keselamatan,” imbuhnya.

Menurut keterangan warga, Mba Pande Supo merupakan orang yang pertama kali membabat tanah pandean. Sehingga, tak heran jika makamnya dikeramatkan. “Selain seebagai pembabat Desa Pandean, kami juga yakin bahwa Mba Supo merupakan waliyullah. Dia masih merupakan kerabat dari Sunan Kalijaga,” terang Samsul, salah satu warga setempat.

Hal itu dibenarkan oleh Sholihin, Juru kunci makam Mbah Pande. Menurut Sholihin, Mbah Pande Supo datang ke Pandean dengan tujuan untuk mengambil keris yang sudah dicuri oleh Kerajaan Belambangan.

“Saya tidak tahu dari mana Mba Pande Asalnya. Yang jelas, Dia datang ke tanah Pandean semasa kerajaan Islam Demak. Tujuannya untuk mengambil keris Kiai Sengkelat yang dicuri oleh petinggi Kerajaan Blambangan. Mungkin karena tanah ini cocok untuknya, Mba Pande kemudian memilih menetap hingga meninggal di des ini,” terangnya. (pri)

Warga Dusun Pandean, Desa Wonorejo, memiliki kebiasaan berdoa di makam Mbah Pande Supo. Itu sebagai bentuk tolak balak terhadap musibah. 

IZZUL MUTTAQIN, Banyuputih

Warga Dusun Pandean, Desa Wonorejo mengadakan acara doa bersama di makam Mbah Pande Supo, belum lama ini. Dia merupakan pembabat tanah Pandean yang diyakini sebagai salah satu waliyullah. Mbah Pande diyakini bisa menjadi perantara keberkahahan. Sehingga, banjir tidak lagi melanda di Desa Wonorejo.

Doa bersama dilakukan setelah peristiwa banjir yang menimpa masyarakat setempat. Uniknya, doa tersebut dilakukan setelah juru kunci makam bermimpi didatangi oleh Mba Pande Supo.

“Memang di sini seringkali diadakan kegiatan rutin berupa doa bersama. Tapi, biasanya hanya dilakukan pada tanggal 1 muharam. Sedangkan kali ini dilaksanakan, karena juru kunci makam bermimpi didatangi Mba Pande Supo, yang meminta agar masyarakat pandean berdoa di makamnya,” terang Fatoni, sekretaris Desa Wonorejo.

Fatoni menambahkan, karena ritual doa kali ini untuk menanggulangi bencana banjir, maka diperlukan kambing hitam untuk dikurbankan. Selain berdoa, warga membaca tahlil dan selawat. Yang unik, warga juga menyembelih kambing warna hitam. Kemudian kepala kambing itu dikubur dalam tanah atau di pinggir sungai.

“Harapannya, air sungai tidak meluap ke pemukiman warga lagi. Warga dengan sukarela juga membawa sesajen diletakkan di atas ancak yang tebuat dari pelepah pisang. Sesaji tersebut dibungkus daun dan diberi ingkung ayam. Kita bersyukur karena masih diberi keselamatan,” imbuhnya.

Menurut keterangan warga, Mba Pande Supo merupakan orang yang pertama kali membabat tanah pandean. Sehingga, tak heran jika makamnya dikeramatkan. “Selain seebagai pembabat Desa Pandean, kami juga yakin bahwa Mba Supo merupakan waliyullah. Dia masih merupakan kerabat dari Sunan Kalijaga,” terang Samsul, salah satu warga setempat.

Hal itu dibenarkan oleh Sholihin, Juru kunci makam Mbah Pande. Menurut Sholihin, Mbah Pande Supo datang ke Pandean dengan tujuan untuk mengambil keris yang sudah dicuri oleh Kerajaan Belambangan.

“Saya tidak tahu dari mana Mba Pande Asalnya. Yang jelas, Dia datang ke tanah Pandean semasa kerajaan Islam Demak. Tujuannya untuk mengambil keris Kiai Sengkelat yang dicuri oleh petinggi Kerajaan Blambangan. Mungkin karena tanah ini cocok untuknya, Mba Pande kemudian memilih menetap hingga meninggal di des ini,” terangnya. (pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/