Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features

Limbah Masker Nonmedis Dikreasi Jadi Vas Bunga

18 September 2021, 10: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Limbah Masker Nonmedis Dikreasi Jadi Vas Bunga

DAUR ULANG: Anggota komunitas Bank Sampah Banyuwangi mengkreasi sampah masker sekali pakai yang telah disterilkan menjadi pot bunga. (Agus for RadarBanyuwangi.id)

Share this      

BANYUWANGI – Pandemi Covid-19 berdampak besar pada berbagai aspek kehidupan. Tidak terkecuali aspek lingkungan. Pandemi yang terjadi selama setahun lebih ini menyebabkan banyaknya sampah masker nonmedis. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah masker tersebut bisa menimbulkan masalah baru. Inilah yang coba diminimalkan Komunitas Bank Sampah Banyuwangi.

Masker sangat dibutuhkan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Bahkan, memakai masker saat beraktivitas bersama orang lain, terutama di luar rumah, diyakini bukan sekadar cara mencegah diri terinfeksi virus korona, tetapi juga bentuk kepedulian pada orang-orang terdekat.

Ya, kita memiliki orang tua, saudara, dan keluarga di rumah. Kita juga memiliki kawan, kolega, sahabat, dan orang-orang terkasih di sekitar kita. Maka, jika kita abai memakai masker dengan benar dapat membawa risiko bagi mereka.

Baca juga: EcoRanger Dampingi Nelayan Pancer Kelola Sampah Laut

Diakui atau tidak, memakai masker pun kini telah menjadi budaya baru masyarakat. Selain masker kain yang bisa dicuci dan dipakai kembali, tidak sedikit pula warga yang menggunakan masker nonmedis sekali pakai untuk memproteksi diri dari ancaman penularan Covid-19.

Setelah digunakan, masker sekali pakai itu pun berubah menjadi sampah. Apabila tidak dikelola dengan baik, maka bukan tidak mungkin sampah-sampah tersebut menimbulkan masalah di kemudian hari.

Menyadari hal itu, Komunitas Bank Sampah Banyuwangi pun berinovasi. Mereka memanfaatkan sampah masker nonmedis sekali pakai menjadi bahan baku pot bunga.

Koordinator Bank Sampah Banyuwangi Agus Supriadi mengatakan, daur ulang sampah masker menjadi pot bunga tersebut sudah dilakukan sejak sekitar tiga atau empat bulan terakhir. ”Ini terinspirasi dari banyaknya limbah masker nonmedis sekali pakai pada masa pandemi Covid-19,” ujarnya.

Selain itu, kata Agus, sesuai arahan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi bahwa akhir-akhir ini banyak limbah masker masyarakat yang tercampur dengan sampah jenis lain. Maka, upaya pengelolaan sampah masker sekali pakai itu harus dilakukan. ”Untuk itu, kami berupaya mengelola limbah masker dari masyarakat tersebut,” kata dia.

Upaya pengelolaan limbah masker nonmedis sekali pakai itu tidak dilakukan secara serampangan, melainkan dengan menaati petunjuk dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Menurut Agus, sesuai petunjuk Kemenkes, limbah masker masyarakat sebetulnya bisa dibuang di tempat sampah domestik melalui treatment tertentu. ”Yang pertama sampah masker itu dikumpulkan, kemudian diubah bentuknya, misalnya dipotong talinya. Setelah itu, sampah masker itu diberi disinfektan lalu dijemur agar terbebas dari virus dan bakteri,” kata dia.

Agus menambahkan, rata-rata masker yang terkumpul di area kerja Bank Sampah Banyuwangi, yakni di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Kelurahan Penganjuran, setiap hari rata-rata terkumpul enam kilogram (kg) limbah masker nonmedis sekali pakai. ”Enam kilogram itu setara kurang lebih dua ribu lembar masker nonmedis sekali pakai,” kata dia.

Setelah disterilkan, sampah masker tersebut lantas didaur ulang menjadi bahan baku pot tanaman. Caranya dengan mencampuri sampah masker yang telah disterilkan itu dengan semen. ”Setelah itu tinggal dicetak menjadi pot tanaman,” tuturnya.

Agus mengaku, saat ini rata-rata dalam sehari pihaknya bisa memproduksi tiga sampai lima pot tanaman berbahan baku sampah masker. ”Untuk sementara, pot tanaman berbahan baku masker daur ulang itu kami manfaatkan untuk kebutuhan internal,” kata dia.

Lebih lanjut Agus menuturkan, selain dilakukan para anggota komunitas Bank Sampah Banyuwangi, ada pula kelompok masyarakat yang sadar lingkungan ikut berperan aktif melakukan daur ulang sampah masker nonmedis sekali pakai tersebut. ”Jadi ada unsur pemberdayaan. Kelompok-kelompok masyarakat yang sadar lingkungan ikut berperan aktif melakukan daur ulang sampah masker,” pungkasnya. 

(bw/sgt/aif/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia