alexametrics
25.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Penutupan Lokalisasi Bukan Solusi

BANYUWANGI – Peneliti dari Institut Agama Islam (IAI) Darussalam, Blokagung, Kecamatan Tegalsari, Nurul Inayah, mengatakan penutupan lokalisasi penjaja seks komersial (PSK), itu sebenarnya bukan satu-satunya solusi dalam menyelesaikan maraknya prostitusi.

Penutupan lokalisasi PSK yang dilakukan Pemkab Banyuwangi di tahun 2013, itu juga tidak berhasil menutup secara menyeluruh. Kenyataannya, para PSK juga kembali lagi.  “Penutupan lokalisasi PSK dilakukan pemkab tahun 2013, saya pada tahun 2014 mengadakan penelitian terkait lokalisasi ini, dan ternyata PSK tetap banyak,” katanya.

Nurul menyebut ada beberapa alasan para PSK itu kembali menekuni pekerjaan lamanya, meski lokalisasi sudah ditutup, yakni mereka butuh pangan. “Pekerjaan yang dilakoni itu (jadi PSK) dianggap yang paling mudah, dan mereka itu mau melakukannya,” ujarnya.

Para PSK itu, jelas dia, memang sudah dilatih keterampilan. Hanya saja, keterampilan seperti menjahit, kecantikan, dan lainnya dianggap ribet. “Dari sejumlah lokalisasi PSK yang ada di Banyuwangi, ternyata yang paling banyak lulusan SD dan SMP,” terangnya.

PSK yang lulusan SMA, lanjut dia, memang juga ada. Hanya saja, itu jumlahnya cukup kecil dibanding yang lulus SD dan SMP. “Kalau PSK berpendidikan SMA ke atas, itu modusnya bukan karena ekonomi, tapi yang lain,” katanya.

Mengenai solusi untuk lokalisasi PSK ini, Nurul meminta pemerintah melokalisir dan melakukan pengawasan, terutama bagi yang menderita penyakit, seperti HIV/HID. “Ini jangan dibiarkan, malah berbahaya,” cetusnya.

Penutupan lokalisasi PSK dan pembiaran pada para PSK, masih kata dia, akhirnya memunculkan masalah baru. Para PSK akhirnya banyak yang beroperasi di tempat kos dan munculnya prostitusi online. “Pemerintah harus tetap memantau,” pintanya.(abi)

BANYUWANGI – Peneliti dari Institut Agama Islam (IAI) Darussalam, Blokagung, Kecamatan Tegalsari, Nurul Inayah, mengatakan penutupan lokalisasi penjaja seks komersial (PSK), itu sebenarnya bukan satu-satunya solusi dalam menyelesaikan maraknya prostitusi.

Penutupan lokalisasi PSK yang dilakukan Pemkab Banyuwangi di tahun 2013, itu juga tidak berhasil menutup secara menyeluruh. Kenyataannya, para PSK juga kembali lagi.  “Penutupan lokalisasi PSK dilakukan pemkab tahun 2013, saya pada tahun 2014 mengadakan penelitian terkait lokalisasi ini, dan ternyata PSK tetap banyak,” katanya.

Nurul menyebut ada beberapa alasan para PSK itu kembali menekuni pekerjaan lamanya, meski lokalisasi sudah ditutup, yakni mereka butuh pangan. “Pekerjaan yang dilakoni itu (jadi PSK) dianggap yang paling mudah, dan mereka itu mau melakukannya,” ujarnya.

Para PSK itu, jelas dia, memang sudah dilatih keterampilan. Hanya saja, keterampilan seperti menjahit, kecantikan, dan lainnya dianggap ribet. “Dari sejumlah lokalisasi PSK yang ada di Banyuwangi, ternyata yang paling banyak lulusan SD dan SMP,” terangnya.

PSK yang lulusan SMA, lanjut dia, memang juga ada. Hanya saja, itu jumlahnya cukup kecil dibanding yang lulus SD dan SMP. “Kalau PSK berpendidikan SMA ke atas, itu modusnya bukan karena ekonomi, tapi yang lain,” katanya.

Mengenai solusi untuk lokalisasi PSK ini, Nurul meminta pemerintah melokalisir dan melakukan pengawasan, terutama bagi yang menderita penyakit, seperti HIV/HID. “Ini jangan dibiarkan, malah berbahaya,” cetusnya.

Penutupan lokalisasi PSK dan pembiaran pada para PSK, masih kata dia, akhirnya memunculkan masalah baru. Para PSK akhirnya banyak yang beroperasi di tempat kos dan munculnya prostitusi online. “Pemerintah harus tetap memantau,” pintanya.(abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/