Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features

Cerita Sugoto, Seniman Tari dan Penabuh Era Bupati Joko Supaat Slamet

17 September 2021, 06: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Cerita Sugoto, Seniman Tari dan Penabuh Era Bupati Joko Supaat Slamet

SENIMAN TARI: Sugoto (kanan) menunjukkan foto dirinya bersama saudara-saudaranya. Sugoto kala masih muda (kiri). (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

BANYUWANGI – Sugoto, 79, boleh dibilang seniman yang mengasingkan diri. Padahal, warga Lingkungan Krajan, Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi itu, pernah tampil di Istana Merdeka Jakarta bersama kontingen seni budaya Banyuwangi di era Bupati Joko Supaat Slamet.

Rumahnya berada di gang kecil di Lingkungan Krajan, Kelurahan Penganjuran, Kecamatan Banyuwangi. Dua orang kakek tua tampak sibuk memperbaiki teras halaman rumah. Mereka adalah Sugoto, 79, dan Surapi, 75.

Meski usianya sudah lebih setengah abad, kedua kakek ini masih sehat dan aktif. ”Mohon maaf saya tak pakai baju, panas,” ungkap Sugoto menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Banyuwangi di kediamannya.

Baca juga: Kisah Yuliana dan Sri Wartini, Dua Bersaudara Pedagang Bunga Tabur

Pria kelahiran tahun 1942 ini masih ingat kala masa mudanya pernah datang ke Istana Merdeka Jakarta bersama kontingen seni daerah Banyuwangi. Kala itu era Bupati Joko Supaat Slamet. Sugoto tak sendirian. Dia bersama rekan-rekannya dari Banyuwangi yang mendapatkan undangan dari Istana. ”Dulu masih belum ada pesawat terbang, masih naik kereta api. Alat-alat gamelan dinaikkan truk,” sahut Surapi, teman Sugoto yang duduk di sampingnya.

Surapi kala itu bukan sebagai penabuh gamelan, melainkan sebagai seksi perlengkapan yang membawa gamelan dan perlengkapan lainnya, termasuk saat ke Jakarta. ”Pak Sugoto nyaris ketinggalan kereta api saat rombongan berangkat ke Jakarta dari Surabaya,” ujar Surapi.

Kala itu, kereta api jurusan Jakarta yang mengangkut rombongan ketika sampai di Surabaya berhenti sejenak menunggu oper lokomotif. Ketika rombongan naik ke atas kereta api, ternyata rombongan kurang satu dan itu adalah Sugoto. Karena kereta akan berangkat, seluruh rombongan turun dari atas kereta api untuk mencari keberadaan Sugoto. ”Kami sempat bingung, ketemu-ketemunya tertidur di dalam kamar mandi stasiun,” ungkap Surapi terkekeh-kekeh.

Kala itu bisa tampil ke ibu kota merupakan suatu kebanggaan dan prestasi luar biasa. Kesenian Banyuwangi bukan baru-baru ini saja masyhur. Sejak dulu, kesenian Banyuwangi sudah mampu bersaing di kancah nasional.

Sugoto mengaku sudah bisa menari dan mulai menabuh gamelan sejak kelas empat sekolah rakyat (SR) yang saat ini berganti nama sekolah dasar (SD). ”Saya penabuh saron,” akunya.

Hobi bermain musik tradisional itu tanpa sengaja. Awalnya Sugoto hanya sering ikut mendampingi Mansyur, kakak kandungnya yang juga penabuh gamelan seni Damarwulan Margo Budoyo pimpinan Matsari asal Lingkungan Sawahan, Kelurahan Pengantigan, Kecamatan Banyuwangi. ”Ketika masih remaja saya penari pengganti perempuan, biasanya tampil saat ekstra sebelum kesenian lakon Damarwulan (janger) dimulai,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, penari perempuan terisi dengan penari perempuan. Dia pun beralih sebagai penari jinggoan atau penari janger dalam adegan janger sebagai prajurit. ”Saya mulai berhenti menari setelah anak sulung saya, Emi Rahayu, menikah dan menantu saya seorang polisi. Tapi saya masih ikut janger, tapi bagian penabuh saron,” jelas Sugoto.

Pengalaman sebagai penabuh gamelan janger Margo Budoyo membuat Sugoto melanglang buana hingga ke berbagai daerah. Apalagi kala itu kesenian janger atau Damarwulan ini dilombakan di Gesibu Blambangan Banyuwangi. Dari ajang perlombaan itulah, dia juga saling kenal dengan penabuh dan penari lainnya di Banyuwangi.

Para penabuh terpilih kemudian direkrut sebagai kontingen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Disbupar). ”Dulu yang merekrut Hasan Ali, teman seangkatan saya kala itu Sumitro Hadi dari Gladag, ada juga Sayun Sisiyanto dari Mangir,” kenang lelaki pensiunan Dinas Kesehatan Banyuwangi ini.

Darah seni yang dimilikinya mengalir pada anak sulungnya Emi Rahayu atau yang akrab disapa Yayuk yang juga sukses sebagai penari daerah Banyuwangi. Meski sudah berusia 79 tahun, Sugoto masih giat berolahraga, setiap akhir pekan dia masih berolahraga berjalan kaki sejauh 15 kilometer mengelilingi ruas jalan dalam kota Banyuwangi. ”Kalau sekadar main saron saja masih bisa, pokok ada pasangannya,” pungkasnya sembari tersenyum lebar.

(bw/ddy/aif/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia