alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Saturday, June 25, 2022

Kisah Pedagang Keliling; Sehari Dapat Rp 16 Ribu, Paling Sering Tak Dapat Beli

MANGARAN, Radar Situbondo – Pak Maimunah, warga Desa/Kecamatan Mangaran, Situbondo, terus bersemangat mencari nafkah. Meski usianya sudah senja, namun dia tak pernah mau berhenti untuk bekerja keras.

Penghasilan yang didapatkan Pak Maimunah setiap harinya tidak banyak. Bayangkan saja, seharian bekerja berkeliling berjualan barang-barang rumah tangga, kakek 61 tahun itu hanya mendapatkan hasil Rp 16 ribu. Padahal, dia harus berkeliling seharian ke setiap desa untuk menjajakan jualannya.

Ketika letih, Pak Maimunah beristirahat di bawah pepohonan. Atau, sesekali beristirahat di rumah warga. “Kalau di rumah warga, saya biasa disuguhi kopi, kadang-kadang diberi makan juga,” ungkap Pak Maimunah, Rabu (15/6).

Dia mengaku, penghasilan yang didapatkan dari hasil jerih payahnya, setiap hari sangat tipis. Dia hanya mendapatkan Rp 16 ribu. Itu pun kalau ada dagangan yang laku. Jika sudah kadung apes, maka tidak ada satu pun warga yang tertarik membeli.

“Kalau untung saya dapat Rp 16 ribu. Kalau tidak ada pembeli ya tidak dapat apa-apa. Berjualan seperti saya hasilnya tidak menentu, kadang dapat kadang tidak, tapi dari pada tidak berusaha siapa yang mau bayar, yang penting diopeni, yang penting bisa untung,” imbuh kakek yang mengaku sudah memiliki tiga cucu itu.

Kata Pak Maimunah, dagangan yang dibawa setiap hari ada enam macam. Yaitu sapu lidi dan sapu lantai yang terbuat dari kulit kelapa, keranjang bambu (tempat sampah), pembuang sampah yang terbuat dari bekas kaleng biscuit dan kemoceng. “Sapu lidi Rp 10 ribu, keranjang bambu Rp 25 ribu, tampah bambu Rp 17 ribu, kemoceng Rp 12 ribu. Yang banyak laku sapu lidi dan kemoceng,” cetus pak Maimunah.

Pedagang yang memakai sandal jepit itu menceritakan, sebelum bekerja berjualan, dia pernah bekerja sebagai kuli bangunan dan pernah bekerja sebagai tukang angkut gabah. Tetapi pekerjaan tersebut ditinggalkan mengingat tenaganya sudah lemah. “Sekarang saya sudah tidak kuat bekerja yang berat-berat. Makanya saya kerja jualan seperti ini,” pungkas pak Maimunah sambil bergegas malanjutkan perjalanannya. (hum/pri)

MANGARAN, Radar Situbondo – Pak Maimunah, warga Desa/Kecamatan Mangaran, Situbondo, terus bersemangat mencari nafkah. Meski usianya sudah senja, namun dia tak pernah mau berhenti untuk bekerja keras.

Penghasilan yang didapatkan Pak Maimunah setiap harinya tidak banyak. Bayangkan saja, seharian bekerja berkeliling berjualan barang-barang rumah tangga, kakek 61 tahun itu hanya mendapatkan hasil Rp 16 ribu. Padahal, dia harus berkeliling seharian ke setiap desa untuk menjajakan jualannya.

Ketika letih, Pak Maimunah beristirahat di bawah pepohonan. Atau, sesekali beristirahat di rumah warga. “Kalau di rumah warga, saya biasa disuguhi kopi, kadang-kadang diberi makan juga,” ungkap Pak Maimunah, Rabu (15/6).

Dia mengaku, penghasilan yang didapatkan dari hasil jerih payahnya, setiap hari sangat tipis. Dia hanya mendapatkan Rp 16 ribu. Itu pun kalau ada dagangan yang laku. Jika sudah kadung apes, maka tidak ada satu pun warga yang tertarik membeli.

“Kalau untung saya dapat Rp 16 ribu. Kalau tidak ada pembeli ya tidak dapat apa-apa. Berjualan seperti saya hasilnya tidak menentu, kadang dapat kadang tidak, tapi dari pada tidak berusaha siapa yang mau bayar, yang penting diopeni, yang penting bisa untung,” imbuh kakek yang mengaku sudah memiliki tiga cucu itu.

Kata Pak Maimunah, dagangan yang dibawa setiap hari ada enam macam. Yaitu sapu lidi dan sapu lantai yang terbuat dari kulit kelapa, keranjang bambu (tempat sampah), pembuang sampah yang terbuat dari bekas kaleng biscuit dan kemoceng. “Sapu lidi Rp 10 ribu, keranjang bambu Rp 25 ribu, tampah bambu Rp 17 ribu, kemoceng Rp 12 ribu. Yang banyak laku sapu lidi dan kemoceng,” cetus pak Maimunah.

Pedagang yang memakai sandal jepit itu menceritakan, sebelum bekerja berjualan, dia pernah bekerja sebagai kuli bangunan dan pernah bekerja sebagai tukang angkut gabah. Tetapi pekerjaan tersebut ditinggalkan mengingat tenaganya sudah lemah. “Sekarang saya sudah tidak kuat bekerja yang berat-berat. Makanya saya kerja jualan seperti ini,” pungkas pak Maimunah sambil bergegas malanjutkan perjalanannya. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/