alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Letusan Gunung Raung Bertipe Strombolian, Potensi Bahaya Sekitar Kawah

MASYARAKAT di sekitar kaki Gunung Raung tidak perlu panik. Warga juga jangan mudah percaya dengan dugaan jika gunung itu akan meletus hebat dalam waktu dekat. Sebab, letusan Gunung Raung bertipe strombolian.

Gunung Raung akan memuntahkan material pijar seperti percikan kembang api, bila dilihat di malam hari. Hanya, karena kawah Gunung Raung tergolong dalam, maka percikan Raung tidak bisa dilihat dari kaki gunung.

Salah satu keunikan puncak Gunung Raung dengan ketinggian 3.332 meter dari permukaan laut (dpl) ini adalah memiliki kaldera dengan kedalaman sekitar 500 meter. Gunung ini selalu berasap, serta sering menyemburkan api.

Bentuk puncak Gunung Raung seperti kerucut terpotong dengan tonjolan dari sisa-sisa endapan lava dan barangko-barangko dari sisa endapan piroklastik. Sedangkan kaldera Gunung Raung berbentuk elips, berukuran 1.750 meter x 2.250 meter. Kaldera Gunung Raung memiliki kedalaman 400 meter sampai 550 meter. Selain itu, lereng kaldera sangat terjal. ”Gunung Raung tipe letusannya strombolian, potensi bahaya material pijar hanya berada di sekitar kawah saja, dan masih berada di dalam kaldera,” ungkap Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung Mukijo.

Menurut Mukijo kemungkinan untuk Gunung Raung meletus seperti Gunung Merapi dan Gunung Semeru sangat kecil. Karena jika dilihat tipe letusan Gunung Merapi berjenis Plinean. Tipe letusan Merapi, disertai dengan luncuran awan panas dan letusan ke atas hingga puluhan kilometer ke atas. “Awan panas sangat kecil karena awan panas diakibatkan karena adanya material erupsi yang menumpuk di puncak dan sewaktu waktu gugur. Sementara itu, Gunung Raung tidak menumpuk di lereng dan tertampung di dalam lereng dan tidak rawan longsor,” jelas Mukijo

Secara geologi, menurutnya energi yang dilepas Gunung Raung secara bertahap sejak 2011 lalu membuat letusan letusan Raung tidak akan besar. Hal ini berbeda apabila ada sumbatan di jalur lava yang membuat letusan bisa lebih hebat ketika akumulasi energi dilepas tiba-tiba. ”Kalau sumbatan sudah terbuka sehingga ini tidak ada penumpukan energi. Maka untuk saat ini, Gunung Raung tidak akan meletus dengan besar,” terang Mukijo.

Makanya radius bahaya Gunung Raung berada di radius 3 kilometer dari bibir kawah dan masyarakat yang tinggal 6 sampai 8 kilometer dari raung. Jadi, masyarakat di luar radius bahaya masih dapat beraktivitas seperti biasa dan tidak perlu khawatir jika Raung akan meletus hebat.

Dampak lain yang mungkin paling dirasakan akibat letusan Gunung Raung adalah aktivitas penerbangan yang terhambat akibat semburan abu vulkanik Gunung Raung. Badan Geologi mencatat, abu vulkanik Raung bisa mencapai ketinggian maksimum 500 meter dari bibir kawah. Dijumlahkan dengan ketinggian Raung 3.300 meter, maka abu vulkanik bisa terlempar hingga 3.800 meter di atas permukaan laut. Angka ini jauh di bawah ketinggian jelajah terbang pesawat. Namun, arah angin bisa membawa material semburan abu vulkanik Raung dan berdampak terhadap aktivitas penerbangan.

MASYARAKAT di sekitar kaki Gunung Raung tidak perlu panik. Warga juga jangan mudah percaya dengan dugaan jika gunung itu akan meletus hebat dalam waktu dekat. Sebab, letusan Gunung Raung bertipe strombolian.

Gunung Raung akan memuntahkan material pijar seperti percikan kembang api, bila dilihat di malam hari. Hanya, karena kawah Gunung Raung tergolong dalam, maka percikan Raung tidak bisa dilihat dari kaki gunung.

Salah satu keunikan puncak Gunung Raung dengan ketinggian 3.332 meter dari permukaan laut (dpl) ini adalah memiliki kaldera dengan kedalaman sekitar 500 meter. Gunung ini selalu berasap, serta sering menyemburkan api.

Bentuk puncak Gunung Raung seperti kerucut terpotong dengan tonjolan dari sisa-sisa endapan lava dan barangko-barangko dari sisa endapan piroklastik. Sedangkan kaldera Gunung Raung berbentuk elips, berukuran 1.750 meter x 2.250 meter. Kaldera Gunung Raung memiliki kedalaman 400 meter sampai 550 meter. Selain itu, lereng kaldera sangat terjal. ”Gunung Raung tipe letusannya strombolian, potensi bahaya material pijar hanya berada di sekitar kawah saja, dan masih berada di dalam kaldera,” ungkap Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung Mukijo.

Menurut Mukijo kemungkinan untuk Gunung Raung meletus seperti Gunung Merapi dan Gunung Semeru sangat kecil. Karena jika dilihat tipe letusan Gunung Merapi berjenis Plinean. Tipe letusan Merapi, disertai dengan luncuran awan panas dan letusan ke atas hingga puluhan kilometer ke atas. “Awan panas sangat kecil karena awan panas diakibatkan karena adanya material erupsi yang menumpuk di puncak dan sewaktu waktu gugur. Sementara itu, Gunung Raung tidak menumpuk di lereng dan tertampung di dalam lereng dan tidak rawan longsor,” jelas Mukijo

Secara geologi, menurutnya energi yang dilepas Gunung Raung secara bertahap sejak 2011 lalu membuat letusan letusan Raung tidak akan besar. Hal ini berbeda apabila ada sumbatan di jalur lava yang membuat letusan bisa lebih hebat ketika akumulasi energi dilepas tiba-tiba. ”Kalau sumbatan sudah terbuka sehingga ini tidak ada penumpukan energi. Maka untuk saat ini, Gunung Raung tidak akan meletus dengan besar,” terang Mukijo.

Makanya radius bahaya Gunung Raung berada di radius 3 kilometer dari bibir kawah dan masyarakat yang tinggal 6 sampai 8 kilometer dari raung. Jadi, masyarakat di luar radius bahaya masih dapat beraktivitas seperti biasa dan tidak perlu khawatir jika Raung akan meletus hebat.

Dampak lain yang mungkin paling dirasakan akibat letusan Gunung Raung adalah aktivitas penerbangan yang terhambat akibat semburan abu vulkanik Gunung Raung. Badan Geologi mencatat, abu vulkanik Raung bisa mencapai ketinggian maksimum 500 meter dari bibir kawah. Dijumlahkan dengan ketinggian Raung 3.300 meter, maka abu vulkanik bisa terlempar hingga 3.800 meter di atas permukaan laut. Angka ini jauh di bawah ketinggian jelajah terbang pesawat. Namun, arah angin bisa membawa material semburan abu vulkanik Raung dan berdampak terhadap aktivitas penerbangan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/