alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Zuhri Nirwana, Pembuat Bonsai yang Stop Pakai Pohon Hasil Dongkelan

SITUBONDO – H Zuhri Nirwana merupakan salah satu pembuat bonsai di Kabupaten Situbondo. Namun, selama empat tahun terakhir dia memutuskan untuk berhenti membuat bonsai dari bahan pohon hasil dongkelan. Kenapa?

Mengunjungi kebun bonsai milik H Zuhri Nirwana di Desa Alas Malang, Kecamatan Panarukan akan disambut dengan keindahan tanaman yang menghijau. Pas di tengah, ada satu bangunan berdiri. Di lahan seluas hampir satu hektare ini, H Zuhri mamajang, merawat dan menanam pohon untuk keperluan bonsai. Jenisnya macam-macam. Ada Cemara Udang, Murbai, Asam, Jeruk, Serut dan Jambu.

Suara kicauan burung juga sering kali terdengar. Ternyata kebun ini menjadi salah satu tempat favorit beberapa jenis burung bermain di kawasan itu. Ada burung Cendet, Burung Ciblek, Burung Kutilang,  Burung Hantu dan Perkutut.“Yang bagus kalau pagi hari, bunyi burung bersahut-sahutan. Terdengar indah sekali,” kata H Zuhri kepada Koran ini.

Pria yang juga anggota DPRD Situbondo tersebut menerangkan, bisa dimaklumi kalau sejumlah burung sangat kerasan di kebunnya. Di tempat tersebut banyak pepohonan yang bisa membuat burung lincah meloncat dari dahan yang satu ke dahan yang lain. “Kalau sore saat, saat kita menghidupkan air untuk menyiram, sebagian burung ada yang mandi juga,” imbuh petani tebu tersebut.

Selain itu, di kebun yang diberi ‘Bonsai Nirwana’ itu, juga ada tanaman buah yang menjadi favorit makanan burung. Seperti pisang dan jambu, buah murbei. “Yang masak sering kita biarkan tetap dipohon agar bisa dimakan burung. Makanya kemudian banyak yang datang,” kata H Zuhri.

Banyaknya burung yang datang ke kebun H Zuhri tidak jarang membuat sejumlah orang yang memiliki hobby menembak datang mendekat. Mereka ingin menjadikan burung tersebut sebagai objek sasaran. “Ya kadang ada orang yang mau menembak, saya datangi, saya larang. Saya bilang kalau burung-burung ini dipelihara. Dan mereka bersedia tidak menembak,” terangnya.

Bapak empat anak ini mengaku tidak tahu berapa jumlah tanaman yang ada di kebunnya itu. Namun, yang pasti ribuan. Apalagi, sejak empat tahun terakhir, dirinya rajin mencangkok tanaman untuk bakalan bonsai. Khususnya cemara udang. “Sejak beberapa tahun terakhir ini saya memang berhenti membuat bonsai dari hasil dongkelan pohon yang diambil dari alam,” terangnya.

H Zuhri mengakui, saat awal memulai menekuni hobbynya membuat bonsai, dirinya sering kali membeli pohon dongkelan dari alam sebagai bahan bonsai. Hasilnya memang lebih maksimal. Pembelinya juga sudah banyak. Mulai dari Surabaya, Bali, Jogjakarta maupun lokalan seperti Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Probolinggo. “Dari segi ketuaan pohon, mendongkel memang lebih menjanjikan. Saya berhenti saat guru saya, almarhum Ustad Ahmad Zaini Ahsin dalam suatu kesempatan mampir di kebun bonsai ini,” kenangnya.

Saat melihat banyaknya bonsai hasil dongkelan pohon, Ustad Zaini sempat kaget. Sebab, H Zuhri dulunya adalah anggota WALHI, salah satu LSM yang punya konsen tinggi terhadap lingkungan dan alam. “Saya sempat ditanya kenapa harus pakai dongkelan? Apa gak bisa pakai cangkokak? Karena mendongkel dinilai merusak alam,” tegasnya.

Sejak saat itulah, H Zuhri berhenti total. Meski ada yang menawari, dia memilih tidak membelinya. “Saya berhenti (membuat bonsai dari pohon hasil dongkelan) lebih karena ada tanggung jawab moral pada alam. Karena jika kita dongkel dari alam, kita merusak alam. Apalagi pohon yang kita dongkel umurnya sudah puluhan bahkan ratusan. Di sana kan ada hak alam juga, mulai suplai oksigen, ada ekosistem juga di pohon itu. Burung membuat sarang di pohon yang besar dan rimbun,” paparnya.

Nah, satu minggu setelah kedatangan Ustad Zaini ke rumahnya, H Zuhri mulai nyangkok untuk membuat bibitan bonsai. Tidak tanggung-tanggung total jumlahnya mencapai 6.500 cangkokan.  “Ya akhirnya membiasakan dengan seperti ini. Dari cangkokan kita bentuk, tiga tahun kemudian sudah besar,” terangnya.

Diakui, secara produksi, membuat Bonsai dari cangkokan, memang sangat lamban. H Zuhri mencontohkan, membuat bonsai dari pohon dongkelan, kurang lebih butuh waktu lima tahun untuk membuatnya menjadi bonsai. Setelah itu sudah bisa dijual. Namun, jika dengan mencangkok, benar-benar dibutuhkan kesabaran.

“Bayangkan saja, tiga tahun itu, besarnya batang masih seperti lengan. Kemungkinan, untuk bisa jadi bahan seperti alam, itu menunggu sepuluh tahun, setelah itu baru kita bentuk. Tapi, enaknya kalau dengan mencangkok kita bisa membuat gerak seperti yang kita inginkan. Ada plus-minusmya semua. Tapi yang terpenting bagi saya, kita tidak merusak alam,” jlentreh H Zuhri.

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Hanura itu, materi bukanlah satu-satunya kepuasan. Namun, bisa banyak menanam, memberikan pada alam, kepuasan semacam itu jauh lebih berharga. (jon/pri)

SITUBONDO – H Zuhri Nirwana merupakan salah satu pembuat bonsai di Kabupaten Situbondo. Namun, selama empat tahun terakhir dia memutuskan untuk berhenti membuat bonsai dari bahan pohon hasil dongkelan. Kenapa?

Mengunjungi kebun bonsai milik H Zuhri Nirwana di Desa Alas Malang, Kecamatan Panarukan akan disambut dengan keindahan tanaman yang menghijau. Pas di tengah, ada satu bangunan berdiri. Di lahan seluas hampir satu hektare ini, H Zuhri mamajang, merawat dan menanam pohon untuk keperluan bonsai. Jenisnya macam-macam. Ada Cemara Udang, Murbai, Asam, Jeruk, Serut dan Jambu.

Suara kicauan burung juga sering kali terdengar. Ternyata kebun ini menjadi salah satu tempat favorit beberapa jenis burung bermain di kawasan itu. Ada burung Cendet, Burung Ciblek, Burung Kutilang,  Burung Hantu dan Perkutut.“Yang bagus kalau pagi hari, bunyi burung bersahut-sahutan. Terdengar indah sekali,” kata H Zuhri kepada Koran ini.

Pria yang juga anggota DPRD Situbondo tersebut menerangkan, bisa dimaklumi kalau sejumlah burung sangat kerasan di kebunnya. Di tempat tersebut banyak pepohonan yang bisa membuat burung lincah meloncat dari dahan yang satu ke dahan yang lain. “Kalau sore saat, saat kita menghidupkan air untuk menyiram, sebagian burung ada yang mandi juga,” imbuh petani tebu tersebut.

Selain itu, di kebun yang diberi ‘Bonsai Nirwana’ itu, juga ada tanaman buah yang menjadi favorit makanan burung. Seperti pisang dan jambu, buah murbei. “Yang masak sering kita biarkan tetap dipohon agar bisa dimakan burung. Makanya kemudian banyak yang datang,” kata H Zuhri.

Banyaknya burung yang datang ke kebun H Zuhri tidak jarang membuat sejumlah orang yang memiliki hobby menembak datang mendekat. Mereka ingin menjadikan burung tersebut sebagai objek sasaran. “Ya kadang ada orang yang mau menembak, saya datangi, saya larang. Saya bilang kalau burung-burung ini dipelihara. Dan mereka bersedia tidak menembak,” terangnya.

Bapak empat anak ini mengaku tidak tahu berapa jumlah tanaman yang ada di kebunnya itu. Namun, yang pasti ribuan. Apalagi, sejak empat tahun terakhir, dirinya rajin mencangkok tanaman untuk bakalan bonsai. Khususnya cemara udang. “Sejak beberapa tahun terakhir ini saya memang berhenti membuat bonsai dari hasil dongkelan pohon yang diambil dari alam,” terangnya.

H Zuhri mengakui, saat awal memulai menekuni hobbynya membuat bonsai, dirinya sering kali membeli pohon dongkelan dari alam sebagai bahan bonsai. Hasilnya memang lebih maksimal. Pembelinya juga sudah banyak. Mulai dari Surabaya, Bali, Jogjakarta maupun lokalan seperti Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Probolinggo. “Dari segi ketuaan pohon, mendongkel memang lebih menjanjikan. Saya berhenti saat guru saya, almarhum Ustad Ahmad Zaini Ahsin dalam suatu kesempatan mampir di kebun bonsai ini,” kenangnya.

Saat melihat banyaknya bonsai hasil dongkelan pohon, Ustad Zaini sempat kaget. Sebab, H Zuhri dulunya adalah anggota WALHI, salah satu LSM yang punya konsen tinggi terhadap lingkungan dan alam. “Saya sempat ditanya kenapa harus pakai dongkelan? Apa gak bisa pakai cangkokak? Karena mendongkel dinilai merusak alam,” tegasnya.

Sejak saat itulah, H Zuhri berhenti total. Meski ada yang menawari, dia memilih tidak membelinya. “Saya berhenti (membuat bonsai dari pohon hasil dongkelan) lebih karena ada tanggung jawab moral pada alam. Karena jika kita dongkel dari alam, kita merusak alam. Apalagi pohon yang kita dongkel umurnya sudah puluhan bahkan ratusan. Di sana kan ada hak alam juga, mulai suplai oksigen, ada ekosistem juga di pohon itu. Burung membuat sarang di pohon yang besar dan rimbun,” paparnya.

Nah, satu minggu setelah kedatangan Ustad Zaini ke rumahnya, H Zuhri mulai nyangkok untuk membuat bibitan bonsai. Tidak tanggung-tanggung total jumlahnya mencapai 6.500 cangkokan.  “Ya akhirnya membiasakan dengan seperti ini. Dari cangkokan kita bentuk, tiga tahun kemudian sudah besar,” terangnya.

Diakui, secara produksi, membuat Bonsai dari cangkokan, memang sangat lamban. H Zuhri mencontohkan, membuat bonsai dari pohon dongkelan, kurang lebih butuh waktu lima tahun untuk membuatnya menjadi bonsai. Setelah itu sudah bisa dijual. Namun, jika dengan mencangkok, benar-benar dibutuhkan kesabaran.

“Bayangkan saja, tiga tahun itu, besarnya batang masih seperti lengan. Kemungkinan, untuk bisa jadi bahan seperti alam, itu menunggu sepuluh tahun, setelah itu baru kita bentuk. Tapi, enaknya kalau dengan mencangkok kita bisa membuat gerak seperti yang kita inginkan. Ada plus-minusmya semua. Tapi yang terpenting bagi saya, kita tidak merusak alam,” jlentreh H Zuhri.

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Hanura itu, materi bukanlah satu-satunya kepuasan. Namun, bisa banyak menanam, memberikan pada alam, kepuasan semacam itu jauh lebih berharga. (jon/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/