alexametrics
27.5 C
Banyuwangi
Sunday, October 2, 2022

Memanfaatkan Atap untuk Budidaya Hidroponik, Sebulan Daniel Untung Rp 3 Juta

KALIPURO, Radar Banyuwangi – Budidaya tanaman hidroponik tidak harus membutuhkan lahan yang luas.  Teras rumah hingga balkon bisa disulap menjadi lahan dadakan untuk hidroponik. Daniel Oktavianus, petani muda asal Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, kini menekuni budidaya selada air lewat media hidroponik.

Pagi itu Daniel  mengecek kondisi tanaman selada air yang berada di lantai dua rumahnya. Dengan bantuan peralatan untuk memeriksa keasaman air dan tingkat nutrisi, dia memastikan tidak ada kandungan yang terlalu berlebih atau kurang. Demikian juga dengan jumlah air yang terletak di tandon buatan dengan ukuran sebesar ember. Daniel memastikan semuanya tidak ada yang kurang.

Setiap hari, Daniel  memeriksa jumlah air, tingkat keasaman, tingkat nutrisi, hingga kondisi tanamannya. Tak lupa juga, secara rutin dirinya melakukan pembersihan pada media tanam selada airnya jika mulai banyak lumut.

Lumut adalah musuh bagi petani hidroponik. Tumbuhan dari divisi Bryophyta ini bisa ikut menghabiskan nutrisi dan juga air yang digunakan untuk media tanam hidroponik. ”Keberadaan lumut dapat menghambat pertumbuhan tanaman hidroponik yang dibudidayakan, sehingga secara berkala perlu dilakukan pembersihan,” jelas pemuda 33 tahun itu.

Setiap beberapa minggu sekali, kegiatan yang biasa dilakukan adalah pembibitan tanaman. Benih tanaman selada air yang berukuran kecil, ia sebar pada kertas tisu yang sedikit dibasahi air. Mirip dengan saat percobaan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) saat duduk di bangku sekolah dasar (SD) dulu.

Baca Juga :  Karang Taruna Belajar Teknik Pertanian Hidroponik

Setelah diletakkan pada tisu, benih itu disimpan di tempat yang gelap selama kurang lebih satu hari lamanya. Keesokan harinya, benih akan mulai bertunas dan mengeluarkan daun kecil. Saat inilah, Daniel mulai memindahkan bibit-bibit ini ke media tanam yang disebut rockwool.

Sekitar seminggu kemudian, bibit muda ini siap dipindahkan ke rak pengembangbiakan. Dalam rak itulah tanaman-tanaman selada air dikembangbiakkan hingga dewasa dan siap panen. Kira-kira setelah 45 hari lamanya, tanaman siap dipanen untuk dijual ke swalayan atau usaha lain yang membutuhkannya.

Dari bertani hidroponik inilah, Daniel bisa meraih keuntungan yang besar. Setiap harinya, dia bisa memanen hingga 5 kilogram. Dalam sebulan, kurang lebih ada 150 kilogram selada air yang dipanen. ”Kalau per kilogramnya saya jual Rp 25 ribu, bisa dihitung sendiri berapa omzetnya,” katanya.

Penghasilan yang didapatkan alumnus Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini memang tidak main-main. Kalau dijumlahkan, besaran penghasilannya jauh lebih besar dari penghasilannya ketika masih bekerja di pelabuhan dulu. Memang, sebelum memutuskan aktif sebagai petani hidroponik, Daniel adalah seorang pekerja kantoran biasa di Pelabuhan Ketapang.

Daniel selalu teringat bagaimana dirinya merintis bisnis yang ditekuninya saat ini. ”Dulu saya mulai dari atap rumah,” ujarnya sambil tersenyum.

Atap rumah itu pada awalnya hanya digunakan sebagai tempat menjemur pakaian. Lalu, Daniel mencoba memanfaatkannya untuk membudidayakan tanaman. Sebelum mengenal hidroponik, dirinya mencoba menanam stroberi dengan media tanah dan polybag.

Agak aneh bagi kebanyakan orang, karena stroberi punya karakteristik harus ditanam pada tempat yang dingin. Bagian atap rumah tentunya bisa menjadi sangat panas di siang hari. Tidak masuk akal jika stroberi bisa tumbuh pada kondisi tersebut. Namun, ajaibnya stroberi tersebut bisa tumbuh dan berbuah, walaupun ukurannya tidak sebesar yang diharapkan.

Baca Juga :  Hermanto, Manusia Transformer asal Pulau Merah, Pesanggaran

Tak lelah bereksperimen dengan stroberi, Daniel mencoba menanam selada air dengan media air versinya sendiri. Bisa dibilang, ini adalah sistem hidroponik buatannya sendiri. Benih selada air ditempatkan di rockwool. Kemudian, rockwool tersebut diletakkan pada netpot, sebuah pot kecil yang biasa dipakai untuk meletakkan tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik. Netpot tersebut kemudian diletakkan pada baskom berisi air. Sayangnya, cara ini masih belum berhasil.

Tak putus asa, pemuda yang punya hobi fotografi ini kemudian mencoba untuk membuat sendiri media tanam hidroponik. Berbekal ilmu dari internet, dia membuat kebun hidroponik di lantai dua rumahnya yang memiliki luas 10 meter persegi. Dari kebun inilah, kegiatan yang ditekuninya mulai tahun 2020 ini mulai bisa memberikannya penghasilan.

Akhirnya pada awal tahun 2022, Daniel bisa mengembangkan kebunnya tidak hanya di atap rumahnya. Kini kebunnya juga merambah hingga atap sebuah kafe yang terletak di Jalan KH Agus Salim. (cw3/aif)

KALIPURO, Radar Banyuwangi – Budidaya tanaman hidroponik tidak harus membutuhkan lahan yang luas.  Teras rumah hingga balkon bisa disulap menjadi lahan dadakan untuk hidroponik. Daniel Oktavianus, petani muda asal Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, kini menekuni budidaya selada air lewat media hidroponik.

Pagi itu Daniel  mengecek kondisi tanaman selada air yang berada di lantai dua rumahnya. Dengan bantuan peralatan untuk memeriksa keasaman air dan tingkat nutrisi, dia memastikan tidak ada kandungan yang terlalu berlebih atau kurang. Demikian juga dengan jumlah air yang terletak di tandon buatan dengan ukuran sebesar ember. Daniel memastikan semuanya tidak ada yang kurang.

Setiap hari, Daniel  memeriksa jumlah air, tingkat keasaman, tingkat nutrisi, hingga kondisi tanamannya. Tak lupa juga, secara rutin dirinya melakukan pembersihan pada media tanam selada airnya jika mulai banyak lumut.

Lumut adalah musuh bagi petani hidroponik. Tumbuhan dari divisi Bryophyta ini bisa ikut menghabiskan nutrisi dan juga air yang digunakan untuk media tanam hidroponik. ”Keberadaan lumut dapat menghambat pertumbuhan tanaman hidroponik yang dibudidayakan, sehingga secara berkala perlu dilakukan pembersihan,” jelas pemuda 33 tahun itu.

Setiap beberapa minggu sekali, kegiatan yang biasa dilakukan adalah pembibitan tanaman. Benih tanaman selada air yang berukuran kecil, ia sebar pada kertas tisu yang sedikit dibasahi air. Mirip dengan saat percobaan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) saat duduk di bangku sekolah dasar (SD) dulu.

Baca Juga :  Pelaku Wisata Gunung Ijen Mengais Rezeki dari Mengawal Pengunjung

Setelah diletakkan pada tisu, benih itu disimpan di tempat yang gelap selama kurang lebih satu hari lamanya. Keesokan harinya, benih akan mulai bertunas dan mengeluarkan daun kecil. Saat inilah, Daniel mulai memindahkan bibit-bibit ini ke media tanam yang disebut rockwool.

Sekitar seminggu kemudian, bibit muda ini siap dipindahkan ke rak pengembangbiakan. Dalam rak itulah tanaman-tanaman selada air dikembangbiakkan hingga dewasa dan siap panen. Kira-kira setelah 45 hari lamanya, tanaman siap dipanen untuk dijual ke swalayan atau usaha lain yang membutuhkannya.

Dari bertani hidroponik inilah, Daniel bisa meraih keuntungan yang besar. Setiap harinya, dia bisa memanen hingga 5 kilogram. Dalam sebulan, kurang lebih ada 150 kilogram selada air yang dipanen. ”Kalau per kilogramnya saya jual Rp 25 ribu, bisa dihitung sendiri berapa omzetnya,” katanya.

Penghasilan yang didapatkan alumnus Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini memang tidak main-main. Kalau dijumlahkan, besaran penghasilannya jauh lebih besar dari penghasilannya ketika masih bekerja di pelabuhan dulu. Memang, sebelum memutuskan aktif sebagai petani hidroponik, Daniel adalah seorang pekerja kantoran biasa di Pelabuhan Ketapang.

Daniel selalu teringat bagaimana dirinya merintis bisnis yang ditekuninya saat ini. ”Dulu saya mulai dari atap rumah,” ujarnya sambil tersenyum.

Atap rumah itu pada awalnya hanya digunakan sebagai tempat menjemur pakaian. Lalu, Daniel mencoba memanfaatkannya untuk membudidayakan tanaman. Sebelum mengenal hidroponik, dirinya mencoba menanam stroberi dengan media tanah dan polybag.

Agak aneh bagi kebanyakan orang, karena stroberi punya karakteristik harus ditanam pada tempat yang dingin. Bagian atap rumah tentunya bisa menjadi sangat panas di siang hari. Tidak masuk akal jika stroberi bisa tumbuh pada kondisi tersebut. Namun, ajaibnya stroberi tersebut bisa tumbuh dan berbuah, walaupun ukurannya tidak sebesar yang diharapkan.

Baca Juga :  Pernah Jadi Pustu hingga Lokasi Tera Timbangan

Tak lelah bereksperimen dengan stroberi, Daniel mencoba menanam selada air dengan media air versinya sendiri. Bisa dibilang, ini adalah sistem hidroponik buatannya sendiri. Benih selada air ditempatkan di rockwool. Kemudian, rockwool tersebut diletakkan pada netpot, sebuah pot kecil yang biasa dipakai untuk meletakkan tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik. Netpot tersebut kemudian diletakkan pada baskom berisi air. Sayangnya, cara ini masih belum berhasil.

Tak putus asa, pemuda yang punya hobi fotografi ini kemudian mencoba untuk membuat sendiri media tanam hidroponik. Berbekal ilmu dari internet, dia membuat kebun hidroponik di lantai dua rumahnya yang memiliki luas 10 meter persegi. Dari kebun inilah, kegiatan yang ditekuninya mulai tahun 2020 ini mulai bisa memberikannya penghasilan.

Akhirnya pada awal tahun 2022, Daniel bisa mengembangkan kebunnya tidak hanya di atap rumahnya. Kini kebunnya juga merambah hingga atap sebuah kafe yang terletak di Jalan KH Agus Salim. (cw3/aif)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/