28.8 C
Banyuwangi
Saturday, February 4, 2023

Awali Karir dari Penyiar Radio, Dikenal Humoris dan Tegas

In Memoriam Ardian Fanani, Kontributor Detik.Com di Banyuwangi

Inaillahi wainnaillahi roji’un. Telah meninggal dunia sahabat kita Ivan detik.com. semoga amal perbuatannya diterima Allah SWT,” begitu pesan yang dikirimkan Ketua PWI Banyuwangi, Syaifuddin Mahmud di WhatsApp grup PWI .

Sontak kabar duka tersebut mengejutkan seluruh wartawan di Banyuwangi. Seolah tak percaya dengan kabar meninggalnya Ivan. Maklum, jurnalis detik.com itu semasa hidupnya memang dikenal sebagai sosok yang ramah, humoris, santun dan tegas.

Ivan tutup usia sekitar pukul 13.00 di RSUD Blambangan, Sabtu (14/1). Sebelum meninggal dunia, Ivan sempat melakukan liputan kunjungan  Menparekraf Sandiaga Uno di Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro. Dari Pesucen, Ivan dan rekan-rekannya sesama jurnalis bergeser ke Mapolsek Giri untuk meliput insiden penodongan yang menimpa seorang ibu rumah tangga.

Dari Polsek Giri, Ivan yang satu mobil dengan Afla, wartawan tribunnews.com langsung meluncur ke rumah kontrakan Nurul Yaqin (wartawan suaraindonesia.co.id) di Jalan Mawar Banyuwangi. Di sana, tujuh orang wartawan merayakan ulang tahun Nurul Yaqin dengan makan-makan seadanya. Sepulang dari rumah Yaqin, Ivan ditemani Afla, menuju ke SPBU Jalan Gajahmada. Maklum ban mobil pada malam sebelumnya tertancap paku. ”Ke pom bensin untuk mencabut paku daripada bocor di jalan,’’ kata Afla.

Sembari menunggu ban mobil ditangani tukang tambal ban, Ivan dan Afla menunggu di warung kopi sebelah selatan SPBU. Ivan pesan teh hangat, Afla kopi. Belum sempat diminum, Ivn mengeluh pusing kepala. Akhirnya Ivan memilih menunggu di mobil yang bannya sedang ditambal. Saat berjalan menuju mobil, Ivan terjatuh. ”Kebetulan ada petugas RSUD Blambangan sedang mengisi BBM di SPBU. Mas Ivan akhirnya dinaikkan mobil, lalu dibawa ke RSUD,’’ kenang Afla.

Ivan langsung dimasukkan ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Blambangan. Seluruh rekan-rekannya  langsung bergeser menuju RSUD Blambangan. Takdir berkata lain, sekitar pukul 13.00, Ivan dinyatakan meninggalkan dunia.

Kabar duka tersebut tersiar cepat ke masyarakat. Rekan sejawat seolah tak percaya dengan kepergian jurnalis yang dikenal humoris tersebut. “Almarhum sosok yang humble, ulet, dan punya kemauan kuat. Kalau lagi liputan yang isunya kuat, dia all out menggali informasi berkaitan dengan topik yang ingin diungkap,” ungkap M Hujaini, wartawan ngopibareng.id.

Jae –panggilan akrab Hujaini, mencontohkan,  saat ramai pemberitaan Gunung Raung meletus dan KKN di Desa Penari, hampir setiap hari Ivan selalu hunting dengan menggali informasi sampai masuk ke hutan di Kecamatan Songgon. Tidak hanya siang hari, tapi hingga larut malam. Termasuk saat ramai pemberitaan viralnya penyanyi cilik Banyuwangi Farel Prayoga.

Baca Juga :  Dulu Kepincut Ramalan SDSB, Kini Jadi Media Hiburan dan Edukasi

Karir Ivan sebagai jurnalis dimulai pada awal tahun 2000-an. Kala itu Ivan sebagai seorang penyiar di Radio Mandala FM dengan segmen siaran lagu-lagu nostalgia dan informasi seputar Banyuwangi. “Setelah masuk jadi penyiar, saya sempat berdiskusi dan menyarankan agar Ivan juga belajar menjadi jurnalis untuk menambah wawasan dan jaringan,” ungkap Happy Oktavia, teman sejawatnya yang kala itu sama-sama bekerja di Radio Mandala FM.

Saran yang disampaikan Happy ternyata diikuti Ivan. Pria yang selalu mengenakan udeng khas Banyuwangi  di setiap acara penting  itu menuruti saran Happy. Ivan mulai belajar sebagai reporter radio dengan ikut terjun ke lapangan mengikuti reporter senior. “Setelah seharian liputan, begitu tiba di kantor Mandala, saya yang membimbing Ivan menulis naskah berita. Awal bikin naskah ngetiknya lama, tapi lambat laun akhirnya lancar,” tutur Happy yang kini bekerja sebagai kontributor tvOne tersebut.

Di mata Happy, Ivan sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri. Maklum, sejak bekerja sebagai penyiar radio, hubungan tak sebatas teman, melainkan sudah seperti keluarga sendiri. “Kalau pagi belum sarapan dan warung belum buka, dia biasa datang ke rumah ndadar telur dan sarapan bareng. Seperti adik sendiri,” kenang Happy.

Humas Univeristas 17 Agustus 1945 Banyuwangi Anggi Amanda mengaku pernah bersama Ivan sebagai sesama penyiar di era tahun 2005. Dia mengenal Ivan sebagai sosok senior di dunia broadcast yang tidak pernah pelit ilmu.

“Selalu punya ide-ide out of the box, bahkan bisa dibilang ide gila yang di luar dugaan. Dia selalu mau membimbing dan membersamai adik-adik juniornya dengan gayanya yang humoris dan suka bercanda. Terakhir, dia menawarkan diri buat ngajarin mahasiswa Untag buat nulis berita kampus. Tapi belum dimulai, beliau sudah meninggalkan kami untuk selama-lamanya,” terang Anggi.

Karir ivan mulai moncer di tahun 2017 dengan bergabung bersama detik.com. Sejak itulah, karya-karya tulisannya banyak menghiasi dan banyak dibaca masyarakat luas. Dalam berbagai kesempatan, sosok Ivan yang humoris kerap mampu mencairkan suasana.  ”Jika ada ketegangan atau persoalan, Mas Ivan ini mampu hadir menjadi penengah (mediator) yang tegas dan mampu mendamaikan kedua belah pihak,” cetus Fredy Rizki Manunggal, wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi.

KENANGAN TERAKHIR: Ardian Fanani alias Ivan bersama rekan jurnalis Banyuwangi saat meliput kunjungan Menparekraf Sandiaga Uno di Desa Pesucen, Kecamatan Glagah, Sabtu (14/1).

Setiap harinya, para jurnalis yang berkumpul di press room DPRD Banyuwangi pasti mengenal dekat siapa Ivan. Selain terkenal humoris, sosok Ivan juga dikenal sebagai pemberani dan suka menolong. “Mas Ivan ini suka jahil, tapi ya lucu dan bikin mental jadi kuat. Kalau ada rezeki sering berbagi dan jika rekan yang kesusahan itu cepat membantu, jiwa penolongnya luar biasa,” terang Fredy.

Baca Juga :  3 Tahun Jabat Kasi Humas, Iptu Lita Kurniawan Kini Menguasai Ilmu Jurnalistik

Tidak hanya sebagai jurnalis, Ivan juga aktif sebagai Pembina Paguyuban Jebeng Thulik (PJT) Banyuwangi yang merupakan wadah para finalis Jebeng Thulik di Banyuwangi. “Mas Ivan sering melempar candaan yang membuat suasana mencair. Seketika langsung group langsung rame,” cetus Anton Saverius yang ikut mengantar jenazah almarhum Ivan.

Kiprah Ivan di Jebeng Thulik Banyuwangi sangat dirasakan. Sosoknya mampu hadir sebagai ruh jebeng thulik Banyuwangi. Sejak menjabat sebagai Ketua Paguyuban Jebeng Thulik tahun 2005-2018, ide dan gagasanya selalu ada saja. “Mas Ardian  salah satu inisiator Jebeng Thulik cilik bersama saya dan (alm) Irwan Sutandi,” terang Nur Kholil pembina PJT Banyuwangi.

Tidak sampai di situ, Ivan adalah sosok pemikir yang peduli dengan kesenian, kebudayaan daerah Banyuwangi melalui Jebeng Thulik. ”Kalau di organisasi Jebeng Thulik kiprah dan peranya sangat luar biasa. Dia salah satu yang mencetuskan adanya karantina Jebeng Thulik dengan induk semang di Desa Kemiren sampai, table manner ke hotel-hotel dan kunjungan ke berbagai instansi semuanya itu berkat idenya Ivan,” kata Holil.

Di kalangan PJT, Ivan ditasbihkan sebagai ketua Paguyuban Jebeng Thulik seumur hidup. “Beliau ini memiliki pengetahuan dan jaringan yang luas. Kumpul dengan ivan ini itu tidak ada susahnya selalu ada saja candaan dan gurauan yang menghibur. Jika ada persoalan, dia siap pasang badan dan mampu menyelesaikan persoalan dengan baik. Kami sangat kehilangan,” kata Holil.

Ketua PWI Banyuwangi Syaifuddin Mahmud mengaku kehilangan dengan sosok Ivan. Di kepengurusan PWI Banyuwangi, Ivan duduk sebagai wakil bendahara.  ”Minggu kemarin (15/1) sedianya  kita akan adakan rapat untuk persiapan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada 9 Februari. Belum sempat rapat, wakil bendahara sudah dipanggil Allah SWT. InsyaAllah Mas Ivan meninggal husnul khatimah,” kata  Syaifuddin.

Jenazah Ivan disemayamkan di rumah duka Jalan Cut Nyak Din, Kelurahan Tukang Kayu RT 01/ RW 03, Banyuwangi dan dimakamkan di TPU Setro Penganten, Kelurahan Tukang Kayu. Selamat jalan Ivan. Terima kasih atas dedikasi hebatmu, tutup usia saat menunaikan tugas jurnalistik. (aif)

 

Inaillahi wainnaillahi roji’un. Telah meninggal dunia sahabat kita Ivan detik.com. semoga amal perbuatannya diterima Allah SWT,” begitu pesan yang dikirimkan Ketua PWI Banyuwangi, Syaifuddin Mahmud di WhatsApp grup PWI .

Sontak kabar duka tersebut mengejutkan seluruh wartawan di Banyuwangi. Seolah tak percaya dengan kabar meninggalnya Ivan. Maklum, jurnalis detik.com itu semasa hidupnya memang dikenal sebagai sosok yang ramah, humoris, santun dan tegas.

Ivan tutup usia sekitar pukul 13.00 di RSUD Blambangan, Sabtu (14/1). Sebelum meninggal dunia, Ivan sempat melakukan liputan kunjungan  Menparekraf Sandiaga Uno di Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro. Dari Pesucen, Ivan dan rekan-rekannya sesama jurnalis bergeser ke Mapolsek Giri untuk meliput insiden penodongan yang menimpa seorang ibu rumah tangga.

Dari Polsek Giri, Ivan yang satu mobil dengan Afla, wartawan tribunnews.com langsung meluncur ke rumah kontrakan Nurul Yaqin (wartawan suaraindonesia.co.id) di Jalan Mawar Banyuwangi. Di sana, tujuh orang wartawan merayakan ulang tahun Nurul Yaqin dengan makan-makan seadanya. Sepulang dari rumah Yaqin, Ivan ditemani Afla, menuju ke SPBU Jalan Gajahmada. Maklum ban mobil pada malam sebelumnya tertancap paku. ”Ke pom bensin untuk mencabut paku daripada bocor di jalan,’’ kata Afla.

Sembari menunggu ban mobil ditangani tukang tambal ban, Ivan dan Afla menunggu di warung kopi sebelah selatan SPBU. Ivan pesan teh hangat, Afla kopi. Belum sempat diminum, Ivn mengeluh pusing kepala. Akhirnya Ivan memilih menunggu di mobil yang bannya sedang ditambal. Saat berjalan menuju mobil, Ivan terjatuh. ”Kebetulan ada petugas RSUD Blambangan sedang mengisi BBM di SPBU. Mas Ivan akhirnya dinaikkan mobil, lalu dibawa ke RSUD,’’ kenang Afla.

Ivan langsung dimasukkan ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Blambangan. Seluruh rekan-rekannya  langsung bergeser menuju RSUD Blambangan. Takdir berkata lain, sekitar pukul 13.00, Ivan dinyatakan meninggalkan dunia.

Kabar duka tersebut tersiar cepat ke masyarakat. Rekan sejawat seolah tak percaya dengan kepergian jurnalis yang dikenal humoris tersebut. “Almarhum sosok yang humble, ulet, dan punya kemauan kuat. Kalau lagi liputan yang isunya kuat, dia all out menggali informasi berkaitan dengan topik yang ingin diungkap,” ungkap M Hujaini, wartawan ngopibareng.id.

Jae –panggilan akrab Hujaini, mencontohkan,  saat ramai pemberitaan Gunung Raung meletus dan KKN di Desa Penari, hampir setiap hari Ivan selalu hunting dengan menggali informasi sampai masuk ke hutan di Kecamatan Songgon. Tidak hanya siang hari, tapi hingga larut malam. Termasuk saat ramai pemberitaan viralnya penyanyi cilik Banyuwangi Farel Prayoga.

Baca Juga :  Meskipun Berukuran Besar, Hiu Tak Ganggu Aktivitas Penyeberangan

Karir Ivan sebagai jurnalis dimulai pada awal tahun 2000-an. Kala itu Ivan sebagai seorang penyiar di Radio Mandala FM dengan segmen siaran lagu-lagu nostalgia dan informasi seputar Banyuwangi. “Setelah masuk jadi penyiar, saya sempat berdiskusi dan menyarankan agar Ivan juga belajar menjadi jurnalis untuk menambah wawasan dan jaringan,” ungkap Happy Oktavia, teman sejawatnya yang kala itu sama-sama bekerja di Radio Mandala FM.

Saran yang disampaikan Happy ternyata diikuti Ivan. Pria yang selalu mengenakan udeng khas Banyuwangi  di setiap acara penting  itu menuruti saran Happy. Ivan mulai belajar sebagai reporter radio dengan ikut terjun ke lapangan mengikuti reporter senior. “Setelah seharian liputan, begitu tiba di kantor Mandala, saya yang membimbing Ivan menulis naskah berita. Awal bikin naskah ngetiknya lama, tapi lambat laun akhirnya lancar,” tutur Happy yang kini bekerja sebagai kontributor tvOne tersebut.

Di mata Happy, Ivan sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri. Maklum, sejak bekerja sebagai penyiar radio, hubungan tak sebatas teman, melainkan sudah seperti keluarga sendiri. “Kalau pagi belum sarapan dan warung belum buka, dia biasa datang ke rumah ndadar telur dan sarapan bareng. Seperti adik sendiri,” kenang Happy.

Humas Univeristas 17 Agustus 1945 Banyuwangi Anggi Amanda mengaku pernah bersama Ivan sebagai sesama penyiar di era tahun 2005. Dia mengenal Ivan sebagai sosok senior di dunia broadcast yang tidak pernah pelit ilmu.

“Selalu punya ide-ide out of the box, bahkan bisa dibilang ide gila yang di luar dugaan. Dia selalu mau membimbing dan membersamai adik-adik juniornya dengan gayanya yang humoris dan suka bercanda. Terakhir, dia menawarkan diri buat ngajarin mahasiswa Untag buat nulis berita kampus. Tapi belum dimulai, beliau sudah meninggalkan kami untuk selama-lamanya,” terang Anggi.

Karir ivan mulai moncer di tahun 2017 dengan bergabung bersama detik.com. Sejak itulah, karya-karya tulisannya banyak menghiasi dan banyak dibaca masyarakat luas. Dalam berbagai kesempatan, sosok Ivan yang humoris kerap mampu mencairkan suasana.  ”Jika ada ketegangan atau persoalan, Mas Ivan ini mampu hadir menjadi penengah (mediator) yang tegas dan mampu mendamaikan kedua belah pihak,” cetus Fredy Rizki Manunggal, wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi.

KENANGAN TERAKHIR: Ardian Fanani alias Ivan bersama rekan jurnalis Banyuwangi saat meliput kunjungan Menparekraf Sandiaga Uno di Desa Pesucen, Kecamatan Glagah, Sabtu (14/1).

Setiap harinya, para jurnalis yang berkumpul di press room DPRD Banyuwangi pasti mengenal dekat siapa Ivan. Selain terkenal humoris, sosok Ivan juga dikenal sebagai pemberani dan suka menolong. “Mas Ivan ini suka jahil, tapi ya lucu dan bikin mental jadi kuat. Kalau ada rezeki sering berbagi dan jika rekan yang kesusahan itu cepat membantu, jiwa penolongnya luar biasa,” terang Fredy.

Baca Juga :  Karya Lokal Banyuwangi Di ajang Miss Universe, Bangga Donk

Tidak hanya sebagai jurnalis, Ivan juga aktif sebagai Pembina Paguyuban Jebeng Thulik (PJT) Banyuwangi yang merupakan wadah para finalis Jebeng Thulik di Banyuwangi. “Mas Ivan sering melempar candaan yang membuat suasana mencair. Seketika langsung group langsung rame,” cetus Anton Saverius yang ikut mengantar jenazah almarhum Ivan.

Kiprah Ivan di Jebeng Thulik Banyuwangi sangat dirasakan. Sosoknya mampu hadir sebagai ruh jebeng thulik Banyuwangi. Sejak menjabat sebagai Ketua Paguyuban Jebeng Thulik tahun 2005-2018, ide dan gagasanya selalu ada saja. “Mas Ardian  salah satu inisiator Jebeng Thulik cilik bersama saya dan (alm) Irwan Sutandi,” terang Nur Kholil pembina PJT Banyuwangi.

Tidak sampai di situ, Ivan adalah sosok pemikir yang peduli dengan kesenian, kebudayaan daerah Banyuwangi melalui Jebeng Thulik. ”Kalau di organisasi Jebeng Thulik kiprah dan peranya sangat luar biasa. Dia salah satu yang mencetuskan adanya karantina Jebeng Thulik dengan induk semang di Desa Kemiren sampai, table manner ke hotel-hotel dan kunjungan ke berbagai instansi semuanya itu berkat idenya Ivan,” kata Holil.

Di kalangan PJT, Ivan ditasbihkan sebagai ketua Paguyuban Jebeng Thulik seumur hidup. “Beliau ini memiliki pengetahuan dan jaringan yang luas. Kumpul dengan ivan ini itu tidak ada susahnya selalu ada saja candaan dan gurauan yang menghibur. Jika ada persoalan, dia siap pasang badan dan mampu menyelesaikan persoalan dengan baik. Kami sangat kehilangan,” kata Holil.

Ketua PWI Banyuwangi Syaifuddin Mahmud mengaku kehilangan dengan sosok Ivan. Di kepengurusan PWI Banyuwangi, Ivan duduk sebagai wakil bendahara.  ”Minggu kemarin (15/1) sedianya  kita akan adakan rapat untuk persiapan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada 9 Februari. Belum sempat rapat, wakil bendahara sudah dipanggil Allah SWT. InsyaAllah Mas Ivan meninggal husnul khatimah,” kata  Syaifuddin.

Jenazah Ivan disemayamkan di rumah duka Jalan Cut Nyak Din, Kelurahan Tukang Kayu RT 01/ RW 03, Banyuwangi dan dimakamkan di TPU Setro Penganten, Kelurahan Tukang Kayu. Selamat jalan Ivan. Terima kasih atas dedikasi hebatmu, tutup usia saat menunaikan tugas jurnalistik. (aif)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/