alexametrics
29 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Baru Beberapa Hari, Sudah Bisa Main Lagu Jaran Goyang

Sudah dua pekan lamanya mahasiswa dari 12 negara yang tergabung di program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI) tinggal di Banyuwangi. Melalui tangan dingin pelatih Subari Sofyan, mereka mulai menguasai beberapa budaya Bumi Blambangan.

FREDY RIZKI, Giri

GEMA suara gamelan terdengar mengalun kencang di halaman penginapan Wisma Atlet Banyuwangi. Tempat itu berada tak jauh dari kompleks Gelanggang Olah Raga (GOR) Tawang Alun.

Sekilas, suara alunan nada itu tidak jauh berbeda dengan nada yang muncul setiap dihelat pergelaran budaya lokal. Namun, ketika didengarkan lebih dalam, masih ada suara ketukan yang masih kurang halus.

Benar saja. Ternyata suara musik itu berasal dari tangan 12 orang mahasiswa asing. Mereka tengah berlatih musik tradisional Suku Oseng di halaman Wisma Atlet. Meski terlihat belum mahir benar, tetapi mereka sangat bersemangat berlatih.

Bahkan, setelah beberapa orang mulai mengerumuni mereka, para mahasiswa itu tak satu pun kelihatan gugup. Lagu-lagu daerah populer seperti Padang Ulan, Impen Impenen, sampai Jaran Goyang, terdengar dimainkan dalam latihan itu. Ada salah seorang mahasiswa asing yang menggunakan alat music saxophone dan mengiringi alat musik tradisional seperti saron, kenong, patrol, dan gong.

Materi latihan hari itu, menurut penanggung jawab sanggar Sayu Gringsing, Subari Sofyan, adalah yang kesekian kali dicoba kepada para mahasiswa tersebut. Sebagai anak-anak muda yang tak tahu sama sekali budaya Banyuwangi, perkembangan Giovano Sondakh, Junior Toffi, Custodio Dos Santos e Silva, Yui Moriya, Nelly Ivanova, Mohammad Farhan Zeb Khan, Leng Leakena, Hazirah Nur Fatihah Rosli, Sorif Awaekuechi, dan Mimi Azianty Alihab, ternyata cukup mengesankan.

Sudah ada dua materi tari dan satu materi lagu yang dipelajari. Ditambah lagi, beberapa kosa kata bahasa Oseng yang sudah mereka kuasai. Setiap hari, semua mahasiswa diberikan materi tentang musik, tari, budaya, dan bahasa. ”Aktivitas kita mulai pukul tujuh pagi. Setelah olahraga ringan dan sarapan, pukul 09.00 sampai pukul 11.00, kita beri materi musik. Kemudian pukul 13.00 sampai pukul 15.00 materi bahasa dan budaya. Terakhir pada sore hari pukul 16.00 sampai pukul 17.00 ada materi tari. Mereka juga kita beri waktu remidi mulai pukul 18.00 sampai malam,” terang seniman yang tinggal di Kelurahan Kampung Melayu itu.

Baca Juga :  Tidak Pernah Sekolah, Belajar Ngaji Bersama Orang Tua

Untuk alat musik, mulai angklung, saron, slentem, patrol, jidor, gong, dan terbang mulai bisa dimainkan oleh para mahasiswa dengan baik. Kemudian tari-tarian seperti tari gandrung dan sinar udara juga mulai bisa dikuasai. Subari menilai, ada minat yang cukup besar dari para mahasiswa itu untuk berlatih.

Jadi, kata dia, meskipun mengajari mereka dari nol, tetapi hal tersebut terasa tidak terlalu berat karena diiringi minat yang tinggi. ”Kalau secara teknik mereka ini sudah bagus, cuma mungkin dari penghayatan budaya saja yang sulit. Mungkin karena mereka juga dari budaya yang berbeda. Karena itu setiap materi, saya selalu menyertakan filosofinya. Seperti menari, kita sampaikan jika menjadi penari di Banyuwangi tidak mudah, ada ritual-ritualnya,” terang Subari.

Selain memberikan materi sesuai pakem budaya Banyuwangi, Subari juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa yang memiliki skill memainkan alat musik lain untuk memainkan musik tradisional. ”Di sini ada yang bisa bermain gitar, saxophone, dan elektone. Ya, mereka kita ajari juga. Jadi nanti mereka ini kan akan menjadi duta budaya, sehingga musik tradisional Oseng juga bisa dimainkan dengan alat musik lain,” imbuhnya.

Subari mengatakan, mengasuh 12 mahasiswa dengan karakter budaya berbeda-beda, bisa dibilang gampang-gampang susah. Selain harus berhati-hati dalam beberapa hal, seperti penyebutan nama, dan cara penyampaian materi, dirinya juga harus bisa membuat mereka nyaman.

Untuk masalah makanan contohnya. Karena sebagian berasal dari negara di luar ASEAN seperti Jepang, Azerbaijan, dan Bulgaria, dia pun harus bisa ’memaksa’ semuanya untuk bisa menerima makanan lokal. ”Tidak ada masalah sebenarnya untuk makanan, tapi saya menekankan kalau mereka juga harus bisa membiasakan lidahnya menerima masakan Banyuwangi. Karena ini juga sebagian dari budaya Banyuwangi,” kata Subari.

Baca Juga :  Hasil Kerajinan Tembus Pasar Mancanegara

Sesekali, Subari juga memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk memasak makanan asal negara asalnya. Biasanya dia memberikan kesempatan itu di akhir pekan. Jadi, dia meminta daftar bahan makanan terlebih dahulu. Lalu, Subari belanja bahan-bahan tersebut dan membiarkan para mahasiswa itu memasak sendiri. ”Biasanya malam minggu mereka kita beri kesempatan memasak sendiri. Seperti besok ini mereka mau masak Tomyam, ya nanti saya carikan bahannya,” terang subari.

Selain memberikan materi secara langsung, rencananya 12 mahasiswa itu akan dibawanya ke Desa Kemiren supaya bisa melihat langsung aktivitas budaya Suku Oseng. ”Mungkin bulan depan, kita carikan keluarga asuh di Desa Kemiren. Jadi mereka akan ikut aktivitas budaya di sana, termasuk keseharian keluarga asuh. Nanti kita lihat, apa mental mereka tetap bagus ketika harus masuk ke masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Yui Moriya, mahasiswa asal Jepang mengatakan, salah satu hal yang cukup sulit adalah bahasa Oseng. Apalagi, Yui mengaku belum mahir berbahasa Indonesia. Dia juga mengatakan, awalnya cukup sulit menyesuaikan dengan makanan Banyuwangi. Karena di negara asalnya jarang ada makanan pedas dan berminyak. ”Di Jepang, saya tidak makan makanan berminyak. Tetapi di sini, saya suka tahu walik,” ujarnya dengan bahasa Indonesia terbata-bata.

Arzu Muradova, mahasiswi dari Azerbaijan mengatakan, tiga hari pertama menurutnya menjadi masa paling sulit. Karena harus mempelajari beberapa kebudayaan yang benar-benar berbeda. ”Tapi setelah itu, semuanya mulai terbiasa. Cuma saya tidak bisa makan pedas. Jadi harus membawa kecap manis ke mana-mana,” tegasnya.

Sudah dua pekan lamanya mahasiswa dari 12 negara yang tergabung di program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI) tinggal di Banyuwangi. Melalui tangan dingin pelatih Subari Sofyan, mereka mulai menguasai beberapa budaya Bumi Blambangan.

FREDY RIZKI, Giri

GEMA suara gamelan terdengar mengalun kencang di halaman penginapan Wisma Atlet Banyuwangi. Tempat itu berada tak jauh dari kompleks Gelanggang Olah Raga (GOR) Tawang Alun.

Sekilas, suara alunan nada itu tidak jauh berbeda dengan nada yang muncul setiap dihelat pergelaran budaya lokal. Namun, ketika didengarkan lebih dalam, masih ada suara ketukan yang masih kurang halus.

Benar saja. Ternyata suara musik itu berasal dari tangan 12 orang mahasiswa asing. Mereka tengah berlatih musik tradisional Suku Oseng di halaman Wisma Atlet. Meski terlihat belum mahir benar, tetapi mereka sangat bersemangat berlatih.

Bahkan, setelah beberapa orang mulai mengerumuni mereka, para mahasiswa itu tak satu pun kelihatan gugup. Lagu-lagu daerah populer seperti Padang Ulan, Impen Impenen, sampai Jaran Goyang, terdengar dimainkan dalam latihan itu. Ada salah seorang mahasiswa asing yang menggunakan alat music saxophone dan mengiringi alat musik tradisional seperti saron, kenong, patrol, dan gong.

Materi latihan hari itu, menurut penanggung jawab sanggar Sayu Gringsing, Subari Sofyan, adalah yang kesekian kali dicoba kepada para mahasiswa tersebut. Sebagai anak-anak muda yang tak tahu sama sekali budaya Banyuwangi, perkembangan Giovano Sondakh, Junior Toffi, Custodio Dos Santos e Silva, Yui Moriya, Nelly Ivanova, Mohammad Farhan Zeb Khan, Leng Leakena, Hazirah Nur Fatihah Rosli, Sorif Awaekuechi, dan Mimi Azianty Alihab, ternyata cukup mengesankan.

Sudah ada dua materi tari dan satu materi lagu yang dipelajari. Ditambah lagi, beberapa kosa kata bahasa Oseng yang sudah mereka kuasai. Setiap hari, semua mahasiswa diberikan materi tentang musik, tari, budaya, dan bahasa. ”Aktivitas kita mulai pukul tujuh pagi. Setelah olahraga ringan dan sarapan, pukul 09.00 sampai pukul 11.00, kita beri materi musik. Kemudian pukul 13.00 sampai pukul 15.00 materi bahasa dan budaya. Terakhir pada sore hari pukul 16.00 sampai pukul 17.00 ada materi tari. Mereka juga kita beri waktu remidi mulai pukul 18.00 sampai malam,” terang seniman yang tinggal di Kelurahan Kampung Melayu itu.

Baca Juga :  Abu Vulkanik Bisa Suburkan Tanah dalam Jangka Panjang

Untuk alat musik, mulai angklung, saron, slentem, patrol, jidor, gong, dan terbang mulai bisa dimainkan oleh para mahasiswa dengan baik. Kemudian tari-tarian seperti tari gandrung dan sinar udara juga mulai bisa dikuasai. Subari menilai, ada minat yang cukup besar dari para mahasiswa itu untuk berlatih.

Jadi, kata dia, meskipun mengajari mereka dari nol, tetapi hal tersebut terasa tidak terlalu berat karena diiringi minat yang tinggi. ”Kalau secara teknik mereka ini sudah bagus, cuma mungkin dari penghayatan budaya saja yang sulit. Mungkin karena mereka juga dari budaya yang berbeda. Karena itu setiap materi, saya selalu menyertakan filosofinya. Seperti menari, kita sampaikan jika menjadi penari di Banyuwangi tidak mudah, ada ritual-ritualnya,” terang Subari.

Selain memberikan materi sesuai pakem budaya Banyuwangi, Subari juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa yang memiliki skill memainkan alat musik lain untuk memainkan musik tradisional. ”Di sini ada yang bisa bermain gitar, saxophone, dan elektone. Ya, mereka kita ajari juga. Jadi nanti mereka ini kan akan menjadi duta budaya, sehingga musik tradisional Oseng juga bisa dimainkan dengan alat musik lain,” imbuhnya.

Subari mengatakan, mengasuh 12 mahasiswa dengan karakter budaya berbeda-beda, bisa dibilang gampang-gampang susah. Selain harus berhati-hati dalam beberapa hal, seperti penyebutan nama, dan cara penyampaian materi, dirinya juga harus bisa membuat mereka nyaman.

Untuk masalah makanan contohnya. Karena sebagian berasal dari negara di luar ASEAN seperti Jepang, Azerbaijan, dan Bulgaria, dia pun harus bisa ’memaksa’ semuanya untuk bisa menerima makanan lokal. ”Tidak ada masalah sebenarnya untuk makanan, tapi saya menekankan kalau mereka juga harus bisa membiasakan lidahnya menerima masakan Banyuwangi. Karena ini juga sebagian dari budaya Banyuwangi,” kata Subari.

Baca Juga :  Mulyono, Pasangi Sepeda Ontel dengan Mesin Motor

Sesekali, Subari juga memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk memasak makanan asal negara asalnya. Biasanya dia memberikan kesempatan itu di akhir pekan. Jadi, dia meminta daftar bahan makanan terlebih dahulu. Lalu, Subari belanja bahan-bahan tersebut dan membiarkan para mahasiswa itu memasak sendiri. ”Biasanya malam minggu mereka kita beri kesempatan memasak sendiri. Seperti besok ini mereka mau masak Tomyam, ya nanti saya carikan bahannya,” terang subari.

Selain memberikan materi secara langsung, rencananya 12 mahasiswa itu akan dibawanya ke Desa Kemiren supaya bisa melihat langsung aktivitas budaya Suku Oseng. ”Mungkin bulan depan, kita carikan keluarga asuh di Desa Kemiren. Jadi mereka akan ikut aktivitas budaya di sana, termasuk keseharian keluarga asuh. Nanti kita lihat, apa mental mereka tetap bagus ketika harus masuk ke masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Yui Moriya, mahasiswa asal Jepang mengatakan, salah satu hal yang cukup sulit adalah bahasa Oseng. Apalagi, Yui mengaku belum mahir berbahasa Indonesia. Dia juga mengatakan, awalnya cukup sulit menyesuaikan dengan makanan Banyuwangi. Karena di negara asalnya jarang ada makanan pedas dan berminyak. ”Di Jepang, saya tidak makan makanan berminyak. Tetapi di sini, saya suka tahu walik,” ujarnya dengan bahasa Indonesia terbata-bata.

Arzu Muradova, mahasiswi dari Azerbaijan mengatakan, tiga hari pertama menurutnya menjadi masa paling sulit. Karena harus mempelajari beberapa kebudayaan yang benar-benar berbeda. ”Tapi setelah itu, semuanya mulai terbiasa. Cuma saya tidak bisa makan pedas. Jadi harus membawa kecap manis ke mana-mana,” tegasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/