alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Perjuangan Siswi SD yang harus Kerja Keras Demi Merawat Ibunya

Tiga bulan yang lalu, ibunya menderita diabetes. Sejak saat itu, bocah yang masih duduk di bangku kelas 5 SD itu harus menjadi tulang punggung keluarga.

HABIBUL ADNAN, Situbondo

Wita Humairoh,11, seharusnya lebih sibuk dengan kegiatan-kegiatannya di sekolah. Sayang, waktunya untuk mencari ilmu tersita. Bahkan, sudah tiga bulan dia tidak bisa masuk sekolah.

Penyebabnya, ibu kandungnya, Siti Nuraini menderita diabetes sejak tiga bulan yang lalu. Sejak saat itu, ibunya hanya bisa berbaring di tempat tidur. Dengan keadaan demikian, Wita harus mengambil peran ibunya. Seperti memasak, hingga mencari kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Perempuan yang tinggal di lingkungan Plaosa, Kelurahan Patokan, Kecamatan Kota itu hidup bertiga di rumah berukuran 4 x 5 sentimeter. Selain ibunya yang hanya bisa berbaring lemas, Wita ditemani adiknya yang masih kecil, Prilli. Ayahnya sudah meninggal dunia tujuh tahun silam.

Wita mengatakan, semenjak ibunya sakit, dia harus bekerja lebih keras. Selain menyiapkan makan anggota keluarganya, Wita harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kadang saya berjualan,” katanya.

Baca Juga :  Kiat Perajin Kain Perca Bertahan selama Sepuluh Tahun

Saat ibunya masih sehat, kondisi ekonomi keluarga ini tidak terlalu memprihatinkan. Sebab, ibunya sehari-hari berjualan peracangan di warung miliknya. Kebetulan, saat ini masih ada sisa peracangan di warung tersebut.

“Untuk makan, kadang saya jual barang-barang yang masih tersisa di warung ibu yang sudah lama tutup,” katanya dengan wajah murung.

Selain itu, Wita harus merawat adiknya yang masih kecil. Meski begitu, Wita mengaku tidak pernah merasa lelah dengan banyaknya aktifitas rumah tangga yang dijalaninya. “Karena saya sayang sama ibu dan adik,” imbuhnya.

Karena itulah, dia tidak mempersoalkan kondisi yang dialaminya. Wita juga mengaku, kemiskinan yang menghimpit keluarganya tidak pernah membuatnya menyesal. “Saya senang walapun miskin, yang penting tetap bersama ibu dan adik,” ujarnya.

Wita mengatakan, kondisi ekonominya semenjak ibunya sakit memang serba kekurangan. Bahkan, pernah sampai tiga hari tidak makan. “Karena tidak ada yang dimakan sama sekali,” ujarnya.

Baca Juga :  Siap Adu Cita Rasa dengan Koki Pendapa

Akan tetapi, belakangan ini, untuk urusan makan sehari-hari, mereka tidak pernah kekurangan. Selalu ada tetangga yang mengantarkan makanan maupun beras.

Sementara itu, meski sudah lama tidak bersekolah, Wita mengaku, tidak pernah berpikir sedikit pun untuk berhenti. Dia menegaskan, tetap akan sekolah hingga lulus. “Tapi untuk saat ini terpaksa tidak masuk. Kasihan ibu kalau ditinggalin,” katanya.

Sang ibu, Siti Nuaraini merasa kasihan melihat anaknya yang masih SD harus menanggung beban keluarga. “Sebenarnya tidak tega. Tapi bagaimana lagi, kondisi saya seperti ini,” katanya sambil meneteskan air mata.

Sebagai ibu, Nuraini mengaku, hanya bisa berdoa untuk kebaikan anaknya. Dia berharap, suatu saat nanti, dirinya bisa sembuh. “Saya ingin menyekolahkan anak-anak saya biar menjadi orang sukses,” katanya.

Nuraini mengatakan, tubuhnya memang sangat lemas dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Jangankan membantu membersihkan rumah, bangun saja tidak kuat. “Mau berobat, tapi sekarang nggak punya uang,” pungkasnya. (bib/pri)

Tiga bulan yang lalu, ibunya menderita diabetes. Sejak saat itu, bocah yang masih duduk di bangku kelas 5 SD itu harus menjadi tulang punggung keluarga.

HABIBUL ADNAN, Situbondo

Wita Humairoh,11, seharusnya lebih sibuk dengan kegiatan-kegiatannya di sekolah. Sayang, waktunya untuk mencari ilmu tersita. Bahkan, sudah tiga bulan dia tidak bisa masuk sekolah.

Penyebabnya, ibu kandungnya, Siti Nuraini menderita diabetes sejak tiga bulan yang lalu. Sejak saat itu, ibunya hanya bisa berbaring di tempat tidur. Dengan keadaan demikian, Wita harus mengambil peran ibunya. Seperti memasak, hingga mencari kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Perempuan yang tinggal di lingkungan Plaosa, Kelurahan Patokan, Kecamatan Kota itu hidup bertiga di rumah berukuran 4 x 5 sentimeter. Selain ibunya yang hanya bisa berbaring lemas, Wita ditemani adiknya yang masih kecil, Prilli. Ayahnya sudah meninggal dunia tujuh tahun silam.

Wita mengatakan, semenjak ibunya sakit, dia harus bekerja lebih keras. Selain menyiapkan makan anggota keluarganya, Wita harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kadang saya berjualan,” katanya.

Baca Juga :  Siap Adu Cita Rasa dengan Koki Pendapa

Saat ibunya masih sehat, kondisi ekonomi keluarga ini tidak terlalu memprihatinkan. Sebab, ibunya sehari-hari berjualan peracangan di warung miliknya. Kebetulan, saat ini masih ada sisa peracangan di warung tersebut.

“Untuk makan, kadang saya jual barang-barang yang masih tersisa di warung ibu yang sudah lama tutup,” katanya dengan wajah murung.

Selain itu, Wita harus merawat adiknya yang masih kecil. Meski begitu, Wita mengaku tidak pernah merasa lelah dengan banyaknya aktifitas rumah tangga yang dijalaninya. “Karena saya sayang sama ibu dan adik,” imbuhnya.

Karena itulah, dia tidak mempersoalkan kondisi yang dialaminya. Wita juga mengaku, kemiskinan yang menghimpit keluarganya tidak pernah membuatnya menyesal. “Saya senang walapun miskin, yang penting tetap bersama ibu dan adik,” ujarnya.

Wita mengatakan, kondisi ekonominya semenjak ibunya sakit memang serba kekurangan. Bahkan, pernah sampai tiga hari tidak makan. “Karena tidak ada yang dimakan sama sekali,” ujarnya.

Baca Juga :  Kiat Perajin Kain Perca Bertahan selama Sepuluh Tahun

Akan tetapi, belakangan ini, untuk urusan makan sehari-hari, mereka tidak pernah kekurangan. Selalu ada tetangga yang mengantarkan makanan maupun beras.

Sementara itu, meski sudah lama tidak bersekolah, Wita mengaku, tidak pernah berpikir sedikit pun untuk berhenti. Dia menegaskan, tetap akan sekolah hingga lulus. “Tapi untuk saat ini terpaksa tidak masuk. Kasihan ibu kalau ditinggalin,” katanya.

Sang ibu, Siti Nuaraini merasa kasihan melihat anaknya yang masih SD harus menanggung beban keluarga. “Sebenarnya tidak tega. Tapi bagaimana lagi, kondisi saya seperti ini,” katanya sambil meneteskan air mata.

Sebagai ibu, Nuraini mengaku, hanya bisa berdoa untuk kebaikan anaknya. Dia berharap, suatu saat nanti, dirinya bisa sembuh. “Saya ingin menyekolahkan anak-anak saya biar menjadi orang sukses,” katanya.

Nuraini mengatakan, tubuhnya memang sangat lemas dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Jangankan membantu membersihkan rumah, bangun saja tidak kuat. “Mau berobat, tapi sekarang nggak punya uang,” pungkasnya. (bib/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

DKB Gelar Workshop Teater dan Pantomim

Tarif Ojol Akan Naik

Ditinggal Ziarah Haji, Rumah Terbakar

/