alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Cerita Fahrul Rozik ”Adya Ta”, dari Hobi Mendadak Viral

KABAT – ”Adya ta?”. Sebuah jargon komedi yang dilontarkan Fahrul Rozik mendadak viral di media sosial. Penggunaan bahasa Indonesia yang dikolaborasikan dengan dialek Oseng. Fahrul pun punya obsesi bikin film berjudul ”Desa Kalang Kabut On The Movie”.

Dalam dua pekan terakhir, masyarakat Banyuwangi terhibur dengan kemunculan video viral yang diperankan oleh Fahrul Rozik. Pria berusia 43 tahun itu menjadi salah satu aktor dalam pembuatan film di Desa Pendarungan, Kecamatan Kabat.

Berawal dari ketidaksengajaan saat proses syuting film di Balai Desa Pendarungan, Fahrul mencetuskan ide munculnya sebuah jargon yang sedang viral, ”adya ta?”. Cuplikan video yang telah dibuat kemudian dia kirim ke grup WhatsApp dan mendapat respons positif dari teman-temannya. Dia tidak menduga videonya bisa sampai viral.

”Sebenarnya kata-kata itu sudah lama diperbincangkan semua kalangan. Namun, saya kemas lagi dengan beberapa tambahan kata. Saya juga kaget kok sampai viral videonya. Teman-teman saya yang di luar pulau juga kaget. Mereka langsung menelpon saya. Ketika keluar rumah banyak yang minta foto, padahal saya sudah pakai masker,” ujar Fahrul.

Pria asli Banyuwangi itu sehari-hari bekerja sebagai sopir di salah satu perusahaan. Pada bulan Agustus, di tengah kesibukan kerjanya Fahrul diajak untuk membuat sebuah komedi film pendek. Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI, dia memainkan peran sebagai wasit pada konten sepak bola. ”Itu peran pertama saya, menjadi seorang wasit. Kemudian, saya diajak lagi untuk mengikuti beberapa pembuatan film dan sampai saat ini masih aktif menjadi salah satu aktor,” kata Fahrul.

Sejatinya Fahrul memang mempunyai bakat komedi. Sehingga tidak susah ketika dia memainkan sebuah lawakan untuk menghibur penonton. Selain untuk melestarikan budaya Oseng, dia juga ingin mengenalkan desa kelahirannya. Selama memainkan peran dia tidak pernah menggunakan teks, hanya memahami bagaimana jalannya alur cerita. ”Kalau pakai teks justru banyak salahnya, lebih baik mengalir saya lakukan improvisasi sendiri,” terangnya.

Jadwal syuting pembuatan film tidak menentu, menyesuaikan waktu luang masing-masing pemain. Namun, setiap hari Minggu selalu dilakukan jadwal syuting, karena mayoritas pemain sedang longgar. Dalam satu episode film dapat memakan waktu satu sampai dua hari produksi. ”Kadang dua hari sekali, kadang juga tiga hari sekali. Tergantung aktornya sibuk bekerja atau tidak,” paparnya.

Meski Fahrul saat ini sedang viral dan banyak pihak yang menghubungi, dia tidak ingin muncul sendiri. ”Saya lahir dari desa kampung film Desa Kalang Kabut, jadi tidak boleh saya muncul sendiri. Semua pihak yang mengajak kerja sama silakan satu pintu menghubungi Mas Faisal,” ucapnya.

Fahrul berpesan kepada masyarakat Banyuwangi untuk selalu menjaga dan melestarikan budaya asli suku Oseng. Dia berharap cuplikan videonya yang viral tidak terlupakan begitu saja. Bapak satu anak itu, meminta support dari teman-temannya dan seluruh masyarakat Banyuwangi agar dapat meningkatkan dan mengembangkan komedi film pendek yang dia perankan. ”Ayo nguri-uri budaya Oseng, jangan sampai salah satu identitas yang dimiliki masyarakat Banyuwangi ini hilang,” pesan bapak satu anak itu.

Pembuatan komedi film pendek tersebut digagas oleh Faisal Ende. Dia terinspirasi menggambarkan suatu desa sebagai miniatur negara. Kemudian, muncul nama Desa Kalang Kabut. Dari hasil pembuatan komedi film pendek, kemudian diaunggah melalui channel YouTube. ”Berawal dari kegelisahan melihat kondisi negara Indonesia yang karut-marut. Mulai demokrasinya, korupsi,dan kelakuan para pejabatnya membuat saya tertarik untuk membuat komedi yang mengkritik perilaku masyarakat dalam bernegara,” ungkap Faisal.

Seiring berjalannya waktu, Faisal mengubah  isi kontennya dengan menonjolkan karakter pemain masing-masing. Dia menilai viewer tidak terlalu tertarik dengan konten politik. ”Setting master-nya adalah sebuah desa. Maka ada peran kepala desa, pengusaha, ustad, dan lain sebagainya. Jadi berawal dari itu imajinasi saya,” katanya.

Di awal pembuatan film, hanya terdapat dua aktor yang memainkan peran. Namun, saat ini jumlah aktor yang mengikuti proses pembuatan film mencapai 14 orang. Selama satu tahun 8 bulan, konten Desa Kalang Kabut sudah menyentuh 156 episode. ”Dari 14 orang ini, kita masih saudara dari buyut. Jadi tidak hanya membuat film, namun juga kembali merekatkan persaudaraan,” terang pria berusia 47 tahun itu.

Faisal berharap budaya Oseng dapat dikenal luas dan bisa masuk dalam industri film di Indonesia. Dia mengatakan Industri film saat ini dikuasai Sunda dan Betawi. ”Cita-cita terbesar saya adalah bikin film berjudul ”Desa Kalang Kabut On The Movie”. Orang bisa menonton di bioskop. Tentu kami membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah dan masyarakat agar bisa meningkatkan kualitas film yang kami buat,” pungkasnya. (mg2)

KABAT – ”Adya ta?”. Sebuah jargon komedi yang dilontarkan Fahrul Rozik mendadak viral di media sosial. Penggunaan bahasa Indonesia yang dikolaborasikan dengan dialek Oseng. Fahrul pun punya obsesi bikin film berjudul ”Desa Kalang Kabut On The Movie”.

Dalam dua pekan terakhir, masyarakat Banyuwangi terhibur dengan kemunculan video viral yang diperankan oleh Fahrul Rozik. Pria berusia 43 tahun itu menjadi salah satu aktor dalam pembuatan film di Desa Pendarungan, Kecamatan Kabat.

Berawal dari ketidaksengajaan saat proses syuting film di Balai Desa Pendarungan, Fahrul mencetuskan ide munculnya sebuah jargon yang sedang viral, ”adya ta?”. Cuplikan video yang telah dibuat kemudian dia kirim ke grup WhatsApp dan mendapat respons positif dari teman-temannya. Dia tidak menduga videonya bisa sampai viral.

”Sebenarnya kata-kata itu sudah lama diperbincangkan semua kalangan. Namun, saya kemas lagi dengan beberapa tambahan kata. Saya juga kaget kok sampai viral videonya. Teman-teman saya yang di luar pulau juga kaget. Mereka langsung menelpon saya. Ketika keluar rumah banyak yang minta foto, padahal saya sudah pakai masker,” ujar Fahrul.

Pria asli Banyuwangi itu sehari-hari bekerja sebagai sopir di salah satu perusahaan. Pada bulan Agustus, di tengah kesibukan kerjanya Fahrul diajak untuk membuat sebuah komedi film pendek. Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI, dia memainkan peran sebagai wasit pada konten sepak bola. ”Itu peran pertama saya, menjadi seorang wasit. Kemudian, saya diajak lagi untuk mengikuti beberapa pembuatan film dan sampai saat ini masih aktif menjadi salah satu aktor,” kata Fahrul.

Sejatinya Fahrul memang mempunyai bakat komedi. Sehingga tidak susah ketika dia memainkan sebuah lawakan untuk menghibur penonton. Selain untuk melestarikan budaya Oseng, dia juga ingin mengenalkan desa kelahirannya. Selama memainkan peran dia tidak pernah menggunakan teks, hanya memahami bagaimana jalannya alur cerita. ”Kalau pakai teks justru banyak salahnya, lebih baik mengalir saya lakukan improvisasi sendiri,” terangnya.

Jadwal syuting pembuatan film tidak menentu, menyesuaikan waktu luang masing-masing pemain. Namun, setiap hari Minggu selalu dilakukan jadwal syuting, karena mayoritas pemain sedang longgar. Dalam satu episode film dapat memakan waktu satu sampai dua hari produksi. ”Kadang dua hari sekali, kadang juga tiga hari sekali. Tergantung aktornya sibuk bekerja atau tidak,” paparnya.

Meski Fahrul saat ini sedang viral dan banyak pihak yang menghubungi, dia tidak ingin muncul sendiri. ”Saya lahir dari desa kampung film Desa Kalang Kabut, jadi tidak boleh saya muncul sendiri. Semua pihak yang mengajak kerja sama silakan satu pintu menghubungi Mas Faisal,” ucapnya.

Fahrul berpesan kepada masyarakat Banyuwangi untuk selalu menjaga dan melestarikan budaya asli suku Oseng. Dia berharap cuplikan videonya yang viral tidak terlupakan begitu saja. Bapak satu anak itu, meminta support dari teman-temannya dan seluruh masyarakat Banyuwangi agar dapat meningkatkan dan mengembangkan komedi film pendek yang dia perankan. ”Ayo nguri-uri budaya Oseng, jangan sampai salah satu identitas yang dimiliki masyarakat Banyuwangi ini hilang,” pesan bapak satu anak itu.

Pembuatan komedi film pendek tersebut digagas oleh Faisal Ende. Dia terinspirasi menggambarkan suatu desa sebagai miniatur negara. Kemudian, muncul nama Desa Kalang Kabut. Dari hasil pembuatan komedi film pendek, kemudian diaunggah melalui channel YouTube. ”Berawal dari kegelisahan melihat kondisi negara Indonesia yang karut-marut. Mulai demokrasinya, korupsi,dan kelakuan para pejabatnya membuat saya tertarik untuk membuat komedi yang mengkritik perilaku masyarakat dalam bernegara,” ungkap Faisal.

Seiring berjalannya waktu, Faisal mengubah  isi kontennya dengan menonjolkan karakter pemain masing-masing. Dia menilai viewer tidak terlalu tertarik dengan konten politik. ”Setting master-nya adalah sebuah desa. Maka ada peran kepala desa, pengusaha, ustad, dan lain sebagainya. Jadi berawal dari itu imajinasi saya,” katanya.

Di awal pembuatan film, hanya terdapat dua aktor yang memainkan peran. Namun, saat ini jumlah aktor yang mengikuti proses pembuatan film mencapai 14 orang. Selama satu tahun 8 bulan, konten Desa Kalang Kabut sudah menyentuh 156 episode. ”Dari 14 orang ini, kita masih saudara dari buyut. Jadi tidak hanya membuat film, namun juga kembali merekatkan persaudaraan,” terang pria berusia 47 tahun itu.

Faisal berharap budaya Oseng dapat dikenal luas dan bisa masuk dalam industri film di Indonesia. Dia mengatakan Industri film saat ini dikuasai Sunda dan Betawi. ”Cita-cita terbesar saya adalah bikin film berjudul ”Desa Kalang Kabut On The Movie”. Orang bisa menonton di bioskop. Tentu kami membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah dan masyarakat agar bisa meningkatkan kualitas film yang kami buat,” pungkasnya. (mg2)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/