alexametrics
24.3 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

“Saya Ingin Bermanfaat Bagi Orang Lain, Meski Mata Saya Buta”

Ahmad Bisri, 61, warga Dusun/Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, ini dikenal sebagai muazin di Masjid Baitul Muttaqin, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo. Tuna netra ini, memiliki suara merdu.

KRIDA HERBAYU, Tegaldlimo

Suara azan terdengar keras dari pengeras suara di Masjid Baitul Muttaqin, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo. Bagi warga di sekitar, suara yang sangat merdu itu sudah tidak asing. Ya, itu suara Ahmad Bisri, kakek 61 tahun yang setiap hari bertugas memanggil jamaah untuk salat melalui azan.

Indahnya lantunan azan yang dikumandangkan, membuat warga dan jamaah kagum. Selain sudah tidak muda lagi, kakek yang biasa disapa Pak Mad itu seorang tuna netra. Sejak sepuluh tahun lalu, kedua matanya kurang berfungsi dan menjadi muazin di masjid yang dekat dengan Taman Nasional Alas Purwo.

Bagi Pak Mad, keterbatasan fisik bukan menjadi kendala untuk menjalankan ibadah. Mesk tidak dapat melihat, tapi keimannya kepada Allah tetap menjadi yang utama. “Saya ingin bermanfaat bagi orang lain, meskipun mata saya buta,” katanya.

Dengan suara lirih Pak Mad mengisahkan saat lahir normal dan tidak cacat seperti saat ini. Indra penglihatannya itu mulai tidak berfungsi sejak tahun 2010. Penyakit glaukoma yang menderanya, penyebab kedua matanya tidak dapat melihat. “Saya juga tidak tahu kenapa saya terserang penyakit itu,” ujarnya.

Pak Mad mengaku sempat mencoba beberapa jenis pengobatan untuk menyembuhkan matanya. Tapi, berbagai upaya yang dilakukan mulai pengobatan medis hingga tradisional, tidak berhasil mengembalikan indra penglihatannya itu. “Dulu saya sempat berobat ke Surabaya. Karena keterbatasan biaya, akhirnya saya berhenti berobat, saat itu biayanya Rp 2 juta untuk sekali berobat,” terangnya.

Baca Juga :  Tunggu Panggilan Kerja, Pilih Jualan Es Degan

Banyak upaya telah dilakukan Pak mad untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Ia juga pernah menetesi matanya dengan sari jahe hingga menggosok-gosokan celana dalam milik istrinya pada kedua matanya. “Tidak ada yang berhasil, dan mata saya masih seperti ini,” ungkapnya.

Sebelum mengalami kebutaan, Pak Mad bekerja sebagai petani di Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo. Lantaran penyakitnya itu semakin parah, ia memutuskan untuk menjadi muazin di masjid yang berjarak 300 meter dari rumahnya. “Saya tidak bisa bekerja lagi,  dan saya memutuskan untuk menjadi tukang azan,” tuturnya.

Yang membuatnya kuat dan tetap bertahan adalah dukungan dari keluarganya. Siti Halimah, 55, istri Pak Mad merupakan orang yang selalu mendukung dan memberi semangat, meski hanya menjadi muazin di Masjid Baitul Muttaqin. “Saya pasrah, sekarang mengandalkan istri yang setia merawat,” ungkap pria dua anak itu.

Untuk melaksanakan tugas sebagai tukang azan di masjid ini, Pak Mad keluar rumah pukul 04.00. Dengan diantar istrinya, ia berangkat ke masjid untuk mengumandangkan azan subuh. Istrinya baru menjemput pukul 07.00, untuk sarapan. Lalu, kembali ke masjid pukul 10.00, untuk persiapan azan duhur. “Saya berada di masjid seharian penuh, pulang sekitar pukul 20.00 usai salat isya,” cetusnya.

Baca Juga :  Selokan Pun Dimanfaatkan Jadi Kolam Ikan Lele

Pak Mad belajar azan ini sejak kecil saat menimba ilmu di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. Di pesantren terbesar di Bumi Blambangan itu, diajari langsung oleh sang pengasuh KH Muhtar Syafaat Abdul Gofur. “Saya belajar di Ponpes Blokagung enam tahun, saya tertarik menjadi muazin sejak saat itu,” terangnya.

Berbekal ilmu yang didapat dari pondok pesantren di Blokagung itu, Pak Mad mulai mengembangkan kemampuannya menjadi muazin. Ia tak menyangka jika keahliannya dalam azan itu saat ini sangat berharga bagi hidupnya. “Hanya ini yang saya mampu, dan allhamdulillah kemampuan saya ini dapat bermanfaat bagi orang lain,” paparnya.

Diakuinya, kumandang azan yang dilantunkan itu paling bagus saat menginjak waktu salat duhur. Saat itu, perutnya sedang kosong dan suaranya terdengar sangat merdu dan lantang. “Dibanding dengan waktu salat lainnya, waktu azan salat duhur yang paling bagus didengarkan,” terangnya.

Banyak jamaah yang terkesima dengan suara azan yang dikumandangkan pria tersebut. Dan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah yang melaksanakan salat berjamaah di masjid tersebut.(abi)

Ahmad Bisri, 61, warga Dusun/Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, ini dikenal sebagai muazin di Masjid Baitul Muttaqin, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo. Tuna netra ini, memiliki suara merdu.

KRIDA HERBAYU, Tegaldlimo

Suara azan terdengar keras dari pengeras suara di Masjid Baitul Muttaqin, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo. Bagi warga di sekitar, suara yang sangat merdu itu sudah tidak asing. Ya, itu suara Ahmad Bisri, kakek 61 tahun yang setiap hari bertugas memanggil jamaah untuk salat melalui azan.

Indahnya lantunan azan yang dikumandangkan, membuat warga dan jamaah kagum. Selain sudah tidak muda lagi, kakek yang biasa disapa Pak Mad itu seorang tuna netra. Sejak sepuluh tahun lalu, kedua matanya kurang berfungsi dan menjadi muazin di masjid yang dekat dengan Taman Nasional Alas Purwo.

Bagi Pak Mad, keterbatasan fisik bukan menjadi kendala untuk menjalankan ibadah. Mesk tidak dapat melihat, tapi keimannya kepada Allah tetap menjadi yang utama. “Saya ingin bermanfaat bagi orang lain, meskipun mata saya buta,” katanya.

Dengan suara lirih Pak Mad mengisahkan saat lahir normal dan tidak cacat seperti saat ini. Indra penglihatannya itu mulai tidak berfungsi sejak tahun 2010. Penyakit glaukoma yang menderanya, penyebab kedua matanya tidak dapat melihat. “Saya juga tidak tahu kenapa saya terserang penyakit itu,” ujarnya.

Pak Mad mengaku sempat mencoba beberapa jenis pengobatan untuk menyembuhkan matanya. Tapi, berbagai upaya yang dilakukan mulai pengobatan medis hingga tradisional, tidak berhasil mengembalikan indra penglihatannya itu. “Dulu saya sempat berobat ke Surabaya. Karena keterbatasan biaya, akhirnya saya berhenti berobat, saat itu biayanya Rp 2 juta untuk sekali berobat,” terangnya.

Baca Juga :  Beri Layanan Komprehensif

Banyak upaya telah dilakukan Pak mad untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Ia juga pernah menetesi matanya dengan sari jahe hingga menggosok-gosokan celana dalam milik istrinya pada kedua matanya. “Tidak ada yang berhasil, dan mata saya masih seperti ini,” ungkapnya.

Sebelum mengalami kebutaan, Pak Mad bekerja sebagai petani di Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo. Lantaran penyakitnya itu semakin parah, ia memutuskan untuk menjadi muazin di masjid yang berjarak 300 meter dari rumahnya. “Saya tidak bisa bekerja lagi,  dan saya memutuskan untuk menjadi tukang azan,” tuturnya.

Yang membuatnya kuat dan tetap bertahan adalah dukungan dari keluarganya. Siti Halimah, 55, istri Pak Mad merupakan orang yang selalu mendukung dan memberi semangat, meski hanya menjadi muazin di Masjid Baitul Muttaqin. “Saya pasrah, sekarang mengandalkan istri yang setia merawat,” ungkap pria dua anak itu.

Untuk melaksanakan tugas sebagai tukang azan di masjid ini, Pak Mad keluar rumah pukul 04.00. Dengan diantar istrinya, ia berangkat ke masjid untuk mengumandangkan azan subuh. Istrinya baru menjemput pukul 07.00, untuk sarapan. Lalu, kembali ke masjid pukul 10.00, untuk persiapan azan duhur. “Saya berada di masjid seharian penuh, pulang sekitar pukul 20.00 usai salat isya,” cetusnya.

Baca Juga :  Lewat Pengeras Suara Umumkan Dompet Hilang hingga Kampanye Cabup

Pak Mad belajar azan ini sejak kecil saat menimba ilmu di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. Di pesantren terbesar di Bumi Blambangan itu, diajari langsung oleh sang pengasuh KH Muhtar Syafaat Abdul Gofur. “Saya belajar di Ponpes Blokagung enam tahun, saya tertarik menjadi muazin sejak saat itu,” terangnya.

Berbekal ilmu yang didapat dari pondok pesantren di Blokagung itu, Pak Mad mulai mengembangkan kemampuannya menjadi muazin. Ia tak menyangka jika keahliannya dalam azan itu saat ini sangat berharga bagi hidupnya. “Hanya ini yang saya mampu, dan allhamdulillah kemampuan saya ini dapat bermanfaat bagi orang lain,” paparnya.

Diakuinya, kumandang azan yang dilantunkan itu paling bagus saat menginjak waktu salat duhur. Saat itu, perutnya sedang kosong dan suaranya terdengar sangat merdu dan lantang. “Dibanding dengan waktu salat lainnya, waktu azan salat duhur yang paling bagus didengarkan,” terangnya.

Banyak jamaah yang terkesima dengan suara azan yang dikumandangkan pria tersebut. Dan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah yang melaksanakan salat berjamaah di masjid tersebut.(abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/