Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features
Puput, Peternak Kelinci Asal Cluring

Nekat Keluar dari Kerja di Kantor untuk Buka Usaha Sendiri

13 Oktober 2021, 11: 20: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

Nekat Keluar dari Kerja di Kantor untuk Buka Usaha Sendiri

SUMBER REZEKI: Puput Noviansyah asal Dusun Trembelang, Desa/Kecamatan Cluring menunjukkan kelinci hasil ternaknya kemarin (11/10). (Salis Ali/RaBa)

Share this      

BERANGKAT pagi dan pulang sore, menjadi kegiatan rutin yang harus dijalani Puput Noviansyah, 28, sebagai karyawan di kantor notaris. Pekerjaan itu, dijalani selama tujuh tahun. Bosan dengan rutinitas itu, memilih resign dan membuka usaha ternak kelinci.

Perawatan yang mudah dan harga jual yang menggiurkan, membuat pria asal Dusun Trembelang, Desa/Kecamatan Cluring yang akrab disapa Puput itu, memberanikan diri membuka usaha ini dari nol. Dengan modal uang tabungan Rp 2,5 juta, ia membeli sepasang kelinci jenis rex atau biasa disebut jenis karpet. Untuk usahanya itu, membangun beberapa kandang di lahan kosong belakang rumahnya. “Awalnya cuma beli sepasang,” katanya.

Saat punya uang, Puput kembali membeli kelinci lagi. Di antara kelincinya itu, beranak pinak. Hingga akhirnya, hanya dalam enam bulan kelincinya itu menjadi 25 pasang. “Sudah banyak yang melahirkan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (10/10).

Baca juga: Cerita Anggota TNI Asal Papua, Serda Yulianus Ingin Naik Kereta Api

Puput mengaku dalam beternak kelinci ini, tidak pernah belajar kepada peternak yang sudah senior, atau pendidikan formal tentang peternakan. Puput yang hanya lulusan SMA, mengandalkan informasi dari blog dan video yang ada di media sosial. “Tidak ada gurunya, otodidak saja,” akunya.

Awal beternak kelinci sempat kebingungan, tapi setelah membaca dan melihat dari blog dan media sosial, bisa diterapkan. Sehingga, usahanya ternak kelinci bisa berjalan. “Alhamdulillah sampai saat ini masih berjalan lancar,” ungkpaknya.

Untuk menjaga kualitas dan kesehatan kelinci-kelincinya, Puput rutin membersihkan kandang setiap pagi dan sore. Untuk menambah nafsu makan, pakan diberi ampas tahu. Makanan itu, juga berpengaruh pada bobot kelinci saat memasuki masa panen. “Biasanya dipanen setelah berumur tiga sampai empat bulan,” sebutnya.

Terinspirasi dengan inovasi yang dilihat di internet, ia juga menyulap botol bekas sebagai tempat minum bagi kelinci-kelincinya itu. Botol itu diberi selang berdiamaeter 0,8 milimeter yang diujungnya diberi roll on untuk tempat kelinci menyedot air. Dengan tempat minum seperti itu, potensi wadah air akan tumpah menjadi sedikit. “Kalau tumpah, kandang menjadi lembab dan itu bisa jadi jamur,” jelasnya.

Usaha yang mulai digeluti sejak Mei 2021 itu, sudah mulai membuahkan hasil. Kelinci hasil ternaknya, sudah banyak yang dibeli. Para pembeli itu, paling banyak pedagang sate kelinci. Selain itu, juga diminati anak kecil. “Ya lumayan, lah,” terangnya.

Harga kelinci hasil ternaknya itu, bila pembeli untuk dipelihara harganya berkisar dari Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per pasang. Tapi bila yang membeli itu untuk dibuat sate, harganya Rp 250 ribu per ekor. “Untuk dibuat sate itu umurnya sekitar tiga bulan dan agak besar,” pungkasnya.

Sejak beternak kelinci ini, Puput menyebut telah menjual empat pasang kelinci. Sedang pembeli dari pedagang sate, sudah ada tiga ekor yang terjual. “Masih baru, semoga lancar terus,” ujarnya.

(bw/*/rbs/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia