Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features

Nasib Pedagang Pasar Kalibaru setelah Dagangannya Ludes Dilalap Api

13 Oktober 2021, 15: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Nasib Pedagang Pasar Kalibaru setelah Dagangannya Ludes Dilalap Api

TINGGAL KENANGAN: Subandi memunguti beberapa perkakas yang hancur di gudangnya akibat kebakaran di PD Kalibaru pada Minggu (10/10). (Shulhan Hadi/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

KALIBARU – Kebakaran los Pasar Daerah Kalibaru di Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru Minggu dini hari (10/10) tidak hanya membakar bangunan dan barang dagangan. Kebakaran tersebut juga menghanguskan semangat para pedagang yang kini menanggung kerugian besar.

Bau gosong masih tercium saat mendekati los bagian timur di Pasar  Kalibaru. Aroma itu berasal dari campuran berbagai barang yang hangus, mulai dari sembako hingga perabotan pecah belah. Puing-puing sisa kebakaran tampak terlihat berserakan.

Api yang membakar bangunan los dipicu dari percikan api di sisi selatan. Ada beberapa versi yang menyebut titik awal lokasi api. Dari mana asal percikan itu muncul, hingga kini masih diselidiki petugas kepolisian. Yang pasti, akibat kebakaran itu para pedagang menelan banyak kerugian. ”Semua barang dagangan hangus,” ujar Subandi, 46, salah satu pedagang asal Dusun Margomakmur, RT 1, RW 2, Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan Kalibaru.

Baca juga: Spesialis Menanam Buah Langka

Dalam peristiwa kebakaran yang terjadi mulai pukul 00.30 itu, gudang perkakas pecah belah miliknya ludes dilalap si jago merah, termasuk seluruh isinya. Tidak ada barang yang bisa diselamatkan. ”Kerugian saya ya sekitar Rp 250 juta,” ungkap suami Suliah, 49, itu.

Yang membuat Subandi makin sedih, sebagian modal usaha yang digunakan itu merupakan pinjaman dari perbankan. Akibatnya, dia harus bekerja lebih keras demi memenuhi kewajiban membayar angsuran setiap bulan. Sementara sumber penghasilan miliknya kini tinggal puing-puing berserakan. ”Itu modal KUR Mandiri, saya berharap ada kelonggaran, karena semua barang telah habis terbakar,” ujarnya.

Subandi menyebut kebakaran los PD Kalibaru ini tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Beberapa hari sebelum api melahap habis semua barangnya, dia baru saja mendatangkan barang ke gudang. ”Setiap hari Minggu, pasar itu agak ramai dibanding hari biasanya,” terangnya.

Warga yang tinggal di daerah Kalibaru utara, persisnya di sekitar kaki Gunung Raung dan warga di sekitar Kebun Malangsari, berdatangan untuk memborong barang. Untuk menyambut para pelanggan itu, para pedagang biasanya menambah pasokan dan persediaan barang sejak beberapa hari sebelumnya. Dengan harapan, saat Minggu tiba, para pengunjung pasar bisa melirik dan membeli dagangannya.

Sayangnya, jadwal yang menjadi rutinitas itu berubah saat api membakar habis pada Minggu dini hari. ”Kamis dan Selasa barang datang, pada Minggu pagi pasar terbakar,” terangnya.

Mendapat kabar pasar terbakar, Subandi langsung meluncur ke lokasi kejadian. Setibanya di pasar, dia mendapati gudang miliknya sudah dikuasai api. Barang-barang miliknya sudah habis tak bersisa. ”Barang pecah belah banyak yang pecah dan gosong,” jelasnya.

Gagal menyelamatkan barang di gudang, Subandi langsung teringat barang-barang dagangan yang ada di tokonya. Dia khawatir tokonya yang ada di bagian depan ikut terbakar bila api itu merembet. ”Saya hampir pingsan, dikuatkan istri,” jelasnya.

Subandi berharap pemerintah daerah bisa membantu memberi jaminan kepada pihak bank supaya memberi kelonggaran pedagang untuk membayar angsuran. Sebab, kebakaran itu musibah yang tak disangka. ”Yang jelas, untuk membayar angsuran bank untuk saat ini agak berat,” ujarnya.

Dalam musibah ini, Subandi tidak mau terjebak menyalahkan atau hanya menggantungkan pihak lain. Belajar dari pengalaman kebakaran tahun 1998, Subandi berpikir mengenai asuransi untuk dagangannya. Selama ini, sosialisasi terkait perencanaan dan antisipasi dampak musibah sangat sedikit didapatkan. ”Saya dan para pedagang banyak yang tidak mengasuransikan,” sesalnya.

Kebakaran tersebut juga menghanguskan barang dagangan milik Mariyana, 45. Pedagang berbagai kebutuhan dapur asal Desa Kalibaru Wetan ini tidak tersisa. Apalagi, di kiosnya itu banyak dagangan plastik dan kertas. ”Saya punya dua kios, yang terbakar itu untuk menyimpan barang, toko di depan los yang terbakar itu,” terang Mariyana.

Mariyana mengaku akibat dari kebakaran itu dia menderita kerugian hingga puluhan juta rupiah. Dalam menghadapi musibah ini, ia tidak mau berlama-lama terkurung dalam kesedihan. Meski kemarin (11/10), banyak pelanggan yang tidak bisa terlayani karena barangnya sudah habis terbakar. ”Yang mau dibeli hangus,” jelasnya.

Sama halnya dengan Subandi, modal yang dibuat untuk usaha Mariyana juga berasal dari pinjaman di bank. Namun, ibu dua anak itu tidak banyak menaruh harapan bank akan memberi kemudahan untuk membayar angsuran. Sebab, selama pandemi pun pihak bank tidak memberinya kemudahan. ”Bank tidak ada yang ke sini,” ungkapnya.

Lain halnya dengan sales yang berjubel berdatangan. Di antara mereka, ada yang memastikan pembayaran tetap dilaksanakan, tapi juga ada yang berbaik hati dengan memberi kemudahan. ”Kalau sales ke sini banyak, mereka menanyakan barangnya,” pungkasnya. (abi)

(bw/sli/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia