alexametrics
22.3 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Atap UPVC Sering Dipakai untuk Rooftop

RADAR BANYUWANGI – Bahan sintetis dulunya dipakai untuk pipa air yang kuat dan tahan cuaca. Namun kini, atap bangunan pun menggunakan bahan Unplasticized Polyvinyl Chloride (UPVC).

Jenis atap UPVC memang belum merakyat. Tidak semua toko bangunan menyediakan dan menjual atap tersebut. Selain karena konsumennya terbatas, harganya juga relatif masih mahal. ”Masyarakat biasa mengenalnya dengan nama spandek rooftop. Ada juga yang menyebutnya sebagai atap PVC,” tutur Hepi Andriyani, salah satu pemilik toko bangunan di Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.

Sejauh ini, ada dua macam atap UPVC tersebut. Yang pertama adalah atap dengan bentuk lembaran spandek dengan hanya satu layer. Bentuknya mirip spandek galvalum pada umumnya. Ukurannya pun juga senada dengan spandek logam. Namun yang membedakan, bahannya berupa UPVC.

Sedangkan jenis kedua adalah spandek UPVC yang lebih tebal. Ada beberapa lapisan atau layer di dalamnya. Sehingga kalau dilihat secara sekilas, ketebalan dan wujudnya mirip kertas karton bahan kardus. Namun warnanya yang umum adalah putih bersih. Jenis ini yang banyak dipasang di atap puncak gedung sehingga populer dengan sebutan spandek rooftop.

Untuk harganya lumayan mahal. Satu lembar atap UPVC jenis spandek rooftop sepanjang 6 meter, dengan lebar hanya 85 centimeter bisa dibanderol lebih dari Rp 1 juta. Meski begitu, keunggulan atap jenis ini selain kuat dan ringan, juga tidak bising saat diguyur hujan. Selain itu, sisi bawah atap relatif bisa menahan panas sinar matahari. Sehingga terasa lebih sejuk dibandingkan atap asbes maupun atas spandek logam. (bay/c1)

RADAR BANYUWANGI – Bahan sintetis dulunya dipakai untuk pipa air yang kuat dan tahan cuaca. Namun kini, atap bangunan pun menggunakan bahan Unplasticized Polyvinyl Chloride (UPVC).

Jenis atap UPVC memang belum merakyat. Tidak semua toko bangunan menyediakan dan menjual atap tersebut. Selain karena konsumennya terbatas, harganya juga relatif masih mahal. ”Masyarakat biasa mengenalnya dengan nama spandek rooftop. Ada juga yang menyebutnya sebagai atap PVC,” tutur Hepi Andriyani, salah satu pemilik toko bangunan di Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.

Sejauh ini, ada dua macam atap UPVC tersebut. Yang pertama adalah atap dengan bentuk lembaran spandek dengan hanya satu layer. Bentuknya mirip spandek galvalum pada umumnya. Ukurannya pun juga senada dengan spandek logam. Namun yang membedakan, bahannya berupa UPVC.

Sedangkan jenis kedua adalah spandek UPVC yang lebih tebal. Ada beberapa lapisan atau layer di dalamnya. Sehingga kalau dilihat secara sekilas, ketebalan dan wujudnya mirip kertas karton bahan kardus. Namun warnanya yang umum adalah putih bersih. Jenis ini yang banyak dipasang di atap puncak gedung sehingga populer dengan sebutan spandek rooftop.

Untuk harganya lumayan mahal. Satu lembar atap UPVC jenis spandek rooftop sepanjang 6 meter, dengan lebar hanya 85 centimeter bisa dibanderol lebih dari Rp 1 juta. Meski begitu, keunggulan atap jenis ini selain kuat dan ringan, juga tidak bising saat diguyur hujan. Selain itu, sisi bawah atap relatif bisa menahan panas sinar matahari. Sehingga terasa lebih sejuk dibandingkan atap asbes maupun atas spandek logam. (bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/