alexametrics
27 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Begini Cara Bupati Ipuk Mengenalkan Sosok Bung Karno kepada Masyarakat

RadarBanyuwangi.id – Bupati Ipuk Fiestiandani punya cara tersendiri untuk memperkenalkan sosok presiden pertama sekaligus proklamator kemerdekaan RI, yakni Ir Sukarno kepada generasi muda Banyuwangi. Bukan lewat pembelajaran di kelas atau seminar, melainkan melalui kuliner.

Banyak jalan menuju Roma. Peribahasa yang berarti banyak jalan untuk mencapai tujuan itu tepat menggambarkan cara Bupati Ipuk Fiestiandani untuk memperkenalkan sosok Ir Sukarno kepada khalayak. Termasuk generasi muda Banyuwangi.

Ya, Ipuk memilih kuliner sebagai sarana memperkenalkan sosok yang juga perumus Pancasila tersebut. Tepatnya lewat kuliner-kuliner Nusantara yang terkumpul dalam buku Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Soekarno.

Yang terbaru, menu yang dipilih adalah soto Madura. Makanan dengan kuah yang gurih itu, disuguhkan kepada para pelajar di SD Negeri 4 Parijatah Wetan, Kecamatan Srono. Momen itu terjadi dalam rangkaian kegiatan Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) Selasa (8/7). ”Siapa yang mau makan soto Madura?” tanya Ipuk kepada para siswa SDN 4 Parijatah Wetan. 

Baca Juga :  Ahok Minta Pertamina Berdayakan UMKM

Sontak para pelajar cepat-cepat mengangkat tangan. Setelah memasak bersama, Ipuk dan para pelajar SD kemudian menikmati soto Madura. Semua proses digelar dengan penerapan protokol kesehatan (prokes).

Kepada RadarBanyuwangi.id Ipuk menuturkan, soto Madura sengaja dipilih karena melambangkan keberagaman. Soto adalah menu yang dikenal di berbagai daerah. Namun, ada kekhasan tersendiri di setiap daerahnya. Seperti soto Madura yang kuahnya bersantan. Itu berbeda dengan soto Lamongan ataupun soto Banyuwangi yang lazim dicampur dengan rujak. ”Dari soto ini kita belajar tentang keberagaman bangsa Indonesia. Bangsa kita terdiri dari beragam suku, agama, dan bahasa, namun tetap terjalin dalam satu kesatuan. Sebagaimana yang selalu diajarkan oleh Bung Karno, bahwa kita harus senantiasa menjaga persatuan,” tuturnya.

Salah satu siswa, Muhammad Alan Nuril Huda mengaku senang dengan kegiatan bersama Bupati Ipuk tersebut. Dia juga mengaku lebih bersemangat untuk mengenal sosok Bung Karno. ”Nanti saya akan tanya-tanya kepada ibu guru tentang Bung Karno,” ujarnya.

Baca Juga :  Topi Tani pun Tembus Marketplace

Sekadar diketahui, sepekan sebelumnya, yakni saat kegiatan Bunga Desa digeber di Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, Ipuk juga melakukan hal serupa. Dia memperkenalkan sosok Bung Karno kepada khalayak lewat media kuliner Nusantara, yakni dengan masakan sayur lodeh jantung pisang dan nasi jagung.

Sementara itu, selain makan bersama para siswa menu dari Mustikarasa, Ipuk juga melakukan sejumlah program di bidang pendidikan. Di antaranya adalah memantau program Sekolah Asuh Sekolah (SAS). Program ini merupakan upaya gotong royong untuk membantu sekolah yang masih belum ideal dari segi infrastruktur, kelengkapan, maupun kualitasnya, dibantu oleh sekolah yang lebih mapan.

”Sekolah Asuh Sekolah ini merupakan upaya gotong royong untuk mewujudkan kesetaraan di dalam sektor pendidikan. Gotong royong juga merupakan intisari dari Pancasila, yang dirumuskan Bung Karno pertama kali di depan Sidang BPUPK pada 1 Juni 1945,” pungkas Ipuk. (sgt/aif/c1)

RadarBanyuwangi.id – Bupati Ipuk Fiestiandani punya cara tersendiri untuk memperkenalkan sosok presiden pertama sekaligus proklamator kemerdekaan RI, yakni Ir Sukarno kepada generasi muda Banyuwangi. Bukan lewat pembelajaran di kelas atau seminar, melainkan melalui kuliner.

Banyak jalan menuju Roma. Peribahasa yang berarti banyak jalan untuk mencapai tujuan itu tepat menggambarkan cara Bupati Ipuk Fiestiandani untuk memperkenalkan sosok Ir Sukarno kepada khalayak. Termasuk generasi muda Banyuwangi.

Ya, Ipuk memilih kuliner sebagai sarana memperkenalkan sosok yang juga perumus Pancasila tersebut. Tepatnya lewat kuliner-kuliner Nusantara yang terkumpul dalam buku Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Soekarno.

Yang terbaru, menu yang dipilih adalah soto Madura. Makanan dengan kuah yang gurih itu, disuguhkan kepada para pelajar di SD Negeri 4 Parijatah Wetan, Kecamatan Srono. Momen itu terjadi dalam rangkaian kegiatan Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) Selasa (8/7). ”Siapa yang mau makan soto Madura?” tanya Ipuk kepada para siswa SDN 4 Parijatah Wetan. 

Baca Juga :  Ahok Minta Pertamina Berdayakan UMKM

Sontak para pelajar cepat-cepat mengangkat tangan. Setelah memasak bersama, Ipuk dan para pelajar SD kemudian menikmati soto Madura. Semua proses digelar dengan penerapan protokol kesehatan (prokes).

Kepada RadarBanyuwangi.id Ipuk menuturkan, soto Madura sengaja dipilih karena melambangkan keberagaman. Soto adalah menu yang dikenal di berbagai daerah. Namun, ada kekhasan tersendiri di setiap daerahnya. Seperti soto Madura yang kuahnya bersantan. Itu berbeda dengan soto Lamongan ataupun soto Banyuwangi yang lazim dicampur dengan rujak. ”Dari soto ini kita belajar tentang keberagaman bangsa Indonesia. Bangsa kita terdiri dari beragam suku, agama, dan bahasa, namun tetap terjalin dalam satu kesatuan. Sebagaimana yang selalu diajarkan oleh Bung Karno, bahwa kita harus senantiasa menjaga persatuan,” tuturnya.

Salah satu siswa, Muhammad Alan Nuril Huda mengaku senang dengan kegiatan bersama Bupati Ipuk tersebut. Dia juga mengaku lebih bersemangat untuk mengenal sosok Bung Karno. ”Nanti saya akan tanya-tanya kepada ibu guru tentang Bung Karno,” ujarnya.

Baca Juga :  Mengenal Agus Triono, Salah Satu Pegiat Sosial di Kabupaten Situbondo

Sekadar diketahui, sepekan sebelumnya, yakni saat kegiatan Bunga Desa digeber di Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, Ipuk juga melakukan hal serupa. Dia memperkenalkan sosok Bung Karno kepada khalayak lewat media kuliner Nusantara, yakni dengan masakan sayur lodeh jantung pisang dan nasi jagung.

Sementara itu, selain makan bersama para siswa menu dari Mustikarasa, Ipuk juga melakukan sejumlah program di bidang pendidikan. Di antaranya adalah memantau program Sekolah Asuh Sekolah (SAS). Program ini merupakan upaya gotong royong untuk membantu sekolah yang masih belum ideal dari segi infrastruktur, kelengkapan, maupun kualitasnya, dibantu oleh sekolah yang lebih mapan.

”Sekolah Asuh Sekolah ini merupakan upaya gotong royong untuk mewujudkan kesetaraan di dalam sektor pendidikan. Gotong royong juga merupakan intisari dari Pancasila, yang dirumuskan Bung Karno pertama kali di depan Sidang BPUPK pada 1 Juni 1945,” pungkas Ipuk. (sgt/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/