Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Features
icon featured
Features

Perjuangan Bripka Aditya Wiguna Sanjaya Meraih Gelar Doktor

13 Januari 2022, 08: 16: 10 WIB | editor : Bayu Saksono

Perjuangan Bripka Aditya Wiguna Sanjaya  Meraih Gelar Doktor

WISUDA: Aditya menunjukkan ijazah S-3 yang pendidikannya ditempuh di Universitas Brawijaya. (Aditya For Raba)

Share this      

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi - DR Aditya Wiguna Sanjaya SH MH MHLI tergolong polisi langka. Dia bukan seorang perwira polisi. Pangkatnya masih Brigadir Polisi Kepala (Bripka). Meski hanya seorang bintara polisi, pria kelahiran 1987 tersebut sudah menyandang gelar doktor. Prestasi itu diraih lantaran tekadnya yang kuat untuk menempuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya.

ADITYA memang masih asing namanya di lingkungan Polresta Banyuwangi. Anggota Polri yang baru naik pangkat dari Bripda ke Bripka pada Desember 2021 itu sehari-harinya bertugas sebagai Si Bintara Hukum di Polresta Banyuwangi.

Kenaikan pangkat diberikan setelah gelar doktor di Universitas Brawijaya (UB) diraih pada 26 September 2021. Dia mengangkat disertasi berjudul  ”Rekonstruksi Bentuk Kesalahan Dalam Tindak Pidana Pencurian Uang Pasif”. Setelah presentasi di depan para guru besar, Aditya mendapatkan predikat Cumlaude.

Baca juga: Topi Tani pun Tembus Marketplace

Meski jarang dikenal, alumnus Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus (Untag) Banyuwangi itu kerap tampil di depan publik mewakili pimpinannya. Sejak tahun 2016, suami dari Ajeng Megareni Damayanti tersebut mendapatkan side job sebagai dosen Fakultas Hukum Untag 1945 Banyuwangi.

Perjuangan Aditya ternyata bukan hasil instan. Dia harus menyelesaikan jenjang pendidikannya dengan susah payah. Meski berstatus sebagai anggota Polri sejak 2007 lalu, perjuangan Aditya menjadi seorang polisi tidaklah mudah.

Dia pernah gagal saat mendaftar di Akademi Militer (Akmil) TNI AL hingga tiga kali. Baik di tahun 2005, 2006, dan 2007. ”Saya juga tidak lulus saat ikut tes di Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) yang kini berubah menjadi Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN,” kata bapak satu anak tersebut.

Meski dirintangi kegagalan, Aditya tidak mudah menyerah. Dia memutuskan untuk kembali mendaftarkan diri sebagai mahasiswa lewat Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). ”Dalam pendaftaran itu, saya menjatuhkan pilihan pertama bidang olahraga di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), pilihan kedua ilmu olahraga di Universitas Malang (UM), dan pilihan ketiga Fakultas Hukum di UM,” paparnya.

Aditya akhirnya diterima di Fakultas Hukum UM. Setelah satu semester di UM, dia pindah kuliah ke Universitas Jember (Unej) tahun 2006. Saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi tahun 2007, ada pendaftaran Bintara Polri di Bondowoso. Aditya harus bolak-balik Jember–Bondowoso. ”Alhamdulillah, saya lolos dan diterima sebagai anggota Polri,” ungkap lelaki berusia 35 tahun tersebut.

Selama menempuh pendidikan Polri di Mojokerto, tidak menyurutkan dirinya untuk tetap menempuh pendidikan. Dia rela mengambil kelas sore untuk bisa membagi waktunya. Setelah lulus dari pendidikan Polri, Aditya ditempatkan di Polres Bondowoso. ”Hingga di tahun 2009, barulah saya dipindah ke Polres Banyuwangi yang kini menjadi Polresta Banyuwangi,” terangnya.

Di situlah dia langsung transfer kuliah dari Unej ke Untag 1945 Banyuwangi hingga lulus di tahun 2013. Tidak berhenti di situ, Aditya kemudian melanjutkan  pendidikan S-2 di Fakultas Hukum Universitas Jember hingga lulus tahun 2015. Meski sudah menempuh S-2, ternyata tidak membuat dia puas. ”Saya mencoba mencari beasiswa untuk menempuh S-3 di tahun 2016, lantaran tidak memiliki biaya untuk menempuh S-3 secara reguler,” ungkapnya.

Dengan tekad yang cukup kuat, Aditya mencari modal untuk biaya kuliah lewat penugasan luar negeri utusan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). ”Bayangan saya cari uang dengan penugasan itu dalam setahun bisa digunakan untuk menempuh kuliah S-3. Ternyata salah satu syarat dalam penugasan harus memiliki TOEFL. Saya melakukan bimbingan khusus selama tiga sampai empat bulan baru mendapatkan sertifikat TOEFL,” ungkapnya.

Akhirnya, dia baru bisa kuliahdi tahun 2017 di Universitas Brawijaya dengan uang hasil penugasan tersebut. Namun, keinginannya untuk bisa kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) cukup kuat. Meski sudah menyandang gelar magister hukum di Unej, tahun 2018, dia memutuskan untuk mengambil S-2 di UGM. ”Jadi waktu itu kuliah S-2 di UGM dengan S-3 di UB bersamaan, sehingga harus membagi waktu. Beruntung, selama menempuh pendidikan S-3, saya mendapat free tugas dari kepolisian selama empat tahun,” pungkasnya

(bw/rio/rbs/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia